PT Swayasa Prakasa Tbk (SWAP) bersiap melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan manufaktur alat kesehatan (alkes) dan produk kesehatan milik Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menargetkan dana sebesar Rp 45,22 miliar untuk aksi korporasi itu.
Mengutip detikFinance dari prospektus, Swayasa Prakasa berencana menawarkan maksimal 323 juta saham baru ke masyarakat. Saham itu memiliki nilai nominal Rp 20 per saham dan setara dengan maksimal 30,30 persen modal ditempatkan dan disetor penuh usai penawaran umum.
Harga penawaran Swayasa Prakasa sebesar Rp 130-140 per saham. PT Sukadana Prima Sekuritas pun ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah seluruh nilai penawaran umum sebanyak-banyaknya adalah Rp 45.220.000.000," tulis Manajemen Swayasa Prakasa, pada Minggu (23/8).
Disebutkan dana IPO ini bakal dialokasikan untuk modal kerja, belanja modal, dan pembayaran utang. Rinciannya Rp 15,8 miliar untuk modal kerja guna meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.
Selanjutnya Rp 12,2 miliar bakal dipakai untuk belanja modal. Lalu Rp 12 miliar bakal digunakan untuk pembayaran utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM) dan Yayasan Universitas Gadjah Mada (YUGM).
Swayasa Prakasa diketahui didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT Swayasa Prakarsa No. 09 tanggal 12 Januari 2012 dan mulai berjalan secara komersial pada tahun 2014. Perseroan didirikan sebagai motor komersialisasi hasil riset UGM dan menjadi bagian dalam mendukung hilirisasi, komersialisasi hasil riset, dan inovasi untuk ditransformasikan menjadi produk industri yang kompetitif.
Kegiatan usaha Swayasa Prakasa saat ini bergerak dalam bidang industri manufaktur produk kesehatan berbasis riset. Pengembangan usaha Perseroan dilakukan secara bertahap melalui pembentukan beberapa unit usaha strategis.
Sementara untuk struktur kepemilikan saham, PT Gama Multi Usaha Mandiri tercatat sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sebesar 721.898.050 saham atau 97,16%. Kemudian UGM menggenggam 20.009.190 saham atau 2,693%, PT Radio Swara Gadjah Mada 549.920 saham, dan Bondan Ardiningtyas sebanyak 542.840 saham.
