Pemerintah Provinsi DIY maupun Kota Jogja memprediksi kambing dan domba akan mengalami peningkatan permintaan daripada sapi pada Idul Adha 1447 H. Perkara harga hewan ternak belakangan ini menjadi faktor utamanya, dimana harga Kambing-domba mengalami penurunan dibanding tahun lalu.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Agung Ludiro mengatakan harga kambing-domba dalam pantauan 4 bulan terakhir bahkan cenderung menurun.
"Harga ternak sapi ini cenderung stabil-naik, sementara harga kambing domba 4 bulan terakhir cenderung turun. Nah ini kami berfikir bahwa ada kemungkinan panitia masjid beralih ke kambing atau domba," jelasnya saat peninjauan di UD Segar Farm Pekuncen, Wirobrajan, Kota Jogja, Jumat (8/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, kata Agung, pada bulan April harga ternak-ternak kurban perlahan mulai naik. Ia memprediksi sepekan jelang Idul Adha, hewan kurban akan mencapai puncak kenaikan harga.
"Sapi saat ini yang diminati kisaran Rp 22 juta ke atas, dengan berat 300-400 kg. Sementara harga kambing-domba jantan sekitar Rp 2 jutaan, itu terkatrol karena mendekati kurban, kemarin-kemarin malah di bawah Rp 2 juta," paparnya.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi. Menurutnya perbedaan fluktuasi harga ini bisa menurunkan daya beli masyarakat hingga membuat minat sohibul kurban bergeser dari sapi ke kambing atau domba.
"Sapi sekarang mahal, kemungkinannya (jumlah sapi untuk Kuran) turun. Sementara harga kambing cenderung tetap, bahkan banyak yang turun. Tahun lalu Rp3 juta, sekarang Rp2,4 juta sudah boleh," ujarnya.
"Ditambah daya beli masyarakat memang agak turun. Padahal hewannya sebenarnya banyak tersedia, tapi masyarakatnya beralih ke kambing karena harga sapi naiknya banyak sekali," sambung Sukidi.
Baca juga: Presiden Prabowo Kurban 6 Sapi di DIY |
Dari sisi peternak bahkan sudah merasakan adanya penurunan penjualan sapi untuk kurban. Pemilik UD Segar Farm Pakuncen, Sudi Haryoso mengatakan saat ini sudah terasa penurunan permintaan sapi dari panitia kurban.
"Tahun kemarin kami laku 302 ekor, perkiraan tahun ini cuma sekitaran 250-an ekor. Ya ada penurunan karena dari panitia kurban sendiri pesanan berkurang jumlahnya," ungkap Sudi.
Stok Hewan Kurban
Di tengah dinamika harga hewan kurban itu, pemerintah memastikan stok hewan kurban di DIY aman untuk Idul Adha. Meski tak dipungkiri untuk pemenuhan kebutuhan di Kota Jogja harus mengambil hewan dari luar kota bahkan luar DIY.
"Populasi sapi di Kota ini kan kisaran 60-100 ekor, itu pun belum semuanya memenuhi syarat untuk kurban, usia, jenis kelamin, kebuntingan, macem-macem," jelas Agung.
"Sehingga Kota ini memang banyak dari luar, 70-80%. Luar itu bisa luar Kota di DIY, bisa dari luar provinsi," sambungnya.
Sementara, Sukidi menambahkan, Kota Jogja saat ini bergantung pada pasokan hewan ternak dari berbagai daerah. Seperti Wonosari Gunungkidul, Magelang, Madura, hingga Bali. Namun ternak dari Wonosari masih menjadi mayoritas.
Meski bergantung pada kiriman ternak dari luar daerah, kata Sukidi, Pemkot Jogja menjamin aspek kesehatan hewan tetap menjadi prioritas utama. Setiap hewan yang masuk ke Kota Jogja wajib melalui proses skrining dokumen dan pemeriksaan fisik, dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), dan Sertifikat Veteriner.
"Pasti kami cek setiap hari. Sejak pedagang diizinkan berjualan sampai nanti akhir masa jualan, petugas akan berkeliling memeriksa kesehatan hewan di lapak-lapak. Meskipun sudah membawa SKKH, pemeriksaan fisik tetap kami lakukan untuk memastikan hewan benar-benar layak kurban," pungkasnya.
(alg/ahr)
