Senja Kala Perajin Kuningan Ngawen Sleman

Senja Kala Perajin Kuningan Ngawen Sleman

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Sabtu, 29 Nov 2025 13:56 WIB
Proses produksi kerajinan kuningan di Ngawen, Sleman, Sabtu (29/11/2025)
Proses produksi kerajinan kuningan di Ngawen, Sleman, Sabtu (29/11/2025) (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja)
Sleman -

Gema bunyi logam kuningan dari palu perlahan meredup di Padukuhan Ngawen, Sidokarto, Godean, Kabupaten Sleman. Sempat dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan kuningan di Sleman, dusun ini kini hanya menyisakan segelintir perajin yang gigih mempertahankan warisan leluhur.

Mulyadi (60), adalah salah satu yang masih bertahan hingga saat ini. Dia yang memulai usahanya sejak tahun 1988, melanjutkan jejak kakek dan ayahnya yang dulu juga berkecimpung di dunia cor kuningan.

"Dulu (perajin) ada puluhan orang. Sekarang? Tinggal dua," ujar Mulyadi, ditemui wartawan, Sabtu (29/11/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penurunan jumlah perajin yang drastis ini, menjadi indikasi utama surutnya pasar kerajinan tersebut. Dua perajin yang tersisa selain Mulyadi adalah Munawir.

Kerajinan cor kuningan di Ngawen sudah menjadi tradisi turun-temurun, berawal dari inisiatif warga untuk mencari kesibukan agar tidak menganggur. Dulu, sentra ini pernah menjadi tumpuan hidup banyak keluarga.

ADVERTISEMENT

"Dulu iya, bapak ngecor kuningan. Ini memang warisan dari simbah-simbah," kata Mulyadi.

Proses produksi kerajinan kuningan di Ngawen, Sleman, Sabtu (29/11/2025)Proses produksi kerajinan kuningan di Ngawen, Sleman, Sabtu (29/11/2025) Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja

Mulyadi mengenang, masa keemasan kerajinan kuningan Ngawen terjadi sekitar tahun 2000-an. Saat itu, permintaan akan produk utama mereka, yaitu kelintingan yang merupakan lonceng kecil untuk kesenian, seperti jathilan, gedruk, dan topeng, sangat tinggi.

"Ya tahun 2000-an itu mas jayanya. Banyak pesanan yang masuk," ujar dia.

Akan tetapi, pandemi yang menghantam membuat usaha warga gulung tikar. Pun juga karena ada alasan lain. "Pasarnya sudah enggak ada," keluh Mulyadi.

Kerajinan Pak Mulyadi berfokus pada produk sesuai pesanan, namun yang paling konsisten adalah kelintingan untuk perlengkapan kesenian. Proses pembuatan kelintingan dari kuningan, yang didapat dari pengepul, terbilang unik dan rumit.

Model kelintingan dibuat dari lilin atau malam yang kemudian dibungkus dengan tanah liat. Setelah dibungkus, cetakan tanah dibakar hingga lilin mencair dan meninggalkan ruang kosong, lalu langsung dicor dengan cairan kuningan. Bagian-bagian kelintingan, yang dicetak setengah-setengah, disambung menggunakan lilin dan dibakar.

Terakhir, gotri untuk menimbulkan bunyi dimasukkan dan lanjut dilakukan finishing yang kini sudah dibantu mesin bubut.

Untuk bertahan di tengah kelesuan pasar, Mulyadi kini sangat mengandalkan penjualan online. "Sekarang online. Kalau dulu kan mengandalkan pengepul, sekarang sudah tidak ada pengepul lagi," jelasnya.

Dengan bantuan istri dan anak yang nyambi membantu, dia berusaha melestarikan keahlian yang sudah diwariskan tiga generasi. Kapasitas produksi saat ini sekitar 50 kodi per minggu untuk ukuran kecil, dengan harga jual satu kodi sekitar Rp 75.000.




(aku/aku)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads