Nelayan Pantai Sadeng Sambat BBM Mahal, Desak Pemerintah Bikin SPBN

Nelayan Pantai Sadeng Sambat BBM Mahal, Desak Pemerintah Bikin SPBN

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Kamis, 10 Jul 2025 15:07 WIB
ilustrasi kapal nelayan di Pandeglang
Foto: ilustrasi kapal nelayan. Foto diambil di Pandeglang (Aris/detikcom)
Gunungkidul -

Kelompok nelayan di Pantai Sadeng mengeluhkan tidak adanya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di area dermaga, padahal kebutuhan akan solar terbilang tinggi. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul mengaku telah mengajukan usulan terkait SPBN.

Ketua Kelompok Nelayan Sadeng, Sarpan mengatakan, bahwa sekitar tahun 1990 pernah ada SPBN di dermaga Pantai Sadeng. Namun, SPBN itu tutup karena minimnya permintaan akan bahan bakar.

"Tahun 2002 SPBN tutup karena produksi ikan di Sadeng belum maksimal, dan itu kan membuat kebutuhan BBM belum tinggi," katanya saat dihubungi wartawan, Kamis (10/7/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring berjalannya waktu, produksi ikan di Pantai Sadeng semakin meningkat. Di mana hal itu membuat kapal nelayan yang bersandar di Pantai Sadeng semakin banyak.

"Seperti saat ini, kebutuhan terkait BBM khususnya solar dan pertalite cukup tinggi," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Sarpan mencontohkan, kebutuhan BBM satu unit kapal berukuran besar sekitar 90 gross tonnage (GT) mencapai 2.500 liter solar untuk sekali melaut. Sedangkan untuk kapal ukuran 30 GT atau rata-rata sekitar 350 liter solar sekali melaut.

"Karena itu saat ini harusnya ada SPBN di Sadeng, dan sekalian pabrik es batu kalau bisa," ucapnya.

Menyoal dari mana mendapatkan BBM, Sarpan mengaku menggunakan pertalite dan membelinya dari sub penyalur.

"Saya beli Pertalite Rp 11 ribu per liter, itu harga maksimal. Kalau harga solar dari penyalur tidak tahu karena saya pakai Pertalite," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Gunungkidul, Wahid Supriyadi mengatakan, di Pantai Sadeng sebenarnya sudah ada istilahnya penyalur BBM. Penyalur itu merupakan badan usaha Kalurahan dan pihak swasta yang mendapatkan izin untuk melakukan atau menjadi sub penyalur BBM.

"Jadi seperti Pertashop tapi yang disalurkan adalah BBM subsidi baik solar dan Pertalite. Di sana ada dua sub penyalur BBM kok," ucapnya.

"Hanya memang dari kuota yang ada baru separuh kuota yang terserap. Adapun kuota untuk BBM jenis solar adalah 28.800 liter.

"Kuota untuk nelayan masih tersedia separuh dari 28.800 liter, dan kuota itu ada margin 1000 rupiah dari harga di SPBU. Karena paling dekat ambilnya di SPBU Ponjong sehingga ongkos angkutnya Rp 1.000 perliter," ujarnya.

"Jadi kalau harga solar mahal dimungkinkan karena nelayan menggunakan solar non subsidi seperti Dexlite yang saat ini harganya Rp 13.320," lanjut Wahid.

Soal jumlah kapal nelayan di Pantai Sadeng, Wahid menyebut ada ratusan unit. Di mana kapal nelayan itu mulai dari kurang dari 5 GT hingga lebih dari 30 GT.

"Untuk jumlah kapal nelayan di Sadeng itu yang kurang dari kapal 5 GT ada 187 unit, lalu untuk kapal 5-30 GT ada 34 unit dan kapal yang lebih dari 30 GT ada 9 unit," katanya.

Terkait SPBN, Wahid mengaku telah mengusulkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan. Namun, saat ini tahapannya baru masuk pada penyediaan lahan.

"Dan ke depan memang kita arahkan dari kampung nelayan ada menu kegiatan SPBN. Hanya ketika pekan lalu kita desk proposal di Kementerian Kelautan ternyata ada perbedaan persepsi, SPBN tapi tidak sesuai dan yang difasilitasi hanya pematangan lahannya," ujarnya.

"Nah, sekarang untuk meningkatkan pelayanan penyaluran BBM bagi nelayan koperasi Sadeng sedang bermitra jadi sub penyalur BBM non subsidi, dan itu peruntukannya untuk kapal di bawah 5 GT," imbuh Wahid.




(afn/ahr)

Hide Ads