Momen Bupati-Wabup Gunungkidul Kembali Berdampingan Usai Keharmonisan Disorot

Momen Bupati-Wabup Gunungkidul Kembali Berdampingan Usai Keharmonisan Disorot

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Senin, 19 Okt 2026 18:38 WIB
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih bersama Wabup, Joko Parwoto saat menghadiri festival pedalangan di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul, Senin (19/10/2026).
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih bersama Wabup, Joko Parwoto saat menghadiri festival pedalangan di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul, Senin (19/10/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Bupati dan Wakil Bupati (Wabup) Gunungkidul hadir bersama-sama dalam acara pembukaan festival pedalangan di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul. Mereka kembali terlihat berdampingan usai keharmonisan disorot.

Pantauan detikJogja, tampak Wabup Gunungkidul, Joko Parwoto datang terlebih dahulu ke Bangsal Sewokoprojo. Tidak lama kemudian, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih datang dan Joko tampak menyambutnya.

Selanjutnya dua pimpinan Bumi Handayani ini duduk berjejer untuk menyaksikan jalannya festival tersebut. Selain itu, memasuki penghujung acara keduanya juga tampak bersama-sama maju ke depan untuk memberikan apresiasi kepada dalang-dalang cilik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyebut dirinya meminta Wabup Joko dipastikan hadir di acara tersebut.

ADVERTISEMENT

"Pak Kepala Kundha Kebudayaan, saya minta untuk memastikan kehadirannya (Wabup), dan ini bagian dari pimpinan daerah memotivasi anak-anak kita (di festival pedalangan)," katanya kepada wartawan di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Gunungkidul, Senin (19/10/2026).

Pasalnya, Kabupaten memiliki banyak sanggar dan desa-desa budaya. Menurutnya, kehadiran Joko agar Endah bisa berkoordinasi secara langsung terkait mendatangi desa-desa tersebut.

"Bahkan tadi saya meminta pada Pak Wabup untuk juga segera datang ke desa-desa budaya untuk melakukan monitor, evaluasi apakah desa budaya itu juga bagian dari desa yang ikut serta melestarikan," ujarnya.

"Bahkan mungkin ada sanggar yang melatih anak-anak kita untuk menjadi embrio dalang di masa yang akan datang," lanjut Endah.

Selanjutnya, Endah juga telah meminta kepada Kepala Kundha Kabudayan untuk memberikan dukungan penuh kepada sanggar-sanggar, khususnya yang masih memberikan pelatihan kepada anak-anak dengan hobi mendalang.

"Bahkan, hari jadi Gunungkidul ke depan saya minta dalang-dalang cilik, remaja, dan anak-anak kita untuk ditampilkan. Ini menjadi bagian dari bentuk motivasi dan semangat spirit mereka bahwa tidak hanya ditampilkan di festival, dipentaskan, tetapi dalam hari-hari besarnya kabupaten untuk dipentaskan biar menjadi kebanggaan," ucapnya.

Diketahui, keharmonisan bupati dan wakil bupati Gunungkidul menjadi sorotan usai Wabup Gunungkidul Joko Parwoto absen dalam rangkaian hari jadi Gunungkidul beberapa waktu lalu.

Sorotan datang salah satunya dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Gunungkidul, Suharno. Ia menyebut hubungan bupati dan wakil bupati Gunungkidul tidak harmonis. Menurut dia, Wabup jarang hadir bersama Bupati saat rapat dan puncaknya Wabup absen dari rangkaian acara dan upacara hari jadi ke-196 Gunungkidul.

"Saya memandang tidak harmonis dan ini tidak baik untuk Gunungkidul. Kalau tidak harmonis ibarat keluarga nanti broken home," kata Suharno saat dihubungi detikJogja, Senin (19/10/2026).

"Begitu pula pemerintahan, jika Bupati dan Wakil Bupati yang dipilih bersama, humanis, rakyatnya juga senang. Saya juga melihat mereka jarang bersama-sama, tidak datang Hari Jadi Gunungkidul jadi polemik," ujarnya.

Joko Parwoto sendiri sudah buka suara soal hubungannya dengan Bupati Endah usai hubungan keduanya disebut-sebut tidak harmonis.

Joko juga menyatakan menghormati Bupati sebagai Kepala Daerah beserta kewenangan yang diberikan oleh undang-undang. Dalam keterangan tertulisnya, Joko menyebut penghormatan terhadap jabatan publik merupakan bagian penting dari upaya menjaga kewibawaan institusi pemerintahan dan kepercayaan masyarakat.

"Tapi pada saat yang sama, saya juga berharap agar kedudukan, fungsi, dan martabat jabatan Wakil Bupati memperoleh penghormatan sebagaimana dijamin dalam sistem hukum pemerintahan daerah," kata dia.

"Saya tidak memiliki keinginan untuk memperpanjang perbedaan pandangan maupun membangun polemik yang tidak memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Joko.



(afn/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads