PT KAI merobohkan belasan rumah-rumah kuno yang ada di depan Stasiun Lempuyangan Jogja. Saat ini dari 13 rumah kuno eks rumah dinas pejabat KAI tinggal 2 bangunan rumah yang masih berdiri.
Berdasarkan pantauan detikJogja, belasan rumah kuno di balik warung-warung depan stasiun itu tak lagi berbekas. Hanya lahan yang terlihat membentang dari barat ke timur. Di sisi selatan, tampak berjejer rumah-rumah warga yang dulu terhalangi tembok tinggi barisan rumah kuno itu.
Di sisi barat, dua rumah kuno tampak masih berdiri kokoh. Bentuk aslinya masih terjaga meskipun tampak belum dipugar. Beberapa pekerja tampak sibuk mengerjakan pembangunan fondasi dan talud di sisi bakal jalan raya itu.
"Dari 13 rumah perusahaan tersebut, 11 rumah telah dirobohkan, 2 rumah dipertahankan sesuai arahan dan rekomendasi Dinas Kebudayaan Kota Jogja. Itu sebenarnya 2 rumah, hanya couple jadi terlihatnya 1, sesuai rekomendasi dari Dinas Pelestarian dibiarkan tetap berdiri agar ada peninggalan," ungkap Manajer Humas KAI Daop 6 Jogja, Feni Novida Saragih saat ditemui detikJogja, Jumat (9/10/2026).
Salah seorang warga tinggal tepat berdampingan dengan lahan itu, Bondi (52), menceritakan rumah-rumah kuno yang sudah dirobohkan dulu adalah rumah dinas pejabat KAI.
Di antara kompleks rumah dinas dengan perkampungan warga, termasuk rumah Bondi, dibatasi tembok besar setinggi kurang lebih 5 meter. Rumah Bondi tepat menghadap tembok itu.
"Rumiyin nika kan onten temboke toh (dulu ada temboknya), nika kan dibongkar. Nah, temboke kan sudah umure berapa tahun nggih niku, sejak jaman Mbah kula sudah ada tembok niki (itu kan dibongkar. nah, temboknya sudah berapa tahun ya umurnya, sejak zaman mbah saya sudah ada tembok ini). Nah, sepertinya bapak saya almarhum itu tinggal sini sudah ada temboke," ujar Bondi ditemui detikJogja di rumahnya, Jumat (9/10).
"Tapi kan karena memang itu haknya PT KAI nggih, sementara itu juga (yang menempati) cuma anak turunnya, nggih pun dibongkar," imbuhnya.
Bondi menyebut, proses pembangunan proyek yang berada tepat di depan rumahnya itu sudah berlangsung 5-6 bulan terakhir. Menurutnya, pembangunan ini memang diperlukan selain untuk kenyamanan penumpang kereta juga untuk mengatasi kemacetan yang kerap muncul.
"Karena itu sudah ada masalah dengan jalur, kebutuhan stasiun yang perlu pelebaran atau istilahnya pun evolusi lah. Jadi kawasan mriki niki (sini) pun benten kalih (sudah beda dengan) 20-30 tahun yang lalu, karena itu (perlu) dibangun lebih komprehensif lah daripada dulu," ujar Bondi.
Di depan rumah Bondi, terdapat jalan kampung yang lebarnya tak sampai 2 meter. Dari informasi yang ia dapat, jalan kampung itu ke depan akan menjadi trotoar. Hal itu juga terlihat dari fondasi jalan raya yang berdampingan dengan jalan kampung tersebut.
Bondi berharap, dengan letak rumahnya yang dulu berada di balik tembok berubah menjadi pinggir jalan raya, bisa menjadi manfaat baginya. Meskipun Bondi menyadari masih perlu adaptasi dengan perubahan tersebut,
"Ini nanti trotoar. Ini langsung pinggir jalan, ini jadi trotoar. Lah (rumah) saya jadi langsung pinggir jalan bener," ungkap Bondi.
"Itu kan harus dibiasakan penyesuaian dulu lah, karena kan bangunan frontal, biasanya itu terlindung oleh tembok dan di belakang sini, sekarang terekspos gini. Ya mudah-mudahan ya itu aman ya, aman dan ya mungkin ada manfaatnya," imbuhnya.
Simak Video "Video: PT KAI Siapkan Strategi Transportasi Efektif Bagi Warga Urban"
(apl/apl)