Penghormatan Terakhir buat 'Sang Guru' Den Baguse Ngarso

Penghormatan Terakhir buat 'Sang Guru' Den Baguse Ngarso

Tim detikJogja - detikJogja
Rabu, 23 Sep 2026 06:43 WIB
Pemakaman Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso di TPU Krapyak, Bantul, Selasa (22/9/2026)
Pemakaman Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso di TPU Krapyak, Bantul, Selasa (22/9/2026) Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Seniman teater Jogja, Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso, telah dimakamkan di TPU Krapyak, Sewon, Bantul. Sejumlah seniman menyampaikan penghormatan terakhir saat mengantar kepergian sosok yang naik daun lewat sitkom 'Mbangun Deso' pada era 90'an ini.

Diketahui, Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso meninggal di rumahnya di Mantrijeron, Jogja, pada Senin (21/9). Setelah disemayamkan di rumah duka, jenazahnya dimakamkan pada Selasa (22/9) sore.

Berpulangnya Susilo meninggalkan kesan mendalam bagi rekan-rekan sesama seniman. Bagi mereka, Den Baguse Ngarso ialah aktor dan budayawan yang rendah hati, cerdas, dan tak pelit berbagi ilmu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kenal Den Baguse Ngarso sejak 2004 ketika bersama-sama berkarya di Komunitas Tjap Conthong atau Ketoprak Conthong. Dia itu sebagai seperti orang tua. Jadi makanya Pak Sus itu di mata saya adalah guru saya, sekaligus partner, dan dia bisa berdiskusi," kata rekan seniman, Warsana Kliwir, saat ditemui detikJogja di rumah duka, Mantrijeron, Selasa (22/9/2026).

Kliwir mengatakan, hal yang berkesan dari Den Baguse Ngarso ialah kemahirannya dalam menyusun naskah yang membuat para pemain lebih mudah memahami karakter dan alur pertunjukan.

ADVERTISEMENT

"Pak Sus tuh sangat tertata, terstruktur, jadi memudahkan untuk kita semua bermain. Dan naskahnya itu misalnya bukan selalu lucu yang dibuat, tapi naskah sendiri udah lucu. Jadi misalnya dimainkan orang lain pun, orang akan tertawa dengan naskah itu. Itu sangat brilian," ujar dosen jurusan Etnomusikologi di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja itu.

Kliwir juga mengenang gaya bercanda Den Baguse Ngarso yang terkadang terdengar menyengat bagi orang yang belum mengenalnya. Namun, bagi orang-orang dekatnya, celetukan itu justru menjadi bagian dari karakter Den Baguse Ngarso.

"Kesane glenyengan, kesane itu nyenyengit, tapi enggak. Memang perilaku tuh seperti keseharian dia, sangat menjiwai," kata dia.

Kliwir juga menyebut Den Baguse Ngarso tidak pernah merasa hebat meski punya nama besar di dunia seni. Selain itu, Den Baguse Ngarso mampu mencairkan suasana ketika para seniman mulai merasa jenuh dalam proses berkarya.

"Dia meskipun nama besar, dia tidak pernah menganggap dirinya besar. Dia nama besar, dia sangat besar. Apalagi tentang naskah-naskahnya. Itu saya lihat luar biasa," tuturnya.

Kesan serupa disampaikan rekan seniman lainnya, Kukuh Kudamai. Ia mengaku sudah mengidolakan Den Baguse Ngarso sejak pertama kali menonton pertunjukan ketoprak.

"Dulu tahunya karena sering nonton ketoprak. Ketoprak Conthong itu. Terus saya pernah satu proyek film sama beliau. Kalau beliau itu pintar ya, aslinya itu sangat-sangat humble, sederhana," katanya.

"Sosok yang sederhana, terus murah ilmu. Jadi, dia itu selalu berbagi ilmu tentang sejarah, metode keaktoran, terus perkembangan politik, kebudayaan, dan yang lain sebagainya itu beliau selalu sharing," tuturnya.

Kukuh bahkan menggambarkan berbincang dengan Den Baguse Ngarso seperti berbicara dengan mesin pencari karena luasnya pengetahuan yang dimiliki.

"Kayak ngobrol sama dia itu beliau itu kayak Google. Jadi, apa pun dia tuh tahu gitu loh. Karena bacaannya juga banyak," ujarnya.

Bagi Kukuh, Den Baguse Ngarso juga merupakan sosok guru yang tidak pernah merasa sedang menggurui. Ia merasa banyak belajar hanya dengan melihat cara Den Baguse Ngarso menjalani kehidupan dan berkesenian.

"Pak Sus itu menurutku saya anggap beliau itu kayak guru tapi dia tidak pernah merasa menggurui. Aku merasa dia tuh tidak pernah menggurui. Jadi, ya berbagi kayak dadi kayak kancaku nek ngobrol gitu. Kayak sharing ning warung kopi opo ngono. Pak Sus itu tidak pernah merasa tua, itu sudah. Dia selalu ngomong aku enom," pungkasnya.

Sementara itu rekan seniman Den Baguse Ngarso, Alit Jabang Bayi, menyebut mendiang sebagai seniman yang memiliki keberanian dan gaya khas dalam menyampaikan humor.

"Bahkan satu-satunya seniman yang berani roasting kepada kliennya adalah beliau. Pak Susilo bisa roasting orang-orang tinggi, orang besar, tapi dengan soft," ujarnya saat ditemui di rumah duka.

Karena itu, ia menilai kepergian Susilo menjadi kehilangan bagi dunia kesenian, khususnya bagi seniman-seniman yang pernah bersinggungan langsung dengannya.

"Jangankan saya (kehilangan), orang-orang dan teman-teman saya juga," katanya.



(dil/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads