Viral di media sosial flyer yang bernarasikan kasus pelecehan oleh oknum satpam kepada siswi SMAN 1 Sentolo, Kulon Progo. Pihak sekolah buka suara terkait hal itu.
Dalam unggahan di media sosial itu, terlihat flyer yang bertuliskan 'Kasus Pencabulan Satpam Ditutup" hingga 'Siswa wajib berangkat pukul 6.50. Kami bukan budak'. Namun, yang menjadi sorotan adalah kasus pelecehan oknum satpam oleh siswi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Johan Wahyudi, mengatakan kejadian bermula saat dua siswi kelas hendak mengambil barang yang tertinggal di kelas usai latihan baris-berbaris tonti pada Agustus lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah ini ceritanya, kronologinya. Sekitar bulan Agustus awal itu ada dua siswi, siswi itu perempuan ya. Itu eh setelah rampung dari latihan baris tonti, itu ada barang ketinggalan di kelas," kata Johan saat ditemui di SMAN 1 Sentolo, Kulon Progo, Kamis (17/9/2026).
Saat itu kondisi sekolah sudah sepi. Siswi kemudian meminta bantuan satpam untuk mengambil barang tersebut.
"Nah, itu ketinggalan. Nah terus minta bantuan si satpam itu karena sudah pukul 16.00 WIB ya. Sudah pada bubar semua, sudah ditutup-tutup semua. Ah minta bantuan kepada oknum satpam tersebut untuk mengambilkan charger atau apa yang tertinggal. Nah mereka diambil," ujarnya.
Johan mengatakan setelah mengambil barang, satpam tersebut disebut mencoba merangkul salah satu siswi. Namun, siswi tersebut menghindar.
"Nah setelah keluar itu, karena mereka masih statusnya masih bertetangga, maka dirangkullah anak itu kemudian dia menghindar. Rangkul, menghindar," katanya.
Kejadian itu diketahui pihak sekolah setelah siswi melapor kepada guru BK. Johan mengatakan rekaman CCTV juga diperiksa untuk memastikan kejadian tersebut.
"Sudah, tapi karena ada CCTV. Nah terus si anak tersebut karena mungkin merasa tidak nyaman lalu lapor ke BK, 'Kemarin saya di-berusaha dirangkul oleh oknum satpam tersebut. Terus coba Bu minta CCTV-nya.' Mintalah CCTV jam itu," ujarnya.
Menurut Johan, dari rekaman CCTV terlihat satpam tersebut mencoba merangkul siswi tersebut. Tampak juga siswi itu berupaya menghindar.
"Memang ada percobaan merangkul, dia menghindar, terus dia lari sambil VC sama temannya gitu lho, biar mungkin untuk biar tidak terulang lagi," tuturnya.
Satpam Dipindahkan
Johan mengatakan pihak sekolah kemudian langsung menghubungi penyedia jasa satpam. Sekolah meminta agar petugas tersebut dipindahkan dari sekolah.
"Pokoknya kalau bisa dipindah, di-rolling, anak-anak biar tidak (merasa tidak nyaman). Ganti hari kami ke sana membawa video barang bukti itu," katanya.
"'Lho ini anak buah sampeyan ini ada videonya percobaan perangkulan tapi dia menghindar. Nah ini kalau bisa mohon di-rolling lah. Kalau dipecat jangan, kasihan itu rezeki orang, pindah saja.'" ujar Johan.
Setelah dipanggil oleh pihak penyedia jasa, satpam tersebut disebut mengakui kejadian yang terekam CCTV.
"Nah, setelah itu satpam diundang disuruh menulis surat perjanjian. Terus buat perjanjian, terus kemudian eh di-SP (Surat Peringatan), SP3. Kalau kamu ngulang lagi, dipecat," katanya.
Penjelasan soal Video Klarifikasi Siswa
Belakangan muncul flyer yang menyebut kasus tersebut belum ditindaklanjuti. Johan mengatakan pihak sekolah kemudian memanggil siswa pembuat flyer untuk mengklarifikasi informasi tersebut.
"Nah akhirnya karena anak-anak temannya, kakak kelas, itu merasa seperti kok belum diselesaikan gitu. Akhirnya dibuatlah dia flyer apa-apa, flyer ya? Yang isinya seperti itu pencabulan tidak ditindaklanjuti, hanya dibiarkan, nah tulisannya begitu," ujarnya.
Menurut Johan, penyebutan kasus tersebut tidak ditindaklanjuti atau disembunyikan kurang tepat karena sekolah mengklaim telah melakukan penanganan.
"Jadi kata-kata dibelum ditindaklanjuti dan belum apa? Terkesan disembunyikan itu kurang tepat karena sudah diselesaikan. Hanya mungkin kurang puas," pungkasnya.
