Tercatat di Desil 9 Bikin Timbul Pak Becak Bingung Urus Keringanan Kuliah Anak

Tercatat di Desil 9 Bikin Timbul Pak Becak Bingung Urus Keringanan Kuliah Anak

Tim detikJogja - detikJogja
Selasa, 25 Agu 2026 10:22 WIB
Timbul (49) tukang becak di Lendah, Kulon Progo saat ditemui di rumahnya, Senin (24/8/2026).
Timbul (49) tukang becak di Lendah, Kulon Progo saat ditemui di rumahnya, Senin (24/8/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Pengemudi becak motor, Timbul (49), warga Lendah, Kulon Progo kaget tercatat sebagai desil 9. Dia yang mau mengurus keringanan untuk kuliah anaknya di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pun bingung.

Hal ini diketahui Timbul saat mendatangi Kantor Kalurahan Lendah dua pekan lalu untuk mengurus surat ketarangan tidak mampu (SKTM) sebagai syarat mengajukan keringanan dan beasiswa. Timbul menyebut anak sulungnya, Lucky, diterima di UNY lewat jalur mandiri.

Dia harus membayar uang masuk Rp 15 juta. Oleh karenanya dia berniat mengajukan keringanan atau beasiswa lewat Program Indonesia Pintar (PIP).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mau pakai PIP sama mengajukan beasiswa, saya cari SKTM datang ke balai desa, tapi ternyata dicek sama Pak Lurah ternyata desilnya 9," ungkap Timbul saat ditemui di kediamannya, Senin (24/8/2026).

ADVERTISEMENT

Timbul pun kaget karena biasanya tercatat di desail 1-2 ternyata disebut desil 9. Dia mengaku masih mendapat bantuan sembako sekitar awal tahun lalu.

"(Sebelumnya) Belum tahu (desilnya naik), dulunya desil 1, paling tinggi 2, kayanya lho, soalnya saya ndak pernah lihat, tapi saya dapat bantuan terus, bansos. Berarti kan desil saya kalau nggak 1 ya 2," ujarnya.

"Terakhir dapat bansos PKH itu sekitar 4 atau 6 bulan yang lalu. Itu nilainya sembako, terus orang tidak mampu terus anak sekolah itu sekitar Rp 1,1 juta," sambung Timbul.

Selama ini, Timbul mangkal sebagai pengemudi bentor di Malioboro dengan penghasilan yang tak pasti sekitar Rp 100 ribu per hari. Dia juga sesekali menjual ayam peliharaannya.

Dia pun tinggal di rumah bersama dua anaknya usai berpisah dengan istrinya. Mereka tinggal di rumah berdinding permanen dan lantai keramik. Namun, rumah ini disebutnya merupakan warisan orang tuanya.

"Rumah milik keluarga, belum dipecah, atas nama bapak saya. Bapak simbok sudah meninggal. Niki diporo (dibagi) 7 (bersaudara)," ujar Timbul.

Timbul pun berharap bisa mendapatkan SKTM untuk mengurus keringanan kuliah anaknya. Dia juga sudah berupaya menanyakan kenaikan desil itu ke petugas di kelurahan.

"Ini datangi (petugas sensus) setelah tahu kalau desilnya naik malah. Belum lama itu, paling belum ada seminggu. Saya tanya (perihal desil), (jawabannya) 'kami tidak ada hubungannya dengan bansos pak'," imbuh Timbul.

Terkait hal itu, Plt Kepala BPS DIY Endang Tri Wahyuningsih mengatakan pihaknya sudah melakukan verifikasi. Dia menyebut perubahan desil masih mungkin dilakukan.

"Yang bersangkutan bekerja sebagai pengemudi bentor dan memiliki usaha kecil berupa ternak ayam. Rumah yang ditempati merupakan rumah milik sendiri. Perubahan desil masih dimungkinkan apabila berdasarkan hasil verifikasi ditemukan kondisi yang tidak sesuai dengan data sebelumnya," kata Endang saat jumpa pers di BPS DIY, Selasa (24/8).



(ams/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads