Raja Jogja Sultan HB X Jadi Korban Rekayasa AI

Terpopuler Sepekan

Raja Jogja Sultan HB X Jadi Korban Rekayasa AI

Tim detikJogja - detikJogja
Sabtu, 25 Jul 2026 14:05 WIB
Tangkapan layar memperlihatkan video Sultan HB X yang terungkap rekayasa AI, Rabu (22/7/2026).
Tangkapan layar memperlihatkan video Sultan HB X yang terungkap rekayasa AI, Rabu (22/7/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Kasus video rekayasa AI yang menampilkan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X seolah-olah sedang menyampaikan agar pembayaran terhadap suatu barang bisa dilakukan sebelum barang itu dikirim menjadi salah satu berita terpopuler di detikJogja pekan ini. Begini duduk perkaranya.

Pemda DIY melalui akun Instagram resminya, @humasjogja, menegaskan bahwa video rekayasa AI itu hoaks. Masyarakat diminta tidak percaya dan dilarang menyebar video itu jika menemukannya.

Koordinator Substansi Bagian Humas Biro Umum, Humas, dan Protokol Setda DIY, Ditya Nanaryo Aji, mengatakan pihaknya mengetahui adanya video yang beredar di aplikasi perpesanan WhatsApp ini dari putri kedua Sultan, GKR Condrokirono.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami tidak tahu mulai kapan video itu beredar, namun Gusti Condokirono menghubungi kami kemarin sekitar pukul 5 sore. Jadi ada teman atau kolega beliau itu di-share melalui WA. Jadi itu video WhatsApp ya, bukan, bukan melalui medsos," kata Ditya di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Rabu (22/7).

"Pertama, kami diminta untuk mengecek apakah di Humas pernah mengambil video tersebut. Kedua, memastikan kalau memang bukan, apakah itu disinyalir menggunakan AI. Nah setelah kami cek videonya, ternyata memang benar Ngarsa Dalem tidak pernah melakukan wawancara seperti itu, statement seperti itu, dan kami pastikan itu menggunakan AI," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Menyebut Salah Satu Tokoh

Ditya menjelaskan, isi video AI tersebut berisi keterangan Sultan yang seolah mengimbau pembayaran suatu barang dilakukan sebelum video tersebut dikirim.

Dalam konten klarifikasi Pemda DIY di akun Instagram resminya, Ditya mengonfirmasi pihaknya telah melakukan penyensoran video tersebut. Pasalnya di video tersebut, Sultan 'dibuat' menyebut nama salah satu tokoh.

"Jadi lebih ke scam ya, penipuan itu. Jadi, di video itu, kurang lebih disampaikan bahwa Ngarsa Dalem itu mempromosikan, jadi seolah-olah agar pembayaran terhadap suatu barang itu bisa dilakukan sebelum barang itu dikirim. Dan menyebut merchant, artinya kan itu nggak mungkin kan disampaikan oleh beliau," jelasnya.

"Jadi memang di dalam video itu disebutkan salah satu tokoh ya, yang mungkin, kami juga berhati-hati karena jelas-jelas itu videonya video fake, video palsu. Itu nama tokoh itu kami sensor ya, biar tidak menjadi polemik lebih jauh lagi gitu," imbuh Ditya.

Calon Korban Mengadu ke Putri Sultan

Ditya mengatakan, Pemda DIY tidak mengetahui apakah sudah ada korban akibat video tersebut. Namun, disinyalir kolega yang membagikan video tersebut ke Gusti Condrokirono adalah calon korban yang mencoba mengroscek kebenaran video itu.

"Setahu saya ya, tapi kami kan tidak kemudian bertanya lebih detail ke beliau. Tapi setahu saya calon korban itu ingin memastikan kepada Gusti Kirono bahwa video ini benar atau nggak, gitu. Nah itu menggunakan atau mencatut nama Ngarsa Dalem," kata dia.

Gusti Condrokirono lalu meminta Humas Pemda DIY membuat klarifikasi serta konten edukasi mengenai video tersebut. Konten edukasi ini bertujuan agar masyarakat tidak menelan mentah-mentah segala informasi yang beredar di media sosial yang mengatasnamakan Pemda DIY apalagi Sultan HB X.

"Jadi di videonya itu kan, statement yang disampaikan oleh beliau itu menyinggung ranah pribadi dan itu jelas sekali bahwa tidak mungkin terjadi. Karena selama kami di Humas belum pernah beliau menyinggung atau menyampaikan sesuatu yang sifatnya ranah pribadi seseorang yang lain gitu," ujar Ditya.

Menurut Ditya, kejadian semacam ini baru pertama kali terjadi. Ia juga mengonfirmasi pihaknya belum mengambil langkah hukum atau melaporkan ke kepolisian.

"Kalau sejauh ini belum, nggih. Belum, karena mungkin dari kami sendiri titik beratnya ke edukasi ke masyarakat ya, tentang penggunaan AI maupun penyalahgunaan AI untuk hoaks itu sendiri. Sampai saat ini kami belum, belum ke arah sana," pungkasnya.



(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads