Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY menyebut terdapat dua SMA yang menjadi korban penipuan tes TOEFL saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Disdikpora DIY pun telah melakukan kroscek ke salah satu SMA yang menjadi korban.
"Sementara SMA 9 dan SMA Swasta tapi belum tahu di mana. Jelas penipuan karena kontak dan lainnya tidak bisa dihubungi," jelas Plt Kepala Disdikpora DIY, Muhammad Setiadi saat dihubungi, Selasa (21/7/2026).
Sebelumnya, viral kejadian penipuan tes TOEFL di sebuah SMA di Kota Jogja saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY pun bergerak cepat mengusut kasus ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabar yang diunggah akun X @merapi_uncover tersebut menjelaskan kronologi kasus penipuan tersebut. Berawal dari 108 siswa di sebuah SMA di Kota Jogja dikumpulkan di satu ruangan dengan dalih akan mendapat sosialisasi tentang TOEFL.
Dalam sesi tersebut secara bergantian dibantu dua oknum petugas pemberi materi yang tidak dijelaskan dari pihak mana. Mereka adalah LFN dan LYN. Usai sosialisasi, salah satu oknum disebut memainkan trik psikologi dengan memberi diskon untuk tes TOEFL yang semula Rp 400 ribu menjadi Rp 100 ribu. Namun siswa hanya diberi waktu 15 menit untuk menyelesaikan pembayaran dengan scan QRIS.
"Karena telanjur percaya dan panik diburu-buru waktu, aku dan teman-teman langsung bayar, ada yang cash di depan kelas, ada juga yang transfer atau QRIS di bagian belakang ruangan. Kami pun dikasih kuitansi berlogo huruf 'V' dengan nama perusahaan Yogya*******, lengkap dengan alamat, nomor kantor, dan email," tulis cuitan dalam unggahan tersebut dilihat detikJogja, Minggu (19/7).
Setelah itu, para siswa diperkenankan kembali ke kelas masing-masing. Belum genap 10 menit setelahnya, salah satu siswa mendapat informasi dari siswa sekolah lain jika sosialisasi tersebut adalah penipuan.
"Setelah kami cari tahu di internet dan media sosial, ternyata alamat kantor yang tertera di kwitansi itu palsu. Terus, tes yang mereka tawarin sebenarnya bukan TOEFL, melainkan cuma tes EPT biasa yang dikerjain secara online dan bisa dicicil beberapa hari, serta sertifikatnya cuma dikasih dalam bentuk file PDF (bukan fisik)," papar cuitan tersebut.
"Parahnya lagi, pihak sekolah ternyata nggak pernah ngizinin sosialisasi yang ada transaksi langsung dengan siswa kayak gini. Pihak Yogya******* ini ketahuan memaksa masuk secara diam-diam tanpa izin resmi alias menyelinap, jadi sekolah kami kecolongan," lanjutnya.

Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Disdag Jogja Buka Suara soal Curhat Difabel Dilarang Jual Asongan di Ngasem
BGN Umumkan 5 Pejabat Baru, Ini Daftarnya