Apri Kusbiantoro (50), seorang komikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kini tinggal di Jetis, Bantul, mempunyai prestasi mentereng dengan menjadi ilustrator beberapa komik di Eropa hingga Amerika. Siapa sangka, prestasinya itu berawal dari 'sentilan' sang ibu.
Ia mengaku senang dengan komik sejak kecil karena dikenalkan kakaknya dengan komik-komik Eropa dan Amerika. Namun, saat itu kegemarannya tidak mendapat respons positif dari orang tuanya, yang menilai kebanyakan baca komik bisa bikin bodoh.
"Suka gambar sejak kecil, buku tulis saya lebih banyak gambar ketimbang catatannya. Lalu dianggap sama orang tua semua itu karena kebanyakan membaca komik," ujarnya, Jumat (5/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena di era saya, khususnya orang tua di lingkungan saya menganggap komik itu bukan bacaan baik, sebaiknya dihindari dan lebih baik membaca buku pelajaran. Ya mungkin karena orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya secara akademis, padahal saya saat SD masih rangking 5 besar," ucapnya.
Walhasil, kariernya sebagai komikus sempat mandek. Pada SMP hingga SMA, dia sempat menggambar komiknya, namun tidak tuntas.
"Terus tahun 1994 masuk ISI Jogja jurusan desain komunikasi visual (DKV) dan buat komik berjudul Bunglon. Komik itu sempat dicetak oleh Balai Pustaka," ujarnya.
Namun, saat itu komik Indonesia masih kalah pamor dengan komik Jepang. Akhirnya, Apri pun banting setir sebagai animator pada tahun 1999 di salah satu rumah produksi di Jakarta.
"Saat itu komik saya sempat lupakan karena animasi bisa membiayai saya kuliah dan mengoleksi barang-barang yang saya inginkan," katanya.
Apri Kusbiantoro saat ditemui di kediamannya di Trimulyo, Jetis, Bantul, Jumat (5/6/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Titik Balik Apri
Hingga akhirnya ada titik balik yang membuat Apri kembali menggeluti dunia komik. Di mana saat itu dirinya dan sang ibu sedang melihat televisi.
"Lalu ada titik saat ibu lihat iklan di TV dan saya bilang itu bikinanku tapi dijawab ibu saya, gimana aku tahu kalau itu bikinanmu," ujarnya.
Merasa hanya menjadi orang di balik layar, Apri mencoba peruntungan dengan mengirimkan karyanya ke Amerika melalui digital webbing pada tahun 2007. Saat itu Apri mencari penulis yang membutuhkan ilustrator.
"Setelah ketemu saya email dan kirim gambar-gambar, ternyata cocok dan ditawari naskah agar direalisasikan sebagai komik. Semua itu baru dapat di tahun 2011, jadi cukup lama," ucapnya.
Setelah itu, Apri mencoba mengirim karyanya ke Eropa. Ia sengaja memilih Benua Biru karena saat muda, dirinya suka membaca komik Storm.
"Ternyata ada orang Belanda menghubungi saya dan bilang kok gaya gambarmu mirip dengan Don Lawrence. Dari situ orang Belandanya ingin memasukan karya saya ke majalah, saat itu saya percaya saja dan langsung mengirim gambar dengan catatan carikan penulisnya," ujarnya.
Apri pun beberapa kali menjadi ilustrator untuk penulis Eropa. Puncaknya, Apri mendapatkan tawaran untuk menjadi ilustrator komik Storm karya Don Lawrence.
Gambar Komik Elang Jawa
Sempat vakum akibat COVID-19, pada tahun 2021, sutradara Fajar Nugros menghubungi Apri usai melihat poster film yang tengah dibesut Hanung Bramantyo.
"Lalu Fajar ingin buat komik, dia punya naskah dan mengajak saya mengerjakan komik itu," ujarnya.
Saat itu, Apri mengaku sedang memiliki dua proyek untuk industri komik Eropa. Akan tetapi Fajar menyebut jika tidak memberikan deadline untuk pengerjaan komiknya.
"Lalu saya tanya, komik mau diterbitkan atau gimana dan dijawab tidak tahu. Dari situ saya pernah tidak ada motivasi mengerjakan komik Elang Jawa, apalagi komik Indonesia," ucapnya.
Namun, Apri lantas mencoba menawarkan komik Elang Jawa ke Eropa. Ia mengaku berusaha mendapatkan motivasi menggarapnya.
"Lalu saya tawarkan ke penerbit Storm, akhirnya mau menerbitkan Elang Jawa di majalah dulu. Saat itu di-deadline dan Fajar senang, akhirnya Elang Jawa diterbitkan tahun 2025," katanya.
Apri mengaku besok, Sabtu (6/6) berangkat ke Jakarta. Selanjutnya dari Jakarta akan bertolak ke Eropa untuk tur komik Elang Jawa dan komik Storm De Maoutusauri Armada dalam versi Jerman dan Belanda.
"Besok tur Jerman, Belanda dan Belgia. Berangkat besok pagi ke Jakarta dulu, istirahat lalu ke Eropa. Jadi di Eropa saya launching komik Indonesia saya yang pertama dan diterima pembaca Eropa berjudul Elang Jawa," ujarnya.
Pria murah senyum ini mengaku sangat senang komik Indonesia 60 halaman karyanya bersama Fajar Nugros bisa diterima di Eropa. Sedangkan di Indonesia, komik Elang Jawa bisa dibeli di toko buku hingga market place dengan harga Rp 72 ribu.
"Sangat senang, karena komik Indonesia bisa sampai Eropa, semoga ke depannya semakin banyak lagi komik-komik Indonesia yang sampai Eropa," ucapnya.


Komentar Terbanyak
Pengirim Sapi Kurban 'TIW' ke Masjid Dekat Rumah Amien Rais dari Jakarta
Api Misterius Masih Teror Rumah Fia di Seyegan, 10 Hari Kebakaran 73 Kali
Viral Pria Bawa Seprai Putih Disebut Pocong Mau Maling di Gunungkidul