Asa Jemaat GMS Bantul Bisa Ibadah di Gereja Lagi

Asa Jemaat GMS Bantul Bisa Ibadah di Gereja Lagi

Tim detikJogja - detikJogja
Senin, 01 Jun 2026 06:55 WIB
Gereja Misi Sejahtera (GMS) Bantul di Glugo, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Selasa (26/5/2026).
Gereja Misi Sejahtera (GMS) Bantul di Glugo, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Selasa (26/5/2026). Foto: dok.detikJogja
Jogja -

Jemaat Gereja Misi Sejahtera (GMS) belum bisa ibadah di gereja usai polemik pembubaran. Jemaat Gereja GMS pun berharap bisa segera berkumpul di bangunan gereja mereka.

Dari hasil pertemuan Forkopimda dan GMS Bantul usai pembubaran ibadah, untuk sementara bangunan gereja tidak digunakan. Pada Minggu (31/5/2026), jemaat memilih untuk menggelar ibadah online.

"Iya betul mas (ibadah dilaksanakan online)," ujar Humas GMS Pusat, Josiah Michael, saat dihubungi detikJogja, Minggu (31/5). Hal ini pun diinformasikan melalui akun Instagram resmi GMS, @gmschurch.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya mengikuti arahan, kita tidak beribadah onsite minggu ini di Bantul," sambungnya.

ADVERTISEMENT



Sedianya para jemaah GMS diminta untuk beribadah di gereja Pakuwon Mall. Namun, karena alasan jarak, jemaat memilih untuk menggelar misa online.

"Mengenai ibadah ke Pakuwon (Mall) nggak jadi mas, karena kasihan jemaat terlalu jauh dari Bantul," ujar Josiah.

Pihaknya pun berharap jemaat GMS bisa kembali berkumpul untuk ibadah di gereja mereka. Josiah mengatakan pihaknya berupaya melengkapi perizinan agar ibadah bisa kembali digelar di GMS Sewon.

"Kita harap hanya ibadah hari ini ya (yang digelar online), karena ibadah itu kan kewajiban untuk berkumpul di gereja. Kita akan terus koordinasi ya dengan Pemkab Bantul. Doakan segera ada solusi untuk ibadah kami," ujar Josiah.

Menag Berharap Tak Terjadi Lagi

Di sisi lain, pembubaran paksa ibadah GMS juga mendapat sorotan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Nasaruddin berharap insiden tersebut tak terjadi lagi.

"Insyaallah Kementerian Agama dalam persoalan-persoalan ini kita usahakan ada penyelesaian yang tepat dan cepat, dan win-win solution itu moto yang paling baru. Dari dulu tidak pernah ada yang senang dengan keributan, jadi itu tantangan yang harus kita hadapi dan harus kita lewati. Semoga tidak terulang lagi," ujar Nasaruddin dilansir detikHikmah.

Dia menyebut Kemenag berupaya untuk mencari jalan tengah terkait polemik ini. Dia berharap persatuan dan toleransi antarumat beragama bisa diwujudkan.

"Mudah-mudahan ada kesadaran batin yang sangat dalam untuk semuanya kita. Apapun agamanya, sehingga kita bisa melakukan persoalan dengan baik, sebagai bangsa Indonesia nggak ada orang lain," harapnya.

Sebagai informasi, peristiwa pembubaran paksa ibadah jemaat GMS di Bantul itu terjadi pada Minggu (24/5) lalu. Pihak GMS pusat melalui humas, Josiah Michael, menyesalkan tindakan intimidasi dan ancaman verbal serta fisik dari oknum ormas tersebut, mengingat kebebasan beribadah dilindungi Pasal 29 UUD 1945.

Di sisi lain, Forum Jihad Islam (FJI) DIY selaku pihak yang membubarkan ibadah berdalih tindakan tersebut didasari oleh aspirasi warga setempat yang menolak keberadaan gereja karena masalah perizinan yang dinilai belum klop.

Sementara itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, turut merespons keras peristiwa ini. Sultan menegaskan perbedaan ras maupun agama adalah sebuah keniscayaan ciptaan Tuhan, sehingga tindakan merasa paling benar sendiri tidak dapat dibenarkan.

Halaman 3 dari 2
(ams/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads