10 Khutbah Idul Adha Terbaru 2026 Berbagai Tema yang Singkat dan Padat

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJogja
Jumat, 22 Mei 2026 10:10 WIB
Ilustrasi Khatib Khutbah Idul Adha 2026 (Foto: Muhammad Adil/Unsplash)
Jogja -

Tidak lama lagi, Hari Raya Idul Adha alias Idul Kurban akan tiba, tepatnya pada 27 Mei 2026. Pada momen itu, umat Islam akan berbondong-bondong pergi ke lapangan untuk menunaikan sholat Idul Adha. Dalam rangkaiannya, akan ada penyampaian khutbah.

Ada beragam tema yang bisa diangkat untuk khutbah Idul Adha. Mulai dari kisah nabi Ibrahim, hikmah kurban, dan seterusnya. Tentunya materi yang diangkat mesti mengena jemaah dan poin utamanya tersampaikan.

Buat detikers yang butuh contohnya, di bawah ini detikJogja himpunkan 10 khutbah Idul Adha 2026 singkat dan padat. Simak satu per satu sampai tuntas, ya, Dab!

Syarat dan Tata Cara Khutbah Idul Adha

Bagi detikers yang mendapat amanah menjadi khatib, ada beberapa aturan main penting yang wajib dipahami biar ibadah shalat id kita makin sempurna. Menurut NU Online, khutbah Idul Adha berbeda dengan shalat Jumat, khutbah Idul Adha ini baru dilaksanakan setelah shalat dua rakaat selesai. Walaupun hukum khutbahnya sendiri sunnah, tata cara dan rukunnya tetap tidak boleh asal-asalan karena aturannya sama persis dengan khutbah Jumat.

Saat berkhutbah, kamu disyaratkan untuk berdiri kalau mampu. Nah, khutbahnya sendiri dibagi menjadi dua sesi, di mana kamu disunahkan duduk sebentar untuk menyela khutbah pertama dan kedua. Keunikan lainnya ada pada bacaan pembukanya, nih. Pada khutbah pertama, kamu disunahkan memulainya dengan membaca takbir sebanyak 9 kali, sedangkan di khutbah kedua cukup dibaca 7 kali saja. Sepanjang khutbah ini berlangsung, jamaah juga dianjurkan untuk tenang dan mendengarkan dengan seksama agar bisa menyerap pesan takwa secara utuh.

Menariknya, momen khutbah ini sebenarnya dirancang sebagai syiar yang inklusif untuk semua orang. Rasulullah bahkan memerintahkan seluruh umat Islam untuk datang berbondong-bondong ke tempat pelaksanaan, termasuk para perempuan yang sedang haid. Meskipun posisi duduknya harus terpisah dari barisan sholat, mereka tetap punya hak yang sama untuk mendengarkan khutbah, ikut bertakbir, berdoa, dan merayakan hari bahagia ini bersama-sama.

10 Khutbah Idul Adha 2026 Berbagai Tema

Berikut ini adalah beberapa contoh Khutbah Idul Adha yang bisa detikers gunakan bila mendapat amanat menjadi khatib.

Khutbah Idul Adha 2026 #1: Pelajaran Dari Hikmah Qurban Nabi Ibrahim A.S.

(sumber: Kemenag Sumatera Selatan)

السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.

لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلهِ ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ الَّذِي هَدَانَا إِلَى الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلالَمِ وَأَكْرَمَنَا بِشَرِيْعَةِ نُسُكِ الْحَجِّ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَجَلَالِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ سَائِرِ خَلْقِهِ، أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ وَكَرَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ مِنْ جَمِيعِ أُمَّتِهِ،

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَافْعَلُوا مَأْمُورَاتِهِ وَاتْرُكُوا مَنْهِيَّاتِهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَاللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah

Alhamdulillah, puji dan syukur kita persembahkan ke hadirat Allah Azza Wajalla atas anugerah rahmat dan nikmat yang dilimpahkan kepada kita. Shalawat beriring salam, semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW tauladan terbaik atas segenap makhluk.

Sebagai khatib saya mengajak dan menyeru kepada hadirin pada umumnya, terutama kepada diri saya sendiri, marilah kita meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, karena itulah kunci bahagia dan sebaik-baik bekal bagi kita.

Pada hari ini 10 Dzulhijjah, suara takbir menggema, tahmid berkumandang, tahlil (ucapan La ilaha illallah) bersenandung, bersahut dari masjid, surau dan mushalla, dari perkotaan, hingga pedesaan, masyarakat pegunungan, para nelayan, sampai ke seluruh pelosok tanah air bahkan hingga ke penjuru dunia sebagai pertanda rasa bahagia dan syukur kepada Allah.

Firman Allah :

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدُيكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu" (Q.S.Al-Baqarah: 185)

Pada saat yang bersamaan, ribuan bahkan jutaan umat manusia berdatangan dari seluruh penjuru dunia, meninggalkan sanak keluarga dan handaitaulan serta menanggalkan semua atribut, pangkat dan jabatan mengunjungi tanah kelahiran Rasulullah SAW "Mekkah Al-Mukarramah" sembari tak henti-henti mengucapkan talbiyah sebagai ketundukan kepada Allah menerima panggilan suci melaksanakan ibadah haji.

Dalam kesempatan ini, Khatib mengajak jama'ah semua untuk merenungi dan mengambil pelajaran dari hikmah Qurban Nabi Ibrahim A.S. mari kita memahami dari kisah keshalihan Ibrahim dan keikhlasan Isma'il A.S. tersebut. Kisah Indah, penuh haru dan menyentuh hati, sarat dengan muatan hikmah tersebut selalu terngiang manakala 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah datang menghampiri. Sebagian kecil lembaran kisah tersebut diungkap dalam Al-Qur'an, antara lain Q.S. Ash-Shaffat ayat 102.

Allah berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَبُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Q.S. Ash-Shaffat : 102)

اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah

Dari kutipan ayat ini, memberikan gambaran tentang Qurban dan Pengorbanan Nabi Ibrahim yang penuh dengan hikmah yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi Ummat Islam dan ditumbuh kembangkan dalam berbagai bentuk sikap mulia. Beberapa diantaranya :

1. Peristiwa Qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap Isma'il merupakan simbol kepada semua manusia bahwasanya untuk mencapai kesuksesan dan ridha Allah maka semangat rela berqurban harus digalakkan disertai dengan kecintaan kepada Allah di atas segalanya.

Betapa sulit keadaan Nabi Ibrahim A.S. saat itu. Di satu sisi beliau adalah seorang Nabi dan Rasul yang harus menyampaikan dan melaksanakan titah dan perintah Allah. Sedangkan di sisi yang lain beliau adalah seorang ayah yang secara naluri sangat cinta kepada anaknya. Anak adalah buah hati, belahan jiwa, perhiasan dunia, kebanggaan dan prestise serta anugerah istimewa bagi orang tua. Anak menjadi Penerus cerita, pelanjut sejarah, simpanan berharga, kekayaan yang mahal, dan investasi terbaik di masa depan serta merupakan matahari keluarga. Singkatnya, anak adalah cita-cita dan harapan orang tua.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَمَلُ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ لِأُمَّتِي لَوْلَا الْأَمَلُ ما أَرْضَعَتْ أُمُّ وَلَدًا وَلَا غَرَسَ غَارِسُ شَجَرًا

"Sesungguhnya cita-cita (harapan) itu merupakan Rahmat Allah bagi ummatku, seandainya tidak ada cita-cita niscaya tiada seorang ibupun yang mau menyusui anaknya dan tiada seorang petanipun yang mau menanam pohon" (H.R.Ad-Dailamy dan lainnya).

Orang tua berkorban dengan bekerja keras guna memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Seorang anakpun berkorban dengan menjadi anak yang shalih-shalihah, yang mandiri, yang dapat membahagiakan dan menjadi kebanggaan orang tuanya. Sebagai orang tua...Sudahkah kita berperan sebagai orang tua yang baik bagi anak-anak kita..?, rela berkorban dan menghadirkan diri sebagai sosok yang dikagumi anak-anak kita...?, menampilkan diri sebagai pribadi yang patut dibanggakan dalam keluarga...?. orang tua bukan hanya bisa menyampaikan contoh tapi mampu menjadi contoh. Menjadi contoh teladan berarti mampu mengolah, mengelola sikap perilaku dengan contoh positif, dan mampu menunjukkan arah serta membangun semangat kepada orang-orang sekitarnya.

اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah

2. Qurban pada hakikatnya menyembelih atau memotong sifat-sifat hewani seperti egois, rakus atau tamak, mencuri atau korupsi, merampas hak-hak orang lain, kezhaliman bahkan tirani/diktator sudah selayaknya dipangkas atau dihilangkan.

Nabi Ibrahim A.S tidak diperintah Allah untuk menjadi pembunuh agar membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa "kepemilikan" terhadap Ismail, karena pada hakikatnya semua adalah milik Allah. Setiap kita adalah "Ibrahim" dan setiap Ibrahim mempunyai "Isma'il". "Ismailmu" mungkin "hartamu". "Ismailmu" mungkin "jabatanmu", "Ismailmu" mungkin "gelarmu". "Ismailmu" mungkin "ego dan kesombonganmu", "Ismailmu" mungkin adalah sesuatu yang paling engkau "sayangi" dan engkau "pertahankan" di dunia ini.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya "Madarijus Salikin" menjelaskan bahwa pemuasan nafsu merupakan perbuatan manusia yang membuat mereka tidak berbeda dengan semua jenis hewan. Di antara jiwa manusia ada yang menyerupai perilaku hewan, bahkan lebih dari itu. Al-Qur'an dalam berbagai ayat menyebutkan manusia yang berperilaku hewan, antara lain dalam Q.S. Al-A'raf: 179, Allah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ عَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا أُوْلَبِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَبِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A'raf : 179)

اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah

3. Pembagian daging hewan qurban kepada orang yang tidak mampu hakikatnya adalah membangun kesetia kawanan dan solidaritas sosial ummat Islam dan memupuk rasa kebersamaan serta nilai-nilai persaudaraan, Agar silaturrahim tetap terjalin dan ukhuwwah selalu terjaga.

Kita prihatin terhadap pertikaian antar umat, politik penuh intrik, fanatik terhadap organisasi dan kelompok lebih besar daripada terhadap agama. Hasud, iri, dengki dan fitnah menjadi barang murah, menjadi lipstik keseharian di masyarakat, permusuhan dan perpecahan menjadi subur, sedangkan cinta dan kasih sayang menjadi pudar, Ukhuwwah Islamiyyah menjadi mahal, bahkan terlalu mahal sehingga tidak terjangkau. Adapun ummat yang di bawah bagai daun kering, yang mudah dihimpun tapi sulit diikat, jika terkena angin langsung berisik, jika terkena api langsung terbakar.

اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah

Nanti, bila malam telah semakin larut, saat suasana semakin sunyi, yang terdengar hanya suara jangkrik, sesekali desiran angin menerpa pepohonan, lalu kita terjaga dari tidur yang nyenyak, mimpi yang indah, segera kita mengambil air wudhu', laksanakan shalat malam (Tahajjud), setelah itu kita bermunajat mendo'akan orang tua kita, kita juga berdo'a kiranya Allah merekatkan antar kita persaudaraan yang kuat, ukhuwwah Islamiyyah yang utuh dan tidak mudah goyah, sehingga kita akan merasakan indahnya kebersamaan dalam Islam. Imam Al-Ghazali pernah berkata: "Ukhuwwah (persaudaraan) itu bukan pada indahnya pertemuan, tapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam do'anya".

Demikianlah Khutbah ini semoga bermanfaat. Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin.

A'udzubillahiminasy-syaithonirrojim

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

بَارَكَ اللهُ وَلَكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهُ الْعَظِيمِ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

KHUTBAH KEDUA IDUL ADHA

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ .

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً .

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ وَالْإِعْتِصَAMِ بِحَبْلِ اللَّهِ الْمَتِيْنِ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنَ

أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ وَكَرَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوْا يَا إِخْوَانِي رَحِمَكُمُ اللهُ أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَاعْلَمُوا أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ جَعَلَ الْخَلِيْلِ إِبْرَاهِيمَ إِمَامًا لَّنَا وَخَالِصُ الْأُمُورِ, وَمُؤْذِي الْفُجُوْرِ, وَمُدَرِّسُ مَنَاسِكَ الْحَجِّ الْمَبْرُوْرِ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَلَّى عَلَى النَّبِيِّهِ قَدِيمًا وَقَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي KِTَAبِهِ :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ وَكَرَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِينَ وَارْضَى اللَّهُمَّ عَلَى أَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَلَى بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَعَلَيْنَا نْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

أَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنِ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَاتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِر| لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الفَاتِحِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ الله

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْتَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Khutbah Idul Adha 2026 #2: Qurbanku Menggembirakan Saudaraku

(sumber: Kemenag Kota Yogyakarta)

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ. لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَاللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ . لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

الْحَمْدَ لِلَّهِ الَّذِي نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا أَمَّا بَعْدُ : فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِينَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلا وَأَنتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

وَقَالَ تَعَالَى : إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ, فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ.

Hadirin Kaum Muslimin-Muslimat Rahimakumullah

Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT, yang pada pagi hari ini, pagi yang penuh berkah ini, kita masih diberikan limpahan rahmat, hidayah, nikmat sehat, nikmat iman sehingga dapat hadir untuk menjalankan sholat Idul Adha secara berjamaah di tempat yang mulia ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah pada junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta para keluarga, sahabat, tabi'in, tabi' tabi'in hingga kita sebagai umatnya, semoga kita termasuk umat Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan syafaatnya di Hari Kiamat, aamiin.

Makna Hakiki Idul Adha dan Qurban

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Qurban, bukan sekadar perayaan tahunan yang meriah. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum spiritual untuk merenungi makna terdalam dari ketaatan, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Ibadah qurban yang kita laksanakan hari ini, sejatinya bukanlah semata ritual penyembelihan hewan. Namun, ia adalah manifestasi nyata dari ketakwaan kita kepada Allah, sekaligus wujud kepedulian kita terhadap sesama.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman dalam Surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدُيكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: "Daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."

Ayat ini dengan jelas menegaskan bahwa esensi dari ibadah qurban bukanlah pada daging atau darah hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan yang ada dalam hati kita. Ketakwaan yang mendorong kita untuk berkorban, berbagi, dan merasakan penderitaan saudara-saudara kita.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Qurban sebagai Jembatan Kepedulian

Hadirin Wal Hadirat yang Berbahagia,

Tema khutbah kita hari ini adalah "Qurbanku Menggembirakan Saudaraku". Ini adalah ajakan untuk memahami bahwa ibadah qurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Di tengah gemerlap kehidupan dan hiruk pikuk dunia, masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan, bahkan kekurangan. Bagi mereka, seteguk air bersih, sepiring nasi, apalagi sepotong daging, adalah kemewahan yang sulit didapatkan.

Melalui ibadah qurban, Allah memberikan kita kesempatan emas untuk menjadi jembatan kebahagiaan bagi mereka. Daging qurban yang kita distribusikan, insya Allah, akan menjadi sumber gizi, sekaligus simbol kasih sayang dan perhatian dari kita kepada mereka. Ini adalah bentuk konkret dari nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, persaudaraan yang melampaui batas suku, ras, dan status sosial.

Ketika daging qurban sampai di tangan mereka, terbayang senyum mengembang di wajah anak-anak yatim, janda, fakir miskin, dan dhuafa. Senyum itu bukan sekadar karena mendapatkan makanan, tapi juga karena merasakan bahwa mereka tidak sendiri, bahwa ada saudara-saudara mereka yang peduli. Qurban kita bukan hanya mengisi perut mereka, tapi juga mengisi hati mereka dengan harapan dan kebahagiaan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Meneladani Semangat Berbagi Nabi Muhammad SAW

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan terbaik dalam hal kepedulian dan kedermawanan. Beliau selalu mengajarkan umatnya untuk memperhatikan tetangga, kerabat, dan siapa saja yang membutuhkan. Beliau bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Artinya: "Tidaklah mukmin orang yang dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya disamping kelaparan" (HR. Bukhari)

Hadits ini mengingatkan kita akan tanggung jawab sosial kita. Qurban adalah salah satu cara untuk menunaikan tanggung jawab tersebut. Mari kita jadikan qurban kita sebagai ekspresi cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama. Biarkan setiap tetes darah hewan qurban yang mengalir, menjadi saksi atas niat tulus kita untuk berbagi kebahagiaan.

Marilah kita bermuhasabah diri, sejauh mana ibadah qurban kita benar-benar menyentuh hati dan menggembirakan saudara-saudara kita. Semoga setiap rupiah yang kita keluarkan untuk membeli hewan qurban, dan setiap butir daging yang kita bagikan, menjadi timbangan kebaikan di hari kiamat kelak.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Kaum Muslimin-Muslimat Rahimakumullah

Di akhir khutbah ini, marilah kita bersama-sama berdo'a kehadirat Allah swt, semoga senantiasa diberikan hidayah, kesehatan, dan kekuatan iman, islam, dan ihsan, hingga akhir hayat mendapatkan predikat husnul khotimah.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ .

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَل تَسْلِيمًا كِثِيرًا .

أَمَّا بَعْدُ فَيا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلا يُكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا .

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيبُ الدَّعَوَاتِ

Ya Allah, ya Tuhan kami, pada hari ini kami berkumpul merayakan hari yang Engkau agungkan, hari yang sangat bersejarah dalam kehidupan umat manusia, khususnya manusia yang mengakui keberadaan dan kemahabesaran-Mu. Oleh karena itu ya Allah, kami bermohon kepadamu, kiranya senantiasa berkenan melimpahkan rahmat dan kasih sayang kepada kami sehingga kami mampu menjalankan semua yang engkau perintahkan dan meninggalkan semua larangan-Mu.

Ya Allah, ya Tuhan kami, Tuhan yang senantiasa mendengarkan semua pengaduan hamba-Nya, anugrahilah hati yang ikhlas untuk senantiasa rela berkorban demi memenuhi panggilan-Mu.

Ya Allah, di hari yang mulia ini, terimalah ibadah qurban kami. Jadikanlah ia sebagai sarana penghapus dosa-dosa kami, peninggi derajat kami di sisi-Mu, dan bukti ketakwaan kami kepada-Mu.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang senantiasa peduli kepada sesama, jiwa yang lapang untuk berbagi, dan kemampuan untuk senantiasa menebarkan kebaikan di muka bumi ini.

Ya Allah, berkahilah rezeki kami, jauhkan kami dari sifat kikir dan tamak. Limpahkanlah rahmat dan hidayah-Mu kepada seluruh umat Islam di dunia ini. Satukanlah hati kami, kuatkanlah persatuan kami, dan jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bersyukur dan berbakti.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ تَوَّابُ الرَّحِيمِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِيْنَا عَذَابَ النَّارُ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينِ

وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَلَمِينَ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Khutbah Idul Adha 2026 #3: Momentum Tekankan Solidaritas dan Soliditas

(sumber: MUI)

KHUTBAH PERTAMA

الله ُأَكْبَرُ - الله ُأَكْبَرُ - الله ُأَكْبَرُ x3

كَبِيْرًا, وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ, لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَاابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْناً ، وَأَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ جَعَلَ حَجَّ اْلبَيْتَ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْناً وَصَرَّفَ وُجُوْهَنَا اِلىَ قِبْلَتِهِ فَكَانَ ذَالِكَ مِنْ نِعْمَةِ اْلعُظْمىَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ اْلعَتِيْقِ ذَاكِرًا أًسْمَآءَ رَبِّهِ اْلحُسْنىَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْباَعِهِ اِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ كِتَابِهِ رِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الَّرحمن الرحيم. إِنّا أَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَالأَبْتَرُ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd..

Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah

Segala puji bagi Dzat yang Mahakuat. Di pagi hari nan cerah saat mentari mulai terik dan harapan yang membuncah, kebesaran Ilahi dikumandangkan di seluruh penjuru dunia. Umat Islam sejagat berbondong-bondong menuju tempat-tempat suci untuk bersimpuh di hadapan-Nya dalam rangka Hari Raya Idul Adha nan bahagia.

Pada waktu yang bersamaan, kaum Muslimin yang tengah menjalankan ibadah haji, kini tengah melontar Jumrah Aqabah setelah wukuf di Arafah sebagai simbol menundukkan ego dan melawan sifat-sifat syaithaniyah dan hayawaniyah yang ada dalam diri setiap manusia. Dengan spirit ketundukan dan kepatuhan akan kebesaran-Nya, umat Islam di seluruh penjuru bumi menggemakan takbir dan tahmid yang menggetarkan kalbu emnsyukuri hidayah yang telah diraihnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Kaum Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Idul Adha merupakan hari raya bersejarah untuk mengenang kembali peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas putranya, Ismail AS. Saat Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah melalui mimpinya untuk "menyembelih" anaknya yang sangat dicintai, dia menghadapi dua pilihan yaitu mengikuti dorongan perasaan dengan menyelamatkan Ismail, atau mentaati perintah Allah dengan totalitas ketundukan.

Di tengah kebimbangan itu, Ismail menyatakan dengan tegas atas pertanyaan ayahnya, bahwa ia siap dengan sepenuh hati untuk menjalankan perintah Allah SWT. Kemudian, turunlah firman Allah SWT:

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ.

"Dan kami panggillah: Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini sebagai ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS As-Shaffat: 104-107).

Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Di kemudian hari, pengorbanan ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan qurban, di setiap tanggal 10 Dzulhijah dan pada hari tasyrik, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Deskripsi historis ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah SWT and kerelaan untuk berkorban adalah esensi yang melekat dari ibadah Qurban. Nilai-nilai tersebut telah diimplementasikan dengan baik oleh Nabi Ibrahim dan ditanamkan kepada anak kesayangannya, Ismail as.

Sikap rela berkorban ini merupakan salah satu karakter keberimanan yang dimunculkan dari kedalaman spiritualitas demi sebuah tujuan tertinggi. Dalam konteks hubungan sosial, rela berkorban merupakan perwujudan sikap "altruisme", menjunjung nilai-nilai "mengutamakan orang lain" dari pada diri sendiri. Yaitu, mengorbankan apa yang kita punya, bahkan yang kita cintai untuk kesejahteraan orang lain. Jika Nabi Ibrahim as. mengorbankan Ismail, sedangkan para sahabat Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan dengan rela mengorbankan segala materi untuk membantu orang lain yang lebih memerlukan, walaupun mereka sendiri masih membutuhkannya. Allah berfirman:

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

"...Mereka (kaum Anshar) mengutamakan kepentingan orang lain (kaum Muhajirin) atas diri mereka, meski mereka sendiri masih memerlukannya..." (QS Al-Hasyr: 9).

Ayat ini menunjukkan keberhasilan Rasulullah SAW dalam menanamkan karekater kuat dan memupuk sikap solidaritas kemanusiaan di kalangan para sahabat. Atas alasan ini, mereka rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi kepentingan yang lebih besar. Untuk itu, hari raya Idul Adha seharusnya dijadikan momentum untuk penguatan karakter keimanan, memupuk rasa solidaritas yang mampu mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan.

Dalam satu studi tentang "Spending Money on Others", dalam ulasan Blanding, M (2023) Why giving to others makes us happy. Working Knowledge, Harvard Business School menyatakan bahwa para peneliti meminta partisipan untuk sekadar mengingat kembali saat mereka dermawan kepada orang lain dan membandingkan perasaan mereka saat mereka memberi kepada orang lain dan saat mengingat mereka menghabiskan uang untuk diri sendiri.

Para peneliti tersebut menemukan bahwa orang tidak mengekspresikan kebahagiaan saat mengingat menghabiskan uang untuk diri sendiri sebanyak dan sebaik saat mereka mengingat tindakan memberi kepada orang lain.

Hasil riset Elizabeth Dunn, pakar psikologi sosial dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, menyimpulkan bahwa semakin besar uang atau harta yang dibelanjakan untuk menolong sesama atau kepentingan orang lain terbukti menambah kebahagiaannya sebagaimana dimuat dalam Jurnal SCIENCE (2008) dengan judul tulisan yang mengejutkan: "Spending Money on Others Promotes Happiness" (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).

Temuan ilmiah tersebut menunjukkan, bahwa yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita membelanjakannya. Orang yang menyedekahkan uang atau hartanya untuk membantu mereka yang membutuhkan ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri. Logika terbalik yang jamak terjadi justru mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi demi mengejar kebahagiaan semu.

Momentum Idul Adha yang menekankan prinsip solidaritas dan soliditas publik jika benar-benar dijadikan landasan untuk membangun negeri dapat dimulai saat ini. Seberat apapun problem yang dihadapi oleh negara ini, dengan modal semangat pengorbanan dan solidaritas kemanusiaan, niscaya berbagai masalah akan teratasi. Sebab, rakyat dan para pemimpinnya merasa "berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing". Langkah ini juga akan mengikis sikap mementingkan diri sendiri dan mencintai harta (hubbud dunya) secara berlebihan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah

Berdasarkan paparan di atas, ibadah qurban mempunyai dua nilai: kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Kesalehan spiritual dalam hal ini adalah penyerahan diri kepada Allah SWT dan mengekang egoisme, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari semangat rela mengorbankan diri, seperti dalam diri Ismail. Sikap ini penting untuk diteladani, terutama bagi generasi muda Indonesia.

Ismail adalah figur anak saleh, atau prototipe generasi muda yang baik. Ia berpandangan jauh ke depan atas dasar spiritualitas yang tinggi, berani mengambil sikap di saat situasi yang sulit, rela berkorban, dan berbakti kepada orang tuanya. Ismail bukanlah pemuda penakut yang mudah putus asa, tapi seorang lelaki muda gentleman yang berani mengambil risiko atas sebuah prinsip yang diyakininya. Ketika hendak dikorbankan oleh ayahnya tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya dan berkata:

يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

"...Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Shaffat: 102).

Ismail juga dikenal sebagai sosok yang jujur. Dalam surat Maryam ayat 55 dijelaskan bahwa Ismail adalah sosok pemuda yang "shadiqal wa'di", yaitu jujur dan menepati janji. Imam al-Thabari dalam kitab Jami'ul Bayan menjelaskan bahwa ada dua dimensi kejujuran dalam diri Ismail. Pertama, kejujuran yang dibangun dalam relasi antar manusia, dan kedua, kejujuran yang bersifat lebih eksklusif antara manusia dengan Tuhannya. Ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan begitu, berbohong adalah termasuk dosa besar (kabura maqtan), sebab ia telah melakukan dua hal yaitu menipu orang lain dan ingkar janji di mata Allah.

Itulah hebatnya Ismail. Andai saja generasi muda Indonesia mampu meneladani Ismail, tentu bangsa ini akan bergerak lebih cepat ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Kesalehan Ismail ini sudah sepatutnya menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi muda zaman sekarang. Apalagi, sejak 2012 lalu hingga 2035, Indonesia telah dan akan dibanjiri generasi muda usia produktif, atau yang biasa disebut bonus demografi.

Yaitu, periode jumlah tenaga kerja produktif jauh lebih banyak daripada tenaga non produktif. Puncak bonus demografi adalah antara tahun 2020-2035, di mana jumlah penduduk produktif (usia 15-64) akan jauh lebih besar dari pada usia non produktif (di bawah 15, dan di atas 64).

Ini artinya peranan generasi muda sekarang sangat strategis. Namun, bangsa ini juga tengah dihadapkan pada problematika yang menimpa generasi muda; mulai dari kasus penyalahgunaan NARKOBA, miras, terorisme, dan kekerasan. Menurut Indonesia Drugs Report 2022 yang dirilis oleh Pusat Penelitian Data, dan Informasi Badan Narkotika Nasional (Puslitdatin BNN) prevalensi jumlah penduduk usia 15-65 tahun yang terpapar narkoba pada 2021, setidaknya pernah pakai, pada 2021 adalah sejumlah 4,8 jackpot jiwa. Menurut data mereka, rentang usia pertama kali dalam menggunakan narkoba adalah pada 17 sampai 19 tahun. Di sinilah mengapa usia remaja menjadi rentang usia pengguna narkoba terbanyak dan pada usia mereka 35 sampai 44 tahun, ketergantungan ini dapat menjadi tanpa henti. Selain itu, kekerasan yang melibatkan pemuda juga masih terus menghiasi berita-berita di media massa, seperti bullying, tawuran, dan geng motor.

Hal ini bisa terjadi antara lain dikarenakan cara berfikir yang pendek, tidak mempunyai harapan hidup, serta mementingkan diri sendiri. Apalagi didasarkan pada sebuah keyakinan yang ingin cepat mendapatkan kesenangan hidup dengan cara mengorbankan diri dan bahkan menyakiti orang lain. Ini tidak boleh dibiarkan. Bagi orang tua dan juga generasi muda, perlu meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim as, supaya bisa terhindar dari hal-hal negatif. Sebab, Nabi Ibrahim telah berhasil membangun keluarga dengan karakter pasrah total kepada Allah SWT. dan gigih berjuang untuk meraih apa yang diinginkan dengan kesungguhan tekad dan komitmen ilahiyah.

Dalam istilah agama, hal ini lebih kita kenal sebagai ikhtiar dan tawakkal (i'qil wa tawakkal). Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan, karena merupakan satu-kesatuan yang saling berkaitan dan saling mendukung untuk tercapainya keseimbangan dalam perjalanan kehidupan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Kaum Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Tidaklah tercapai suatu tujuan ataupun cita-cita dalam kehidupan, melainkan harus didukung oleh ikhtiar atau totalitas usaha dalam meraihnya. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam upaya meraih tujuan hidup. Namun tidak instan, perlu usaha keras dan totalitas untuk meraih cita dengan karakter kuat dan semangat berkorban. Hal ini tidak akan bermakna, serta seringkali menjadi sia-sia, apabila tidak dibarengi dengan totalitas kepasrahan dan doa kepada Allah SWT.

Tentang kedua prinsip ini, istri Nabi Ibrahim, Hajar telah mengajarkan kepada kita dalam peristiwa Sai. Ia tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit. Ia berlari ke sana ke mari, dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air. Ia tidak duduk termenung dan menangis tanpa daya dan berputus asa.

Ia gunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikirannya dengan terus mencari, bergerak, dan berjuang tanpa henti. Kita tahu bahwa Hajar tidak mendapatkan apa yang dicari dari hasil upayanya saat naik ke gunung Shafa dan gunung Marwah, tetapi dari karunia Allah SWT. lewat tendangan kaki balita Nabi Ismail as. Pencarian air ini melambangkan sebuah proses upaya dengan gigih untuk sebuah tujuan hidup yang lebih baik di muka bumi meskipun kadang mendapatkan bukan dari upayanya tetapi karena karunia Allah SWT.

Berjuang hidup yang pantang menyerah. Setiap orang harus siap berjuang keras dan pantang menyerah. Namun demikian, juga selalu disertai dengan kesabaran, keuletan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam hidup ini, kita haruslah siap menghadapi segala kemungkinannya.

Terkadang kegagalan harus kita alami untuk menjadikan kita semakin kuat. Terkadang juga, keberhasilan datang menghampiri usaha keras. Tetapi, jangan sampai terjerumus lupa diri kepada Allah, Sang Penentu segala hasil. Ini penting agar kita tidak sombong, angkuh, dan lupa atas keberhasilan tersebut. Itulah tujuan yang ingin dicapai dengan sikap tawakkal dalam totalitas usaha, sebagaimana dicontohkan Hajar saat mendaki dan menuruni bukit Shafa dan Marwah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah

Di akhir khutbah ini, saya ingin memberikan underline bahwa Idul Qurban mengantarkan kita untuk dapat meneladani kisah sukses keluarga Nabi Ibrahim. Pertama, sosok Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail AS mengajarkan kepada kita tentang pentingya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, serta optimisme dalam menjalani hidup. Ini merupakan pendidikan karakter di lingkungan keluarga yang patut diteladani. Masing-masing anggota keluarga mempunyai karakter kuat yang didasari pada keimanan. Sikap taat kepada Allah, gigih berjuang, dan jujur harus diutamakan dalam mengarungi kehidupan ini.

Kedua, peristiwa qurban mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari untuk memupuk solidaritas kemanusiaan. Tanpa adanya pengorbanan, manusia akan mementingkan dirinya sendiri, lalu menjadi manusia rakus dan acuh terhadap lingkungan sekitar.

Di hari raya idul Adha kali ini, mari kita kobarkan semangat dan optimisme untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan meneladani totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah; kerelaan pengorbanan dan kejujuran Nabi Ismail, serta kegigihan dan ikhtiyar yang dilakukan oleh Hajar.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقْبُوْلِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

KHUTBAH KEDUA

الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَهْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَهْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ المُتَافِقُوْنَ.

الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْراً كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَهْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَاماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَائِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَد| فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْا الخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْا عَنِ السَّيِّئَاتِ.

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْا اللهَ إِلَى مَا دَعَاكُمْ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ اللهُ عَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْهَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ. يَا إِلَهَنَا وَإِلَهَ كُلِّ شَيْءٍ. هَذَا حَالُنَا يَا اللهُ لَا يَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلَاءَ وَالبَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالفَحْشَاءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةَ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.

Khutbah Idul Adha 2026 #4: Ibadah Kurban dan Kepedulian Sosial

(sumber: NU Online)

KHUTBAH I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاَنِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Mari kita awali khutbah ini, dengan senantiasa mengungkapkan syukur dan terimakasih kepada Allah swt, dengan kalimat alhamdulillâhilladzi bi ni'matihi tatimmusshalihat, yang telah mempertemukan kita semua pada momentum yang sangat luar biasa dan sakral, yaitu Hari Raya Idul Adha. Mudah-mudahan hari raya ini bisa menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba yang suci, diampuni segala dosa dan diterima semua amal ibadah oleh-Nya.

Shalawat dan salam tak henti-hentinya kita haturkan, kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alih wa sahbih, sebagai manusia terbaik dan utusan terbaik. Karena berkah dakwah dan perjuangannya-lah, kita semua bisa berkumpul saat ini dalam keadaan iman dan Islam. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya dan bisa mendapatkan syafaatnya, kelak pada hari kiamat. Amin ya rabbal alamin.

Selanjutnya, melalui mimbar yang mulia dan momentum yang agung ini, kami selaku khatib mengajak kepada diri kami sendiri, keluarga, and semua jamaah yang turut hadir pada pelaksanaan shalat Idul Adha ini, untuk terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, salah satunya adalah dengan meningkatkan rasa kepedulian sosial dan empati terhadap sesama.

Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Menumbuhkan kepedulian sosial dan empati kepada sesama saudara merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt yang bisa kita lakukan saat ini. Dengan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, kita semua bisa lebih memahami nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan solidaritas yang diajarkan dalam Islam. Sehingga, kita semua bisa menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat dan bantuan kepada sesama.

Menjadi manusia yang bermanfaat dan peduli terhadap sesama, merupakan salah satu ajaran mulia dalam agama Islam. Bahkan, Islam mengajarkan kepada kita semua, bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat terhadap sesama. Pasalnya, dengan memberikan manfaat kepada orang lain, kita bisa menciptakan dampak positif dalam kehidupan mereka. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya, "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain." (HR ad-Daru Quthni dan al-Baihaqi).

Momentum Hari Raya Idul Adha merupakan waktu yang sangat tepat untuk mengaplikasikan hadits ini. Pada momentum ini, kita semua yang sudah mampu untuk berkurban, sangat dianjurkan untuk berkurban. Tujuannya, selain sebagai bentuk patuh terhadap perintah Allah swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, juga untuk menumbuhkan sikap kepedulian sosial dan empati kepada sesama manusia. Pentingnya dan perintah berkurban telah ditegaskan dalam Al-Qur'an, Allah swt berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya, "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." (QS Al-Kautsar [108]: 2).

Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Hari Raya Idul Adha tidak hanya tentang ritual ibadah shalat dan takbir saja, namun juga untuk membangun dan memperkuat hubungan sosial. Dan hal ini bisa kita raih dengan cara berkurban. Dengan berkurban, selain menjadi bentuk kepatuhan dan wujud syukur setiap Muslim kepada Allah, juga memiliki makna sosial yang sangat dalam, yaitu merasakan empati terhadap sesama yang kurang beruntung sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam membagi rezeki.

Oleh sebab itu, ibadah kurban harus benar-benar dibangun atas dasar kesadaran dan kepedulian yang tinggi kepada saudara-saudara yang kurang mampu, sehingga orang-orang yang berkurban akan melakukannya dengan penuh ikhlas karena Allah semata. Dan, semua ini tidak bisa kita raih selain dilandasi dan didasari oleh ketakwaan kepada-Nya. Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya, "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS Al-Hajj, [22]: 37).

Perintah untuk membangun kepedulian sosial kepada kerabat, saudara, fakir-miskin dan lainnya, juga tertuang dalam Al-Qur'an surat An-Nisa', Allah swt berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Artinya, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki." (QS An-Nisa', [4]: 36).

Tidak hanya ayat di atas, Rasulullah juga menegaskan bahwa tidak sempurna iman orang yang hanya berpikir tentang perutnya sendiri dan mengenyangkannya, tanpa mempedulikan saudara dan tetangganya yang kelaparan. Dalam hadits yang berasal Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Artinya, "Tidaklah beriman, orang yang selalu kenyang, sementara tetangganya lapar sampai ke lumbungnya." (HR Al-Baihaqi).

Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Itulah pentingnya menjadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk membangun kepedulian sosial dan empati terhadap sesama, yaitu dengan cara berkurban. Oleh karena itu, hari raya tidak hanya tentang ibadah shalat sunnah saja, namun juga tentang kepedulian sosial kepada sesama, yaitu dengan cara berkurban.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjadikan momentum perayaan shalat sunnah Idul Adha ini sebagai ajang untuk membangun spirit kebahagiaan bersama, kepedulian bersama dan empati kepada orang-orang yang tidak mampu, sehingga harapannya, kita semua dijadikan hamba-hamba yang dicintai dan disenangi oleh Allah swt.

Demikian khutbah Idul Adha perihal ibadah kurban dan kepedulian sosial ini. Semoga bisa membawa bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك| عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِينَ

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Khutbah Idul Adha 2026 #5: Hari Raya dan Kebahagiaan Bersama

(sumber: NU Online)

KHUTBAH I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاَنِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هوَ الْأَبْتَرُ

Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Mari kita awali khutbah ini, dengan senantiasa mengungkapkan syukur dan terimakasih kepada Allah swt, dengan kalimat alhamdulillâhilladzi bi ni'matihi tatimmusshalihat, yang telah mempertemukan kita semua pada momentum yang sangat luar biasa dan sakral, yaitu Hari Raya Idul Adha. Mudah-mudahan hari raya ini bisa menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba yang suci, diampuni segala dosa dan diterima semua amal ibadah oleh-Nya.

Shalawat dan salam tak henti-hentinya kita haturkan, kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alih wa sahbih, sebagai manusia terbaik dan utusan terbaik. Karena berkah dakwah dan perjuangannya-lah, kita semua bisa berkumpul saat ini dalam keadaan iman dan Islam. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya dan bisa mendapatkan syafaatnya, kelak pada hari kiamat. Amin ya rabbal alamin.

Selanjutnya, melalui mimbar yang mulia dan momentum yang agung ini, kami selaku khatib mengajak kepada diri kami sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang turut hadir pada pelaksanaan shalat Idul Adha ini, untuk terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, salah satunya adalah dengan meningkatkan rasa kepedulian sosial dan empati terhadap sesama.

Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Menumbuhkan kepedulian sosial dan empati kepada sesama saudara merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt yang bisa kita lakukan saat ini. Dengan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, kita semua bisa lebih memahami nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan solidaritas yang diajarkan dalam Islam. Sehingga, kita semua bisa menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat dan bantuan kepada sesama.

Menjadi manusia yang bermanfaat dan peduli terhadap sesama, merupakan salah satu ajaran mulia dalam agama Islam. Bahkan, Islam mengajarkan kepada kita semua, bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat terhadap sesama. Pasalnya, dengan memberikan manfaat kepada orang lain, kita bisa menciptakan dampak positif dalam kehidupan mereka. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya, "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain." (HR ad-Daru Quthni dan al-Baihaqi).

Momentum Hari Raya Idul Adha merupakan waktu yang sangat tepat untuk mengaplikasikan hadits ini. Pada momentum ini, kita semua yang sudah mampu untuk berkurban, sangat dianjurkan untuk berkurban. Tujuannya, selain sebagai bentuk patuh terhadap perintah Allah swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, juga untuk menumbuhkan sikap kepedulian sosial dan empati kepada sesama manusia. Pentingnya dan perintah berkurban telah ditegaskan dalam Al-Qur'an, Allah swt berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya, "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." (QS Al-Kautsar [108]: 2).

Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Hari Raya Idul Adha tidak hanya tentang ritual ibadah shalat dan takbir saja, namun juga untuk membangun dan memperkuat hubungan sosial. Dan hal ini bisa kita raih dengan cara berkurban. Dengan berkurban, selain menjadi bentuk kepatuhan dan wujud syukur setiap Muslim kepada Allah, juga memiliki makna sosial yang sangat dalam, yaitu merasakan empati terhadap sesama yang kurang beruntung sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam membagi rezeki.

Oleh sebab itu, ibadah kurban harus benar-benar dibangun atas dasar kesadaran dan kepedulian yang tinggi kepada saudara-saudara yang kurang mampu, sehingga orang-orang yang berkurban akan melakukannya dengan penuh ikhlas karena Allah semata. Dan, semua ini tidak bisa kita raih selain dilandasi dan didasari oleh ketakwaan kepada-Nya. Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya, "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS Al-Hajj, [22]: 37).

Perintah untuk membangun kepedulian sosial kepada kerabat, saudara, fakir-miskin dan lainnya, juga tertuang dalam Al-Qur'an surat An-Nisa', Allah swt berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Artinya, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki." (QS An-Nisa', [4]: 36).

Tidak hanya ayat di atas, Rasulullah juga menegaskan bahwa tidak sempurna iman orang yang hanya berpikir tentang perutnya sendiri and mengenyangkannya, tanpa mempedulikan saudara dan tetangganya yang kelaparan. Dalam hadits yang berasal Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Artinya, "Tidaklah beriman, orang yang selalu kenyang, sementara tetangganya lapar sampai ke lumbungnya." (HR Al-Baihaqi).

Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Itulah pentingnya menjadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk membangun kepedulian sosial dan empati terhadap sesama, yaitu dengan cara berkurban. Oleh karena itu, hari raya tidak hanya tentang ibadah shalat sunnah saja, namun juga tentang kepedulian sosial kepada sesama, yaitu dengan cara berkurban.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjadikan momentum perayaan shalat sunnah Idul Adha ini sebagai ajang untuk membangun spirit kebahagiaan bersama, kepedulian bersama dan empati kepada orang-orang yang tidak mampu, sehingga harapannya, kita semua dijadikan hamba-hamba yang dicintai dan disenangi oleh Allah swt.

Demikian khutbah Idul Adha perihal ibadah kurban dan kepedulian sosial ini. Semoga bisa membawa bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِينَ

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَل| عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Khutbah Idul Adha 2026 #6: Istiqamah Mendukung Kemerdekaan Palestina

(sumber: NU Online)

KHUTBAH I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan yang di antaranya nikmat Iman, Islam serta sehat wal 'afiyat sehingga kita dapat berkumpul pada pagi hari ini untuk menunaikan shalat Idul Adha di tempat yang mulia ini.

Shalawat beserta salam, mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Di pagi hari raya Idul Adha yang penuh berkah ini pula, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan selalu memotivasi diri dan keluarga kita untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Karena hanya dengan ketakwaanlah kita dapat selamat menuju keharibaan-Nya di kemudian hari dengan berbahagia mendapatkan surga-Nya.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah

Hari raya Idul Adha seharusnya menjadi momen perayaan yang dipenuhi kebahagiaan bagi seluruh umat muslim di dunia. Namun, tidak bagi bangsa Palestina. Mereka tidak dapat menikmati momen hari raya dengan normal sebab setiap waktu diselimuti kekhawatiran oleh dentuman roket, rudal, ataupun senjata jarak jauh lainnya dari bangsa penjajah.

Maka sepatutnya bagi kita, sesama saudara sesama manusia bahkan seagama memberikan dukungan yang terbaik untuk bangsa Palestina. Dukungan baik berupa doa keselamatan, keamanan dan ketentraman maupun dukungan materiil berupa donasi pada akun resmi yang ditujukan untuk bangsa Palestina.

Terkait hal ini Allah ta'ala berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati."

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah swt,

Pada ayat 10 surat Al-Hujurat di atas, Allah menyebutkan bahwa orang-orang beriman merupakan saudara satu sama lain. Terkait hal ini, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud saudara pada ayat di atas ialah saudara di dalam agama. Oleh karenanya, wajib bagi sesama umat Islam untuk saling membantu satu sama lain.

Rasulullah saw bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَوَاصُلِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ

Artinya: "Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, mengasihi dan menyayangi bagaikan satu badan yang sama. Apabila ada salah satu anggota badan yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit panas dan terjaga malam". (HR. Muslim).

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah

Bangsa Palestina, saudara muslim kita saat ini sangat memerlukan dukungan dari kita. Dukungan bisa dilakukan dengan beragam cara, misalnya dengan mendonasikan bantuan lewat lembaga resmi yang amanah, dengan selalu mendoakan keselamatan bagi warga Palestina, ataupun upaya-upaya lainnya yang dapat membantu meringankan beban saudara kita.

Bahkan, jika ditilik dari beban konflik yang ditanggung oleh saudara kita, bangsa Palestina bukan lagi atas nama saudara seagama saja. Akan tetapi sesama manusia yang menginginkan ketentraman, kenyamanan dan kedamaian hidup di bumi Allah adalah sebuah keniscayaan.

Menjadi penting bagi kita untuk terus memberikan support dan mendukung kemerdekaan Palestina atas nama kemanusiaan. Nilai dan norma yang sesuai dan digariskan oleh Allah dalam Al-Qur'an sebagai bangsa dan etnis yang beragam agar saling mengenal juga membantu satu sama lain.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." (QS Al-Hujurat: 13)

Mari kita terus istiqamah mendukung bangsa Palestina dengan segala upaya yang dapat dilakukan. Semoga bangsa Palestina segera mendapatkan pertolongan dari Allah swt berupa kemerdekaan dan kebebasan dari serangan penjajah. Amiin ya rabbal 'alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.

KHUTBAH II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ

وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِينَ.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا

اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي نْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِkْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Khutbah Idul Adha 2026 #7: Belajar Sabar dari Siti Hajar

(sumber: NU Online)

KHUTBAH I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ. صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. اَللهُ أَكْبَرُ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيْ مَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى اللهُ عَنْهُ وَحَذَّرَ

Jamaah yang dimuliakan Allah swt,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan nikmat iman, islam, dan sehat wal afiat sehingga kita dapat melaksanakan shalat Idul Adha pada pagi hari ini.

Shalawat dan salam, mari kita haturkan kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada keluarganya, dan sahabatnya. Semoga, kita semua selaku umatnya mendapatkan syafaatnya kelak di hari kiamat nanti. Amin ya Rabbal alamin.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah swt,

Saat ini, kita memasuki puncak dari 10 hari yang istimewa, hari yang bahkan dijadikan sumpah Allah swt dalam Al-Qur'an surat al-Fajr: "Wal fajr, wa layalin 'asyr, demi waktu fajar, demi malam yang sepuluh". Para ulama menafsirkan bahwa maksud malam yang sepuluh adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Dan puncaknya adalah hari ini, hari raya Idul Adha. Satu hari yang memiliki sejarah penting dalam perjalanan hidup manusia. Di hari ini, Nabi Ibrahim as melaksanakan perintah Allah swt untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as yang saat itu masih belia.

Berbicara dua Nabi tersebut, kita tidak dapat memisahkan dengan istri atau ibunya. Perempuan yang bertaruh nyawa penuh pengorbanan untuk sang putranya. Kita dapat memetik pelajaran penting dari ibu tersebut. Ibu itu bernama Hajar, perempuan yang kaya akan kesabaran. Di saat putra yang dilahirkannya masih kecil, ia ditinggalkan berdua saja bersamanya di sebuah lembah yang tandus, tanpa ada tetumbuhan di atasnya. Kisah ini terekam dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 37:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Artinya, "Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Lembah yang dimaksud pada ayat tersebut adalah Kota Suci Makkah, sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Jarir al-Thabari dalam kitab tafsirnya.

Dalam kitab Qishashul Anbiya, Imam Ibnu Katsir mengisahkan manakala perbekalan kurma dan airnya habis, sudah barang tentu mereka kehausan. Siti Hajar pun berjalan ke bukit Sofa. Ia melihat ke sekitar dari situ, tak ada seorang pun. Ia pun kembali ke lembah semula. Ia pun menyingsingkan lengan bajunya. Kemudian berlari kecil sampai pada Marwah. Ia berdiri dan melihat ke sekitar dari situ. Namun, tak ada seorang pun yang dia lihat. Bolak-balik demikian sampai tujuh kali.

Ia berupaya untuk terus menghidupi putranya dengan segenap kekuatan mencari dan terus mencari penghidupan. Sampai kemudian memancar air Zamzam di dekatnya berkat upaya menciduk air dari kantongnya. Dari situlah, ia dapat kembali bisa minum dan menyusui putranya.

Jamaah shalat Idul Adha yang dimuliakan Allah swt

Kisah tersebut menunjukkan betapa perjuangan seorang ibu dalam mengasuh anaknya seorang diri sangat luar biasa. Ia demikian sabar dalam menghadapi salah satu ujian yang teramat berat baginya dari Allah swt, yaitu ditinggalkan sang suami. Ia memahami, bahwa suaminya, yaitu Nabi Ibrahim meninggalkannya bersama putranya yang masih bayi bukanlah karena kehendak sendiri, melainkan atas perintah Allah swt. Karenanya, ia menjalani hal tersebut dengan penuh kesabaran.

Sabar jika menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, tabah, tenang, tidak tergesa-gesa, dan tidak terburu nafsu.

Demikianlah Siti Hajar berlaku menghadapi cobaannya. Ia dengan tenang sembari tetap berupaya mencari solusi atas problem yang tengah dihadapinya. Tidak ada pikiran baginya untuk tidak berupaya menjaga bayinya tersebut. Sedemikian sabarnya ia merawat titipannya tersebut sampai bolak-balik dari bukit satu ke bukit lain sampai tujuh kali. Bersabar atas perintah Allah swt untuk tinggal di tempat tersebut. Pun bersabar untuk tidak membangkang dari perintah-Nya.

Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an surat al-Anfal ayat 46.

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ

Artinya, "Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar."

Jamaah yang dimuliakan Allah swt.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa pertolongan Allah swt itu erat kaitannya dengan kesabaran. Karenanya, setelah Siti Hajar bersabar, pertolongan pun datang dari hal yang tak diduga-duga. Rezeki besar berupa air yang menjadi sumber kehidupan. Ia pun meminum air tersebut dan dari situ, ia juga dapat menyusui putranya tersebut.

Hal tersebut merupakan bentuk pembersamaan Allah swt terhadap Siti Hajar yang sabar. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tafsir Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, bahwa bentuk pembersamaan Allah swt terhadap orang-orang yang sabar adalah dengan pertolongan.

Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa sabar bukan sekadar menerima nasib lalu berdiam diri begitu saja. Namun, usaha atau ikhtiar tetaplah harus dilakukan sebagai langkah untuk mewujudkan kehidupan. Sebab, kepercayaan kita pada takdir dari Allah swt harus dibuktikan dengan usaha. Karenanya, tak aneh jika sabar disebut oleh Rasulullah saw sebagai setengah dari iman.

Senada dengan ayat yang tadi disampaikan, Rasulullah saw juga bersabda:

لَوْ كَانَ الصَّبْرُ رَجُلًا لَكَانَ كَرِيْمَا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

Artinya, "Jikalau sabar adalah seorang laki-laki, pastilah dia sosok yang mulia. Allah menyukai orang-orang yang sabar."

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah swt

Oleh karena itu, khatib mengajak kepada diri khatib sendiri, khususnya, dan jamaah sekalian umumnya, untuk dapat bersabar atas segala takdir. Bersabar dengan tetap berikhtiar melakukan hal-hal yang baik.

Semoga Allah swt memberikan kita kekuatan untuk bersabar atas segala takdir, bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang Allah swt larang, maupun bersabar atas segala yang Allah swt perintahkan. Dengan begitu, insyaallah kita semua niscaya akan selalu dibersamai dan dicintai Allah swt sebagaimana yang difirmankan-Nya dan disabdakan nabi-Nya. Amin ya Rabbal alamin.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

KHUTBAH II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

اَللهُ أَكْبَرُ.

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَعَادَ الْأَعْيَادَ وَكَرَّرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَهْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْأَكْبَرُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُلهُ خَيْرُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الشَّافِعِ فِي الْمَحْشَرِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَطْهَرِ. اَللهُ أَكْبَرُ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ حَبِيْبِكَ صَاحِبِ الْوَجْهِ الْأَنْوَرِ وَعَلَى اٰلِهِ وَارْضَ اَللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلَاةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آمِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Khutbah Idul Adha 2026 #8: Menjadi Seorang Muslim yang Berkarakter al-Mukhbitin

(sumber: Muhammadiyah)

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ اْلـمُرْسَلِينَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـعِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَهْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Yang Maha Awal tanpa permulaan, Yang Maha Akhir tanpa penghujung, dan Yang Maha Abadi tanpa perubahan.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, pemimpin orang-orang saleh, kekasih Sang Penguasa Yang Maha Perkasa, pembawa berita gembira dari Yang Maha Pengampun, dan mata air teladan bagi umat manusia. Demikian pula kepada keluarga dan para sahabat yang dimuliakan.

Jamaah Salat id yang berbahagia

Semoga kita senantiasa menjadi hamba-hamba Allah yang terus memelihara keislaman, memperkuat keimanan, dan memperteguh keihsanan.

Di zaman tunggang-langgang seperti ini, rasa-rasanya merawat Islam, iman, dan ihsan adalah sesuatu yang sukar. Di saat ini, ritual keagamaan hanya dipandang sebagai sisa-sisa Zaman Kegelapan (The Dark Ages). Era ini telah dilampaui masyarakat Barat dalam terang industrialisasi modern. Gagasan menghabiskan sumber daya seperti uang, waktu, dan tenaga tanpa menerima pengembalian materi, dipandang sebagai praktik yang tidak ada artinya dan terbelakang.

Modernitas sebagai konsekuensi dari pencerahan Barat menyebabkan umat Islam mengalami apa yang Wael Hallaq sebut sebagai keterputusan epistemik (epistemic rupture). Penjajah kolonial Barat tidak hanya menguasai tanah dan lahan, tapi juga mentalitas umat Islam. Hasilnya sudah bisa ditebak: sesiapa yang mempertahankan keimanan dan ketakwaan akan dipandang secara sinis sebagai kaum tertinggal.

Karena itulah, pada hari yang mulia ini, perkenankan kami mengajak untuk meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah swt., dengan beristiqamah dan tetap teguh melaksanakan perintahNya, dan pada saat yang sama meninggalkan segala yang dilarang-Nya. Mudah-mudahan, hidup kita akan bertambah mulia, diberkati dan diridhai Allah swt, di dunia ini dan juga di akhirat kelak.

Pagi hari ini pula, segenap kaum muslimin di sejumlah negeri menunaikan salat 'Idul Adha 10 Zulhijjah. Segenap kaum muslimin mengumandangkan takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih sebagai wujud penghambaan diri kepada Dzat Rabbil- 'Izzati. Semua bersimpuh diri menunaikan sunnah Nabi untuk meraih ridha dan karunia Ilahi.

Jamaah Salat Id yang berbahagia

Kata kurban (qurban) berasal dari bahasa Arab artinya sesuatu yang dekat atau mendekatkan, yakni dekat dan mendekatkan diri kepada Allah yang memerintahkan ibadah ini. Qurban sering disebut udhhiyah artinya hewan sembelihan. Perintah untuk menyembelih daging kurban ini salah satunya termaktub dalam Al Quran:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ

"Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah"

Meski fisik hewannya yang disembelih, tetapi hakikatnya ialah pengorbanan dan pengabdian diri sepenuh hati kepada Ilahi Rabbi. Allah berfirman:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ

"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu."

Kurban adalah praktik keagamaan yang berakar dari risalah yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai wujud ubudiyah kepada Allah SWT. Keliru kiranya kalau kita memaknai Idul Kurban hanya sebagai pesta-pora konsumsi daging hewan kurban semata.

Pasalnya, sebelum adanya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, praktik kurban yang dilakukan para penyembah berhala biasanya dipersembahkan kepada dewa-dewa. Ajarannya ialah di samping kurban hewan dan hasil bercocok tanam, di kalangan penyembah berhala ini berkembang kurban manusia. Kalangan masyarakat Mesir Kuno, misalnya, gadis suci ditenggelamkan ke dalam sungai Nil sebagai persembahan kepada Firaun.

Pada zaman Nabi Ibrahim, dakwah dilaksanakan untuk mengubah kebiasaan para penyembah berhala ini menjadi agama etis, yakni agama yang mengajarkan Tuhan yang baik kepada manusia. Dakwah Nabi Ibrahim menghasilkan suatu teladan, salah satunya mengubah tradisi kurban dari manusia ke hewan peliharaan. Perubahan ini boleh jadi peristiwa besar dalam sejarah kemainan.

Jamaah Salat Id yang dimuliakan Allah

Berdasarkan QS. Al-Hajj ayat 34, salah satu tujuan disyariatkannya ibadah kurban ialah menjadi pribadi al-mukhbitin. Kata "al-mukhbitin" ini berasal dari "al-khabtu" yang maknanya adalah tanah yang keras. Sedangkan menurut salah seorang ulama terkenal yaitu Mujahid, "al-mukhbitin" adalah "al-mujtahiduna fil 'ibadah" atau orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mengabdi kepada Allah sehingga ia rela mengorbankan harta, pikiran, tenaga dan nyawa.

Sementara itu, karakter "al-mukhbitin" tergambar jelas dalam QS. Al-Hajj ayat 35. Karakter pertama dan yang paling esensial ialah tauhid:

الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ

"Orang-orang yang apabila disebut nama Allah hatinya bergetar!"

Ciri pertama ini menandakan bahwa tatkala bibir mengucap asma Allah, hati ikut hanyut dalam kerinduan. Menurut Sayyid Quthub, ungkapan "wajilat qulubuhum" menggambarkan getaran yang menghantarkan perasaan sunyi di dalam hati seorang mukmin ketika dia diingatkan akan Allah, perintah-Nya, atau larangan Allah. Saat berhubungan dengan alam kehidupan, kita sering mengucapkan subhanallah, alhamdulillah, masyaAllah, Allahuakbar, insyaAllah, dan lain-lain.

Karena itu, Islam tak memandang alam dan kehidupan ini sebagai fakta material kering karena secara ontologi selalu berhubungan dengan Allah. Para sufi bahkan menyebut alam, yakni segala sesuatu selain Allah, sebagai 'tajalli' atau penampakan-diri Tuhan. Aspek inilah yang membedakan peradaban Islam dengan yang lain.

Peradaban Barat berakar dari tragedi dan traumatis akut terhadap agama, khususnya Kekristenan. Inilah alasan mengapa mereka menjauhi bahkan memusuhi agama. Ketika mereka menjauhi agama, mereka mengalami kecemasan yang menakutkan namun tak terjelaskan. Selain itu, menegasikan agama dan Tuhan selalu berakhir pada eksploitasi alam secara membabi-buta. Sebagaimana tampak hari-hari ini, kesehatan mental dan pemulihan lingkungan menjadi tema sentral dalam percakapan umat manusia modern.

Jamaah salat id yang berbahagia

Karakter kedua dari pribadi al-mukhbitin ialah penyabar:

وَالصّٰبِرِيْنَ عَلٰى مَآ اَصَابَهُمْ

"Orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka"

Sabar adalah konsep psikologis yang melibatkan kemampuan individu untuk mengendalikan emosi, menahan diri, dan bertahan dalam menghadapi situasi yang sulit, menantang, atau menekan. Dalam dunia yang serba tergesa-gesa ini, kesabaran membantu kita untuk melambatkan langkah, menenangkan pikiran, dan menjaga fokus pada tujuan jangka panjang.

Sabar tidak hanya terkait dengan ujian dan musibah semata. Ia juga dapat berhubungan dengan keteguhan dalam menjalankan ibadah atau meninggalkan perbuatan maksiat. Abu Hamid Al Ghazali dalam Mukasyafatul Qulub mengatakan bahwa:

والصبر على اوجه صبر على طاعة الله وصبر على محارمه وصبر على المصيبة

Sabar terdiri dari beberapa bagian, yaitu (1) sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, (2) sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah, (3) sabar dalam menerima musibah.

Karakter ketiga sebagai pribadi al-mukhbitin ialah tidak melupakan salat:

وَالْمُقِيْمِى الصَّلٰوةِۙ

"Orang yang melaksanakan salat"

Teknologi telah memberikan kita akses tak terbatas ke informasi, hiburan, dan interaksi sosial, yang kadang-kadang dapat mengalihkan perhatian kita dari ibadah. Ketika kita terpaku pada perangkat elektronik kita, seperti hape (handphone), kita dapat terjebak dalam dunia maya yang tak terbatas, sementara waktu yang seharusnya kita habiskan untuk salat terlewatkan.

Salat adalah ibadah yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi langsung dengan Allah, mengungkapkan rasa syukur, memohon ampunan. Oleh karena itu, menjaga dan melaksanakan salat secara teratur sangat penting dalam menjaga keseimbangan spiritual kita.

Karakter yang terakhir atau keempat dari pribadi al-mukhbitin ialah suka berderma:

وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ

"Orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah karuniakan kepada mereka"

Dalam melaksanakan infak, kita mendapatkan pahala dan berkah dari Allah. Infak dianggap sebagai investasi spiritual yang menghasilkan ganjaran dan keberkahan di dunia dan akhirat. Infak juga memperkuat hubungan kita dengan Allah, karena kita menyadari bahwa harta yang kita miliki sebenarnya adalah anugerah dari Allah. Kepemilikan Allah bersifat mutlak, sementara manusia hanya bersifat nisbi.

Infak berkontribusi dalam menciptakan keadilan sosial dengan mengurangi kesenjangan ekonomi dalam masyarakat. Melalui infak, kita dapat membantu masyarakat yang kurang mampu secara finansial untuk mendapatkan akses ke layanan kesehatan, pendidikan, perumahan, dan kebutuhan dasar lainnya. Hal ini membantu memperkuat ikatan sosial dalam masyarakat dan mengurangi kesenjangan yang ada.

Itulah empat karakter al-Mukhbitin yaitu mereka yang senantiasa bergetar tatkala mendengar nama Allah; memiliki sifat sabar; tidak meninggalkan salat; dan gemar menunaikan infak. Semoga dengan Idul Kurban ini, kita benar-benar menjadi seorang mukmin yang memiliki karakter al-Mukhbitin.

KHUTBAH KEDUA

لَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدّعَوَاتِ

اَلَّلهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّيْنِ وَعَافِيَتً فِي الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِي الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِي الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْهَمَ الرَّاحِمِيْنَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Khutbah Idul Adha 2026 #9: Keutamaan Kurban bagi Orang Beriman

(sumber: Muhammadiyah)

KHUTBAH I

الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ الْعَظِيْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا أَفْضَلُ الْمُرْسَلِيْنَ، اللّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ذِي الْقَلْبِ الْحَلِيْمِ وَآلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْمَمْدُوْحِيْنَ وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَنَجَا الْمُطِيْعُوْنَ.

فَقَالَ الله تَعَالىٰ : يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

فَـصَـلِّ لـِرَّبِّـكَ وَانْـحَـرْ.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan limpahan nikmatNya kepada kita. Di antara limpahan nikmat tersebut adalah nikmat umur panjang dan nikmat kesehatan. Ini adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah. Kita yakin dan percaya tanpa adanya dua nikmat ini, kita pasti tak akan bisa atau mampu melangkahkan kaki, mengayunkan tangan datang ke tempat ini untuk bersujud kepada Allah SWT.

Maka, selagi Allah SWT memberikan dua nikmat ini kepada kita, maka jangan sia-siakan untuk meningkatkan ibadah kita kepada Allah SWT.

Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada Rasulullah Saw.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Wujud dari rasa syukur terhadap nikmat yang telah Allah berikan adalah dengan bertaqwa kepada Allah SWT yaitu dengan menjalankan segala yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangannya.

Kemudian menjalankan segala yang diperintahkannya itu, juga mesti diiringi dengan rasa keimanan yang tinggi, bahwa tiada satu pun yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Kemudian juga diiringi dengan rasa diawasi oleh Allah sehingga diri ini merasa malu ketika enggan menjalankan segala yang diperintahkan. Kemudian rasa takut, karena di balik perintah tersebut pasti ada yang akan ditimpakan ketika kita enggan menjalankan perintah tersebut.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimiin yang dirahmati Allah

Jika ketakwaan ini sudah tertanam dan mendarah daging dalam diri kita, yakinlah terhadap janji yang Allah berikan kepada kita berupa kelapangan dan keberkahan rezeki, kemudahan dalam segala urusan. Serta, jalan keluar atau kemudahan terhadap persoalan kehidupan yang kita jalani akan kita dapatkan.

Allah berfirman dalam surat At-Talaq:

وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا.

"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya."

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ...

"Dan Dia memberikan rezekinya dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, Niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya." (QS. At-Thalaq: 2-3)

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Allah SWT tidak memandang dan menilai seseorang dari suku dia berasal, atau dari kepemilikan harta, kedudukan, pangkat dan jabatan. Begitu pula dari rupa dan paras seseorang. Tapi Allah SWT menilai dari ketaqwaan kita.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Tanpa disangka-sangka Allah SWT kembali mempertemukan kita di hari Idul Adha atau dalam istilah lainnya juga dikenal dengan udhiyah yang artinya hewan yang disembelih pada hari raya idul adha.

Idul Adha merupakan ibadah sembelihan hewan kurban yang kita laksanakan sebagai bentuk wujud rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan nikmat yang banyak kepada kita, yang diawali dengan salat dua rakaat yang telah kita kerjakan barusan ini.

Allah SWT berfirman :

فَـصَـلِّ لـِرَّبِّـكَ وَانْـحَـرْ.

"Maka dirikanlah salat dan berkurbanlah." (QS. Al-Kautsar: 2).

Selain dari ayat di atas, syariat Idul kurban juga dapat kita lihat dalam surat Al-Hajj ayat 36.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا لْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَـكُمْ مِّنْ شَعَآئِرِ اللّٰهِ ـكُمْ فِيْهَا خَيْرٌ ۖ فَا ذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَآ فَّ ۚ فَاِ ذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَ طْعِمُوا الْقَا نِعَ وَا لْمُعْتَـرَّ ۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا Lَـكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.

"Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu agar kamu bersyukur." (QS. Al-Hajj : 36)

Selain al-Quran seperti yang disebutkan dua ayat di atas, tata pelaksanaan ibadah kurban juga didasari oleh hadis dari Rasulullah. Bahkan salah satu dari hadisnya memberikan peringatan bagi kita yang enggan menjalankan ibadah kurban.

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih kurban, janganlah mendekati tempat shalat kami". (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Hadis di atas, setidaknya memberikan sinyal yang menunjukan kepada kita betapa pentingnya ibadah kurban itu kita laksanakan.

Oleh karena itu khatib mengajak kita semua kalau pada saat kita tidak mampu untuk berkurban, maka setelah ini kita mulai meniatkan dan membulatkan tekat kita untuk melaksanakan kurban di tahun besok. Kita harus menargetkan dan memaksakan diri kita tahun depan saya harus berkurban.

Kalau tidak bisa kita lakukan secara tunai, maka dapat kita lakukan dengan cara membayarnya secara berangsur-angsur. Sebab dia merupakan ibadah yang paling dicintai Allah. Di hari kiamat nanti Allah memberi syafaat bagi mereka yang berkurban.

Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan kurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan darah itu di sisi Allah SWT segera menetes pada suatu tempat sebelum menetes ke tanah". (HR. Tirmizy 1493 dan Ibnu Majah 3126).

Selain daripada itu, ibadah kurban termasuk merupakan ibadah yang utama. Sisi keutamaannya pada kita adalah dengan bersandingnya dua perintah yaitu salat dan berkurban sekaligus dalam surat al-Kautsar ayat 2.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menafsirkan ayat ini menguraikan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih kurban. Hal ini menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu', merasa butuh kepada Allah SWT, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah SWT, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.

Oleh sebab itulah, dalam surat lain Allah SWT menggandengkan keduanya dalam firman-Nya:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

قُلْ اِنَّ صَلَا تِيْ وَنُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَمَمَا تِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ .

"Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam," (QS. Al-An'am : 162)

Walhasil, shalat dan menyembelih kurban adalah ibadah paling utama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Beliau juga menegaskan: "Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih kurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat."

Wahai orang-orang beriman yakinlah ibadah kurban yang kita kerjakan ini, tidak akan membuat kita rugi. Karena Allah pasti memberikan balasan, kebaikan, serta keselamatan dan keberkahan bagi kita yang selalu menjalankan segala yang diperintahkannya.

نَصْرٌ مِّنَ اللّٰهِ وَفَـتْحٌ قَرِيْبٌ , وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

KHUTBAH KEDUA

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ Lَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اللَّهُمَّ اغْفِر| لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُل| مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهَ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Khutbah Idul Adha 2026 #10: Hikayat Nabi Ibrahim dalam Haji dan Kurban

(sumber: Hikayat Nabi Ibrahim dalam Haji dan Kurban)

KHUTBAH I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلٰهَ إِلَّا_اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا_اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا_اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ، أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Idul Adha yang dirayakan oleh umat Islam di seluruh dunia pada setiap bulan Dzulhijjah merupakan hari raya yang sangat identik dengan dua ibadah, yakni haji dan kurban. Dalam tuntunan agama Islam, kedua ibadah ini memang hanya bisa dilakukan pada bulan Dzulhijjah. Hari raya Idul Adha, haji, dan kurban juga tak bisa dipisahkan dari kisah dan perjalanan hidup Nabi Ibrahim beserta keluarga karena banyak peristiwa yang mewarnai kehidupannya diabadikan dalam ritual ibadah haji dan kurban.

Pada kesempatan khutbah kali ini, mari kita menapak tilas dan menelusuri kembali kisah perjalanan dan perjuangan hidup yang dialami oleh kakek moyang Nabi Muhammad saw ini yang berkaitan erat dengan ibadah haji dan kurban. Dengan mengenang kembali perjuangan Nabi Ibrahim, diharapkan kita mampu mengambil ibrah, hikmah, dan nilai-nilai spiritual sebagai modal dalam menjalani kehidupan ini. Dengan memahami sejarah ini, mudah-mudahan kita juga bisa termotivasi untuk bisa melaksanakan ibadah haji dan kurban yang semua umat Islam pasti mengidam-idamkannya.

Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Kita awali kisah perjalanan dan perjuangan keluarga Nabi Ibrahim dan istrinya yang bernama Siti Hajar dari saat Allah menganugerahi mereka seorang putra yang sudah diidam-idamkan sejak lama. Kelahiran putra yang diberi nama Ismail ini diiringi dengan perintah dan cobaan dari Allah swt untuk menempatkan Siti Hajar dan Ismail di daerah lembah yang tandus dan gersang. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 37:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ هْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Artinya: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur."

Saat tinggal di lembah itu, suatu hari Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak bisa menyusui Ismail. Ia pun mencari air ke sana-kemari sambil berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali. Peristiwa inilah yang kemudian diabadikan menjadi salah satu rukun haji, yakni Sa'i atau berlari-lari kecil antara kedua bukit tersebut. Di tengah kesusahan itu, Allah menurunkan pertolongan melalui mata air yang muncul dari tanah, tepat di bawah kaki Ismail, yang saat itu sedang menangis kehausan. Di tempat inilah keluar air penuh berkah yang sampai saat ini bisa terus dinikmati oleh umat Islam seluruh dunia bernama air zamzam.

Cobaan keluarga Nabi Ibrahim tidak berhenti sampai di situ. Nabi berjuluk "Khalilullah" (kekasih Allah) ini mendapatkan perintah dari Allah swt melalui mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Perintah ini juga menjadi sebuah ujian keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim kepada Allah. Karena sebelumnya, ia pernah mengeluarkan janji bahwa jika Allah menghendaki Ismail untuk dikurbankan, maka ia akan melakukannya. Perintah itu pun akhirnya benar-benar datang kepadanya.

Awalnya, ketika bermimpi diperintahkan untuk menyembelih Ismail, Ibrahim merasa ragu. Ia pun melakukan perenungan dan berpikir-pikir apakah ini benar-benar perintah Allah. Peristiwa ini kemudian diabadikan dengan nama Tarwiyah yakni hari perenungan di mana kita disunnahkan berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah.

Setelah perenungan ini, kemudian hilanglah keragu-raguan itu. Karena Nabi Ibrahim kembali bermimpi hal yang sama untuk menyembelih Ismail dan tahu jika itu adalah benar-benar perintah Allah swt. Peristiwa ini yang kemudian diabadikan dengan nama hari Arafah yang berarti 'mengetahui' di mana kita juga disunahkan berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah,

Setelah Nabi Ibrahim tahu dan yakin perintah itu datang dari Allah, maka ia pun menyampaikan dan berdiskusi dengan Ismail. Dialog bersejarah antara Ayah dan anak ini pun diabadikan dalam Al-Qur'an surat As-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِن شَاۤءَ_اللهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya, "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar."

Akhirnya, hari itu pun datang ketika Ibrahim dengan keimanan dan ketakwaannya serta Ismail dengan keyakinannya akan melaksanakan prosesi penyembelihan. Pada waktu itu, setan juga terus membisikkan kepada Ibrahim, Ismail, dan juga Siti Hajar untuk tidak usah menjalankan perintah Allah ini. Namun, keyakinan mereka tidak goyah sedikit pun. Untuk mengusir setan yang mengganggu, Nabi Ibrahim pun melemparinya dengan batu yang kemudian peristiwa ini diabadikan dalam ritual ibadah haji, yakni melempar jumrah.

Ketika detik-detik Ibrahim akan menyembelih Ismail, tiba-tiba Allah swt berfirman dan memerintahkan Ibrahim berhenti tidak menyembelih Ismail. Firman ini termaktub dalam Al-Qur'an surat As-Shaffat ayat 107-110:

وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ. سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ. كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: "Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar. Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang datang kemudian, 'Salam sejahtera atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan'."

Atas peristiwa ini Malaikat Jibril yang membawakan hewan untuk disembelih sebagai pengganti Ismail pun berseru "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar." Takbir ini disambut Ibrahim dengan "Lailaha illallah Allahu Akbar" yang kemudian disambung oleh Ismail "Allahu Akbar Walillahil Hamdu.' Dari peristiwa epik inilah, umat Islam kemudian disyariatkan untuk menyembelih hewan kurban di hari raya Idul Adha pada 10 Dzulhijjah. Peristiwa ini juga menegaskan bahwa seseorang dilarang keras mengalirkan darah manusia.

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Dari peristiwa bersejarah keluarga Nabi Ibrahim ini, kita bisa banyak mengambil hikmah dan keteladanan. Dimulai dari keteladanan perjuangan hidup sampai dengan keteguhan iman dan takwa dalam menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Kisah-kisah Nabi Ibrahim, yang termaktub dalam Al-Qur'an dan terwujud dalam bentuk ibadah seperti Sa'i, melempar jumrah, puasa tarwiyah dan Arafah, serta menyembelih hewan kurban ini harus semakin meningkatkan keyakinan dan keteguhan kita dalam beribadah. Karena memang tujuan dari diciptakannya kita ke dunia ini adalah untuk beribadah. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS Ad-Dzariyat: 56).

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Dalam menjalankan ibadah haji dan kurban, kita membutuhkan keteguhan dan keyakinan yang kuat karena harus rela mengeluarkan harta yang kita miliki. Jika tidak memiliki niat yang kokoh, maka haji dan kurban pun akan sulit untuk dilakukan. Untuk berhaji, kita harus berkorban menyiapkan puluhan juta rupiah guna membayar biaya perjalanan ke Tanah Suci. Ditambah juga kesabaran tinggi karena harus rela antre bertahun-tahun karena banyaknya umat Islam yang ingin menjalankan rukun Islam kelima ini. Untuk berkurban, kita juga harus menyediakan anggaran jutaan rupiah untuk membeli hewan kurban dan kemudian dibagi-bagikan kepada orang lain.

Namun, ma'asyiral Muslimin wal Muslimat jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Kita tidak perlu khawatir. Harta dunia yang kita keluarkan untuk berangkat ke Tanah Suci ini akan dibalas oleh Allah swt dengan kenikmatan kehidupan akhirat di surga yang abadi. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya: "Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga," (HR al-Bukhari).

Begitu juga dengan ibadah kurban, Rasulullah telah menegaskan dalam hadits dari Siti Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ_اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

Artinya: "Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya."

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Demikian khutbah Idul Adha yang mengangkat tentang kisah inspiratif penuh perjuangan dari keluarga Nabi Ibrahim yang diabadikan dalam ritual ibadah haji dan kurban. Semoga bisa menambah pengetahuan kita sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dan semoga Allah swt senantiasa menurunkan hidayah dan rezekinya kepada kita sehingga kita bisa menjalankan tugas kita untuk beribadah khususnya mampu untuk melakukan ibadah haji dan berkurban. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةٍ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا_اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَع| عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلوَبَاءَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَ_اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Itulah 10 khutbah Idul Adha 2026 yang singkat dan padat untuk detikers jadikan referensi nanti. Semoga membantu, ya!

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



Simak Video "Video ARMY Wajib Catat: Harga-Jadwal War Tiket Konser BTS di Jakarta!"

(num/dil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork