Sultan HB X Bentuk Tim Identifikasi Buntut Pembunuhan Dekat SMAN 3 Jogja

Sultan HB X Bentuk Tim Identifikasi Buntut Pembunuhan Dekat SMAN 3 Jogja

Tim detikJogja - detikJogja
Jumat, 22 Mei 2026 08:00 WIB
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Senin (26/1/2026).
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Senin (26/1/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X membuat tim khusus usai kasus pembunuhan di dekat SMAN 3 Jogja. Tim itu bertugas mengidentifikasi akar masalah kekerasan jalanan yang kembali terjadi di Jogja.

"Ya sekarang kan, kita sedang melakukan identifikasi ya, karena selama ini kan klitih sekian bulan itu kan tidak ada. Kenapa ada lagi? Kita kan nggak tahu persis, kondisi ekonomi atau memang kenakalan biasa, kita kan nggak tahu. Ya kita sedang mencoba mengidentifikasi," jelas Sultan saat ditemui di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Kamis (21/5/2026).

Sultan mengaku ingin mengetahui lebih dalam mengapa kekerasan jalanan seperti yang terjadi dekat SMAN 3 Jogja kembali terjadi. Sebab, kasus-kasus semacam itu disebut sudah sempat hilang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang dulu kan coba dilakukan jaga warga untuk bisa menjaga keamanan di warganya, kan gitu. Tapi sekarang kok timbul lagi, itu motifnya apa, sekarang kan perlu kita tahu, dalami itu dulu, tapi kan belum ada report dari dari tim," sambungnya.

Sultan pun mengaku belum bisa berkomentar lebih banyak terkait kasus ini. Namun, Sultan akan menentukan langkah ketika hasil identifikasi sudah diketahui.

ADVERTISEMENT

"kita sudah bentuk tim, tim itu sudah bekerja mencoba mengidentifikasi, tapi kan tidak sesederhana itu. Tidak sekedar dengan polisi, tapi juga dengan lingkungan, masyarakat, yang mungkin dan sebagainya, apa yang sebetulnya terjadi," ujarnya.

"Apakah kenakalan biasa, atau memang seniornya itu yang membina, kan kita kan nggak tahu semua itu seperti itu, jangan sampai keliru," pungkas Sultan.

Sebelumnya, pembunuhan terjadi di dekat SMAN 3 Jogja atau sekitar Stadion Kridosono, Kota Jogja. Dalam peristiwa itu satu orang tewas setelah dianiaya pelaku menggunakan senjata tajam.

Korban meninggal yakni pemuda berinsial AA (18). Peristiwa itu terjadi pada Minggu (17/5) dini hari. Korban diduga tewas karena dikeroyok buntut saling tantang antargeng.

Dalam kasus ini, tiga orang ditangkap dan tiga lainnya buron. Ketiga orang yang diamankan ditangkap di sebuah safe house di Cilacap.

Kapolresta Jogja Kombes Eva Guna Pandia menegaskan peristiwa tersebut bukan klitih.

"Jadi kita tegaskan sekali lagi ini bukan klitih ataupun street crime," kata Pandia saat ditemui wartawan di Mapolresta Jogja, Senin (18/5/2026).

"Jadi itu bukan klitih. Itu adalah diawali dengan tantang-tantangan dua geng. Tantang-tantangan dari dua geng sehingga kejadian dini hari itu ada yang meninggal," tegasnya.

Kasus Tewasnya Pelajar Bantul hingga Duel Gladiator

Sebelum kasus ini, ada dua kasus lain terkait geng di DIY yang menyorot perhatian. Pertama kasus tewasnya pelajar di Bantul dan aksi duel gladiator sebagai syarat keluar geng.

Ilham Dwi Saputra (16) asal Pandak, Bantul akhirnya terungkap. Tujuh pelaku ternyata membunuh Ilham karena motif dendam antargeng.

Diketahui, Ilham dikeroyok pada Selasa (14/4) malam. Ilham harus menjalani perawatan intensif akibat luka yang dideritanya, dan dinyatakan meninggal lima hari kemudian.

Polisi kemudian menangkap delapan orang secara bertahap. Adapun ketujuh tersangka masing-masing berinisial BLP (18) warga Kretek Bantul, YP (21) warga Bambanglipuro Bantul, JMA (23) warga Pakualaman Kota Jogja, dan RAR (19) warga Bantul. Kemudian AS (21) warga Piyungan Bantul, ASJ (19), warga Kasihan Bantul, AIF warga Bambanglipuro, dan SGJ (19) warga Mantrijeron Kota Jogja.

Ilham disiksa secara sadis untuk melampiaskan dendam akibat bentrokan antargeng. Korban ditantang via media sosial hingga akhirnya dibunuh.

"Motifnya dendam. Jadi memang ada perselisihan sebelumnya," kata Kapolres Bantul AKBP Bayu Puji Hariyanto kepada wartawan di Polres Bantul, Selasa (28/4/2026).

"JMA ini juga melakukan penusukan 14 kali terhadap korban menggunakan gunting yang telah dipersiapkan dari rumah," ujarnya.

Sebelumnya lagi, warga digegerkan dengan adanya dua pemuda yang mengalami luka bacok. Keduanya ternyata dipaksa duel gladiator sebagai syarat keluar geng.

Duel berdarah antara dua kelompok pelajar terjadi di Pakualaman, Kota Jogja, Rabu (25/3) dini hari. Akibatnya dua orang mengalami luka bacok.

Ps Kasihumas Polresta Jogja Ipda Anton Budi Susilo menyebut kasus ini terungkap usai dua korban AP (18) dan RA (17) dilarikan ke RS Pratama karena mendapat luka bacokan pada Rabu (25/3).

Dari sana, didapati informasi jika mereka adalah korban aksi gladiatoran atau duel antar kelompok. Aksi gladiatoran itu merupakan syarat keluar dari geng.

"Menurut keterangan AP, bahwa RA dan MR (saksi) yang diduga ikut geng Vascal dan kedua orang tersebut ingin keluar geng namun oleh sesama Vascal tidak boleh keluar geng kalau belum ada fix atau gladiatoran (duel)," papar Anton saat dihubungi, Kamis (26/3/2026).

Akibat bentrokan itu, AP dan RA mengalami luka cukup parah. AP mengalami luka bacok pada pundak kiri, lengan kanan kiri, dan jari jempol tangan kanan, dan sempat dirawat di RS Wirosaban.

Sedangkan RA mengalami luka bacok pada dada samping kiri tembus paru-paru dan dirawat ke RS Pratama. Namun lantaran lukanya cukup parah, RA dirujuk ke RS Bethesda Yogyakarta.

Halaman 2 dari 2
(afn/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads