Benarkah Ikan Lele Makan Kotoran? Cek Fakta Ilmiah dan 6 Mitosnya!

Benarkah Ikan Lele Makan Kotoran? Cek Fakta Ilmiah dan 6 Mitosnya!

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJogja
Senin, 04 Mei 2026 12:04 WIB
Ilustrasi Ikan Lele
Ilustrasi Lele (Foto: Arthur Avakov/Unsplash)
Jogja -

Anggapan bahwa ikan lele bisa makan kotoran sering membuat orang ragu untuk mengonsumsinya. Sebagai ikan pemakan segala, lele memang dikenal memiliki daya tahan luar biasa di lingkungan yang buruk sekalipun sehingga memicu berbagai prasangka tentang kebersihan dagingnya.

Namun, sebelum menghakimi, kita perlu melihat cek fakta ilmiah tentang perilaku makan ikan berkumis ini. Apakah mereka benar-benar sengaja mencari kotoran sebagai menu utama, atau ada mekanisme biologis lain yang selama ini sering disalahartikan oleh masyarakat luas?

Selain sisi sains, terdapat pula berbagai mitos yang menyelimuti asal-usul hingga dampak kesehatan dari mengonsumsi ikan ini. Mari kita bedah tuntas fakta di balik stigma negatif yang melekat pada ikan lele agar detikers tidak lagi bingung saat ingin menyantapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah Lele Benar-benar Makan Kotoran?

Pertanyaan ini sering menjadi alasan orang ragu mengonsumsi lele. Menurut laman Lima Feed Machine, ikan lele memang hewan omnivora yang memiliki vitalitas sangat kuat, bahkan mampu bertahan hidup di air limbah yang mengandung kotoran ternak.

ADVERTISEMENT

Namun, ada penjelasan teknis di baliknya. Dalam dunia budidaya, kotoran hewan biasanya tidak langsung diberikan sebagai pakan, melainkan melalui proses fermentasi terlebih dahulu. Proses ini memecah protein besar menjadi molekul kecil yang aman dan justru menumbuhkan plankton yang menjadi nutrisi bagi lele.

Dilansir laman Aquarium Nexus, lele secara alami tidak menjadikan kotoran sebagai sumber makanan utama atau favorit. Namun, mereka bisa secara tidak sengaja menelan kotoran saat sedang mencari mikroorganisme atau nutrisi yang menempel pada limbah organik tersebut. Di dalam akuarium, perilaku memakan kotoran biasanya terjadi jika kondisi air sangat buruk atau ikan mengalami stres dan kelaparan hebat.

Merujuk penjelasan Cast and Spear, lele lebih tepat dijuluki sebagai "penyedot debu" perairan karena mereka memakan detritus (materi organik yang membusuk), serangga, ikan kecil, hingga tanaman air. Jadi, anggapan bahwa lele "hanya" makan kotoran adalah sebuah kekeliruan besar.

Cara Lele Mencari Makan dan Menunya

Lele bukan sekadar pemakan bangkai. Menurut laman Cast and Spear, di alam liar mereka adalah pemburu oportunistik yang memakan serangga air, larva, ikan kecil, siput, udang, hingga tanaman air.

Mereka menggunakan barbel (kumis) yang dipenuhi reseptor penciuman dan pengecap untuk mendeteksi makanan di air keruh. Mulut lele bekerja seperti vakum yang menyedot mangsa. Mereka tidak punya gigi tajam untuk mencabik, melainkan bantalan kasar untuk memegang makanan sebelum ditelan.

6 Mitos Ikan Lele yang Ada di Masyarakat

Berikut adalah rangkuman mitos yang sering beredar di masyarakat beserta penjelasan faktualnya menurut laman Lima Feed Machine, buku SAJEN dan Ritual Orang Jawa karya Wahyana Giri MC, Cast and Spear, Aquarium Nexus, dan The Fish Weight by Josh Niland.

1. Mitos: Lele Ikan Paling Kotor di Dunia

Faktanya: Meskipun lele tahan terhadap lingkungan kotor dan polutan seperti logam berat (kadmium) lebih baik dari ikan lain, mereka sebenarnya lebih menyukai air bersih untuk tumbuh sehat dan bereproduksi secara normal. Lele yang dipelihara di kolam bersih memiliki kualitas daging yang sangat baik.

2. Mitos: Makan Lele Menyebabkan Kulit Bersisik

Faktanya: Ini adalah kepercayaan lokal yang kuat di daerah Jawa. Mitos ini berasal dari kisah Mbah Boyopati di Lamongan yang bersumpah tidak akan memakan lele karena nyawanya pernah diselamatkan oleh ribuan ikan lele saat dikejar musuh. Secara medis, tidak ada bukti ilmiah bahwa daging lele dapat mengubah tekstur kulit manusia menjadi bersisik.

3. Mitos: Lele Raksasa Bisa Memakan Manusia

Faktanya: Tidak pernah ada laporan resmi mengenai lele yang memangsa manusia. Meskipun spesies seperti blue catfish bisa tumbuh sangat besar, mereka tidak memiliki struktur rahang atau insting untuk menjadikan manusia sebagai mangsa.

4. Mitos: Lele Mengandung Racun Mematikan

Faktanya: Ikan yang hidup di air yang sangat tercemar memang berisiko menumpuk zat berbahaya dalam tubuhnya (bioakumulasi). Namun, lele dari peternakan resmi yang menggunakan air terkontrol sangat aman dikonsumsi dan bebas dari masalah polusi tersebut.

5. Mitos: Lele Hanya Makan Bangkai dan Sampah

Faktanya: Lele adalah pemburu oportunistik. Di alam liar, mereka justru lebih suka mengejar mangsa hidup seperti siput, kerang, udang, dan ikan kecil. Bangkai atau sampah hanyalah alternatif terakhir jika tidak ada sumber makanan lain.

6. Mitos: Lele Bengkok saat Digoreng Tandanya Makan Kotoran

Faktanya: Anggapan ini keliru karena fenomena lele melengkung murni merupakan masalah teknis saat memasak (contact problem), bukan akibat riwayat pakannya, detikers. Secara ilmiah, tubuh lele membengkok karena otot bereaksi terhadap panas sementara kulit kehilangan kontak dengan wajan sebelum teksturnya sempat mengeras.

Kelembapan berlebih pada kulit ikan juga menciptakan uap yang menghambat proses penggorengan merata, sehingga otot daging menarik tubuh ikan hingga melengkung. Untuk menghindarinya, pastikan lele benar-benar kering dan beri tekanan lembut saat baru dimasukkan ke minyak panas agar posisi ikan tetap rata dan tidak bergejolak di dalam penggorengan.

Ikan lele adalah penyintas yang tangguh dengan sistem indra yang luar biasa. Meski reputasinya sering dikaitkan dengan limbah, secara ilmiah mereka adalah pemakan segala yang membantu keseimbangan ekosistem. Selama lele yang kamu konsumsi berasal dari kolam budidaya yang terjaga kualitas air dan pakannya, ikan ini adalah pilihan hidangan yang sehat dan bergizi.

Jadi, apakah detikers termasuk orang yang menghindari lele karena mitos-mitos di atas, atau justru penggemar berat pecel lele garis keras? Semoga pembahasan ini bermanfaat, ya!

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



(num/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads