Warga terdampak limbah yang diduga dari SPPG di Mangiran, Trimurti, Srandakan, Bantul Agus Indriyanto (55) menyebut sudah mendapatkan sumur bor baru. Namun, air dari sumur bor itu masih keruh dan dia tak berani menggunakannya untuk dikonsumsi.
Pantauan detikJogja, tampak pipa panjang terpasang di sisi utara rumah Agus. Pipa tersebut mengarah ke sebuah lubang yang ternyata merupakan sumur bor baru yang dijanjikan pihak SPPG.
Sumur bor itu disebut dikerjakan pada Kamis (30/4), sehari setelah unsur Kepanewon Srandakan melakukan sidak soal pencemaran air di rumahnya. Sumur bor itu langsung bisa berfungsi sehari setelah dikerjakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari Kamis itu juga datang orang mau mengerjakan sumur, tapi orang SPPG tidak ada yang datang. Malahan orang dari Koramil Srandakan yang datang memantau pengerjaan sumur bor," katanya saat ditemui di kediamannya, Trimurti, Srandakan, Bantul, Sabtu (2/5/2026).
Namun, air dari sumur bor itu masih keruh. Agus belum berani menggunakannya untuk dikonsumsi.
"Tapi air dari sumur bor masih kurang bagus karena masih keruh. Saya juga belum berani menggunakan air sumur bor buat minum, jadi air sumur bor itu hanya saya pakai untuk mencuci baju dan mandi, itu saja aslinya untuk mandi masih khawatir juga," ujarnya.
Terkait masih keruhnya air dari sumur bor, Agus mengaku belum memberikan komplain. Agus masih menunggu hingga batas waktu yang Pemkab Bantul berikan kepada SPPG untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Saya diam saja, saya tunggu sampai tanggal 8 Mei 2026," ucapnya.
Menyoal air untuk minum dan masak sehari-hari, Agus mengaku mendapatkan air minum dari SPPG. Di mana dalam sehari Agus mendapatkan dua galon air minum.
"Untuk minum masih diberi SPPG, sehari dua galon air isi ulang," katanya.
Diberitakan sebelumnya, air sumur milik warga Mangiran, Trimurti, Srandakan, Bantul, berbusa usai diduga tercemar limbah cair dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Sedangkan SPPG Trimurti mengaku akan bertanggung jawab dan membangunkan sumur bor untuk warga yang terdampak.
Salah satu warga yang air sumurnya berbusa, Agus Indriyanto (55) menjelaskan, bahwa awalnya hendak mengisi ember dengan air keran pada awal bulan April 2026. Di mana sumber air keran itu berasal dari air sumur.
"Airnya saat itu berbusa dan baunya tidak sedap," katanya kepada wartawan di Srandakan, Bantul, Kamis (30/4/2026).
Bahkan, kondisi air yang berbusa itu berlangsung hingga saat ini. Karena menilai air itu tidak layak konsumsi, Agus memilih membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Jadi ya untuk mandi saya ke rumah saudara yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah. Kalau untuk masak, minum, saya beli air galon setiap hari," ujarnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Trimurti, M Fauzan menyebut telah bertemu dengan warga yang air sumurnya tercemar. Fauzan mengaku akan bertanggung jawab atas kejadian tersebut.
"Pastinya kita tetap bertanggung jawab, dan sepakat untuk membangunkan sumur bor bagi warga yang sumurnya terdampak," ucapnya.
(afn/dil)












































Komentar Terbanyak
BRIN Jelaskan Sebab Mobil Bisa Mogok di Tengah Rel Kereta Api
Pemda DIY Akan Evaluasi Perizinan Daycare Buntut Kasus Little Aresha
7 Fakta Ngeri Kasus Kekerasan Anak Daycare Little Aresha Jogja