2 Eks PM Israel Umumkan Bergabung untuk Lengserkan Netanyahu

Internasional

2 Eks PM Israel Umumkan Bergabung untuk Lengserkan Netanyahu

Novi Christiastuti - detikJogja
Senin, 27 Apr 2026 14:39 WIB
Dua eks PM Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, bergabung. Mereka berencana menggulingkan pemerintahan PM saat ini Netanyahu di pemilu mendatang.
Dua eks PM Israel Yair Lapid dan Naftali Bennett. Foto: Ronaldo Schemidt/Pool/File Photo
Jogja -

Dua mantan Perdana Menteri (PM) Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, menyatakan membentuk koalisi. Tujuannya? Menantang PM Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, di pemilihan yang kemungkinan digelar akhir tahun nanti.

Dilansir Al Jazeera via detikNews Senin (27/4/2026), keduanya mengumumkan bersatu supaya bisa melengserkan Netanyahu.

Dalam pernyataan bersama Minggu (26/4) waktu setempat, Bennett yang beraliran sayap kanan dan Lapid, tokoh dengan politik sentrisnya, menyatakan mereka menggabungkan partai politik mereka, Bennett 2026 dan There is a Future. Mereka berniat menyatukan kalangan oposisi yang terpecah namun tampaknya punya sedikit kesamaan, dalam hal ini permusuhan terhadap Netanyahu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kantor Bennett mengatakan bahwa partai gabungan terbaru itu akan bernama "Bersama" dan dirinya akan menjadi pemimpin partai tersebut.

ADVERTISEMENT

"Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa malam ini, bersama dengan teman saya Yair Lapid, saya mengambil langkah paling Zionis dan patriotik yang pernah kami ambil untuk negara kami," kata Bennett dalam pernyataan bersama dengan Lapid yang disiarkan televisi setempat.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi tersebut, Lapid mengatakan: "Bennett merupakan politisi sayap kanan, tetapi dia jujur, dan ada rasa saling percaya di antara kami."

"Langkah ini dimaksudkan untuk menyatukan blok tersebut, mengakhiri perpecahan internal, dan memfokuskan semua upaya untuk memenangkan pemilu penting yang akan datang -- dan memimpin Israel menyongsong masa depan," kata Lapid.

Bakal Selidiki Netanyahu

Bennett menuturkan, jika dirinya terpilih lagi sebagai PM Israel, dia akan membentuk komite penyelidikan nasional. Tugasnya untuk menginvestigasi apa yang disebutnya kegagalan yang berujung pada serangan mengejutkan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu -- tuduhan yang ditolak pemerintahan Netanyahu.

Bennett dan Lapid menjadi pengkritik vokal terhadap cara Netanyahu menangani perang yang berkecamuk sejak serangan Hamas tersebut. Baru-baru ini, Lapid mengkritik gencatan senjata dua minggu yang disepakati dengan Iran sebagai "bencana politik".

Koalisi bersama pernah dibentuk oleh Bennett dan Lapid sebelumnya, yang mengakhiri masa jabatan Netanyahu yang berlangsung selama 12 tahun berturut-turut dalam pemilu tahun 2021. Namun mereka hanya membentuk pemerintahan yang bertahan kurang dari 18 bulan.

Bennett yang berusia 54 tahun, merupakan mantan komandan militer yang kini menjadi jutawan teknologi. Dalam jajak pendapat pemilu oleh N12 News Israel pada 23 April lalu, Bennett diprediksi akan mengamankan 21 kursi dari total 120 kursi parlemen atau Knesset, menandingi 25 kursi untuk Partai Likud yang menaungi Netanyahu.

Survei tersebut sejalan dengan sejumlah jajak pendapat sebelumnya oleh lembaga akademis dan media lokal Israel lainnya, yang menempatkan Bennett sebagai kandidat utama melawan Netanyahu dalam pemilu.




(apu/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads