Nomor DC Prank Ambulans Sleman Terdeteksi di Sumut

Nomor DC Prank Ambulans Sleman Terdeteksi di Sumut

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Jumat, 24 Apr 2026 12:59 WIB
Order fiktif yang diterima ambulans relawan di Depok, Sleman, diduga dilakukan oleh debt collector (DC) pinjaman online.
Ilustrasi ambulans. Foto: Istock
Sleman -

Polresta Sleman masih menyelidiki kasus order fiktif yang diterima ambulans relawan di Kapanewon Depok, Sleman. Aksi itu diduga dilakukan oleh debt collector (DC) pinjaman online (pinjol). Polisi menyebut nomor ponsel pelaku terdeteksi berada di Sumatera Utara (Sumut).

"Saat ini kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, termasuk penelusuran terhadap nomor telepon yang digunakan pelaku yang terdeteksi berada di wilayah Sumatera Utara," kata Kapolresta Sleman Kombes Adhitya Panji Anom saat dihubungi wartawan, Jumat (23/4/2026).

Adhitya menjelaskan, pihaknya telah menindaklanjuti peristiwa itu dengan melakukan pengecekan langsung kepada driver ambulans. Termasuk juga ke Damkar Kabupaten Sleman yang mendapat order fiktif dari DC.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari hasil penyelidikan awal, benar terdapat laporan masuk ke call center Damkar terkait permintaan evakuasi ular di wilayah Condongcatur," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Namun, setelah petugas datang ke lokasi, diketahui bahwa laporan tersebut tidak benar atau fiktif. Ia menyebut modus yang digunakan sama seperti saat menghubungi ambulans.

"Sama halnya yang terjadi kepada driver ambulans dan diduga digunakan sebagai modus oleh pihak debt collector (DC) untuk menagih utang pinjaman online kepada seseorang," lanjutnya.

Adhitya melanjutkan, sampai saat ini petugas masih bekerja untuk memburu pelaku.

"Untuk sementara, belum ada pihak yang diamankan. Perkembangan lebih lanjut akan kami sampaikan kembali," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, viral aksi orderan fiktif yang diterima ambulans relawan di Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Aksi itu diduga dilakukan oleh debt collector pinjaman online (pinjol).

Peristiwa itu viral setelah diunggah oleh akun Instagram @merapi_uncover. Tampak dalam unggahan itu disertakan video memperlihatkan sebuah ambulans datang ke lokasi yang ternyata bukan situasi medis darurat, melainkan terkait penagihan utang pinjaman online.

"WASPADA TEROR ORDER FIKTIF: MENYALAHGUNAKAN LAYANAN EMERGENCY!

Mohon perhatian khususnya untuk warga Sleman dan pihak berwajib. Aksi teror dari oknum operator Pinjol kini sudah sangat meresahkan dan kelewat batas. Mereka tidak lagi hanya memesan makanan, tapi sudah berani menyalahgunakan layanan Ambulance dan Damkar Sleman untuk melakukan order fiktif.," tulis keterangan dalam postingan tersebut seperti dilihat detikJogja, Rabu (22/4).

Admin Ambulans Mercy Jogja, Aziz Apri Nugroho, menceritakan awal mula kejadian tersebut. Dia mengatakan menerima telepon dari nomor tak dikenal yang meminta penjemputan pasien darurat sekitar pukul tiga sore.

"Awalnya ditelepon nomor asing, diminta mendatangi lokasi. Katanya ada pasien emergency minta diantar ke Rumah Sakit Panti Rapih," kata Aziz saat dihubungi wartawan, Rabu (22/4/2026).

Permintaan itu kemudian diteruskan kepada sopir ambulans, Muklis, untuk ditindaklanjuti ke lokasi di wilayah Caturtunggal, Depok, Sleman.

Namun setibanya di lokasi, Muklis tidak menemukan pasien yang dimaksud. Warga sekitar juga menyebut nama yang dicari sudah tidak tinggal di alamat tersebut.

"Sudah sampai sana ternyata nggak ada pasiennya. Warga juga bilang orang yang dicari sudah pindah sejak tiga tahun lalu," ujarnya.

Tak hanya ambulans, petugas pemadam kebakaran (Damkar) Sleman juga sempat datang ke lokasi yang sama setelah menerima laporan berbeda.

"Damkar juga sampai situ. Katanya dapat laporan ular," ucapnya.

Aziz menjelaskan, pelaku menyebut identitas pasien lengkap beserta alamat dan mengirimkan titik lokasi melalui peta digital. Bahkan, pelaku juga sempat menyebut nominal biaya.

"Nelpon itu menyebut nama pasien, alamat lengkap, sampai maps juga dikirim. Kalau kami kan ambulans infak saja. Kalau nggak mampu gratis nggak apa-apa. Tapi tadi sempat juga ngomong nominal sekitar Rp 300 ribu, tapi disuruh minta yang bersangkutan," jelasnya.

Setelah menyadari tidak ada pasien, pihaknya mencoba menghubungi kembali nomor tersebut. Dari situ, pelaku disebut mengaku berasal dari pinjol.

"Pas ditelepon balik, sempat mengaku dari pinjol. Pinjol rakyat, katanya. Tapi setelah itu dihubungi, di-VC juga nggak diangkat," katanya.

Aziz mengungkapkan, kejadian serupa bukan kali pertama dialaminya. Dia menyebut sudah tiga kali menerima order fiktif dengan pola yang hampir sama.

"Ini sudah ketiga kalinya kena. Yang pertama dulu sekitar empat tahun yang lalu kena, disuruh antar jenazah di Condongcatur, ternyata nggak ada. Yang kedua itu (sekitar) dua tahun lalu di daerah Mlati," ungkapnya.

Selain itu, nomor pelaku juga sempat menghubungi beberapa ambulans lain di wilayah Yogyakarta.

"Tadi itu masuk ke beberapa nomor ambulans juga, nggak cuma kami. Kebetulan yang bisa datang kami," ujarnya.

Terkait kejadian ini, Aziz mengaku belum berencana melaporkan ke pihak kepolisian. Namun dia berharap peristiwa ini menjadi perhatian agar tidak terulang kembali.

"Kalau jadi atensi (disuruh) laporan ya laporan, kalau enggak ya sudah tidak apa-apa. Sudah tiga kali ini soalnya," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(dil/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads