Heboh Ikan Mati Massal di Sungai Belik Bantul, Diduga Terpapar Limbah

Heboh Ikan Mati Massal di Sungai Belik Bantul, Diduga Terpapar Limbah

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Senin, 20 Apr 2026 15:39 WIB
Air di dam belik, Pandes I, Wonokromo, Pleret, Bantul yang penuh busa, Senin (20/4/2026). Diduga busa itu merupakan limbah cair yang memicu banyak ikan di sungai tersebut pingsan hingga mati.
Air di dam belik, Pandes I, Wonokromo, Pleret, Bantul yang penuh busa, Senin (20/4/2026). Diduga busa itu merupakan limbah cair yang memicu banyak ikan di sungai tersebut pingsan hingga mati. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Bantul -

Postingan video yang memperlihatkan warga mengambil ikan mati di aliran Sungai Belik, Pandes I, Wonokromo, Pleret, Bantul ramai di media sosial (Medsos). Dukuh Pandes menduga matinya ikan-ikan itu akibat terpapar limbah cair. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) turun tangan.

"Tadi pagi Sungai Belik Pandes, Wonokromo, Pleret, Bantul terkena limbah. Air sungai banyak busanya mengakibatkan ikan-ikan mati, kejadian ini bukan yang pertama kali, sebelumnya juga sudah pernah terjadi, kejadian yang berulang terkesan pelaku tidak terkena efek jera," kata akun Instagram @merapi_uncover seperti dilihat detikJogja hari ini.

Dukuh Pandes I, Budi Cahyono membenarkan kejadian tersebut. Budi mengungkapkan, bahwa kejadian itu terjadi pagi tadi saat jam berangkat kerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Benar, jadi kejadiannya sekitar jam delapan pagi. Awalnya itu warga lihat air di Dam belik Pandes I berbusa dan setelah dicek banyak ikan yang klenger (pingsan)," katanya saat ditemui di Pandes I, Bantul, Senin (20/4/2026).

Ikan-ikan yang mati dan mengapung di aliran Sungai Belik, Pandes I, Wonokromo, Pleret, Bantul, Senin (20/4/2026).Ikan-ikan yang mati dan mengapung di aliran Sungai Belik, Pandes I, Wonokromo, Pleret, Bantul, Senin (20/4/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Menurut Budi, jumlah ikan yang pingsan sangatlah banyak. Pasalnya warga sampai menggunakan ember hingga koper untuk menaruh ikan-ikan tersebut.

ADVERTISEMENT

"Jumlah ikannya banyak, ribuan mungkin ada karena ada satu warga saya dapat ikan sekoper dan ada juga yang pakai ember besar itu. Kalau ikannya tadi jenis ikan yang berisik, seperti wader, tawes, nila, red devil hingga ikan sapu-sapu," ujarnya.

Selain itu, ketika warga menangkap ikan kondisinya belum sepenuhnya mati. Berbeda dengan sore ini ikan-ikan yang mengapung di Sungai Belik mati semua.

"Saat ditangkap warga ikan masih ada upaya menyelamatkan diri. Kalau masih ada ikannya di belik tapi mati semua dan kecil-kecil ukurannya, karena yang besar-besar diambil warga," ucapnya.

Terkait penyebab pingsannya ikan-ikan tersebut, Budi menduga karena aliran air di Sungai Belik tercemar limbah cair. Mengingat kejadian serupa pernah terjadi namun tidak sampai membuat banyak ikan pingsan hingga mati.

"Lima tahun lalu juga seperti itu tapi tidak banyak ikan yang mati. Kalau tahun ini busanya sedikit tapi ikan yang mati lebih banyak," katanya.

Terkait asal limbah, Budi telah melakukan penelusuran hingga ke sisi utara. Ternyata limbah itu diduga berasal dari Pedukuhan Grojogan, Kalurahan Tamanan, Kapanewon Banguntapan, Bantul.

"Untuk sementara pingsannya ikan karena limbah cair berbusa itu, asalnya dari saluran IPAL komunal di Grojogan. Informasinya ada warga yang melihat pencucian drum warna biru dan airnya mengalir ke IPAL," ucapnya.

Budi mengungkapkan, tercemarnya saluran IPAL baru pertama kali ini terjadi sejak tahun 2013. Selain itu, pihaknya telah mengkonfirmasi kepada Dukuh Grojogan.

"Tadi kelompok swadaya IPAL Grojogan, Tamanan siap bertanggungjawab dengan menyebar bibit ikan dan tidak mengulangi perbuatannya, karena ini kan akibat ketidaktahuan juga," katanya.

Di sisi lain, Budi juga telah meminta warganya yang mengambil ikan di sungai belik agar tidak mengonsumsinya.

"Warga sudah saya minta agar jangan mengkonsumsi ikan itu sampai hasil uji laboratorium keluar," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bantul, Bambang Purwadi Nugroho mengapreasi kolaborasi bersama dengan Dukuh Pandes I. Menurutnya dengan kolaborasi itu membuat permasalahan cepat terdeteksi.

"Selanjutnya kita sudah kirim tim ke lapangan untuk mengecek lokasi, tim juga telah mengambil sampel air dan ikan yang tercemar untuk diuji laboratorium," ucapnya.

Bambang juga menyebut telah berkoordinasi dengan pemangku wilayah yang aliran sungainya tercemar limbah tersebut.

"Penelusuran lebih lanjut sumber pencemar juga sudah dilakukan dengan melibatkan wilayah, Bhabinkamtibmas, Dukuh, RT setempat untuk melakukan antisipasi pencegahan agar pencemaran lingkungan sungai tidak berkembang," ujarnya.



(afn/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads