April Adalah Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual, Ini Sejarahnya

April Adalah Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual, Ini Sejarahnya

Khofifah Azzahro - detikJogja
Kamis, 16 Apr 2026 09:10 WIB
April Adalah Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual, Ini Sejarahnya
April Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual. (Foto: Dok Laman Administration for Children & Families in US Department of Health & Human Services)
Jogja -

Tahukah kalian bahwa bulan April ditetapkan sebagai Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual atau Sexual Assault Awareness Month? Isu kekerasan seksual telah lama menjadi perhatian global karena dampaknya yang luas terhadap korban, baik secara fisik maupun psikologis dalam jangka panjang.

Melalui kebijakan yang diperingati setiap tahun tersebut, masyarakat diharapkan mampu memahami bahwa kekerasan seksual bukanlah persoalan ringan. Kesadaran ini penting agar tercipta lingkungan yang lebih aman bagi semua orang, termasuk anak-anak dan perempuan yang sering menjadi korban.

Kurangnya pemahaman mengenai kekerasan seksual sering kali membuat tindakan ini dianggap sepele atau bahkan tidak disadari. Padahal, kekerasan seksual memiliki banyak bentuk yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar, baik secara langsung maupun tidak langsung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, bagaimana awal mula penetapan bulan April sebagai Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual? Simak informasi lengkapnya di bawah ini.

ADVERTISEMENT

Apa Itu Kekerasan Seksual?

Mengutip laman Kemendikdasmen, kekerasan seksual adalah segala bentuk tindakan yang merendahkan, melecehkan, atau menyerang tubuh serta fungsi reproduksi seseorang. Perbuatan ini biasanya terjadi karena adanya ketimpangan kekuasaan atau relasi gender, yang kemudian menimbulkan dampak buruk, baik secara fisik maupun psikis.

Dampak tersebut tidak hanya berupa luka secara fisik, tetapi juga bisa mengganggu kesehatan hingga kondisi mental, bahkan dapat menghambat seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-harinya secara aman dan optimal.

Sejarah April sebagai Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual

Dilansir laman National Sexual Violence Resource Center (NSVRC), penetapan April sebagai Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual atau Sexual Assault Awareness Month (SAAM) secara resmi dimulai pada tahun 2001 di Amerika Serikat. Namun, gerakan ini sebenarnya telah berakar sejak tahun 1970an melalui berbagai gerakan antikekerasan dan perjuangan hak-hak perempuan.

Pada tahun 2000, National Sexual Violence Resource Center didirikan dan mulai mengoordinasikan berbagai upaya untuk memperluas kampanye kesadaran, khususnya terkait kekerasan seksual. Sejak saat itu, Sexual Assault Awareness Month (SAAM) berkembang menjadi gerakan nasional yang berfokus pada edukasi publik, pencegahan kekerasan seksual, serta dukungan bagi para penyintas.

Tujuan Peringatan Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual

Masih dikutip dari sumber yang sama, peringatan ini bertujuan untuk membuka ruang dialog mengenai tingginya kasus kekerasan seksual yang masih sering terjadi. Selain itu, kampanye kesadaran ini juga berupaya memutus budaya diam dan stigma yang kerap membungkam korban kekerasan seksual di dunia nyata.

Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan ini juga berkembang dengan menghadirkan ruang yang lebih inklusif, seperti di lingkungan kampus dan komunitas, guna membangun dukungan serta pemberdayaan bagi para penyintas kekerasan seksual. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih aman dan peduli bagi para korban.

Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual memiliki berbagai bentuk yang perlu diwaspadai karena sering kali terjadi tanpa disadari. Tindakan ini tidak hanya terjadi di ruang publik, tetapi juga bisa terjadi di lingkungan pribadi atau ruang yang dianggap aman. Oleh karena itu, penting untuk memiliki pemahaman yang baik agar dapat mengenali tanda-tandanya sejak dini.

Dengan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan, risiko terjadinya kekerasan seksual dapat dicegah. Pemahaman yang tepat juga membantu untuk bersikap lebih waspada serta berani mengambil langkah ketika menghadapi situasi yang tidak aman, baik untuk diri sendiri maupun orang lain di sekitar.

Adapun bentuk-bentuk kekerasan seksual menurut laman Ayo Sehat Kemenkes, serta hasil pemantauan Komnas Perempuan selama 15 tahun yang dimulai sejak tahun 1998 hingga tahun 2013, terdapat berbagai bentuk kekerasan seksual yang perlu diketahui, di antaranya:

  1. Perkosaan.
  2. Intimidasi seksual, termasuk ancaman atau percobaan perkosaan.
  3. Eksploitasi seksual.
  4. Kekerasan seksual.
  5. Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual.
  6. Prostitusi paksa.
  7. Perbudakan seksual.
  8. Pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung.
  9. Pemaksaan kehamilan.
  10. Pemaksaan aborsi.
  11. Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi.
  12. Penyiksaan seksual.
  13. Penghukuman tidak manusiawi bernuansa seksual.
  14. Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan.
  15. Kontrol seksual melalui aturan yang diskriminatif.
  16. Ujaran yang melecehkan fisik, tubuh, atau identitas gender.
  17. Rayuan, lelucon, atau siulan bernuansa seksual.
  18. Pengiriman pesan, gambar, atau video bermuatan seksual tanpa persetujuan.
  19. Pengambilan dan penyebaran konten pribadi bernuansa seksual.
  20. Penyebaran informasi pribadi korban yang bersifat seksual.

Daftar tersebut bukanlah bentuk kekerasan seksual yang final, karena terdapat kemungkinan bahwa sejumlah bentuk kekerasan seksual lain yang belum berhasil dikenali, sebab adanya keterbatasan informasi dari banyak korban yang belum berani bersuara. Jadi, itulah penjelasan lengkap mengenai April sebagai Bulan Kesadaran Kekerasan Seksual, mulai dari sejarah, tujuan, hingga bentuk-bentuk kekerasan seksual. Semoga bermanfaat, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Khofifah Azzahro peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.



(sto/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads