Efisiensi, Walkot Jogja Wacanakan Batasi BBM untuk Kendaraan Dinas

Efisiensi, Walkot Jogja Wacanakan Batasi BBM untuk Kendaraan Dinas

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Minggu, 29 Mar 2026 19:01 WIB
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, saat ditemui di Umbulharjo, Kota Jogja, Minggu (29/3/2026).
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, saat ditemui di Umbulharjo, Kota Jogja, Minggu (29/3/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, tengah menyiapkan sejumlah langkah efisiensi di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Selain wacana penerapan work from home (WFH), ASN juga didorong beralih ke transportasi ramah lingkungan seperti sepeda hingga sepeda listrik.

Hasto mengatakan, terkait kebijakan WFH sejauh ini masih menunggu surat resmi dari pemerintah pusat. Meski begitu, pihaknya telah melakukan rapat internal untuk menyusun skema pelaksanaan, termasuk menentukan organisasi perangkat daerah (OPD) yang memungkinkan menerapkan sistem kerja tersebut.

"WFH, ya. Surat resmi dari pemerintah pusat belum kami terima. Kami masih menunggu, mungkin besok atau lusa. Tapi kami sudah rapat untuk menentukan formasi WFH," ujar Hasto saat ditemui di Umbulharjo, Kota Jogja. Minggu (29/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasto menegaskan, tidak semua unit kerja akan diberlakukan WFH. Sejumlah layanan publik tetap harus berjalan normal dari Senin hingga Jumat.

ADVERTISEMENT

"Kelurahan, kecamatan, puskesmas, Satpol PP, perdagangan, pajak, perizinan itu di antaranya adalah dinas-dinas yang terus Senin sampai Jumat. Tapi untuk yang lainnya, saya kira bisa untuk kita WFH-kan," jelasnya.

Selain WFH, Hasto juga berencana untuk menerapkan kebijakan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan dinas sebagai langkah efisiensi. Ia menyebut, sebagai contoh mobil dinas roda empat kini dibatasi maksimal 5 liter per hari, sedangkan sepeda motor 1 liter per hari.

Menurutnya, kebijakan ini diambil setelah melihat penggunaan kendaraan dinas yang dinilai kurang efisien, termasuk digunakan untuk perjalanan jauh ke luar kota.

"Jadi contohnya, mobil roda empat hanya saya berikan maksimal 5 liter per hari, dan itu nanti kita berikan 4 hari gitu, sehingga seminggu itu hanya 20 liter ya. Karena saya lihat banyak mobil roda empat pelat merah dibawa pulang ke daerahnya masing-masing dan pulangnya jauh. Saya yakin itu kalau 5 liter enggak cukup kadang-kadang. Nah, maka dari itu saya berharap betul bahwa dia kalau misalkan harus menambah dari itu, ya tanggungannya sendiri gitu. Sepeda motor kan juga bisa, hanya saya berikan 1 liter per hari yang pelat merah itu yang aktif ya," terang Hasto.

"Dengan plafonisasi ini saya bisa berhitung nanti efisiensinya berapa. Saya akan patok begitu biar BBM-nya turun," lanjutnya.

Selain itu, Pemkot Jogja juga tengah menggodok kebijakan untuk mendorong ASN beralih ke moda transportasi non-BBM, seperti sepeda dan sepeda listrik.

Hasto mengaku telah membahas hal tersebut dalam rapat bersama jajaran. Namun ia ingin kebijakan ini dijalankan secara bertahap agar bisa berkelanjutan.

"Saya tidak ingin jadi 'panas-panas tahi ayam'. Beberapa kepala dinas sudah ada yang usul pakai sepeda. Saya senang sekali. Cuma saya tidak ingin sekarang pakai, terus besok lama-lama lupa. Inginnya makin lama makin banyak," pungkasnya.



(apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads