Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, mengklaim Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, terluka usai terkena serangan gabungan negaranya dan Israel. Bahkan, Mojtaba disebut cacat.
Pernyataan Hegseth itu terjadi setelah Presiden Donald Trump, dalam wawancara bersama Fox News yang ditayangkan Kamis (12/3) malam waktu setempat, meyakini Mojtaba masih hidup, namun menderita luka akibat serangan AS-Israel.
Sejak terpilih sebagai pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei belum muncul di hadapan publik. Absennya pria berusia 56 tahun itu jelas memicu spekulasi publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir detikNews Sabtu (14/3/2026), Teheran juga belum merilis foto terbaru Mojtaba, sejak serangan AS-Israel yang terjadi pada 28 Februari 2026 menewaskan sebagian besar keluarganya, termasuk sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, ibundanya, dan istrinya.
Pernyataan perdana Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi Iran disampaikan secara tertulis, dan dibacakan presenter televisi pemerintah pada Kamis malam waktu setempat.
Dalam pernyataan perdananya itu, Mojtaba berjanji untuk tetap menutup Selat Hormuz dan menyerukan negara-negara tetangga Iran menutup pangkalan militer AS di wilayah mereka atau berisiko menjadi sasaran serangan Teheran.
"Kita mengetahui bahwa pemimpin yang disebut-sebut tidak begitu tertinggi itu terluka dan kemungkinan mengalami cacat fisik. Dia merilis pernyataan kemarin. Pernyataan yang lemah, sebenarnya, tetapi tidak ada suara dan tidak ada video. Itu adalah pernyataan tertulis," kata Hegseth seperti dilansir Reuters, Sabtu (14/3/2026).
"Iran memiliki banyak kamera dan memiliki banyak alat perekam suara. Mengapa pernyataan tertulis? Saya rasa Anda mengetahui alasannya. Ayahnya -- tewas. Dia takut, dia terluka, dia menjadi buronan, dan dia tidak memiliki legitimasi," sebut Menhan AS itu dalam konferensi pers pada Jumat (13/3).
Alami Luka Ringan
Iran memang mengakui Mojtaba terluka. Namun, sumber internal Teheran mengungkapkan kepada Reuters, Mojtaba mengalami luka ringan, dan disebut masih bisa beraktivitas.
Duta Besar Iran untuk Jepang, Peyman Saadat, mengatakan pada Jumat (13/3) bahwa Mojtaba tidak dalam kondisi "melemah".
"Yang kami ketahui adalah bahwa dia menderita luka-luka akibat perang saat ini, ketika pemimpin tertinggi saya dibunuh," kata Saadat kepada Asahi TV.
"Tetapi bukan dengan cara yang akan mencegahnya (Mojtaba-red) untuk berfungsi. Dia adalah pemimpin yang berfungsi. Jadi untungnya, tidak ada yang terganggu. Itulah mengapa mereka memilih pemimpin saat ini," tegasnya.
(apu/apu)












































Komentar Terbanyak
Rismon Sianipar Kini Bilang Ijazah Jokowi-Gibran Asli, Begini Temuannya
Terungkap Alasan Alvi Tega Mutilasi Kekasih Jadi Ratusan Potong
Trump Sebut Iran Hampir Kalah