Penetapan Friderica Widyasari Dewi sebagai pimpinan baru di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2026-2031 menjadi perhatian publik. Sosok yang akrab disapa Kiki Widyasari ini dikenal memiliki pengalaman panjang di sektor pasar modal dan pengawasan industri keuangan di Indonesia.
Berdasarkan laporan detikNews, keputusan tersebut disahkan dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR) yang digelar di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2026). Rapat dipimpin oleh Ketua DPR Puan Maharani. Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi XI DPR Misbakhun menyampaikan hasil uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap 10 calon anggota Dewan Komisioner OJK.
Dari proses tersebut, Komisi XI menyepakati lima orang untuk mengisi jabatan Dewan Komisioner periode 2026-2031. Setelah laporan disampaikan, pimpinan rapat kemudian meminta persetujuan kepada anggota dewan yang hadir dan seluruh peserta rapat menyatakan setuju.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun susunan lima anggota Dewan Komisioner OJK periode 2026-2031 yang disahkan dalam rapat paripurna tersebut adalah Friderica Widyasari Dewi (Ketua Dewan Komisioner OJK), Hernawan Bekti Sasongko (Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK), Hasan Fawzi (Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK), Dicky Kartikoyono (Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK), dan Adi Budiarso (Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto)
Penunjukan ini menandai babak baru kepemimpinan OJK yang akan memimpin lembaga pengawas sektor keuangan tersebut selama lima tahun ke depan. Sosok Friderica Widyasari sebagai bos baru OJK pun jadi sorotan, seperti apa profil, latar belakang pendidikan, dan perjalanan kariernya selama ini? Berikut uraiannya.
Latar Belakang Pendidikan
Menurut profil resmi yang tercantum di laman Otoritas Jasa Keuangan serta Berdasarkan riwayat karier yang tercantum di profil LinkedIn Friderica Widyasari Dewi, Friderica Widyasari Dewi dikenal memiliki latar belakang akademik yang kuat di bidang ekonomi dan kebijakan. Ia merupakan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk jenjang sarjana dan doktoral.
Riwayat pendidikannya antara lain:
- Sarjana Ekonomi (S1) di Universitas Gadjah Mada pada 2001
- Master of Business Administration (MBA) di California State University, Fresno, Amerika Serikat pada 2004
- Doktor (S3) bidang Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan di Universitas Gadjah Mada pada 2019
Pendidikan tersebut memperlihatkan fokus wanita kelahiran Cepu, 18 November 1975 ini pada bidang ekonomi, keuangan, dan kepemimpinan kebijakan yang berkaitan dengan tata kelola sektor keuangan.
Perjalanan Karier di Pasar Modal
Perjalanan karier Friderica Widyasari Dewi di sektor pasar modal dan keuangan tercatat cukup panjang. Berdasarkan riwayat profesional yang tercantum pada profil LinkedIn miliknya, ia pernah menempati berbagai posisi penting di lembaga pasar modal, perusahaan sekuritas, hingga institusi pendidikan.
Salah satu posisi strategis yang pernah dipegangnya adalah Chief Executive Officer (CEO) di BRI Danareksa Sekuritas. Ia menjabat pada periode 2020 hingga 2022 di perusahaan sekuritas tersebut yang berbasis di kawasan metropolitan Jakarta.
Sebelum memimpin BRI Danareksa Sekuritas, Friderica berkarier di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) selama lebih dari empat tahun. Di lembaga infrastruktur pasar modal tersebut, ia menjabat sebagai:
- Direktur KSEI (2015-2016)
- Presiden Direktur / President of the Board of Directors (2016-2019)
KSEI merupakan lembaga yang berperan dalam sistem penyimpanan dan penyelesaian transaksi efek di pasar modal Indonesia. Kepemimpinannya di KSEI membuat Friderica semakin dikenal sebagai figur yang memahami sistem infrastruktur pasar modal nasional.
Kariernya di pasar modal sebelumnya juga berkembang di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan riwayat pada LinkedIn miliknya, ia bekerja di lembaga tersebut selama sekitar 10 tahun dengan sejumlah posisi strategis, antara lain:
- Task Force of Marketing Coordinator (2005-2006)
- Head of Communication Department (2006-2008)
- Corporate Secretary (2008-2009)
- Director of Development / Direktur Pengembangan (2009-2015)
Di Bursa Efek Indonesia, ia terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan pasar modal, komunikasi korporasi, hingga program pemasaran yang berkaitan dengan peningkatan partisipasi investor. Selain berkarier di lembaga pasar modal, Friderica juga sempat terlibat dalam pemerintahan sebagai Staf Khusus di Kementerian Keuangan Republik Indonesia pada tahun 2008.
Di bidang akademik, ia juga pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi. Berdasarkan riwayat profesional di LinkedIn, Friderica pernah menjadi pengajar di:
- Universitas Indonesia, mengajar ekonomi investasi dan manajemen risiko pada 2005
- Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, mengajar ekonomi pasar modal dan investasi pada 2005
- Universitas Trilogi (STEKPI), mengajar ekonomi instrumen derivatif pada 2004
Selain itu, ia juga pernah menjadi asisten pengajar kelas keuangan di California State University, Fresno pada tahun 2004. Friderica juga pernah memegang sejumlah posisi lain di berbagai lembaga, antara lain:
- Anggota Dewan Penasihat di The Indonesian Institute, lembaga riset kebijakan publik pada 2005
- Komisaris Tim Manajemen Risiko di PLN pada 2005
Beragam pengalaman tersebut menunjukkan bahwa Friderica tidak hanya berkiprah di industri pasar modal, tetapi juga memiliki pengalaman di pemerintahan, lembaga riset kebijakan, serta dunia akademik. Kombinasi pengalaman ini membentuk pemahamannya terhadap ekosistem ekonomi, kebijakan publik, dan industri keuangan secara lebih luas.
Selain berkarier di sektor jasa keuangan, Friderica Widyasari Dewi juga aktif dalam organisasi alumni sebagaimana diinformasikan laman FEB UGM. Ia terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat KAFEGAMA (Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada) periode 2024-2027 dalam Musyawarah Nasional (Munas) IV yang digelar di kampus Universitas Gadjah Mada pada Mei 2024.
Dalam perannya tersebut, ia mendorong penguatan jejaring alumni serta kontribusi alumni FEB UGM bagi masyarakat dan pembangunan nasional. Di bawah kepemimpinannya, KAFEGAMA juga aktif menjalankan berbagai program kolaborasi alumni dan kegiatan sosial. Ia juga mendapat penghargaan Outstanding Leader in Financial Services dalam ajang Indonesia Leading Women Awards 2025, yang dinilai sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya di sektor jasa keuangan dan kepemimpinan organisasi.
Peran di OJK Sebelum Menjadi Ketua
Dilansir laman Otoritas Jasa Keuangan, sebelum dipercaya menjadi Ketua Dewan Komisioner OJK periode 2026-2031, Friderica lebih dulu menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner OJK. Di lembaga tersebut ia memegang jabatan sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen.
Jabatan ini memiliki tanggung jawab besar dalam mengawasi perilaku industri jasa keuangan sekaligus meningkatkan perlindungan konsumen dan literasi keuangan masyarakat. Melalui peran tersebut, ia terlibat dalam berbagai program edukasi keuangan, kampanye literasi finansial, serta penguatan perlindungan konsumen terhadap berbagai risiko di sektor jasa keuangan.
Aktivitas di Media Sosial
Selain aktif di sektor regulator keuangan, Friderica juga memiliki kehadiran di media sosial. Salah satu yang terlihat aktif adalah akun Instagram @fridericawidyasari. Akun Instagram tersebut memiliki lebih dari 34 ribu pengikut saat dilihat detikJogja pada Kamis (12/3/2026). Akun ini digunakan untuk membagikan berbagai aktivitas profesional yang berkaitan dengan tugasnya di sektor keuangan.
Sebagian besar konten yang diunggah berkaitan dengan:
- Kegiatan resmi dan agenda kerja di OJK
- Program edukasi serta literasi keuangan
- Dokumentasi seminar, konferensi, dan forum ekonomi
- Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat terkait layanan keuangan
Selain Instagram, Friderica juga memiliki akun profesional di platform LinkedIn. Pada profil tersebut tercantum riwayat pendidikan, pengalaman kerja, serta perjalanan kariernya di berbagai lembaga keuangan sebelum bergabung dengan OJK.
LinkedIn lebih digunakan sebagai sarana jaringan profesional dan profil karier, sedangkan Instagram berfungsi sebagai media komunikasi publik untuk mendokumentasikan aktivitas kerja dan kegiatan literasi keuangan. Sejauh penelusuran pada akun publik yang tersedia, dua platform tersebut merupakan media sosial yang paling terlihat digunakan oleh Friderica.
Perjalanan karier Friderica Widyasari Dewi menunjukkan pengalaman panjang di sektor pasar modal dan pengawasan industri keuangan. Mulai dari Bursa Efek Indonesia, KSEI, perusahaan sekuritas, hingga akhirnya menjadi anggota Dewan Komisioner OJK, ia telah terlibat langsung dalam berbagai aspek pengembangan industri keuangan nasional.
Dengan latar belakang akademik yang kuat serta pengalaman profesional di berbagai lembaga strategis, kepemimpinan sosok Friderica Widyasari di OJK periode 2026-2031 diharapkan mampu memperkuat stabilitas sektor keuangan, meningkatkan literasi finansial masyarakat, serta memastikan perlindungan konsumen dalam industri jasa keuangan di Indonesia.
Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
(sto/dil)












































Komentar Terbanyak
Trump Kecewa Sudah Kirim Senjata buat Demonstran Iran, Tapi...
Mojtaba Khamenei Disebut Kritis, Begini Kondisinya
3 Kepala Daerah di Jatim Kena OTT KPK, Ini Kata Gubernur Khofifah