Apa Dampak Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel bagi Indonesia?

Apa Dampak Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel bagi Indonesia?

Desi Rahmawati - detikJogja
Kamis, 12 Mar 2026 10:03 WIB
Peluncur roket.
Foto: Vony Razom/Unsplash
Jogja -

Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat. Ketegangan yang terjadi berimplikasi terhadap Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan internasional. Akibatnya, negara-negara di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, terkena dampak.

Konflik militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah tentu mempengaruhi keamanan di kawasan tersebut. Akibatnya, aktivitas perdagangan internasional turut terdisrupsi. Terlebih, ketidakpastian geopolitik ini juga memicu kekhawatiran di pasar internasional.

Sebagai bagian dari sistem ekonomi internasional, Indonesia juga berpotensi merasakan dampak dari perang di Timur Tengah ini. Lantas, apa saja dampak perang tersebut bagi Indonesia? Berikut uraian secara lengkapnya!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak Perang Iran vs Amerika Serikat-Israel bagi Indonesia

1. Kenaikan Harga BBM

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia. Hal ini terjadi karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu wilayah yang menjadi jalur distribusi energi internasional. Ketika terjadi ketegangan militer di kawasan ini, pasar energi dunia akan mengalami gangguan pasokan minyak sehingga harga minyak di pasar internasional ikut meningkat.

ADVERTISEMENT

Dampak kenaikan harga minyak dunia ini juga dirasakan Indonesia sebagai salah satu negara yang masih bergantung impor untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Dilansir detikFinance, apabila harga minyak meningkat, maka diperkirakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) juga meningkat. Hal ini terutama berlaku pada BBM yang tidak disubsidi dari pemerintah. Dalam kondisi ini, biaya transportasi dan aktivitas ekonomi lainnya juga akan terkena dampak.

2. Tekanan terhadap APBN

Kenaikan harga minyak dunia juga memberikan tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dikutip dari laman Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, hal ini disampaikan langsung oleh Eddy Soeparno bahwa lonjakan harga minyak dapat berdampak langsung pada kondisi fiskal negara, yakni terbebannya APBN.

Selain itu, jika harga minyak dunia meningkat secara drastis, maka pemerintah harus mengeluarkan anggaran yang lebih besar untuk menyesuaikan subsidi energi. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, maka beban keuangan negara akan semakin besar.

3. Persaingan Global dalam Mendapatkan Pasokan Minyak

Selain berdampak pada harga energi, konflik geopolitik di Timur Tengah ini juga dapat menyebabkan persaingan global dalam memperoleh pasokan minyak mentah. Hal ini juga disampaikan oleh wakil ketua MPR RI, Eddy Soeparno, bahwa negara pengimpor minyak dapat saling berebut pasokan suppy minyak mentah.

"Apalagi harga minyak mentah pada asumsi makro APBN adalah USD 70, dan defisit terhadap PDB di angka 2,68 persen. Maka dengan kenaikan harga migas di atas USD 100 per barel, kemungkinan defisit anggaran bisa tembus di atas 3,6 persen, sebagaimana diungkapkan pejabat di Kementerian Keuangan," ujarnya pada Senin (9/3) kemarin.

Indonesia sebagai negara pengimpor minyak tentu berpotensi harus bersaing dengan negara-negara besar yang memiliki kebutuhan energi tinggi. Persaingan ini dapat membuat harga minyak semakin mahal dan menyebabkan keterbatasan pasokan energi dalam negeri maupun global.

4. Meningkatkannya Inflasi

Kenaikan harga minyak dunia juga dapat memicu inflasi di dalam negeri. Dirujuk dari detikNews, konflik geopolitik Timur Tengah ini berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang berakibat inflasi domestik.

Harga minyak memiliki pengaruh besar terhadap berbagai sektor ekonomi, seperti transportasi, industri, dan distribusi barang. Jika harga bahan bakar meningkat, maka biaya produksi dan distribusi barang juga akan ikut meningkat. Akibatnya, harga berbagai barang dan jasa di pasaran negeri akan mengalami kenaikan sehingga menyebabkan daya beli masyarakat menurun.

5. Tekanan terhadap Nilai Tukar Rupiah

Konflik antara Iran dan AS-Israel ini juga berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar mata uang negara. Ketika harga minyak meningkat, Indonesia perlu mengeluarkan devisa negara yang lebih besar untuk membayar impor energi. Akibatnya, permintaan terhadap dolas AS meningkat.

Naiknya permintaan dolar menyebabkan nilai tukar rupiah mengalami tekanan atau melemah. Jika rupiah melemah terhadap dolar AS, maka harga barang impor akan menjadi lebih mahal.

6. Kenaikan Biaya Transportasi dan Logistik

Kenaikan harga bahan bakar juga berdampak langsung pada sektor transportasi dan logistik. Mengingat, transportasi adalah sektor yang sangat bergantung pada bahan bakar minyak untuk beroperasi.

Jika harga BBM meningkat, maka biaya transportasi juga akan meningkat. Selain itu, hal ini juga akan meningkatkan biaya distribusi sehingga harga barang menjadi lebih mahal.

Itulah sejumlah dampak yang berpotensi akan dirasakan oleh Indonesia akibat perang Iran dan AS-Israel. Semoga menambah wawasan detikers!

Artikel ini ditulis oleh Desi Rahmawati peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(num/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads