Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan ke Iran hingga mengakibatkan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas. Serangan ini dinamakan operasi 'Epic Fury', apa maknanya?
Dikutip detikNews dari NBC News, Minggu (1/3/2026), Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengapresiasi serangan militer AS terhadap Iran yang disebut sebagai Operasi Epic Fury atau dalam bahasa Indonesia disebut kemarahan luar biasa. Operasi ini disebut sebagai operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah AS.
"Rezim Iran memiliki kesempatan, namun menolak untuk membuat kesepakatan - dan sekarang mereka menanggung konsekuensinya. Selama hampir lima puluh tahun, Iran telah menargetkan dan membunuh warga Amerika, selalu mencari senjata paling ampuh di dunia untuk memajukan tujuan radikal mereka. Tadi malam, tidak seperti presiden sebelumnya, Presiden Trump mulai menangani kanker ini," kata Hegseth dalam sebuah unggahan di X.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hegseth menyebut AS 'tidak akan mentolerir rudal-rudal ampuh yang menargetkan rakyat Amerika'. Operasi ini disebut menargetkan untuk menghancurkan rudal-rudal Iran, produksi rudal, dan angkatan laut Iran.
"Seperti yang selalu dikatakan Presiden Trump sepanjang hidupnya, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Hegseth.
Pihaknya mengklaim AS tidak memulai konflik. Dia menyebut Iran lebih dulu mengancam warga AS.
"Amerika Serikat tidak memulai konflik ini, tetapi kami akan mengakhirinya. Jika Anda membunuh atau mengancam warga Amerika di mana pun di dunia - seperti yang dilakukan Iran - maka kami akan memburu Anda, dan kami akan membunuh Anda," ujarnya.
Epic Fury Dimulai 28 Februari
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi 'Epic Fury' ini dimulai pada 28 Februari 2026 atas arahan Presiden Donald Trump. Pasukan AS dan sekutunya mulai menyerang target pada pukul 01.15 waktu AS untuk melumpuhkan aparat keamanan rezim Iran.
AS mengklaim serangan dilakukan dengan memprioritaskan lokasi yang menimbulkan ancaman langsung. Target itu di antaranya fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam, kemampuan pertahanan udara Iran, lokasi peluncuran rudal dan drone serta lapangan terbang militer.
"Presiden memerintahkan tindakan berani, dan prajurit, pelaut, penerbang, marinir, penjaga, dan penjaga pantai kita yang gagah berani menjawab panggilan tersebut," kata komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper.
Setelah gelombang awal serangan AS dan sekutu, pasukan CENTCOM mempertahankan diri dari ratusan serangan rudal dan drone Iran. Tidak ada laporan korban jiwa atau cedera terkait pertempuran di pihak AS. Pihaknya mengklaim kerusakan pada instalasi AS minimal dan tidak berdampak pada operasi.
Serangan pertama operasi tersebut mencakup peluncuran amunisi presisi dari udara, darat, dan laut. Selain itu, Satuan Tugas Scorpion Strike CENTCOM menggunakan drone serang satu arah berbiaya rendah untuk pertama kalinya dalam pertempuran. Operasi Epic Fury melibatkan konsentrasi kekuatan militer AS terbesar di kawasan Arab dalam satu generasi.
(ams/ams)












































Komentar Terbanyak
Komandan IRGC Tokoh Kunci Penutupan Selat Hormuz Tewas Diserang Israel
Fakta-fakta Polisi Jogja Gugur Saat Operasi Ketupat Progo
Pengunjung dari Iran Dilarang Masuk ke Australia