15 Contoh Kultum Ramadan 2026 Singkat Berbagai Tema Beserta Judul dan Dalilnya

15 Contoh Kultum Ramadan 2026 Singkat Berbagai Tema Beserta Judul dan Dalilnya

Nur Umar Akashi - detikJogja
Jumat, 20 Feb 2026 13:09 WIB
Kultum Ramadan
Kultum Ramadan. (Foto: Alena Darmel/Pexels)
Jogja -

Waktu subuh, menjelang maghrib, serta seusai sholat Isya dan Tarawih bulan Ramadan biasa dimanfaatkan untuk kuliah tujuh menit alias kultum. Para khatib akan membawakan pelbagai materi yang relevan dengan kondisi jemaah.

Materi yang diangkat umumnya membahas permasalahan fikih ibadah Ramadan, seperti puasa, sholat Tarawih, dan i'tikaf. Pembahasan 'pernak-pernik' ibadah, seperti doa berbuka puasa, niat berpuasa, hingga bacaan surat sholat Witir pun lazim dihadirkan.

Tema-tema yang lebih luas, semisal mengenai akidah dan cara meningkatkan keimanan penting dibahas sebagai pondasi hidup seorang muslim. Tak kalah penting, kultum Ramadan juga dapat diisi dengan pesan-pesan akhlak dan sosial, seperti kejujuran dan kepedulian terhadap sesama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Singkat kata, ada berbagai tema yang cocok didakwahkan melalui media kultum Ramadan. Di bawah ini beberapa contoh kultum Ramadan 2026, lengkap dengan judul dan dalilnya.

ADVERTISEMENT

Kumpulan Contoh Kultum Ramadan 2026 Singkat

Kultum Ramadan 2026 #1: Dasar Perintah Berpuasa Ramadhan

(sumber: buku Materi Ceramah Ramadhan tulisan Dedy Novriadi MPdI)

السلام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لله والشكر الله ولا حول ولا قوة إلا با الله. أَشْهَدُ أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بَعْدَهُ أَمَّا بَعْدُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَ فِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ أعُوذُ بالله من الشيطانِ الرَّحِيمِ بِسمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: ۱۸۳)

Kaum Muslimin yang berbahagia

Pertama-tama marilah kita ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang mana sampai detik ini kita masih diberikan oleh Allah berupa nikmat Iman, Islam, kesehatan dan kesempatan sehingga mampu hadir ditempat yang penuh barokah ini. Shalawat dan Salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan segala perjuangan dan pengorbannya telah mampu menerangi qalbu ummat manusia dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang dibawah naungan wahyu Illahi Robbi.

Kaum Muslimin yang berbahagia

Puasa menurut bahasa adalah menahan diri dari sesuatu, sedangkan menurut istilah puasa adalah menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual (Jima') suami dan isteri dan segala hal membatalkan dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat ikhlas karena Allah SWT.

Dasar keharusan mengetahui awal bulan Ramadhan adalah firman Allah SWT Surat Yunus ayat 5:

هوَ الَّذِي جَعَلَ الشمس ضياء والقمر نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السَّنِينَ وَالْحِسَابُ مَا خَلَقَ الله ذلك إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِلُ الْآيَتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (يونس: ۵ )

Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang Mengetahui. (QS. Yunus: 5)

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَوْمُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غَنِيَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa ia berkata: Rasulullah saw bersabda Puasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya, apabila kamu terhalang pengelihatanmu oleh awan, maka sempurnakalah bilangan bulan sya'ban tiga puluh hari. (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيُّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الهلال فَقَالَ أَتَشْهَدُ أن لا إله إلا اللهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَابِلَالُ أَذَنْ فِي النَّاسِ فَلْيَصُوْمُوا غَدًا ( رواه ابن حبان و الدارقطني و البيهقي و الحاكم

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a ia berkata: Datanglah seorang Badui kepada Nabi saw seraya katanya: Saya telah melihat hilal. Beliau bersabda: Maukah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah? la berkata: Ya. Nabi saw bersabda: Maukah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?la berkata: Ya. Bersabdalah Nabi saw: Hai Bilal, umumkanlah kepada semua orang supaya mereka besok berpuasa (HR.Ibnu Hibban, Ad Daruquthni, Al Baihaqi dan Al Hakim).

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُوْمُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمُ عَلَيْكُمْ فَقُدُرُ والهُ (رواه الشيخان و النسائي و ابن ماجة)

Artinya: Diriwayatkan dari Ibnu 'Umar r.a, dari Rasulullah saw beliau bersabda: Bila kamu melihatnya (hilal)maka berpuasalah, dan bila kamu melihatnya maka berbukalah. Dan jika pengelihatanmu tertutup oleh awan, maka kira-kiralah bulan itu. (HR. Asy Syaikhani, An Nasa'i dan Ibnu Majah).

Puasa wajib dikerjakan bagi orang yang beriman pada bulan Ramadhan, Allah SWT Berfirman QS. Al Baqarah ayat 183-185:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ أَيَّامًا مَّعْدُونَت فمن كان منكم مريضا أو عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَر وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونه فدية طعام مسكين فمن تطوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَةٌ وَأَن تَصُومُوا خَيْرَ لَكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى للنَّاسِ وَبَيْنَتٍ مِّنَ الْهُدى وَالْفُرْقَان فمن شهد منكم الشَّهْرَ فَلْيَصُمَةٌ وَمَن كَانَ مريضا أو على سفر فعدة مِنْ أَيَّامٍ أُخَر يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُمَرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكْبَرُوا الله عَلى مَا هَدَنكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة: ۱۸۳ (۱۸۵)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (Jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya, dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui. (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenal petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.. (QS. Al Baqarah ayat 183-185)

Puasa Ramadhan merupakan salah satu Rukun Islam, yang wajib dilaksanakan. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لا إلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ رَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وحج البيت وصوم رمضان (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari 'Abdullah ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Islam dibangun di atas lima dasar, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, mengerjakan haji dan berpuasa pada bulan Ramadhan.. (HR. Bukhari dan Muslim)

و السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kultum Ramadan 2026 #2: Amalan-Amalan di Bulan Ramadhan

(sumber: buku Kumpulan Materi Ramadhan & Khutbah Jum'at oleh Dr Abu Zakariya Sutrisno)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam.

Kaum Muslimin rahimakumullah, bulan Ramadhan adalah musimnya kebaikan. Begitu banyak amalan atau ibadah yang mulia yang dapat kita kerjakan di bulan yang penuh berkah ini. Di antara amalan yang disyariatkan di bulan Ramadhan adalah:

Pertama: Puasa

Bulan Ramadhan disebut juga syahru siyam (bulan puasa) karena diwajibkan di dalamnya puasa sebulan penuh. Puasa Ramadhan termasuk salah satu rukun Islam. Puasa ramadhan hukumnya wajib berdasar dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah dan ijma' kaum muslimin. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS al Baqarah: 183)

Puasa memiliki begitu banyak manfaat baik untuk jasmani maupun rohani. Puasa Ramadhan memiliki begitu banyak keutamaan, diantaranya yang paling utama adalah menghapus dosa-dosa. Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda,

من صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang berpuasa di bulan Romadhon karena iman dan mengharap pahala dari Alloh maka diampuni dosanya yang telah berlalu." (HR Bukhari 38, Muslim 760).

Kedua: Qiyamul lail atau shalat tarawih

Selain puasa ibadah lain yang disyariatkan di bulan Ramadhan adalah qiyamul lail atau sholat tarawih. Pahala qiyamul lail dibulan Ramadhan sangat mulia. Beliau bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ T

"Barangsiapa berdiri (shalat) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosanya yang telah berlalu." (HR. Bukhari 37 dan Muslim 759).

Shalat tarawih termasuk shalat sunnah yang ditekankan (muakkadah), yang dikerjakan di bulan Ramadhan. Dinamakan shalat tarawih karena dahulu para sahabat duduk istirahat antara setiap empat rakaat, karena mereka memanjangkan bacaan dalam shalat. Tidak ada masalah shalat tarawih dengan 11 reka'at, 23 rekaat atau bilangan yang lainnya. Yang penting dikerjakan dengan khusyuk dan sesuai dengan tuntunan.

Ketiga: Membaca al Qur'an

Membaca Al-Qur'an sangat dianjurkan bagi setiap muslim di setiap waktu dan kesempatan. Dan membaca Al-Qur'an sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan, karena pada bulan itulah diturunkan Al-Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أنزل فيه القُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

"Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenal petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)." (QS. Al Baqarah: 185)

Ramadhan juga disebut syahrul Qur'an (bulan Al Qur'an). Dahulu Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam memurajaah bacaan Al Qur'an dengan malaikat Jibril di setiap Ramadhan. Para salafus shalih banyak membaca dan mengkhatamkan Al-Qur'an di bulan Ramadhan. Diriwayatkan bahwa Imam Syafii rahimahullah pernah mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak 60 kali dalam satu bulan Ramadhan.

Keempat: I'tikaf

Allah berfirman,

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَام إلى الليْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

"Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid."

(QS al Baqarah: 187)

Disunnahkan beri'tikaf di bulan Ramadhan, apalagi di sepuluh malam

yang terakhir. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَعْتَكِف العشر الأواخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

"Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam dahulu biasa beriktikaf di sepuluh terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Kemudian para istrinya juga beriktikaf setelahnya." (HR Bukhari 2026 dan Muslim 1172)

Kelima: Shadaqah

Sedekah adalah salah satu amalan yang utama di bulan Ramadhan. Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam telah memberi teladan dalam kedermawanan di bulan Ramadhan. Ibnu Abbas berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسَ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur'an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus." (HR. Bukhari 6)

Keenam: Umrah di bulan Ramadhan

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan adalah melaksanakan ibadah umrah. Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam menjelaskan bahwa nilai pahalanya sama dengan melaksanakan ibadah haji. Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada seorang wanita dari kalangan Anshar:

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانَ فَاعْتَمِرِي فَإِنْ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةُ

"Kalau bulan Ramadhan telah tiba, maka tunaikanlah umrah, sebab umrah di bulan Ramadhan menyamai ibadah haji." (HR. Bukhari 1782 dan Muslim 1258)

Sekian diantara amalan yang disyariatkan di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberi kita kemudahan untuk menjalankannya dengan sebaik-baiknya. Amien.

Kultum Ramadhan 2026 #3: Bagaimana Puasa Mata

(sumber: buku Kumpulan Kultum Terlengkap Sepanjang Tahun oleh Dr Hasan el-Qudsy)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ وَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَمَنْ نَهَجَ مَنْهَحَهُمْ إِلَى يَوْمٍ كَانَ فِيْهِ مَسْئُولًا. أَمَّا بَعْدُ:

Ma'asyiral muslimîn rahimakumullâh,

Mata adalah salah satu kenikmatan Allah yang sangat agung. Dengan mata, kita dapat melakukan berbagai aktivitas. Mata juga bisa memasukkan kita ke surga atau menjerumuskan ke neraka. Semua tergantung bentuk aktivitas yang dilakukan oleh mata. Salah satu hal yang harus dihindari oleh mata adalah menghindari pandangan yang tidak halal baginya. Apalagi kita sedang berpuasa, maka puasa mata menjadi sebuah ajang pelatihan yang berat untuk mendidik jiwa yang bertakwa. Karena tujuan puasa adalah untuk mencapai tingkatan mutaqin.

Jamaah yang berbahagia,

Puasa mata sungguh lebih sulit di era modern ini, karena manusia diciptakan untuk tertarik kepada lawan jenis. Di era modern ini, mayoritas wanita sudah kehilangan rasa malunya. Mereka keluar rumah dengan mengenakan pakaian yang membuka aurat. Mereka ada di mana-mana; di TV, di internet, koran, majalah, di kendaraan umum, sekolah, kampus, papan iklan, terlebih lagi di jalanan atau pusat perbelanjaan (mal).

Seolah-olah di dunia ini tidak tersisa lagi tempat yang tidak ada wanita yang mengumbar aurat, memamerkan kemolekan dan kecantikan tubuhnya. Bahkan di tempat pengajian dan masjid sekalipun, ada saja wanita yang tidak sungkan mempertontonkan bentuk tubuhnya dengan jilbab modis, pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh, dan parfumnya yang mencolok. Tentu kondisi semacam ini menjadi tantangan yang berat bagi seorang muslim yang ingin mempertahankan kesempurnaan puasanya.

Oleh karena itu, selain dituntut untuk menjaga aurat dan cara berpakaian yang syar'i, laki-laki atau wanita dituntut juga untuk bisa menahan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Sebagaimana Allah jelaskan dalam surat an-Nûr, ayat 30-31: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya."

Menahan pandangan bukan berarti menutup atau memejamkan mata hingga tidak melihat sama sekali atau menundukkan pandangan ke tanah saja, karena bukan ini yang dimaksudkan, selain tentunya tidak akan mampu dilaksanakan. Tetapi yang dimaksud adalah menjaganya dan tidak melepas kendalinya hingga menjadi liar, mengamati, dan menikmati kecantikan atau kegantengan seseorang. Rasulullah bersabda, "Pandangan adalah panah beracun dari panah-panah Iblis. Barang siapa yang menundukkan pandangannya dari keelokan wanita yang cantik karena Allah, maka Allah akan memasukkan ke dalam hatinya manisnya iman sampai hari kiamat." (HR. Ahmad).

Kaum muslimin wal muslimat yang dimuliakan Allah,

Pandangan mata itu perlu dijaga, karena banyak sekali akibat negatif yang ditimbulkannya. Seorang penyair Arab bertutur, "Semua bencana itu bersumber dari pandangan, sebagaimana api yang besar itu bersumber dari percikan bunga api. Betapa banyak pandangan yang menancap ke dalam hati seseorang, seperti panah yang terlepas dari busurnya.

Berasal dari matalah semua marabahaya. Mudah beban melakukannya, dilihat pun tak berbahaya. Tapi, jangan ucapkan selamat datang kepada kesenangan sesaat yang kembali dengan membawa bencana." Adapun menurut Ibnul Qayyim, pandangan mata yang haram akan melahirkan lintasan pikiran, sedang lintasan pikiran melahirkan ide, lalu ide memunculkan nafsu. Nafsu akan melahirkan kehendak, kemudian kehendak itu menguat hingga menjadi tekad yang kuat dan biasanya diwujudkan dalam amal perbuatan zina.

Salah seorang penyair berkata, "Bermula dari pandangan, senyuman, lalu salam, kemudian bercakap-cakap, membuat janji, akhirnya bertemu." Di samping itu, menurut Hudzaifah, pandangan maksiat dapat merusak amal. Beliau berkata, "Barang siapa membayangkan bentuk tubuh perempuan di balik bajunya, berarti ia telah membatalkan puasanya."

Oleh karena itu, tidak ada cara lain untuk menjaga mata kecuali dengan selalu mengingat kehadiran Allah dan menjauhi penyebab mengumbar pandangan. Segera palingkan pandangan ketika tanpa sengaja melihat sesuatu yang haram.

Kultum Ramadan 2026 #4: Hikmah Nuzulul Qur'an

(sumber: buku Oase Ramadhan oleh Prof Dr HA Rusdiana MM)

Kehadiran Al-Qur'an pertama kali pada bulan suci Ramadhan, sehingga peristiwa turunnya Al-Qur'an erat hubungannya dengan bulan suci Ramadhan. Nuzulul Qur'an adalah peristiwa diturunkannya wahyu Allah SWT (AL-Qur'an) kepada Nabi Muhammad Saw., melalui perantara Malaikat Jibril as secara berangsur-angsur sewaktu Nabi Muhammad Saw berusia 40 tahun ketika sedang berkhalwat di Gua Hira, mengasingkan diri dan berdo'a.

Sesuai peta kota Makkah, Gua Hira terletak di gunung Jabal Nur, sekitar 6 km sebelah utara kota Makkah. Ukuran Gua Hira tidak luas dan tidak lebar, kurang lebih panjang 2 m, lebar 1,3 m, serta tinggi 1,5 m saja.

Di Gua Hira inilah Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama Surah Al-Alaq ayat 1-5. Meski masih ada perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hari pertama turunnya Al-Qur'an, secara umum 17 Ramadhan diperingati sebagai hari Nuzulul Qur'an di Indonesia. Dibawah ini menguraikan sekilas Nuzulul Qur'an dan Hikmah, keutamaan, kemuliaan dan keistimewaan peringatan Nuzul Qur'an, sebagai berikut:

Pertama: Nuzulul Qur'an dalam pandangan Muhammad Husain Haikal, suatu malam di saat Nabi Muhammad Saw sedang tertidur di dalam Gua Hira, datang Malaikat Jibril membawa selembar wahyu seraya berkata kepadanya: "Iqra (bacalah)". Dengan terkejut Muhammad menjawab, "Saya tidak dapat membaca." Jibril lantas mendekap hingga beliau sesak kemudian melepaskan Muhammad sembari berkata lagi, "Bacalah." Mendengar ini, Nabi Muhammad menjawab, "Apa yang akan saya baca?" Jibril kemudian mendekap dan berkata, "Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan Pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya..." (QS. Al-Alaq[96]:1-5).

Kedua: Peristiwa Nuzulul Qur'an merupakan tanda diutusnya Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul Allah SWT. Di samping itu, kitab suci Al-Qur'an menjadi mukjizat terbesar bagi Rasulullah Saw. Sejarah Nuzulul Qur'an diperingati pada malam 17 Ramadhan, merujuk pada penjelasan surah Al-Anfal ayat 41: "Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan." (QS.Al Anfal [8]:41). Ayat ini menjelaskan peristiwa Nuzulul Qur'an terjadi pada Hari Furqan yaitu hari kemenangan umat Islam atas Perang Badar. Perang ini terjadi pada Jumat, 17 Ramadhan 2 H Namun ada juga tidak sependapat, sehingga peristiwa Nuzulul Qur'an jatuh pada tanggal 18 atau 19 Ramadhan. Namun semua ulama sepakat Al-Qur'an pertama kali turun di Gua Hira pada bulan suci Ramadhan.

Ketiga: Proses turunnya Al Qur'an dengan cara berangsur-angsur, berbasis jawaban atas kebutuhan hukum, memudahkan dalam menghafal serta memahami isi kandungan Al Qur'an. Al Qur'an turun kepada Rasulullah secara perlahan atau berangsur adalah sebagai pelajaran bagi umat Islam agar selalu sabar dan berhati-hati dalam menghadapi berbagai peristiwa dan cobaan di kala itu. Fase saat ini adalah memperingati peristiwa. Frman Allah SWT yang artinya "Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." (Q.S.Al Isra:[17]:106).

Keempat: Hikmah, keutamaan, kemuliaan dan keistimewaan peringatan Nuzul Qur'an adalah sebagai berikut: (1) Umat Islam memahami sejarah dan peristiwa turunnya Al-Qur'an. (2) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. (3) Sebagai edukasi mendekatkan diri kepada Al-Qur'an, lebih mencintai, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an. (4) Meningkatkan minat dan motivasi membaca dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur'an. (5) Sebagai syiar Islam dan mendakwakan Al-Qur'an. (6) Peringatan Nuzulul Qur'an adalah sarana efektif menjaga kemurnian dan kesucian Al-Qur'an.

Untuk itulah, marilah kita memperbanyak membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan ini dan menjadikannya sebagai kebiasaan yang terus dilakukan setiap harinya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan dan kemudahan dalam melaksanakan amal kebaikan ini. Amin.

Wallahu A'alam Bishowab.

Kultum Ramadan 2026 #5: Balasan bagi Orang yang Bertaqwa

(sumber: buku Materi Ceramah Ramadhan tulisan Dedy Novriadi MPdI)

السلام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ آدَمَ مِنْ طِينٍ وَجَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ، أَشْهَدُ أن لا إله إلا اللهَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الأَمِينُ. أَمَّا بَعْدُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَ فِي الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ أَعُوذُ باللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكْبٌ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْتُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (الأعراف: (٩٦)

Kaum Muslimin yang berbahagia

Pertama-tama marilah kita ucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang mana sampai detik ini kita masih diberikan oleh Allah berupa nikmat Iman, Islam, kesehatan dan kesempatan sehingga mampu hadir ditempat yang penuh barokah ini. Shalawat dan Salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan segala perjuangan dan pengorbannya telah mampu menerangi qalbu ummat manusia dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang di bawah naungan wahyu Illahi Robbi. Kaum Muslimin yang berbahagia

Balasan bagi orang yang bertaqwa antara lain; Pertama, Mendapatkan jalan keluar dari kesulitan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat At Thalaq ayat 2:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفِ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهْدَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرُ وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا. (الطلاق: (۲)

Artinya: Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (QS. At Thalaq: 2)

Kedua, Mendapatkan Limpahan Berkah dari langit dan bumi. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al A'raf ayat 96:

ولو أن أهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكت مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْتُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ. (الأعراف : ٩٦)

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A'raf:96).

Ketiga, Mendapatkan Sikap Furqan (Pembeda antara yang haq dan bathil). Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Anfayat 29:

يَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانَا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ والله ذو الفضل العظيم (الأنفال: (۲۹)

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al Anfal: 29).

Keempat, Mendapatkan penghapusan kesalahan dan dilipat gandakan pahalanya.Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat At Thalaq ayat 5:

ذلك أمر الله أنزله إِلَيْكُم وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا (الطلاق: ۵)

Artinya: Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya. (QS. At Thalaq:5).

و السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kultum Ramadan 2026 #6: Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

(sumber: buku Kumpulan Kultum Terlengkap Sepanjang Tahun oleh Dr Hasan el-Qudsy)

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ أَمَّا بَعْدُ

Jamaah yang berbahagia,

Di bulan Ramadhan ini, Allah telah memberikan berbagai keistimewaan yang tidak ada di luar bulan Ramadhan. Berbagai pahala dilipatgandakan dan pintu-pintu kebaikan dibuka. Termasuk di dalamnya adalah pintu sedekah. Sedekah di bulan Ramadhan, selain lebih dianjurkan, juga memiliki berbagai keutamaan dan kelebihan yang sungguh luar biasa. Rasulullah adalah orang yang paling tahu tentang hal itu. Oleh karenanya, beliau sangat terlihat sekali kedermawanannya ketika datang bulan Ramadhan. Dikatakan oleh Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur'an. Kedermawanan Rasulullah melebihi angin yang berhembus." (HR. Bukhari).

Bulan Ramadhan merupakan momen yang sangat istimewa sehingga Rasulullah lebih dermawan dari bulan-bulan lainnya. Bahkan kedermawanan Rasulullah digambarkan melebihi angin yang berhembus. Menurut penjelasan Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Fathul Bari, gambaran ini menunjukkan bahwa Rasulullah ketika bersedekah sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Selain itu, juga memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus, sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus.

Kaum muslimin wal muslimat yang dirahmati Allah,

Berangkat dari teladan Rasulullah bulan Ramadhan tentu lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya. Di antara kedahsyatan tersebut adalah: Pertama; Berkumpulnya berbagai kemuliaan, antara lain puasa, sedekah, dan shalat malam, yang menjadi jaminan untuk mendapatkan surga. Sebagaimana sabda Rasulullah bersedekah di

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرْفَةٌ يُرَى ظَاهِرُهَا مَنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا أَعَدَّهَا اللَّهُ لِمَنْ أَلْآنَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَتَابَعَ الصِّيَامَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامُ

"Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata lembut, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat di kala kebanyakan manusia tidur." (HR. at-Tirmidzi).

Kedua; dimudahkan dan dilipatgandakan pahalanya, minimal 10 sampai 700 kali lipat. Bahkan Allah berhak untuk melipatgandakan lagi sesuai kehendak Allah. Sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al-Baqarah, ayat 261, "Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." Walaupun lipatan pahala ini juga dapat didapatkan di luar Ramadhan, namun bulan Ramadhan akan memberikan suasana tersendiri. Orang mudah terdorong untuk berbuat kebaikan, karena Allah telah membukakan pintu-pintu kebaikan.

Kaum muslimin wal muslimalt yang berbahagia,

Termasuk dalam keistimewaan sedekah di bulan Ramadhan adalah tambahan pahala puasa dari orang lain. Rasulullah bersabda, "Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikit pun mengurangi pahalanya." (HR. at Tirmidzi). Memberikan sedekah buka puasa ini tidak harus mahal dan istimewa. Misalnya cukup dengan beberapa butir korma atau bahkan hanya segelas air, sebagaimana telah diriwayatkan: Rasulullah biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma segar), Jika tidak ada, maka dengan beberapa tamr (kurma kering). Jika tidak ada, maka dengan beberapa teguk air. (HR. Ahmad).

Salah satu contoh pengamalan hadis di atas adalah tradisi masyarakat di Mesir, di mana setiap datang bulan puasa, gang-gang jalan di Mesir akan dipenuhi tempat-tempat yang disediakan untuk berbuka puasa. Bahkan sering terjadi antara satu tempat dengan tempat yang lain saling berebut orang yang mau berbuka puasa. Semua ini dilandasi kesadaran mereka untuk membantu sesama, juga karena mencari keutamaan pahala memberi buka puasa. Kita tentu berharap semoga tradisi semacam ini bisa merambah sampai ke Indonesia, sehingga tidak ada lagi cerita orang yang tidak mampu puasa karena tidak ada makanan untuk sahur dan buka.

Kultum Ramadan 2026 #7: Membasahi Lisan dengan Dzikir

(sumber: buku Kumpulan Materi Ramadhan & Khutbah Jum'at oleh Dr Abu Zakariya Sutrisno)

Dzikir adalah ibadah yang dapat dilakukan kapan pun, dimana pun dan dalam kondisi apapun. Dzikir adalah amalan sederhana yang dapat dilakukan oleh siapapun baik dalam kondisi sempit maupun lapang. Dzikir membuat hati menjadi tenang dan semakin mendekatkan diri kepada sang Khaliq, Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah memerintahkan hambanya untuk banyak berdzikir. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً

"Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS Al Ahzab: 41)

Keutamaan-keutamaan memperbanyak dzikir sangat banyak.

Diantara keutamaan tersebut adalah:

Pertama, Allah selalu mengingat orang yang berdzikir

Jika seseorang selalu berdzikir dan ingat kepada Allah maka Allah pun akan selalu mengingatnya. Pengawasan dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Allah berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونَ

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku." (QS Al Baqarah: 152)

Kedua, dzikir menghidupkan hati

Seseorang yang senantiasa ingat dan dzikir kepada Allah maka hatinya akan menjadi hidup. Hati yang hidup atau bersih akan membuat seseorang mudah mencintai dan melakukan amalan kebaikan. Oleh karenanya, Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam memberi perumpamaan orang yang berdzikir dan tidak berdzikir seperti orang yang hidup dan mati. Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

"Perumpamaan orang yang ingat akan Rabbnya dengan orang yang tidak ingat Rabbnya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati." (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, dzikir adalah inti dari ibadah dan syariat Islam seluruhnya

Kalau kita cermati sebenarnya inti dari ibadah kepada Allah adalah mengingat dan memuji Allah. Shalat, haji dan amalan yang lainnya intinya adalah dzikir. Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr radhiallahu'anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam: "Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya syari'at Islam telah banyak bagiku, oleh karena itu, beritahulah aku sesuatu buat pegangan". Beliau bersabda:

لا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

"Tidak hentinya lidahmu basah karena dzikir kepada Allah." (HR Tirmidzi)

Keempat, dzikir adalah amalan sederhana tetapi pahalanya begitu besar

Dzikir dapat dilakukan kapan pun dan dalam kondisi apapun. Bentuk dan bacaan dzikir pun bermacam-macam, seseorang bisa menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuannya. Dzikir dapat dengan kalimat syahadat (La ilaha illallah), istighfar, hamdallah (Alhamdulillah) atau yang lainnya.

Banyak sekali dalil-dalil yang menyebutkan paha tentang hal ini. Diantaranya, Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى النِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَانِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

"Dua kalimat yang ringan di lidah, pahalanya berat di timbangan (hari Kiamat) dan disenangi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, adalah: Subhaanallaah wabi-hamdih, subhaanallaahil 'azhiim." (HR Bukhari dan Muslim).

Masih banyak lagi keutamaan dzikir yang lainnya, tetapi sekiranya apa yang telah disebutkan di atas semoga cukup membuat kita untuk bersemangat memperbanyak dzikir kepada Allah. Mari kita teladani panutan kita, Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wassalam. Beliau berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla dalam setiap keadaannya. Aisyah radhiyallahu anha berkata

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَائِهِ

"Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu mengingat Allah dalam setiap keadaannya." (HR Muslim)

Kultum Ramadan 2026 #8: Agar Al-Qur'an Bisa Menjadi Penolong

(sumber: buku Kumpulan Kultum Terlengkap Sepanjang Tahun oleh Dr Hasan el-Qudsy)

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَاءِ أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Al-Qur'an, sebagaimana sudah maklum, bagi umat Islam merupakan kitab pedoman hidup dan petunjuk bagi kebahagiaan dunia dan akhirat. Kedudukan Al-Qur'an yang agung di sisi Allah menjadikannya mampu memberi syafaat atau pertolongan kepada manusia di hari akhirat, dengan izin-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis, Rasulullah bersabda, "Puasa dan Al-Qur'an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat. Puasa akan berkata, "Wahai Rabbku, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafaat karenaku." Al-Qur'an pun berkata, "Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafaat karenaku." Rasulullah bersabda, "Maka syafaat keduanya pun diterima." (HR. Ahmad). Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, "Bacalah Al-Qur'an karena sesungguhnya ia akan datang memberi syafaat bagi pembacanya di hari Kiamat." (HR. Muslim).

Namun ternyata untuk mendapatkan syafaat Al-Qur'an ini ada persyaratannya, yakni dengan menghindari dua sikap yang tidak disukai oleh Al-Qur'an, yaitu: al-hajru dan al-haraju.

Ma'åsyiral muslimin rahimakumullah,

Hajrul Qur'an, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat 30 dari surat al-Furqân:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

"Berkatalah Rasul, "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an itu sesuatu yang diabaikan."

Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa hajrul Qur'an adalah apa bila dibacakan Al-Qur'an, mereka banyak membuat kegaduhan dan sibuk dengan pembicaraan-pembicaraan lain yang melalaikan mereka, sehingga mereka tidak mendengarkan Al-Qur'an, dan berpaling dari Al-Qur'an. Selain itu, yang termasuk hajrul Qur'an adalah tidak mengimani dan membenarkannya, tidak mentadaburi dan berusaha memahami ayat-ayatnya, tidak melaksanakan perintah-perintah yang terdapat di dalamnya, atau tidak menjauhi larangan-larangan yang ada di dalamnya, atau lebih menyukai yang lainnya, lebih menyukai syair-syair, nyanyian-nyanyian ataupun perkataan sia-sia lainnya, dan tidak menjadikan Al-Qur'an itu sebagai jalan hidup. Semua itu merupakan perbuatan hajrul Qur'an.

Sedangkan Ibnu Taimiyah mengatakan, "Siapa yang tidak membaca Al-Qur'an, maka dia telah meninggalkannya; siapa yang membacanya, tapi tidak berusaha untuk memahami maknanya, maka dia pun telah meninggalkannya; dan siapa yang telah membacanya, kemudian telah berusaha untuk memahami maknanya, tapi tidak mempraktikkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, maka dia pun telah meninggalkannya."

Jamaah yang berbahagia,

Adapun sikap kedua, yaitu al-haraju, adalah sikap peng-hinaan dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang batil. Ini sebagaimana dijelaskan Allah, dengan mengambil con-toh perilaku orang kafir: "Dengan menyombongkan diri terha-dap Al-Qur'an itu dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya di waktu kamu bercakap-cakap di malam hari." (al-Mu'minûn: 67). Termasuk dalam sikap ini adalah apa yang dilakukan orang-orang liberal yang menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah sesuatu yang sudah usang. Al-Qur'an adalah hasil budaya Arab yang tidak bisa digunakan di luar Arab. Al-Qur'an perlu direvisi agar bisa mengikuti perkembangan zaman, dan lain sebagainya. Termasuk dalam sikap al-haraju juga adalah menjadikan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai alat legimitasi terhadap perbuatan atau keyakinan yang tidak benar, serta menjadikan Al-Qur'an sebagai alat kampanye kebatilan. Karena semua itu adalah bentuk dari sikap penghinaan terhadap Al-Qur'an.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Baik sikap hajru atau pun haraju adalah dua hal yang menghancurkan seseorang di hadapan Allah. Karena Apabila seorang nabi telah mengadukan umatnya, itu berarti sebuah kehancuran. Maka agar Al-Qur'an kelak menjadi penolong kita, tiada jalan lain kecuali kita harus berinteraksi dengan Al-Qur'an secara benar; baik dengan membaca, memahami, menghafal, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga fungsi Al-Qur'an sebagai hidayah atau petunjuk hidup, benar-benar bisa dirasakan.

Kultum Ramadan 2026 #9: Puasa Media Sosial, Spirit Hindari Hoaks

(sumber: buku Syiar Ramadan Perekat Persaudaraan terbitan Kementerian Agama)

Asalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

الْحَمْدُ للهِ وَكَفَى وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang Dirahmati Allah

Dalam era digital yang serba cepat seperti sekarang, media sosial baik itu Instagram, Twitter, TikTok, dan Facebook telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari banyak orang. Namun, seringkali kita melihat penyebaran informasi yang tidak valid atau hoaks melalui platform tersebut.

Hoaks dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti perpecahan, kerusuhan, bahkan kekerasan. Menyadari bahaya tersebut, muncullah gerakan "Puasa Media Sosial" sebagai upaya spiritual untuk melawan hoaks. Puasa media sosial bukan berarti menjauhi media sosial secara total, melainkan mengendalikan penggunaannya dengan lebih bijak

Puasa media sosial merupakan praktik yang dilakukan dengan sengaja mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan platform media sosial untuk jangka waktu tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk membersihkan pikiran dari informasi yang tidak bermanfaat atau berpotensi merugikan.

Jamaah yang Berbahagia

Dengan melakukan puasa media sosial, seseorang dapat fokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidupnya seperti menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga, mengejar hobi, atau meningkatkan keterampilan.

Selain itu, puasa media sosial juga merupakan langkah tepat untuk mencegah penyebaran hoaks. Dengan mengurangi interaksi dengan platform-platform tersebut, seseorang dapat lebih waspada dan kritis terhadap informasi yang diterima. Hal ini dapat membantu mengurangi penyebaran berita palsu atau informasi yang tidak diverifikasi yang dapat merugikan banyak orang.

Dalam konteks ini, puasa media sosial dapat dilihat sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya kebenaran dan integritas informasi. Melalui praktik ini, seseorang tidak hanya menjaga kesehatan mentalnya sendiri, tetapi juga turut berkontribusi dalam memerangi penyebaran hoaks dan menjaga integritas informasi dalam lingkungan digital.

Ma'asyiral Muslimin wal Muslimat rahimakumullah

Dalam Islam, larangan hoaks tercantum dalam Al-Qur'an Q.S an-Nur [24] ayat 11. Penyebaran informasi yang tidak akurat dan menyesatkan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti perpecahan, konflik, dan keresahan. Allah berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوْ بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لكلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهِ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat.)

Imam Al-Mawardi dalam kitab Adabud Dunya wad Din mengatakan kebohongan atau berita bohong adalah sumber segala kejahatan karena dapat menimbulkan berbagai masalah.

وَالْكَذِبُ جَمَاعُ كُلِّ شَرٍ، وَأَصْلُ كُلِّ ذَعَ لِسُوْءٍ عَوَاقِبِهِ، وَحُبْثِ نَتَائِجِهِ؛ لِأَنَّهُ يُنتِجُ النَّمِيمَةَ، وَالنَّمِيمَةُ تُنْتِجُ الْبَغْضَاءَ، وَالْبَغْضَاءُ تَقُوْلُ إِلَى الْعَدَاوَةِ، وَلَيْسَ مَعَ الْعَدَاوَةِ أَمْنٌ وَلَا رَاحَةٌ

"Dan kebohongan adalah sumber segala kejahatan, dan asal segala celaan karena buruknya akibatnya, dan busuknya hasilnya; karena ia menghasilkan fitnah, fitnah menghasilkan kebencian, dan kebencian mengarah pada permusuhan, dan tidak ada keamanan atau ketenangan bersama permusuhan." (Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Al-Basri Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din, [Beirut, Darul Fikr: 1985], halaman 271).

Jamaah yang dimuliakan Allah

Sementara itu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, menjelaskan tentang pentingnya bersikap jujur dan bahayanya berdusta. Kejujuran akan membawa seseorang kepada kebaikan dan surga, sedangkan dusta akan membawa seseorang kepada kekejian dan neraka

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُود رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصَّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصَّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صديقا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

"Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berpegangteguhlah kalian pada kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menuntun kepada surga. Seseorang terus menerus berlaku jujur dan berusaha mencari kejujuran sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah kalian dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu menuntun kepada kekejian, dan sesungguhnya kekejian itu menuntun kepada neraka. Seseorang terus menerus berdusta dan berusaha mencari kedustaan sampai dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta."

Kultum Ramadan 2026 #10: Menghidupkan Ramadhan Bersama Keluarga

(sumber: buku Kumpulan Materi Ramadhan & Khutbah Jum'at oleh Dr Abu Zakariya Sutrisno)

Ramadhan adalah musim kebaikan, hendaknya kita bersemangat mengisinya dengan berbagai amal kebaikan. Selain itu hendaknya kita juga berusaha mengajak orang-orang yang terdekat kita terutama keluarga untuk menghidupkan Ramadhan.

Orang yang beriman tidak boleh "egois" dalam kebaikan. Dia tidak boleh sekedar memikirkan dirinya untuk melakukan kebaikan. Dia juga harus berusaha mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Terutama orang-orang yang terdekat, baik itu anak, istri atau orang tua.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS Tahrim: 6)

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari api neraka maka kita harus mengajak mereka melakukan amal kebaikan dan juga meninggalkan keburukan. Kita ajak mereka untuk mendirikan sholat, zakat, puasa dan amalan kebaikan lainnya sesuai dengan kemampuan. Jangan sampai apatis atau tidak peduli sama sekali jika ada dari anggota keluarga kita atau orang dekat kita lalai dari amal kebaikan atau terjatuh dalam sebuah kesalahan.

Dalam sebuah firmanNya, Allah memuji Nabi Isma'll 'alaihis salam karena beliau senantiasa mengajak keluarganya untuk shalat, zakat dan juga amalan kebaikan lainnya. Allah berfirman:

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةَ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِياً

"Dan la menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat, dan la adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya." (QS Maryam: 55)

Mengajak atau memerintahkan keluarga untuk melakukan amal kebaikan mungkin tidak selalu mudah. Kita harus bersabar dan berusaha melakukan yang terbaik. Kita harus berusaha bersungguh-sungguh apalagi dalam ibadah yang sangat penting seperti shalat. Allah berfirman,

وأمر أهلك بالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (QS Thaha: 132)

Di bulan Ramadhan yang mulia ini mari kita berusaha ajak keluarga untuk menghidupkannya. Kita ajak dan ajari mereka untuk mengerjakan puasa, melakukan qiyamul lail, membaca al Qur'an dan amal-amal yang lainnya. Untuk memotivasi dan juga menghidupkan nuansa kebersamaan maka kita bisa membuat program-program bersama keluarga kita seperti sahur dan buka puasa bareng, shalat tarawih, mengaji al Qur'an bareng dan lainnya. Anak-anak juga diajari untuk menunaikan puasa sesuai dengan kemampuan meskipun mereka belum baligh. Hal ini untuk membiasakan untuk melakukan amal kebaikan.

Kita juga bisa ajak mereka untuk membuat hidangan buka puasa untuk dibagikan ke tetangga atau orang-orang terdekat. Tidak mengapa pula kita membuat kegiatan-kegiatan yang sifatnya mubah untuk lebih memeriahkan dan membuat bulan Ramadhan semakin berkesan seperti menghias rumah, membuat lomba keislamanya sederhana untuk anggota keluarga dan lainnya. Kita juga bisa mengatur jadwal dan membagi tugas untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah agar masing-masing bisa mengoptimalkan waktu untuk beribadah dan amal kebaikan yang lainnya.

Semoga Allah memudahkan diri kita dan keluarga untuk melakukan amal kebaikan, terutama di bulan Ramadhan yang mulia ini. Amien.

Kultum Ramadan 2026 #11: Tolonglah Saudaramu, Maka Allah akan Menolongmu

(sumber: laman NU Online)

Dalam ilmu sosiologi, manusia dapat disebut sebagai makhluk individu dan sosial. Sebagai makhluk individu, manusia dikaruniai unsur jasmani dan rohani, serta memiliki ciri khas dengan corak kepribadiannya sendiri. Sedangkan, sebagai makhluk sosial, keberadaan manusia tidak dapat lepas antara satu dengan yang lain atau saling membutuhkan.

Oleh karena itu, dengan kodrat tersebut, di dalam agama Islam kita juga diajarkan untuk saling menolong satu sama lain, terlebih dalam hal kebaikan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya, "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS Al-Maidah ayat 2)

Demikianlah, perintah tolong-menolong berkaitan erat dengan ketakwaan. Imam Asy-Sya'rawi dalam Khawathirusy Sya'rawi, juz 5, halaman 2907 menjelaskan bahwa hal tolong menolong ini merupakan perkara yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan dunia. Selain itu juga harus dilakukan pada aspek kebaikan.

Maka, sudah semestinya kita hidup berdampingan dan saling peduli satu sama lain. Apabila ada orang lain yang mengalami kesulitan, hendaknya kita ikut membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita.

Semisal, sebagai seorang ahli ilmu, maka hendaknya ia membantu orang lain dengan ilmu yang dimilikinya. Mengajarkan ilmu kepada orang yang ada di sekitarnya. Kemudian, jika diberikan kelebihan rezeki, dapat pula kita menolong saudara atau tetangga kita yang tengah kesusahan, dengan bantuan harta benda yang kita miliki.

Apabila kita tidak memiliki keduanya, setidaknya kita masih memiliki anggota badan atau tenaga, yang dapat kita pergunakan untuk menolong orang lain. Dalam kitab Syu'abul man dijelaskan perbuatan tolong-menolong ini menjadi salah satu dari cabang-cabang iman.

Terlebih apabila kita memiliki kelebihan atau kekuasaan untuk memberikan pertolongan. Sebab Allah Ta'ala akan meminta pertanggungjawaban seseorang atas kedudukan dan harta yg telah di karuniakan kepadanya.

Di dalam kitab Risalatul Mu'awanah (hal 138), Syekh Abdullah bin Alawi Al Haddad menjelaskan agar kita selalu menggembirakan dan membahagiakan hati orang-orang mukmin dengan cara apapun tanpa adanya unsur dosa di dalamnya. Beliau menjelaskan:

(وَعَلَيْكَ) بِالشَّفَاعَةِ لِكُلِّ مَنْ سَأَلَكَ أَنْ تَشْفَعَ لَهُ فِي حَاجَةٍ إِلَى مَنْ لَكَ عِنْدَهُ جَاهٌ؛ فَإِنَّ اللَّهَ يَسْأَلُ الْعَبْدَ عَنْ جَاهِهِ كَمَا يَسْأَلُهُ عَنْ مَالِهِ

Artinya, "Hendaklah engkau memberi syafaat (pertolongan) kepada setiap orang yang memintamu untuk menolongnya dalam suatu keperluan kepada seseorang yang engkau memiliki kedudukan di sisinya. Sebab, Allah akan menanyai seorang hamba tentang kedudukannya sebagaimana Dia menanyainya tentang hartanya."

Jangan ragu untuk mengulurkan tangan dan membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan, terutama dalam urusan dengan orang lain. Selain itu, agar kita semakin bersemangat dalam tolong-menolong, perlu kita sadari bahwa Allah dan Nabi Muhammad SAW sangat mengapresiasi perbuatan mulia ini. Terlebih lagi, jika pertolongan tersebut berkaitan dengan agama-Nya. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS Muhammad ayat 7)

Sedangkan dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diterangkan:

وَاللّٰهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Artinya, "Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya." (HR Muslim).

Kemudian Nabi Muhammad saw juga menegaskan orang yang yang gemar menolong atau bermanfaat untuk sesama, maka ia akan dicintai oleh Allah. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ath-Thabrani dalam kitab al-Mu'jamul Kabir, juz 12, halaman 453.

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Artinya, "Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat kepada sesama dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang kamu bagikan kepada sesama Muslim atau kamu gunakan untuk meringankan kesulitannya atau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari rasa lapar. Sesungguhnya aku lebih menyukai untuk berjalan bersama (menolong) saudaraku yang membutuhkan bantuan dari pada beritikaf di masjid ini, yaitu masjid Madinah selama satu bulan."

Begitulah, manfaat tolong-menolong ini ternyata tidak hanya berdampak kepada orang yang ditolong, yang mendapatkan bantuan kebaikan. Akan tetapi juga kepada orang yang menolong, dia mendapatkan balasan pahala yang besar dan bahkan mendapatkan predikat yang istimewa dari Allah dan Nabi Muhammad.

Maka, di Bulan Ramadhan ini kita jadikan momen yang tepat untuk menambah kebaikan kita, dengan menolong sesama. Terlebih kepada mereka yang tengah mengalami kesulitan. Harapannya, agar kita kelak kita sendiri juga mendapatkan pertolongan pula ketika di Hari Akhir nanti. Sebagaimana sabda Nabi saw:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ

Artinya, "Siapa pun yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat," (HR Muslim).

Semoga kita dijadikan Allah sebagai orang yang memiliki hati dan laku untuk saling menolong. Dan kita dimudahkan dalam setiap langkah kebaikan yang kita lakukan. Amin ya Rabbal Alamin.

Kultum Ramadan 2026 #12: Tak Kenal Makanya Tak Sayang

(sumber: buku Kultum Ramadhan dengan Pribahasa Sehari-hari oleh Lucky Juniardi Abu Yusuf al-Id al-Ma'muri)

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ

Hadirin kaum muslimin dan muslimat, yang berbahagia, tema kita pada saat ini adalah "Tak kenal makanya tak sayang, tak sayang makanya tak cinta."

Kira-kira apa makna pribahasa itu?

Maknanya adalah "kalau kita tidak mengerti atau tidak paham dengan sesuatu maka kita tidak tahu arti sebenarnya dan tidak dapat pula menghargainya."

Apa kaitannya dengan bulan Ramadhan?

Ramadhan sudah hampir di penghujung episode. Kita masih teringat ketika di awal Ramadhan, saat shalat tarawih hampir semua masjid tidak bisa menampung banyaknya jama'ah. Dengan semangat 45 semua berbondong-bondong ke masjid untuk shalat tarawih berjama'ah.

Tapi, sekarang apa yang nampak?

Shof-shof shalat semakin hari semakin ada kemajuan (art-inya: yang awalnya 10 shof maju menjadi 5 shof, dan seterus-nya). semakin hari semakin sepi.

Kaum muslimin dan muslimat yang di cintai Allah,

Mengapa demikian?

Itu semua karena kesibukan hendak menyambut hari raya, sibuk bersiap-siap mau pulang kampung, sibuk belanja ini dan itu, sibuk membuat aneka macam kue lebaran, sibuk menata rumah ataupun mengecat rumah. Dan yang jadi sebab utama adalah karena tidak tahu akan banyaknya pahala dan keutamaan/keuntungan yang didapat oleh orang yang melaksanakan salat tarawih.

Seperti anak kecil, kalau sudah melihat obat yang pahit, pasti dia tidak mau meminumnya, cobalah kalau kita sampaikan keutamaan/keuntungan dari minum obat, walaupun obat itu pahit insya Allah dia mau meminumnya. Begitu pula dengan kita, kalau tau keutamaan/keuntungan dari shalat tarawih, insya Allah semangat melaksanakannya.

Apa keuntungannya shalat tarawih?

Diantara keuntungan shalat tarawih adalah:

1. Diampuni dosa yang telah lalu

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam (tarawih) di bu-lan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Mus lim: 759)

2. Seperti melaksanakan shalat sepanjang malam

مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامَ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

"Barangsiapa yang shalat (tarawih dan witir) bersama imam sampai selesai, maka diberi pahala baginya seperti shalat se-malam penuh" (HR. Tirmidz: 806)

3. Mendapati atau bertemu dengan malam lailatul qodr

ini yang sering kita terlupa, bahwa kalau kita istiqamah (terus-menerus) shalat tarawih maka pasti di 10 malam terakhir akan bertemu dengan malam lailatul qodr yang lebih baik daripada 1000 bulan atau lebih baik daripada 30.000 hari.

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Malam Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan" (QS. Al-Qadr: 3)

Itu artinya kalau kita shalat pada malam itu maka pahalanya lebih besar daripada kita shalat selama 30.000 malam, be-gitu pula dengan amal-amal ibadah yang lainnya.

Jama'ah sekalian yang berbahagia, semoga dengan mengetahui keutamaan-keutamaan shalat tarawih, bisa menjadi-kan kita semakin sayang untuk meninggalkan shalat tarawih dan menanamkan rasa cinta kita untuk senantiasa beribadah kepada Allah.

Ingat pepatah orang dahulu, "Tak kenal makanya tak sa-yang, tak sayang makanya tak cinta."

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Kultum Ramadan 2026 #13: Surga Dikelilingi Ujian, Neraka Dikelilingi Kenikmatan

(sumber: laman NU Online)

Siapa yang tidak menginginkan surga? Hampir semua umat Muslim mendambakannya. Dalam Islam, surga digambarkan sebagai tempat dengan keindahan dan kenikmatan yang tiada bandingannya. Surga adalah tempat mulia yang dijanjikan Allah Ta'ala bagi hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

Namun, Rasulullah SAW telah menggambarkan bahwa jalan menuju surga penuh dengan halangan dan rintangan. Sebagaimana sabda beliau:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

Artinya, "Sungguh surga dikelilingi kesulitan-kesulitan, sedangkan neraka kebalikannya, artinya dikelilingi oleh keinginan hawa nafsu." (Mutafaq alaihi)

Ibnu Katsir menjelaskan arti kata "makarih" dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah jilid 20 hal 387:

وَهِىَ الْأَعْمَالُ الشَّاقَّةُ عَلَى الْأَنْفُسِ مِنْ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ وَالْمُسْتَحَبَّاتِ وَتَرْكِ الْمُحَرَّمَاتِ وَالصَّبْرِ عَلَى الْمَكْرُوهَاتِ

Artinya: "Yaitu amal-amal yang berat bagi jiwa, seperti melaksanakan kewajiban dan amalan sunnah, meninggalkan perkara yang diharamkan, serta bersabar atas hal-hal yang tidak disukai."

Maknanya, surga bukanlah sesuatu yang mudah untuk digapai, tetapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk meraihnya. Terlebih lagi, sebagai manusia, kita sering kali lalai dan lupa. Kita juga memiliki hawa nafsu yang senantiasa mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan menjerumuskan ke dalam kemaksiatan.

Khusus mengenai hawa nafsu, Baginda Nabi mendeskripsikannya sebagai musuh yang paling sulit dikendalikan, karena berada dalam diri sendiri, bagaikan musuh dalam selimut. Beliau bersabda:

أَعْدَى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ. أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ

Artinya, "Musuh terbesarmu adalah nafsumu sendiri yang berada dalam dirimu," (HR Baihaqi)

Banyak riwayat menyebut hawa nafsu sebagai musuh terberat karena harus dilawan dari dalam diri sendiri. Kita mungkin mudah melawan orang lain atau hewan buas yang terlihat, tetapi hawa nafsu sulit dikendalikan.

Sebab, mata kita lebih sering melihat aib orang lain daripada diri sendiri, telinga lebih peka terhadap kesalahan orang lain, dan lisan mudah mencela serta menggunjing, namun cepat mencari pembelaan saat diri sendiri bersalah.

Begitulah sifat hawa nafsu. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Futuhul Ghaib lil Imam Syatibi jilid 16 hal 157:

وَعَنْ أَبِي بَكْرِ الوَرَّاقِ: النَّفْسُ كَافِرَةٌ فِي وَقْتٍ، مُنَافِقَةٌ فِي وَقْتٍ، مُرَائِيَّةٌ فِي وَقْتٍ، وَعَلَى الأَحْوَالِ كُلِّهَا هِيَ كَافِرَةٌ، لِأَنَّهَا لَا تَأْلَفُ الحَقَّ أَبَدًا، وَهِيَ مُنَافِقَةٌ لِأَنَّهَا لَا تَفِي بِالوَعْدِ، وَهِيَ مُرَائِيَةٌ لِأَنَّهَا لَا تُحِبُّ أَنْ تَعْمَلَ عَمَلًا، وَلَا تَخْطُوَ خَطْوَةً إِلَّا لِرُؤْيَةِ الخَلْقِ؛ فَمَنْ كَانَ هَذِهِ صِفَاتَهُ، فَهِيَ حَقِيْقَةٌ بِدَوَامِ المَلَامَةِ لَهَا

Artinya: "Dan dari Abi Bakr Al-Warraq: hawa nafsu itu kafir pada satu waktu, munafik pada waktu lain, dan selalu riya' atau pamer dalam penampilannya pada waktu lain. Dan dalam semua keadaan, hawa nafsu itu kafir, karena tidak pernah mencintai kebenaran, munafik karena tidak pernah menepati janji, dan selalu pamer dalam penampilannya karena tidak pernah melakukan sesuatu kecuali untuk dilihat oleh orang lain. Maka siapa saja yang memiliki sifat-sifat ini, maka ia berhak untuk terus-menerus dicela."

Namun, kita juga harus menyadari bahwa tanpa nafsu, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Nafsu ibarat kendaraan, dengannya kita dapat menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan. Oleh karena itu, hawa nafsu harus ditundukkan dengan sungguh-sungguh.

Mengendalikan hawa nafsu tidak mungkin dilakukan tanpa memaksanya untuk taat dan bersabar dalam meninggalkan apa yang diinginkannya. Sebagaimana isyarat yang disampaikan oleh Imam Bushiri dalam Qasidah Burdah-nya:

وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى # حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Artinya, "Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan tanpa kau sapih, maka akan beranjak remaja dengan tetap suka menyusu. Namun bila engkau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri."

Maknanya bahwa nafsu hanya bisa dikendalikan dengan memaksanya untuk berhenti menginginkan sesuatu. Inilah yang dimaksud dari hadits di atas, bahwa yang terberat dari diri kita untuk menggapai surga adalah proses memantaskan diri untuk menggapainya, sedangkan memantaskan diri yang paling sulit adalah mengendalikan hawa nafsu untuk selalu taat kepada perintah Allah, dan tentunya meninggalkan syahwat dan seluruh larangan syariat.

Terlebih saat ini, yakni di bulan Ramadhan, bulan di mana pintu pintu surga dibuka seluas-luasnya. Bulan yang tepat untuk kita jadikan sebagai ajang untuk berlatih memantaskan diri mendapatkan Rahmat Allah Ta'ala. Bagaimana tidak, di dalam puasa terdapat pelatihan untuk menundukkan nafsu. Sebagaimana penjelasan dalam kitab I'anatuth Thalibin jilid 2 halaman 299:

وَالصَّوْمُ مِنْ أَبْلَغِ الأَشْيَاءِ فِي رِيَاضَةِ النَّفْسِ، وَكَسْرِ الشَّهْوَةِ، وَاسْتَنَارَةِ القَلْبِ، وَتَأْدِيْبِ الجَوَارِحِ وَتَقْوِيْمِهَا وَتَنْشِيْطِهَا لِلْعِبَادَةِ. وَفِيْهِ الثَّوَابُ العَظِيْمُ، وَالجَزَاءُ الكَرِيْمُ الَّذِي لَا نِهَايَةَ لَهُ

Artinya, "Puasa adalah salah satu cara yang paling efektif dalam melatih jiwa, mematahkan nafsu, menerangi hati, mendidik anggota tubuh, serta memperbaiki dan menguatkannya untuk beribadah. Dalam puasa terdapat pahala yang sangat besar dan balasan yang mulia, yang tidak ada akhirnya". Wallahu a'lam.

Kultum Ramadan 2026 #14: I'tikaf 10 Malam Terakhir, Kunci Meraih Keutamaan Lailatul Qadar

(sumber: laman NU Online)

Di 10 malam terakhir Ramadhan, kesempatan luar biasa menanti bagi siapa pun yang ingin meraih kesempurnaan ibadah. Salah satunya adalah dengan melakukan i'tikaf, sebuah amalan sunnah yang memberikan banyak keutamaan, terutama dalam mencari Lailatul Qadar. Apa sebenarnya i'tikaf itu, dan mengapa amalan ini sangat dianjurkan di 10 malam terakhir Ramadhan? Simak penjelasan berikut yang akan membuka wawasan dan semangat kita untuk memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan.

Ramadhan tak terasa memasuki paruh terakhirnya. Meski demikian, ibadah yang kita jalani janganlah sampai kendor, seperti awal-awal Ramadhan. Salah satu amalan sunnah di sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah memperbanyak i'tikaf di masjid.

Kendati termasuk amalan sunnah yang bisa dilakukan kapan saja, tetapi khususnya di bulan Ramadhan, i'tikaf lebih dianjurkan, terutama di sepuluh malam terakhir. Keutamaannya pun sangat besar, terlebih menjadi bagian dari upaya meraih keutamaan Lailatul Qadar.

Syekh Ibnu Qasim Al-Ghazi Memaparkan pengertian i'tikaf baik secara etimologi maupun terminologi:

وَهُوَ لُغَةً الإقامَةُ عَلَى الشَّيْءِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ، وَشَرْعًا إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ

Artinya, "Secara etimologi, i'tikaf adalah menetapi sesuatu yang baik atau jelek. Adapun secara terminologi syara' i'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan sifat tertentu." (Fathul Qarib, [Beirut, Dar Ibnu Hazm: 2005], halaman 142).

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw bahkan menyatakan bahwa i'tikaf di 10 malam terakhir bagaikan beri'tikaf bersama beliau.

مَنِ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ

Artinya, "Siapa yang ingin beri'tikaf bersamaku, maka beri'tikaflah pada sepuluh malam terakhir." (HR Ibnu Hibban).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Artinya, "Dari Aisyah ra, isteri Nabi saw menuturkan, 'Sesungguhnya Nabi saw melakukan i'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian istri-istrinya mengerjakan i'tikaf sepeninggal beliau." (HR Al-Bukhari dan Muslim).

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَسَافَرَ سَنَةً فَلَمْ يَعْتَكِفْ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Artinya, "Dari Ubay bin Ka'ab ra berkata, 'Sesungguhnya Rasulullah saw beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Pernah selama satu tahun beliau tidak beri'tikaf, lalu pada tahun berikutnya beliau beri'tikaf selama dua puluh hari'." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Sebenarnya, i'tikaf dapat dilakukan setiap saat, termasuk pada waktu-waktu yang diharamkan shalat. Hukum asal i'tikaf adalah sunnah, tapi bisa menjadi wajib apabila dinazarkan. Kemudian, hukumnya bisa menjadi haram bila dilakukan oleh seorang istri atau hamba sahaya tanpa izin, dan menjadi makruh bila dilakukan oleh perempuan yang bertingkah dan mengundang fitnah meski disertai izin.

Melaksanakan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, lebih diutamakan utama dibanding pada waktu-waktu yang lain, demi menggapai keutamaan Lailatul Qadar yang waktunya dirahasiakan Allah. Karena dirahasiakan itulah, maka siapa pun dari kita harus senantiasa mengisi malam-malam Ramadhan dengan berbagai amaliah, baik wajib maupun sunnah, dengan tujuan agar tidak terlewatkan.

Merujuk penjelasan Syekh Ibnu Qasim, i'tikaf yang telah dijelaskan di atas memiliki dua syarat. Syarat pertamanya adalah niat. Saat berniat, seorang yang beri'tikaf harus menyebutkan status fardhu i'tikafnya apabila i'tikaf tersebut dinazarkan.

Adapun syarat yang kedua adalah bertempat/berdiam diri di masjid. Dalam syarat berdiam diri ini, tidak cukup hanya sebatas kira-kira waktu thuma'ninah saja, namun harus ditambah sekira diamnya tersebut dinamakan 'berdiam diri'. (Al-Ghazi, 142-143).

I'tikaf ada tiga macam, yakni:

I'tikaf mutlak. Orang yang hendak beri'tikaf cukup berniat sebagai berikut:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ للهِ تَعَالَى

Artinya, "Aku berniat i'tikaf di masjid ini karena Allah."

I'tikaf terikat waktu tanpa terus-menerus. Misalnya sehari, semalam penuh, atau selama satu bulan, berikut niatnya:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَوْمًا / لَيْلًا كَامِلًا / شَهْرًا لِلَّهِ تَعَالَى

Artinya, "Aku berniat i'tikaf di masjid ini selama satu hari/satu malam penuh/satu bulan karena Allah."

I'tikaf yang dinazarkan

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فَرْضًا للهِ تَعَالَى

Artinya, "Aku berniat i'tikaf di masjid ini fardhu karena Allah."

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فَرْضًا للهِ تَعَالَى

Artinya, "Aku berniat i'tikaf di masjid ini selama satu bulan berturut-turut fardhu karena Allah."
Sebagai catatan, dalam i'tikaf mutlak, apabila seseorang keluar dari masjid tanpa maksud kembali, kemudian kembali, maka harus membaca niat lagi. I'tikaf yang kedua setelah kembali itu dianggap sebagai i'tikaf baru. Hal ini berbeda bila seseorang memang berniat kembali, baik kembalinya ke masjid semula maupun ke masjid lain, maka niat sebelumnya tidak batal dan tidak perlu niat baru.

I'tikaf bukan hanya sekadar berdiam di masjid, tetapi merupakan langkah mendalam untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Di 10 malam terakhir Ramadhan, saat yang penuh berkah ini, mari manfaatkan kesempatan untuk menggapai keutamaan Lailatul Qadar.

Semoga dengan melaksanakan i'tikaf, kita menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah, dan mendapatkan rahmat-Nya di bulan yang suci ini. Amin. Wallahu a'lam.

Kultum Ramadan 2026 #15: Puasa, Diampuninya Dosa-Dosa Hamba

(sumber: laman Muhammadiyah Jakarta Selatan)

Rasulullah saw bersabda, Siapa saja yang berpuasa Ramadhan karena Iman dan Ihtisab, niscaya Allah akan memberikan ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu.

Suatu ketika, Ali Bin Abi Thalib mendengar seseorang berkata, "Sungguh ketika aku berdosa, dengan beristighfar memohon ampun kepada Allah, niscaya semua dosaku akan diampuni oleh Allah swt. Serta merta Ali menjawab, "Celakah engkau. Istighfar adalah lafaz yang sangat mulia. Allah swt akan mengampuni dosamu bila diikuti dengan enam perbuatan.

Pertama:

Allah akan mengampuni dosa seorang hamba manakala ketika ia memohon ampun kepada-Nya, kemudian menyertainya dengan penyesalan yang mendalam atas dosa atau kesalahan yang pernah ia lakukan.

Saat Nabi Adam as memakan buah khuldi atas bujukan dan tipu daya Iblis, beliau menangis tersedu-sedu menyesali kesalahannya. Atas penyesalannya itu Nabi Adam as berdoa memohon ampunan dengan melafazkan "Robbana Zholamna Anfusana, Wa inlam tahgfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin. Hanya karena satu kesalahan, berpuluh hingga beratus tahun Nabi Adam as selalu melafazkan doa tersebut. Karena rasa penyesalan yang mendalam atas kesalahannya itu, Allah memberi ampunan kepada Nabi Adam as.

Namun sebaliknya ketika Iblis mendatangi Nabi Musa as dan berkata, " Wahai Musa, tolong tanyakan kepada Allah, bagaimana caranya agar aku mendapatkan ampunanNya. Allah swt berfirman, "Wahai Musa, katakan kepada Iblis, jika Ia ingin mendapat ampunan-Ku, hendaklah ia sujud dimakam/kuburan Nabi Adam as".

Ketika wahyu tersebut disampaikan, Iblis menjawab, " Wahai Musa, katakan kepada Allah, ketika Adam hidup saja, aku tidak sudi sujud dihadapannya, apalagi sujud di makamnya".

Oleh karena Iblis tidak pernah merasa berdosa bahkan tidak menyesali dosanya itu, Allah tidak memberikan ampunan kepadanya.

Kedua:

Allah akan mengampuni dosa seorang hamba apabila ia bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut.

Allah swt berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat semurni-murninya".

Suatu hari Umar menemui Rasulullah dengan menangis. Rasulullah bertanya kepadanya, "Apa gerangan yang menyebabkan engkau menangis?" Umar menjawab, "Sungguh hatiku merasa tersentuh oleh ratapan seorang pemuda yang ada di pintu rumahmu Ya Rasul". Kemudian Rasulullah memerintahkan Umar untuk membawa pemuda itu.

Rasululullah bertanya, "Wahai Pemuda, apa yang menyebabkan engkau menangis dan meratap?"

Pemuda itu menjawab , "Wahai Rasulullah, yang membuat Aku menangis ialah banyaknya dosa yang terlanjur Aku lakukan! Aku takut bila Allah murka kepadaku!"

"Apakah engkau mempersekutukan Allah dengan sesuatu ?" Tanya Rasulullah."Tidak Y Rasul!" jawab pemuda itu. "Apakah engkau telah membunuh orang dengan tanpa hak?" tanya Rasulullah . "tidak !" jawab pemuda itu. "Allah akan mengampuni semua dosamu, meskipun dosamu itu sepenuh tujuh langit dan bumi!".

Mendengar penjelasan Rasulullah, pemuda itu berkata, "Wahai Rasulullah, dosaku lebih besar dari tujuh langit dan gunung yang tegak berdiri!" Beliau menimpali, "Apakah dosamu lebih besar dari kekuasaan Allah?".

"Dosaku lebih besar lagi !" ratap pemuda itu. "Apakah dosamu lebih besar dari Arsy?" beliau kembali bertanya. "Dosaku lebih besar dari itu !" jawab pemuda itu. "Apakah dosamu lebih besar dari Allah?" Tanya Rasulullah. "Allah tentu yang lebih besar dan lebih Agung , tapi aku malu kepadamu, Wahai Rasulullah", jawab pemuda itu. Beliau bersabda, "Janganlah engkau malu, beritahukan dosamu!" pinta Rasulullah.

Akhirnya pemuda itu menceritakan dosa yang telah dikerjakannya, seraya berkata : "Wahai Rasulullah, sungguh Aku adalah seorang pemuda pembongkar mayat dalam kubur sejak tujuh tahun yang lalu. Suatu ketika ada seorang gadis putri seorang sahabat golongan Anshar yang meninggal dunia, maka aku membongkar kuburnya dan mengeluarkannya dari kafannya, karena tergoda bisikan syetan, aku menggaulinya. Tiba-tiba gadis itu berbicara, "Tidakkah engkau malu kepada Allah dan pada hari Dia meletakkan 'kursi-Nya" untuk menegakkan hukum serta mengambil hak orang yang dianiaya dari orang yang telah menganiayanya? Mengapa engkau jadikan aku telanjang di hari penghimpunan kelak, dari orang- orang yang telah meninggal dunia? Mengapa engkau jadikan aku berdiri dalam keadaan junub di haribaan Allah? " Mendengar cerita itu Rasulullah meloncat dan berkata dengan suara keras, "Wahai pemuda Fasiq, keluar dan jauh-jauhlah kamu dariku, tidak ada balasan yang pantas untukmu kecuali neraka!"

Pemuda itu keluar dengan menangis sejadi-jadinya. Ia menjauh dari khalayak ramai dan menuju ke padang pasir yang luas, dengan tidak mau makan dan minum sesuatu pun, serta tidak bisa tidur sampai tujuh hari lamanya. Tubuhnya menjadi lemah dan lunglai, hingga ia jatuh tersungkur dipermukaan tanah berpasir yang maha luas itu.

Seraya meletakkan wajahnya di pasir sambil bersujud, ia berdoa dan meratap. "Wahai Tuhan, aku adalah hamba-Mu yang berdosa dan bersalah. Aku telah datang ke pintu Rasul-Mu agar dia bisa menolongku di sisi-Mu. Namun ketika ia mendengar dosaku yang sangat besar, ia mengusir dan mengeluarkan aku dari pintunya. Kini aku datang kepintu-Mu, agar engkau berkenan menjadi penolongku di sisi Kekasih-Mu. Sesungguhnya engkau maha pengasih kepada hamba-hamba-MU.

Tak ada lagi harapanku kecuali kepada-Mu . Jikalau Engkau tidak mengampuniku, maka lebih baik kirimkan saja api neraka dari sisi-Mu, dan bakarlah aku dengan api itu di dunia-Mu ini, sebelum aku engkau bakar di akhirat-Mu nanti!"

Sepeninggal pemuda itu, Rasulullah didatangi oleh malaikat Jibril, seraya berkata, "Wahai Rasulullah, Allah telah berkirim salam kepada-Mu!" Beliau menjawab salam Allah. Setelah itu malaikat Jibril kembali berkata, "Allah bertanya kepadamu, apakah kamu yang telah menciptakan para makhluk? " Beliau menjawab , "Tentu saja tidak, Allah yang telah menciptakan semuanya!" "Allah juga bertanya kepadamu, Apakah kamu yang telah memberi rezeki kepada makhluk-makhluk Allah?" malaikat jibril kembali bertanya. "Tentu saja Allahlah yang telah memberi rezeki kepada mereka , bahkan juga kepadaku!" jawab beliau. "Apakah kamu yang berhak menerima taubat seseorang?" kembali malaikat Jibril bertanya. "Allahlah yang berhak menerima dan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya!' jawab beliau.

Malaikat jibril kemudian berkata , "Allah telah berfirman kepadamu, Telah aku kirimkan seorang hamba-Ku yang menerangkan satu dosanya kepadamu, tapi mengapa engkau berpaling darinya dan sangat marah kepadanya? Lalu bagaimana keadaan orang-orang mukmin besok, jika mereka datang padamu dengan dosa yang lebih besar dari gunung? Kamu adalah Utusan-Ku yang aku utus sebagai rahmat untuk seluruh alam, maka jadilah engkau orang yang berkasih sayang kepada orang-orang beriman dan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa. Maafkanlah kesalahan hamba-Ku, karena aku telah menerima taubatnya dan mengampuni dosanya".

Mendengar teguran Allah, Rasulullah mengutus beberapa orang sahabatnya untuk menemui pemuda yang pernah diusirnya. Akhirnya mereka menemukannya dan mereka pun memberikan kabar gembira tentang ampunan Allah kepadanya.

Lalu mereka membawa pemuda itu kepada Rasulullah, dan kebetulan saat mereka sampai Rasulullah sedang mengerjakan Shalat. Maka mereka pun segera bermakmum di belakangnya. Setelah selesai membaca surat Al-Fatihah Rasulullah membaca surat At- Takasur baru saja beliau sampai ayat " Hatta zurtumul maqabir (sampai kamu masuk ke dalam kubur)," maka pemuda itu menjerit keras dan jatuh. Ketika telah selesai Shalat, mereka mendapati ternyata pemuda itu telah meninggal dunia. Allah berkenan menerima taubatnya dan memasukkannya ke dalam kelompok hamba Allah yang shaleh.

Ketiga:

Allah akan mengampuni dosa seorang hamba apabila ia mengganti perbuatan-perbuatan maksiatnya dengan perbuatan-perbuatan baik.

Allah swt berfirman: Sungguh kebaikan-kebaikan itu menghapus dosa-dosa maksiat

Suatu ketika Fudhail bertanya kepada seorang laki-laki, " Berapa tahun usiamu sekarang?". "Enam puluh tahun," jawab lelaki itu. "Berarti sejak 60 tahun yang lalu kamu sudah menempuh perjalanan menuju Allah dan mungkin saja kamu hampir tiba" kata Fudhail. "Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya," jawab lelaki itu.

Fudhail bertanya, "Apakah kamu paham arti ucapanmu 'Aku milik Allah dan akan kembali kepada-Nya?. Siapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat kelak. Siapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan Allah, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya selama di dunia. Siapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya,".

"Kalau demikian, bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri ketika itu?" tanya lelaki itu. "Caranya mudah," jawab Fudhail. "Apa itu?" lelaki itu bertanya lagi. "Engkau berbuat kebaikan pada sisa umurmu, maka Allah akan mengampuni dosa-dosamu di masa lalu, karena jika kamu tetap berbuat buruk pada sisa umurmu, kamu akan disiksa pada hari kiamat karena dosa-dosamu di masa lalu dan dosa-dosamu pada sisa umurmu saat ini," kata Fudhail

Rasulullah saw bersabda: Iringilah keburukan dengan kebaikan. Karena kebaikan akan menghapus keburukan sebelumnya.

Keempat:

Memperbanyak puasa untuk menghapuskan dosa-dosa dari makanan yang haram yang telah di konsumsi.

Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Baik dan Allah tidaklah menerima amalan kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kaum mukminin sebagaimana perintah-Nya kepada para Rasul. 'Wahai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' (Al-Mu'minun: 51).

Allah juga berfirman, 'Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.' (Al-Baqarah: 172)

Rasulullah menceritakan keadaan seseorang yang telah lama bepergian, rambutnya kusut penuh dengan debu. Dia menengadahkan kedua tangannya ke arah langit sembari berdoa, 'Wahai Rabbku, wahai Rabbku,' padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya juga haram, serta ia dibesarkan dari yang haram. Lantas bagaimana mungkin doa yang ia panjatkan akan dikabulkan?'."

Seorang yahudi bertanya kepada Rasulullah, apa balasan yang akan didapatkan bagi orang yang berpuasa di Bulan Ramadhan. Rasulullah saw menjawab bahwa diantara balasannya yang didapat oleh orang yang berpuasa, dihancurkannya sel-sel dan daging dari konsumsi makanan haram yang pernah dimakannya.

Kelima:

Memohon maaf kepada orang yang pernah dizalimi.

Rasulullah saw pernah bertanya kepada para sahabatnya, "Siapakah orang yang bangkrut itu?, sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut adalah orang yang kaya kemudian ia jatuh miskin". Sahabat yang lain menjawab, "Orang yang bangkrut adalah seorang pengusaha yang tidak laku dagangannya".

Rasulullah saw kemudian bersabda, "Orang yang bangkrut adalah orang yang dibangkitkan di hari kiamat dengan membanggakan amal ibadahnya yang banyak. Ia datang dengan membawa pahala shalatnya, pahala puasa, pahala zakat, sedekah dan amal lainnya. Tetapi di saat yang sama datang orang yang dulu pernah ia caci maki, pernah ia fitnah, orang yang hartanya pernah ia rampas, orang yang darahnya pernah ia tumpahkan. Oleh karena itu Allah kemudian membagikan amal-amal kebaikannya kepada semua orang yang pernah ia aniaya, sehingga seluruh amal kebaikannya habis. Akan tetapi karena amal kebaikannya habis dan belum mengcover orang yang datang terus meminta pertanggungan jawabnya, maka diambillah dosa dan kesalahan dari orang-orang yang pernah ia aniaya, kemudian dilemparkan kepadanya dan kemudian Allah mencampakkannya ke dalam neraka.

Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta maaf kepadanya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi pada hari kiamat.

Keenam:

Menikmati ketaatan seperti ketika menikmati kemaksiatan.

Umar Bin Khattab sebelum memeluk Islam adalah seseorang yang paling membenci Nabi Muhammad saw. Namun setelah memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat mencintai Islam. Ketika banyak orang menyembunyikan keislamannya setelah memeluk agama Islam, Umar Bin Khattab adalah orang yang paling berani mengumunkan keislamannya secara terang-terangan.

Orang-orang yang diampuni dosanya adalah orang-orang yang ketika mereka telah bertaubat, mereka menikmati taubatnya seperti ketika mereka menikmati maksiat. Ketika saat maksiat mereka senang bermalam-malam di diskotik, maka manakala mereka bertaubat, mereka akan menikmati sholat malam seperti ketika mereka menikmati ke diskotik di malam hari. Ketika sebelum bertaubat senang mencari-cari dan senang menjatuhkan kemuliaan seseorang, maka setelah bertaubat ia berupaya dan senang untuk mempublikasikan kemuliaan seseorang.

Ketika saat maksiat mereka menikmati perbuatan-perbuatan tersebut, maka saat mereka bertaubat mereka sangat menikmati ketaatan seperti ketika menikmati kemaksiatan.

Nah, itulah 15 contoh kultum Ramadan 2026 yang singkat, tetapi diperlengkapi judul dan dalil. Semmoga bermanfaat!




(sto/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads