Postingan berupa video anggota DPRD Gunungkidul yang tengah mencecar PLN Unit Layanan Pelanggan (UPL) Wonosari terkait seringnya pemadaman listrik hingga berjam-jam ramai di media sosial (Medsos). DPRD menilai aplikasi PLN Mobile kurang maksimal dalam menangani masalah pemadaman listrik.
Sedangkan PLN ULP Wonosari mengaku pada bulan Desember 2025 hingga awal Januari 2026 kerap terjadi force majeure dan memastikan penanganan akan lebih cepat saat terjadi pemadaman listrik.
"Pelayanan @plnwonosari dikeluhkan masyarakat, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul @wulan_tustiana tegur Pimpinan PLN Wonosari!! Akhirnya ada yang mewakilkan keluhan masyarakat!," kata akun Instagram @ceritagunungkidul seperti dilihat detikJogja hari ini, Selasa (3/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Wulan Tustiana mengatakan, pemanggilan terhadap PLN ULP Wonosari berlangsung kemarin, Senin (2/2) di Kantor DPRD Gunungkidul. Semua itu setelah dirinya kerap mendapat keluhan masyarakat terkait pemadaman listrik dan kerap berlangsung selama berjam-jam.
"Kemarin pemanggilannya. Karena masyarakat sudah sering menyampaikan keluhan soal pemadaman listrik dan berdasarkan fakta di lapangan, kalau mati listrik bisa lebih dari 12 jam dan bahkan ada yang dua hari kalau hujan," katanya saat dihubungi detikJogja, Selasa (3/2/2026).
Dari pemanggilan itu, Wulan menyebut jika PLN telah memberikan penjelasan jika dapat memanfaatkan PLN Mobile untuk menyampaikan keluhan. Namun, Wulan menilai sudah banyak masyarakat yang memanfaatkan aplikasi tersebut dan tidak memberi dampak signifikan.
"Dari PLN kemarin menjelaskan secara teknis penyebab pemadaman listrik, tapi kan yang kita butuhkan aksi nyata dan dijawab kalau menyampaikan kendala sebaiknya melalui PLN mobile, karena jika via laporan susah ditangani," ujarnya.
"Nah, PLN mobile juga tidak ngaruh, banyak masyarakat yang sudah punya aplikasinya. Tapi tetap saja tidak ditangani dan ini terjadi sudah sering dan itu sangat mengganggu masyarakat Gunungkidul, apalagi yang memiliki UMKM dan pariwisata," lanjut Wulan.
Salah satu warga Wareng, Wibowo (30) menceritakan bahwa setiap bulan memang kerap mengalami pemadaman listrik. Namun, pemadaman listrik itu hanya berlangsung tidak lama.
"Setiap bulan pasti mati listrik, entah dua menit atau berapa menit. Terus pernah situasional, misal dari Senin malam dan mati listrik karena pohon ambruk dan Selasa sore baru hidup, tapi paling sering mati listrik yang singkat," ucapnya.
Meski hanya berlangsung sebentar, Wibowo mengaku pemadaman listrik tersebut berpotensi merusak alat elektronik. Terlebih, Wibowo memiliki usaha jual beli ikan hias dan peralatan di akuariumnya harus menyala terus.
"Ya pemadamannya memang sebentar, tapi kan merusak alat akuarium karena dayanya turun mendadak. Pernah itu rusak alat akuarium saya," katanya.
Oleh sebab itu, Wibowo berharap pemadaman listrik bisa terjadi tidak sesering mungkin. Mengingat dirinya selalu membayar listrik tepat waktu.
"Semoga kualitas pelayanan PLN diperbaiki karena saya tidak pernah telat bayar listrik," ujarnya.
Respons PLN
Sementara itu, Manajer PLN ULP Wonosari, Irwin Julian mengatakan, padamnya listrik ada dua hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, lanjut Irwin, adalah pemadaman terencana terkait pemeliharaan jaringan listrik.
"Untuk pemadaman listrik terencana biasanya setiap minggu kami memberikan jadwal," ucapnya.
Sedangkan penyebab pemadaman listrik kedua adalah pemadaman tidak terencana. Menurutnya, pemadaman tidak terencana terjadi karena adanya gangguan.
"Gangguan ini sebetulnya adalah kondisi jaringan PLN ini terganggu sehingga sistem proteksi yang ada di kami aktif dan dipadamkan. Kenapa harus dipadamkan? Karena kalau tidak dipadamkan bisa menyebabkan kecelakaan, baik kecelakaan masyarakat, instalasi dan sebagainya," katanya.
Selanjutnya, Irwin mengakui bahwa pemadaman listrik memang kerap terjadi pada bulan Desember 2025 hingga Januari 2026. Pemadaman itu karena dalam kondisi force majeure atau keadaan memaksa.
"Jadi di bulan Desember 2025 dan Januari 2026 kami sempat mengalami force majeure, kami memang terjadi banyak padam dan dampaknya sangat meluas dan lumayan lama. Tapi kami tetap berusaha melakukan recovery secara cepat agar masyarakat tidak mengalami padamnya listrik," ujarnya.
Terkait padamnya listrik, khususnya menangani padam listrik tidak terencana, Irwin mengungkapkan bahwa sudah ada sistem virtual command center (VCC) dan pemantauannya berlangsung selama 24 jam.
"Jadi kami pantau untuk laporan dari pelanggan melalui PLN mobile dan akan diterima oleh command center lalu dikirimkan ke petugas, dan itu kami pantau di VCC tersebut," ucapnya.
Sehingga jika ada pemadaman listrik hingga puluhan jam, Irwin menyebut pasti ada kondisi tertentu yang menyebabkannya.
"Jadi untuk padam yang sangat lama tidak ada seperti itu. Kalaupun padamnya lama sekali, lebih dari 20 jam seperti di video itu mungkin perlu dicek kembali untuk kondisinya seperti apa," ujarnya.
Terlepas dari hal tersebut, Irwin memastikan bahwa pelayanan PLN ULP Wonosari akan semakin cepat jika terjadi force majeure.
"Insyaallah kalau misalnya tidak pada saat force majeure dan bila ada gangguan penanganannya sangat cepat. Karena kami juga memantau dari VCC itu, jadi kalau ada gangguan lebih dari 3 jam tidak hanya kami yang memantau tapi dari UP3 juga. Sehingga gangguan itu agar cepat tertangani," katanya.
Selain itu, Irwin juga mengajak kepada seluruh masyarakat yang melihat ada pohon atau memiliki pohon mendekati jaringan bisa melaporkan ke PLN, atau bisa berkomunikasi dengan komunitas hingga perangkat desa setempat.
"Nantinya dilakukan kerjabakti bersama PLN. Kemudian untuk pelaporan gangguan itu sebisa mungkin bisa melalui aplikasi PLN mobile karena itu sudah terpantau melalui sistem dan insyaallah penanganannya lebih cepat juga," ujarnya.
