- Doa Bulan Syaban: Arab, Latin, dan Artinya Doa Bulan Syaban #1: Mohon Diberi Kesempatan Berjumpa Ramadhan Doa Bulan Syaban #2: Mohon Dimampukan Masuk ke Bulan Ramadhan Doa Bulan Syaban #3: Untuk Malam Nisfu Syaban
- Adab-adab Berdoa 1. Menghadap Kiblat 2. Mengangkat Tangan 3. Mengawali Doa dengan Pujian dan Sholawat 4. Memakai Suara Lirih 5. Meyakini Doa akan Terkabul
Bulan Syaban yang ada di antara Rajab dan Ramadhan resmi dimulai sejak Senin, 19 Januari 2026 malam hari nanti. Syaban adalah bulan istimewa karena kerap disebut ulama sebagai bulan persiapan.
Bagaimana tidak, setelah kurang lebih 30 hari menjalani Syaban, Ramadhan yang penuh keutamaan bakal tiba. Tanpa persiapan, bukan tidak mungkin seorang muslim gagal memaksimalkan bulan itu.
Dilansir buku 32 Faedah Terkait Bulan Syakban tulisan Muhammad Shalih al-Munajjid, Abu Bakar al-Balkhi pernah berkata:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bulan Rajab adalah bulan bercocok tanam, bulan Syaban adalah bulan menyiram tanaman, sedangkan bulan Ramadhan adalah waktu untuk memanen yang telah ditanam." (Latha'if al-Ma'arif hal 121)
Namun, siapa yang bisa menjamin umur kita akan sampai pada bulan Ramadhan? Karenanya, banyak orang alim membaca doa khusus selama Syaban agar diperkenankan Allah SWT menjumpai Ramadhan.
Seperti apa doanya? Di bawah ini bacaan doa bulan Syaban lengkap Arab, Latin, dan artinya!
Poin Utamanya:
- Syaban adalah bulan persiapan sebelum memasuki Ramadhan.
- Terdapat sejumlah doa yang dapat diamalkan selama Syaban berlangsung. Di antaranya adalah doa para sahabat yang berisi permohonan agar diberi umur sampai Ramadhan tiba.
- Adab berdoa antara lain adalah menghadap kiblat, mengangkat tangan, dan menggunakan suara lirih.
Doa Bulan Syaban: Arab, Latin, dan Artinya
Doa Bulan Syaban #1: Mohon Diberi Kesempatan Berjumpa Ramadhan
Menurut keterangan dari NU Online, ada doa yang masyhur dibaca pada bulan Rajab dan Syaban. Doa ini berisikan permohonan agar mendapat berkah selama 2 bulan itu. Juga permohonan agar dipanjangkan umur sehingga bisa memasuki Ramadhan.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Arab latin: Allaahumma baarik lanaa fii rajaba wa sya'baana, wa ballighnaa ramadhaana
Artinya: "Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Syakban, dan sampaikan kami di bulan Ramadan."
Sebagai catatan, hadits sumber doa ini bermasalah karena perawi bernama Ziyad an-Numairi dan Zaidah bin Abir Ruqad. Haditsnya dianggap lemah oleh Ibnu Hajar al-Asqalani. Namun, ada juga yang tidak melemahkannya. Wallahu a'lam bish-shawab.
Doa Bulan Syaban #2: Mohon Dimampukan Masuk ke Bulan Ramadhan
Dirujuk dari buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun oleh Ustadz Abdullah Faqih, ada doa lain yang dibaca para sahabat selama bulan Rajab dan Syaban. Isinya mirip doa pertama, yakni permohonan agar dimampukan masuk Ramadhan. Ini redaksinya:
اللَّهُمَّ سَلَّمْنِي لِرَمَضَانَ وَسَلَّمْ لِيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
Arab Latin: Allahumma sallimnī li Ramaḍāna wa sallim lī Ramaḍāna wa tasallamhu minnī mutaqabbalan.
Artinya: "Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan."
Doa Bulan Syaban #3: Untuk Malam Nisfu Syaban
Malam Nisfu Syaban adalah malam ke-15 bulan Syaban. Pada malam ini, sebagian ulama menyebut ada keistimewaan berupa ampunan dari Allah SWT. Namun, tidak ada amalan khusus yang diajarkan untuk mengisinya.
Umat Islam dapat beribadah secara umum pada malam Nisfu Syaban, juga malam-malam Syaban lain. Sebut saja mengerjakan sholat Tahajud, sholat Taubat, membaca Al-Quran, dan berdoa sesuai hajat masing-masing.
Menurut penjelasan dari NU Online, ada satu doa yang diajarkan Mufti Betawi Sayyid Utsman bin Yahya untuk dibaca pada malam Nisfu Syaban. Begini bacaan lengkap doa tersebut:
اَللّٰهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ اللّٰهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللّٰهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِيْ، وَاكْتُبْنِيْ عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ "يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ" وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ العَــالَمِيْنَ
Arab Latin: Allāhumma yā żal-manni wa lā yumannu 'alaik, yā żal-jalāli wal-ikrām, yā żaṭ-ṭauli wal-in'ām, lā ilāha illā anta, ẓahrall-lāji'īn wa jāral-mustajīrīn wa ma'manal-khāifīn. Allāhumma in kunta katabtanī 'indaka fī ummil-kitābi shaqiyyan aw maḥrūman aw muqtarran 'alayya fir-rizqi, famḥu Allāhumma fī ummil-kitābi shaqāwatī wa ḥirmānī wa iqtitāra rizqī, waktubnī 'indaka sa'īdan marzūqan muwaffaqan lil-khairāt. Fa innaka qulta wa qawluka al-ḥaqqu fī kitābikal-munzali 'alā lisāni nabiyyikal-mursal: yamḥullāhu mā yashā'u wa yuthbitu wa 'indahū ummul-kitāb. Wa ṣallallāhu 'alā sayyidinā Muḥammad wa 'alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam, wal-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn."
Artinya, "Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, 'Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki. Di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.' Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabatnya. Segala puji bagi Allah SWT."
Disadur dari buku Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah oleh Abu Ubaidah Yusuf dan Abu Abdullah Syahrul Fatwa, pembuat doa di atas adalah Ahmad bin Ali al-Buni. Jadi, bukan dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Adab-adab Berdoa
Saat berdoa, umat Islam dianjurkan mengikuti adab yang baik. Diringkas dari buku Kumpulan Doa-Doa oleh Dr Abu Hafizhah Irfan MSI, berikut ini adab-adab berdoa:
1. Menghadap Kiblat
Di Indonesia, arah kiblat adalah barat. Cari tempat di rumah yang suci dan tenang, lalu duduklah secara sopan. Lalu, panjatkan doa yang diinginkan. Dasarnya adalah hadits:
لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفُ وَأَصْحَابُهُ ثَلَاثَمِائَةٍ تِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي
Artinya: "Pada waktu hari perang Badar Rasulullah melihat ke arah orang-orang musyrik yang berjumlah 1.000 orang sementara Sahabatnya berjumlah 319 orang. Kemudian Nabiyullah menghadap ke arah kiblat, lalu membentangkan tangannya dan mulai berdoa (kepada) Rabb-nya. (Beliau mengatakan), "Ya Allah, penuhilah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku." (HR Muslim no 1763)
2. Mengangkat Tangan
Mengangkat tangan saat berdoa bukan sekadar kebiasaan saja, melainkan sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab, Allah SWT 'malu' apabila hambanya berdoa dalam keadaan mengangkat tangan, lalu kembali dalam kondisi hampa.
3. Mengawali Doa dengan Pujian dan Sholawat
Dasarnya adalah sabda Rasulullah:
إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ ادْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ
Artinya: "Apabila seorang di antara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuliakan Rabb-nya dan memuji kepada-Nya. Lalu bersholawat untuk Nabi, kemudian berdoalah sekehendaknya.'" (HR Abu Dawud no 1481)
4. Memakai Suara Lirih
Alih-alih berteriak-teriak atau menangis meraung-raung, umat Islam disunnahkan berdoa dengan suara lirih. Suara pelan menunjukkan bahwa si pendoa adalah orang yang rendah hati dan tidak sombong. Firman-Nya dalam Al-Quran:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Artinya: "Berdoalah kepada Rabb kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lirih. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS al-A'raf: 55)
5. Meyakini Doa akan Terkabul
Terakhir, berdoalah dengan keyakinan kuat di hati bahwasanya Allah SWT akan mengabulkan doa itu. Hindari penggunaan kata-kata, 'jika Engkau bersedia' atau yang semisal. Sebab, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Perkasa. Tiada seorang pun yang bisa memaksakan kehendak terhadap-Nya.
Nah, itulah doa bulan Syaban yang bisa detikers panjatkan. Semoga bermanfaat!
(par/alg)












































Komentar Terbanyak
Iran soal Video Kemunculan Netanyahu: Jika Masih Hidup Akan Terus Kami Kejar
Rismon Sianipar Kini Bilang Ijazah Jokowi-Gibran Asli, Begini Temuannya
Terungkap Alasan Alvi Tega Mutilasi Kekasih Jadi Ratusan Potong