Pada tanggal 27 Rajab setiap tahunnya kaum muslim akan memaknai peristiwa bersejarah dalam Islam, yaitu Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Tak ayal, sebagian kaum muslim akan berlomba-lomba mengisinya dengan berbagai amalan, termasuk puasa sunnah. Lantas, apakah boleh puasa di hari Isra Miraj?
Apa itu Isra Miraj? Singkatnya, Isra Miraj adalah sebuah peristiwa agung yang menunjukkan kebesaran Allah SWT. Melalui kejadian ini pula kaum muslim dalam meneladani iman dari Nabi Muhammad SAW. Pada saat peristiwa Isra Miraj berlangsung, beliau mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan semalam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Kemudian berlanjut dari Masjidil Aqsha ke langit tertinggi, yaitu Sidratul Muntaha.
Menurut buku '12 Bulan Mulia - Amalan Sepanjang Tahun' oleh By Abdurrahman Ahmad As-Sirbuny, sebagian ulama berpendapat Isra Miraj terjadi di malam tanggal 27 Rajab pada tahun sepuluh kenabian. Sebab, hari itu adalah hari yang mana Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu untuk mengerjakan sholat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai perjalanan Isra Miraj juga telah tertuang di dalam ayat suci Al-Quran. Seperti halnya disampaikan dalam buku '99 Kisah Menakjubkan Di Alquran' tulisan Ridwan Abqary, peristiwa Isra tercantum melalui Al-Quran Surat Al-Isra ayat 1. Sementara itu, Miraj tertulis di dalam Surat Anl-Najm ayat 13-18. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١
Sub-ḫânalladzî asrâ bi'abdihî lailam minal-masjidil-ḫarâmi ilal-masjidil-aqshalladzî bâraknâ ḫaulahû linuriyahû min âyâtinâ, innahû huwas-samî'ul-bashîr.
Artinya: "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ ١٣ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى ١٤ عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ ١٥ اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ ١٦ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى ١٧ لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى ١٨
Wa laqad ra'âhu nazlatan ukhrâ. 'Inda sidratil-muntahâ. 'Indahâ jannatul-ma'wâ. Idz yaghsyas-sidrata mâ yaghsyâ. Mâ zâghal-basharu wa mâ thaghâ. Laqad ra'â min âyâti rabbihil-kubrâ.
Artinya: "Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya). Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar." (QS. An-Najm: 13-18)
Mengingat Isra Miraj merupakan waktu yang begitu mulia, maka tidak sedikit kaum muslim yang ingin mengisinya dengan melakukan berbagai amalan. Lalu apakah boleh mengerjakan puasa sunnah di hari Isra Miraj atau 27 Rajab? Simak hukum pengerjaannya berikut.
Poin Utamanya:
- Puasa khusus Isra Miraj pada 27 Rajab tidak dianjurkan dalam syariat, karena tidak ada dalil shahih maupun contoh dari Rasulullah SAW dan para sahabat untuk mengkhususkan tanggal tersebut dengan puasa atau ibadah tertentu.
- Jika 27 Rajab bertepatan dengan hari Jumat, ketentuan puasa juga perlu diperhatikan karena sebagian ulama melarang puasa yang hanya dilakukan pada hari Jumat, kecuali digabung dengan puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya.
- Puasa sunnah tetap dapat dikerjakan di akhir bulan Rajab, terutama pada Hari Senin terakhir bulan Rajab, karena puasa di bulan ini memiliki keutamaan termasuk berdasarkan riwayat tentang pahala bagi yang berpuasa di bulan Rajab.
Bolehkah Mengerjakan Puasa Isra Miraj 27 Rajab?
Sejumlah ulama sepakat mengerjakan puasa di hari Isra Miraj hukumnya adalah tidak ada anjuran yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti halnya dikatakan dalam buku Drs E Syamsuddin dan Ahmad Syahirul Alim bertajuk 'Panduan Praktis Ibadah Puasa: Kajian Fikih Praktis dan Aplikasi Nilai Ibadah Puasa dalam Kehidupan', puasa Isra Miraj di tanggal 27 Rajab termasuk puasa bid'ah atau tidak sesuai ajaran Rasulullah SAW.
Sebab, Nabi Muhammad SAW tidak mencontohkan kaumnya untuk mengerjakan puasa yang secara khusus dilakukan pada tanggal 27 Rajab yang menandai peristiwa Isra miraj. Kemudian puasa di hari Isra Miraj juga tidak memiliki landasan syariat yang kuat.
Hal senada juga disampaikan melalui buku 'Tirulah Puasa Nabi: Resep Ilahi agar Sehat Ruhani-Jasmani' tulisan Yusuf Qardhawi, yang menyebut puasa di tanggal 27 Rajab atau Isra Miraj belum mempunyai dalil dalam syariat puasa. Ibn Al-Qayyim dalam Zad Al-Ma'ad telah menerangkan tentang mengkhususkan amalan di malam Isra Miraj. Sebagaimana dinukil dari ucapan Ibn Taimiyah:
"Tidak dikenal oleh seorang pun dari kalangan kaum Muslim yang menjadikan malam Isra sebagai malam istimewa, berbeda dengan yang lain. Para sahabat dan tabi'in tidak pernah mengkhususkan malam Isra dengan amalan-amalan tertentu, tidak juga mengenangnya dengan acara-acara tertentu. Oleh karena itu, tidak ada malam-termasuk malam Isra-yang dianggap sebagai malam yang paling utama bagi Rasulullah."
Meskipun 27 Rajab dikenal sebagai waktu yang agung karena disebut-sebut sebagai peristiwa berlangsungnya Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, tidak ada dalil yang shahih mengisyaratkan hal tersebut. Masih menukil dari ucapan Ibn Taimiyah bahwa:
"Tidak ada dalil yang diketahui tentang bulannya, atau tentang sepuluh harinya. Bahkan, nukilan tentang semua itu terputus riwayatnya dan terjadi perselisihan pendapat. Tidak ada yang pasti mengenai hal itu, dan tidak ada syariat bagi kaum Muslim yang mengistimewakan malam itu dengan shalat atau yang lainnya."
Wallahu a'lam bissawab.
Hukum Mengerjakan Puasa di Hari Jumat
Sebenarnya, apabila tanggal 27 Rajab bertepatan dengan hari Senin atau Kamis, kaum muslim bisa mengisinya dengan berpuasa sunnah pada waktu tersebut. Namun, di tahun 1447 H ini 27 Rajab jatuh di hari Jumat.
Berdasarkan Kalender Hijriah resmi Kementerian Agama, 27 Rajab 1447 H berlangsung di hari Jumat, 16 Januari 2026. Oleh karenanya, kaum muslim yang berniat mengisinya dengan puasa sunnah perlu memahami hukum mengerjakan puasa yang khusus dilakukan di hari Jumat.
Terdapat perbedaan pandangan mengenai puasa di hari Jumat. Ada sebagian ulama yang dengan tegas melarang, tetapi ada juga yang memperbolehkannya dengan ketentuan khusus.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku 'Buku Pintar Panduan Lengkap Ibadah Muslimah' tulisan Muhammad Syukron Maksum, salah satu landasan tidak diperkenankannya puasa di hari Jumat menukil dari salah satu hadits. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amar, Rasulullah SAW masuk ke rumah Juwairiyah binti Harits di hari Jumat, lalu mendapatinya sedang berpuasa. Lalu Rasulullah SAW menyampaikan pertanyaan:
"Apakah engkau berpuasa kemarin?' 'Tidak," ujarnya. Dan besok, apakah engkau bermaksud hendak berpuasa,' tanya Rasulullah lagi. 'Tidak,' jawab Juwairiyah. Lalu Rasulullah bersabda, 'Kalau begitu berbukalah'." (HR. Ahmad dan Nasa'i)
Terdapat juga pendapat kalangan ulama mengenai diperbolehkannya puasa di hari Jumat, asalkan turut mengerjakannya di satu hari sebelum atau sesudahnya. Melalui buku karya Ali Akbar bin Aqil dan Abdullah Chris yang berjudul '5 Amalan Penyuci Hati', diriwayatkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyampaikan sabda beliau:
"Janganlah salah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jumat selain jika berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Wallahu a'lam..
Jadwal Puasa Terakhir di Bulan Rajab
Kendati begitu, terdapat puasa sunnah yang masih bisa dikerjakan pada hari-hari terakhir bulan Rajab. Masih mengacu dari kalender yang sama, bulan Rajab tahun ini berakhir di tanggal 30 Rajab 1447 H yang bertepatan dengan hari Senin, 19 Januari 2026.
Artinya, kaum muslim yang ingin mengisi hari terakhir bulan Rajab dengan mengerjakan amalan berupa puasa sunnah bisa melakukannya. Terlebih lagi berpuasa di bulan Rajab menyimpan keutamaan tersendiri. Diterangkan dalam buku 'Dahsyatnya Puasa Wajib & sunah Rekomendasi Rasulullah' oleh Amirulloh Syarbini dan Sumantri Jamhari, keutamaan puasa di bulan Rajab tertuang dalam sebuah riwayat hadits yang berbunyi:
"Sesungguhnya di surga ada suatu sungai yang bernama 'Rajab'. Warnanya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu. Barangsiapa berpuasa satu hari pada bulan Rajab, akan diberi minum oleh Allah dari sungai itu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Untuk itu, tidak ada salahnya bagi kaum muslim untuk mengakhiri bulan Rajab dengan mengerjakan puasa sunnah di hari Senin. Sebagai pengingat, berikut uraian jadwalnya:
Puasa hari Senin terakhir bulan Rajab: 30 Rajab 1447 H atau 19 Januari 2026
Niat Puasa Senin Bulan Rajab
Menutup bulan Rajab di tahun ini dengan mengerjakan puasa sunnah hari Senin, hendaknya kaum muslim mengawalinya terlebih dahulu dengan bacaan niat. Mengutip dari buku 'Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari dari Kandungan hingga Kematian' karya Dr Muh Hambali, MAg, berikut bacaan niat puasa sunnah hari Senin:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى.
Nawaitu shauma yaumal itsnaini sunnatan lilaahi ta'aalaa.
Artinya: "Sengaja saya berpuasa sunnah hari Senin karena Allah Ta'ala."
Sebagai amalan yang penuh keutamaan, kaum muslim hendaknya mengisi hari terakhir bulan Rajab dengan berpuasa sunnah. Semoga informasi tadi membantu.
