Di sebuah gang sempit berukuran dua meter yang terletak di sisi utara Pasar Beringharjo, Priyo Sanyoto, membuka lapaknya. Ia adalah penjual kaset terakhir yang masih bertahan di Pasar Beringharjo.
Meski usianya tak lagi muda, namun Priyo tetap semangat menyambut setiap orang yang singgah atau sekadar lihat-lihat.
"Silahkan, silahkan. Monggo mau cari apa, ngomong aja sama Pak Priyo," ucapnya dengan senyuman ketika sepasang wisatawan dari Blitar singgah di lapaknya pada Selasa (6/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di waktu yang bersamaan, detikJogja juga baru saja sampai di lapak Priyo. Semua orang yang mampir diperlakukan sama. Mau beli atau hanya mengobrol, pria berumur 68 tahun ini selalu menyambut dengan hangat.
"Kalau sekarang, saya jualan cuman buat hiburan aja, ngobrol sama orang," terangnya sembari duduk di atas kursi besi.
Tak berselang lama, satu keluarga asal Bandung yang tidak sengaja melintas, lantas mampir karena tertarik dengan tumpukan kaset yang berjejer. Salah seorang dari mereka mencari kaset Dewa 19, namun dengan berat hati, Priyo mengaku tidak punya. Lantas, ditawarkanlah kaset Ari Lasso sebagai alternatif.
"Saya biasanya tak suruh nyebut carinya apa, nanti dicarikan yang mendekati atau yang sejenis (genre musik)," kata Priyo setelah melayani pelanggannya.
Sejak kecil, Priyo memang sudah menyukai musik. Beragam jenis musik dia dengarkan, mulai dari pop Indonesia hingga rock barat. Berbekal kesukaannya itu, Priyo lalu memutuskan berjualan kaset agar bisa menghidupi keluarga sekaligus menghidupi hobinya.
Berawal dari Hobi
Pria yang memiliki tiga orang anak ini mengaku hobi mendengarkan musik. Dia banyak mengetahui soal musik meski tak memiliki keahlian untuk memainkan alat musik. Ketika ditanya tentang musik favoritnya, ia mengaku menyukai genre pop Indonesia seperti Ernie Djohan.
"Dulu sukanya pop-pop ringan (Indonesia), tapi juga sempat suka musik-musik keras, rock sama metal," ceritanya.
Pak Priyo penjual kaset pita di Pasar Beringharjo, Selasa (6/1/2026). Foto: Zhafran Naufal Hilmy/detikJogja |
Dengan berjualan kaset, Priyo mampu menyekolahkan ketiga anaknya hingga di bangku perkuliahan. Bahkan, dua dari tiga anaknya menjadi pemain musik profesional yang sudah malang melintang dari Indonesia sampai mancanegara.
"Anak pertama jadi guru di SD Kanisius, Wirobrajan. Yang kedua sama ketiga jadi pemain musik klasik. Kemarin habis pulang dari Amerika, main sama kelompok orkestra," lanjut Priyo.
Di masa jayanya dulu, periode 1990-2000an omzet penjualan kaset Priyo bisa menghidupi keluarga. Bahkan bisa membiayai pendidikan tinggi anaknya. Namun, hari ini, pergeseran musik ke bentuk digital, membuat omzetnya turun drastis.
Jadi Tempat Nongkrong Era 90-an
"Waktu pertama kali jualan itu tahun 1988, umur berapa ya lupa," bebernya sambil mencoba mengingat-ingat.
Sebelum di Pasar Beringharjo, pria yang identik dengan sebutan Pak Priyo Kaset ini menjajakan dagangannya di depan Hamzah Batik, tepat di dekat tugu jam.
Priyo bercerita ketika tahun 90-an banyak anak-anak band atau pencinta musik hilir-mudik di lapaknya. Bahkan, seringkali mahasiswa-mahasiswa yang berkuliah di Jogja menggadaikan kasetnya pada Priyo.
"Banyak dulu, 'Pak, aku belum dapet kiriman, tak tinggal (gadai) dulu kasetnya', yang gitu-gitu banyak," ceritanya mengingat masa lalu.
Pada medio tersebut, kaset adalah hal yang menjadi bagian hidup banyak orang. Bahkan Priyo menyamakan kaset dengan emas karena semua orang gencar mencari. Menurutnya, masyarakat umum yang bukan pengoleksi kaset atau tidak terlalu suka musik pun ikut membeli dagangannya.
"Dulu tiap ada orang yang lewat, pasti mampir. Nengok sedikit, lihat-lihat, terus beli, gitu kalau dulu," lanjutnya.
Selain berjualan, lapak Priyo juga dijadikan tempat nongkrong dan berkumpul anak-anak band. Sebab, di tahun tersebut, Malioboro menjadi episentrum tempat berkumpulnya pencinta musik.
Tumpukan kaset di lapak Pak Priyo di Pasar Beringharjo, Jogja, Selasa (6/1/2026). Foto: Zhafran Naufal Hilmy/detikJogja |
"Yang dulu sering dolan, ada Heru (vokalis) Shaggydog, Adam (bassist) Sheila on 7, sama Mamok (rapper) Jogja Hip-hop Foundation. Coba tanya mereka 'Pak Priyo Kaset', pasti tahu," ujar pria berkacamata ini.
Kini Diburu Kolektor dan Jadi Oleh-oleh
Meski pelanggan Priyo sudah tak sebanyak dulu ketika masa jaya, akan tetapi masih ada orang-orang yang memburu koleksi dagangannya. Banyak kolektor dari berbagai daerah datang ke Priyo untuk mencari kaset incaran. Biasanya, para pemburu kaset lawas menghubungi Priyo lewat gawai dan beberapa kali minta dicarikan.
"Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, banyak. Tapi, biasanya yang nyarinya agak susah itu kalo (permintaan) dari (orang) Surabaya. Woh, kalo udah tahu dari Surabaya, pasti (koleksinya) top," terangnya menceritakan sambil mengangkat jempol.
Pada tahun lalu, ada seorang kolektor dari Malaysia tiba-tiba datang ke lapak Priyo. Awalnya ia juga tidak mengetahui orang itu bisa tahu lapaknya dari mana, namun setelah mengobrol lama ternyata lapak 'Pak Priyo Kaset' sudah terkenal karena informasi dari mulut ke mulut.
"Dia (kolektor dari Malaysia) cari kaset King of Manowar sama Panbers, kebetulan saya ada. Tapi saya udah ngomong 'ini harganya lumayan tinggi', tetep diambil," katanya menceritakan.
Meskipun dirinya mengaku harga yang dipatok menurutnya sudah tinggi, tetapi banyak orang merasa lapak Priyo murah dan terjangkau.
"Harganya mulai Rp 20 ribu aja, paling mahal, yang langka itu Rp 100 ribu. Menurut saya udah tinggi harganya, tapi ternyata kolektor-kolektor jualnya lebih mahal, kata orang Malaysia itu kaset King of Manowar bisa laku Rp 1 juta," bebernya dengan nada tidak menyangka.
Selain kolektor, para wisatawan yang sedang meluangkan waktu liburan ke Jogja juga menjadi pelanggan Priyo. Kaset jualan Priyo dijadikan oleh-oleh yang dibawa dari Jogja. Bahkan, sering juga Priyo melayani wisatawan mancanegara.
"Belum ada satu bulan lalu, ada yang dari Inggris. Ada juga dari Italia, Perancis, Brunei, dan Malaysia. Orang yang dari Perancis borong kaset gending jawa sama campursari, seneng kali ya mereka sama musik-musik gitu," Priyo bercerita sambil sesekali menyapa orang-orang yang melintas.
Saat melayani pelanggan mancanegara, pria ini mengaku tidak terlalu bisa berbahasa Inggris. Meski begitu, Priyo tetap memahami apa yang pelanggannya cari.
"Saya cuman bermodal 'yes', 'no', 'oke', tapi ya mereka paham," ujarnya sambil tertawa.
Artikel ini ditulis oleh Zhafran Naufal Hilmy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom














































Komentar Terbanyak
Dua Jambret di Sleman Tewas Nabrak Saat Kabur, Pengejar Malah Jadi Tersangka
Heboh Mbak Rara Pawang Diusir Saat Prosesi Labuhan, Ini Kata Keraton Jogja
Kondisi Terkini Ibu dan Anak Korban Perkosaan Bantul yang Diusir Warga