Jejak diduga dari macan yang ditemukan di lokasi pembangunan Ponpes di Panggul Kulon, Semanu, Gunungkidul, bikin heboh di media sosial. Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kawasan tersebut bukanlah habitat hewan buas.
BKSDA melalui Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, Tugimayanto mengatakan bahwa di sekitar lokasi penemuan jejak diduga macan itu merupakan lahan pertanian.
"Jadi di situ lahan pertanian dan setiap hari ada orangnya. Nah, sementara untuk jenis binatang buas pasti habitatnya jauh dari aktivitas manusia," kata dia saat dihubungi detikJogja, Sabtu (3/1/2026).
"Meski belum bisa dipastikan, tapi kalau habitat binatang buas saya kira bukan," sambungnya.
Tugimayanto menjelaskan, jika jejak tersebut memang benar merupakan bekas tapak kaki macan, kemungkinan hewan itu hanya sebatas melintas. Mengingat ada telaga di sekitar lokasi penemuan jejak tersebut.
"Tapi kalau melintas kemungkinan bisa, karena telaga juga di sana. Jadi melintas mencari air, itu pun kalau misal benar-benar jejak itu jejak binatang buas," ujar dia.
Tugimayanto menjelaskan, sepengetahuannya hanya di Girisubo yang menjadi habitat macan tutul. Habitat itu jauh dari permukiman.
"Kalau itu (binatang buas) dari Girisubo ke Semanu sepertinya terlalu jauh ya, karena jaraknya jauh sekali," ucap dia.
Disinggung mengenai kemungkinan memasang kamera di lokasi, Tugimayanto mengatakan hal itu perlu dibahas lebih lanjut.
"Kalau itu (pemasangan kamera di lokasi penemuan jejak) perlu kami diskusikan dan konsultasikan ke pimpinan. Jika memang perlu (dipasang kamera) paling kamera trap, bukan CCTV," kata dia, Sabtu (3/1/2026).
Tugimayanto menjelaskan, BKSDA pernah melakukan pemasangan kamera trap di Panggang, Gunungkidul, terkait informasi adanya macan.
"Dulu sebelum pandemi (COVID-19) itu kami pernah pasang kamera trap di Panggang karena (info) ada macan. Tapi yang terekam di kamera itu ternyata binatang jenis anjing," pungkasnya.
Sementara itu Heru Purwanto (56), warga sekitar yang juga pekerja di proyek pembangunan Ponpes di Semanu, Gunungkidul, menyebut belum ada lagi temuan jejak di sekitar lokasi proyek.
"Pagi tadi saya cek belum ada lagi jejaknya. Biasanya beberapa hari muncul lagi, gitu. Jadi tidak setiap hari muncul," kata dia kepada detikJogja, Sabtu (3/1/2026).
Diberitakan sebelumnya, postingan video penampakan jejak diduga harimau di proyek pembangunan pondok pesantren (Ponpes) Semanu, Gunungkidul, beredar di media sosial.
"Seorang pekerja proyek pembangunan Ponpes di wilayah Kapanewon Semanu merekam penemuan jejak yang mirip dengan kaki harimau, Jumat (02/01/2026)," tulis akun Instagram @gunungkidul.update, dilihat detikJogja, kemarin.
Cerita Pekerja Bangunan di Ponpes
Video yang merekam bekas jejak kaki hewan itu beredar media sosial, salah satunya diunggah akun Instagram @gunungkidul.update, kemarin.
Salah seorang pekerja bangunan di ponpes tersebut, Heru Purwanto (56), mengatakan jejak itu ditemukan sekitar tiga hari sebelumnya.
"Tiga hari lalu, pagi-pagi saya datang ke sini mau kerja lihat jejak harimau. Itu jejaknya besar sekali, seukuran telapak sapi. Tapi jejak itu sudah hilang karena kemarin kan hujan deras sekali," kata dia saat ditemui wartawan, Jumat (2/1/2026).
Heru menyebut lokasi penemuan jejak itu di sisi timur proyek pembangunan Ponpes. Dia meyakini itu jejak kaki harimau.
"Kenapa saya yakin? Karena di sini selain harimau tidak ada jejak-jejak seperti itu, dan biasanya dia minum air bersih di sini (tampungan air hujan dekat proyek)," ujarnya.
Menurut Heru, operator backhoe di proyek pembangunan Ponpes juga pernah melihat harimau.
"Sudah (ada yang pernah lihat harimau) itu pagi-pagi operator backhoe lihat sendiri warnanya kuning hitam dengan ukuran lebih besar dari kambing, saat itu satu ekor yang dilihat," ucapnya.
Heru menyebut harimau atau macan itu tidak pernah mengganggu pekerja proyek.
Simak Video "Video: Virus Panleukopenia Jadi Penyebab Kematian Huru dan Hara di Bandung Zoo"
(dil/dil)