Daftar Hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Pantai Parangtritis, Apa Saja?

Daftar Hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Pantai Parangtritis, Apa Saja?

Nur Umar Akashi - detikJogja
Minggu, 28 Des 2025 09:29 WIB
Daftar Hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Pantai Parangtritis, Apa Saja?
Pantai Parangtritis. (Foto: detikJogja)
Jogja -

Memasuki musim liburan, Pantai Parangtritis di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi destinasi primadona turis. Tidak mengherankan jika pantai ini langsung penuh sesak.

Pantai Parangtritis memang memiliki karakteristik yang berbeda dibanding pantai-pantai lain. Bila pantai Gunungkidul terkenal dengan pasir putih-kuningnya, Parangtritis justru mengeluarkan pasir hitam atau keabuan.

Bibir pantai Parangtritis yang landai, tampak mengundang wisatawan untuk bermain air, merasakan belaian dingin ombak khas laut selatan. Di sisi sebelah Timur, bukit yang hijau karena ditumbuhi pepohonan menghadirkan pemandangan indah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di balik keindahan-keindahan itu, ada larangan yang harus ditaati turis saat berkunjung ke Pantai Parangtritis. Apa saja hal yang tidak boleh dilakukan di Pantai Parangtritis? Di bawah ini penjelasan ringkasnya!

Poin Utamanya:

ADVERTISEMENT
  • Turis dilarang berenang di Pantai Parangtritis karena dikhawatirkan terseret rip current maupun ombak tinggi sehingga keselamatannya terancam.
  • Larangan lain yang dibumbui mitos adalah memakai baju warna hijau. Pilihan warna ini menyebabkan petugas sulit mencari seseorang jika kebetulan ia terbawa ombak sampai ke tengah laut.
  • Sampah menjadi masalah lama yang selalu dialami Pantai Parangtritis. Wisatawan harus bersikap bijak dengan membuang sampah di tempatnya.

Hal yang Tidak Boleh Dilakukan di Pantai Parangtritis, Apa Saja?

1. Berenang

Biarpun pantai penuh mitos satu ini tampak landai, turis dilarang berenang. Penyebabnya adalah fenomena rip current yang mengintai.

Dikutip dari tulisan ilmiah Rizki Aulia Ramadzani dkk berjudul Identifikasi Bahaya Rip Current terhadap Pengunjung di Pantai Parangtritis, rip current adalah arus balik yang bergerak dari pantai menuju ke laut. Rip current bisa saja kecil nan lemah sehingga tidak membahayakan. Namun, arusnya juga bisa sangat kuat, menyeret orang ke tengah laut.

Rip current bukanlah hal yang mudah dideteksi, terlebih untuk orang awam. Namun, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengetahui lokasi arus balik satu ini. Berikut tipsnya seperti halnya dijelaskan laman resmi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA):

  • Amati garis pantai dari tempat yang lebih tinggi, misalnya dari atas bukit pasir.
  • Lakukan pengamatan air laut selama beberapa menit, karena pola rip current dapat berubah-ubah.
  • Perhatikan jalur sempit tempat air tampak beriak dan berombak mengarah ke pantai. Gelombang yang menuju pantai bisa terlihat lebih curam karena berlawanan arah dengan rip current yang bergerak ke laut, sehingga tekstur air di kedua area tampak berbeda.
  • Munculnya cekungan pada pasir pantai bisa terjadi akibat rip current yang berulang kali mengikis area tersebut hingga terbentuk seperti itu.
  • Jika terlihat busa air bergerak menjauh ke arah laut dalam membentuk garis lurus yang sempit, kondisi tersebut besar kemungkinan disebabkan oleh rip current.
  • Gunakan kacamata berlapis lensa polarized untuk membantu membedakan warna area rip current dengan gelombang di sekitarnya, karena arus rip yang lebih dalam biasanya tampak lebih gelap.

Meski detikers sekadar mengunjungi Pantai Parangtritis untuk menikmati angin sepoi dan jajanan, tidak ada salahnya sekaligus memahami tips menemukan rip current. Sebab, seperti kata pepatah, lebih baik mencegah ketimbang mengobati.

Di samping rip current, Pantai Parangtritis juga dikenal dengan ombaknya yang tinggi. Ombak besar ini dapat membuat siapa pun yang tidak waspada terpelanting. Energi ombak dari arah pantai dapat memicu terbentuknya rip current kuat yang menarik air ke tengah laut.

Berdasar penjelasan dari laman resmi Humas Pemerintah Daerah DIY, Pantai Parangtritis sudah dijaga oleh sederet petugas yang mendapat perlengkapan memadai. Papan-papan peringatan maupun bendera merah pun telah dipasang sebagai pengingat.

Karakteristik Pantai Parangtritis tersebut membuat pantai ini memiliki reputasi rawan kecelakaan hingga menelan korban jiwa. Oleh karena itu, para pengunjung dihimbau berhati-hati untuk tidak bepergian melewati batas aman.

2. Memakai Baju Hijau

Diringkas dari Jurnal Pendidikan Tambusai bertajuk 'Penerapan Rational Emotive Therapy dalam Budaya Masyarakat Jawa Mengenai Larangan Memakai Baju Hijau di Pantai Selatan' oleh Amelia Putri dkk, larangan memakai baju hijau di pantai selatan, khususnya Parangtritis, tidak bisa dilepaskan dari mitos Nyi Roro Kidul.

Konon, Ratu Laut Selatan itu menyukai warna hijau. Alhasil, wisatawan yang memakai baju berwarna hijau bakal ditarik masuk laut, dibawa ke istananya. Mereka yang diseret Nyi Roro Kidul dijadikan budak atau pelayan.

Meski larangan ini terdengar seperti mitos belaka, ada alasan ilmiah yang mendasarinya. Wisatawan yang kebetulan bernasib nahas terseret arus masuk laut bakal sulit ditemukan jika memakai baju hijau. Sebagaimana diketahui, warna air di Pantai Parangtritis memang biru kehijauan.

"Petugas SAR Pantai Parangtritis sangat kesusahan mencari titik lokasi korban dalam proses evakuasi karena warna bajunya sama dengan warna air lautnya," bunyi penjelasan Satlinmas Rescue Istimewa Wil III dalam salah satu vidio yang diunggah akun TikTok @sarparangtritis.

"Jadi intinya Lur, pakaian berwarna hijau ora marake koe keli. Seng marake koe keli lehmu adus kenengaen Lur, kadohan Lur, kejeron. Bahaya yo, kejeron kui bahaya (Jadi intinya Lur, pakaian berwarna hijau tidak membuatmu terseret. Yang membuatmu terseret air adalah mandi/berenang terlalu ketengah, terlalu jauh, terlalu dalam. Bahaya, ya, terlalu dalam itu bahaya)," lanjut petugas SAR Parangtritis yang menjelaskan dalam vidio itu.

3. Membuang Sampah Sembarangan

Larangan ketiga ini sejatinya berlaku untuk semua pantai, bukan hanya Parangtritis saja. Tidak sekadar merusak lingkungan, sampah yang berserakan dan menggunung di area pantai membuat pandangan tak lagi sedap dinikmati. Belum lagi baunya yang menyengat.

Masalah sampah di Pantai Parangtritis bukan hal yang baru. Contohnya, pada 2019 lalu, usai masa libur Natal dan Tahun Baru, berton-ton sampah ada di kawasan pantai. Sampah-sampah ini berasal dari pengunjung maupun terbawa arus air.

"Masalah seperti ini (sampah) akan terus ada, karena beberapa wisatawan itu kurang peduli dengan kebersihan. Padahal kami sudah memberi imbauan papan peringatan dan menyebar tempat sampah ke beberapa titik, tapi ya karena manusia itu sifatnya beda-beda, ada yang peduli dan ada yang tidak," jelas Koordinator Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Pantai Parangtritis, Suranto, pada Rabu, 2 Januari 2019 silam.

Pengunjung Pantai Parangtritis mesti sadar diri dan membuang sampah, apapun bentuknya, ke tempat-tempat yang telah disediakan. Apabila di sekitar sedang tidak ada tempat sampah, maka simpan dahulu sampai menemukan.

Demikian 3 hal yang tidak boleh dilakukan turis di Pantai Parangtritis. Semoga bermanfaat!




(sto/ahr)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads