9 Renungan Natal 2025 yang Singkat, Penuh Pesan Damai dan Cinta Kasih

9 Renungan Natal 2025 yang Singkat, Penuh Pesan Damai dan Cinta Kasih

Anindya Milagsita - detikJogja
Rabu, 24 Des 2025 12:40 WIB
9 Renungan Natal 2025 yang Singkat, Penuh Pesan Damai dan Cinta Kasih
Renungan. (Foto: freepik/Freepik)
Jogja -

Menyambut datangnya Natal di tahun ini, ada renungan yang bisa dibaca oleh umat Kristiani. Sebagai referensi, mari simak beberapa contoh renungan Natal 2025 yang singkat dan dipenuhi dengan pesan damai serta cinta kasih.

Apa itu renungan? Menurut buku 'Membangun Karakter Anak dalam Nilai Kristiani' karya Pdt Dr Jefry Kalalo, MTh, bahwa renungan merupakan bagian dari ibadah yang mampu meningkatkan penanaman nilai-nilai Kristiani. Terutama yang berpedoman pada Alkitab sebagai sumber yang paling utama.

Tidak hanya itu saja, ibadah pembacaan Alkitab dan juga renungan menjadi upaya membuktikan tingkat kesadaran jemaat agar dapat meningkatkan iman. Maka tak heran, renungan menjadi salah satu bagian sentral dari ibadah yang mampu memberikan pengaruh pada pembentukan iman. Bagi yang membutuhkan, simak beberapa renungan Natal 2025 di bawah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kumpulan Renungan Natal 2025

Berikut ini akan diuraikan kumpulan renungan Natal yang dapat dijadikan sebagai referensi untuk perayaan Natal di tahun 2025 ini. Sebagian contohnya bisa diperuntukkan bagi keluarga atau di sekolah, sedangkan lainnya dapat digunakan secara umum. Simak ulasannya berikut ini.

ADVERTISEMENT

Contoh Renungan Natal Keluarga: Natal dan Kita

"Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh."
(1 Korintus 12 : 12 - 13)

Menyambut Natal bagi kebanyakan umat Kristiani seringkali terjebak untuk berpikir tentang suasana Natal yang meriah dengan berbagai ornamentasinya makanan dan minuman, pakaian baru dan sedikit renungan Natal. Sedikit jika kita bandingkan dengan kelahiran dan perjalanan hidup manusia yang bertahun-tahun. Ulang Tahun kelahiran Yesus Kristus disambut layaknya ulang tahun manusia biasa. Padahal Yesus Kristus adalah Putra Allah yang telah mengorbankan darah dan nyawa-Nya untuk keselamatan kita. Dia pun mewariskan ajaran dan berbagai teladan yang wajib kita refleksikan dalam diri dan kehidupan kita sehari-hari, sehingga orang akan melihat Yesus Kristus dalam diri kita. Panggilan ini seringkali dianggap tidak mungkin, karena kita tidak akan dapat melakukan hal yang sama seperti yang Yesus lakukan. Anggapan 'tidak mungkin' ini dapat merenggut kemauan dan kemampuan kita untuk berusaha mewujudkan perintah-Nya dalam kehidupan orang Kristiani yang telah ditebus dosa-dosanya oleh darah-Nya.

Bagaimana mengisi persiapan dan perayaan Natal dalam hidup keseharian kita? Umat Kristiani, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seringkali dinilai eksklusif dan kurang berkontribusi. Saya membayangkan kita, sebagai umat Kristiani, akan lebih berbahagia apabila dalam menyambut ulang tahun kelahiran Yesus Kristus kita mereduksi aspek seremonial dan pesta. Sebaliknya kita mewujud-nyatakan ajaran, pesan dan teladan Yesus Kristus dalam kehidupan kita dan bangsa ini. Saya ingat Paulus pernah berkata bahwa sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, mauipun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh (1 Korintus 12 : 13 - 14). Berdasarkan surat Paulus ini, maka sebaiknya setiap orang Kristiani tidak saling membedakan diri hanya atas dasar kondisi ekonomi, pendidikan, warna kulit, beda bahasa, beda kedudukan, dan lain-lain. Jangan biarkan kita menjadi kelompok-kelompok eksklusif dalam masyarakat. Marilah kita saling melayani seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah (1 Petrus 4 : 10) bersama dengan saudara sebangsa dan penduduk dunia ini.

Apabila kita menaruh kepedulian terhadap kehidupan bangsa, maka itu artinya kita sedang memancarkan sinar kasih Kristus dalam hidup umat Kristiani berbangsa dan bernegara. Kita tahu masih banyak pekerjaan pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan sesama anak bangsa yang kurang mampu dan kurang beruntung, menegakkan keadilan dalam aspek hukum di Nusantara ini, meningkatkan kesehatan serta pendidikan melalui kontribusi umat Kristiani. Dengan cara ini diharapkan umat Kristiani dapat ikut andil dalam menjaga NKRI yang ber-Bhinneka Tunggal Ika dan mengamankan serta mengamalkan Pancasila sebagai Dasar Negara kita. Dengan demikian kita turut serta dalam panggilan untuk menghapus diskriminasi dan radikalisme yang sedang mewabah di dalam masyarakat kita. Selamat Natal bagi kita semua. Damai di bumi!

(Sumber: laman GKI Kayu Putih)

Contoh Renungan Natal di Sekolah: Yesus Telah Lahir

Selamat pagi semuanya.

Apa kabarnya? Mari kita saling memberikan ucapan selamat Natal kepada teman-teman dan Pamong yang hadir pada saat ini. Berilah senyum terbaikmu kepada mereka.

Anak-anak yang dikasihi Tuhan,

Siapakah yang mau bercerita apa saja yang dilakukan oleh orang tuamu untuk menyambut Natal kali ini. Apakah ada yang dibelikan baju baru? Apakah ada yang dibelikan sepatu baru? Apakah ibumu membuatmu kue sendiri atau beli? Apakah rumahmu dicat ? Menurut kalian apakah orang tuamu sangat repot menyiapkan Natal kali ini? Jika diingat-ingat, apakah tahun ini lebih repot dari tahun lalu nggak?

Anak-anak yang dikasihi Yesus,

Mari kita melihat apa yang disiapkan oleh Yusuf dan Maria dalam menyambut kehadiran Yesus, anak pertama mereka, yaitu Sang Juruselamat. Mari kita membaca dari Lukas 2:1-7

Nyatalah bahwa Yusuf dan Maria tidak menyiapkan kelahiran Yesus dengan istimewa. Mengapa demikian? Karena Yesus lahir tidak lahir di tempat penginapan yang nyaman. Yesus juga tidak lahir di rumah sakit. Yesus lahir di kandang hewan yaitu tempat makan hewan yang disebut dengan palungan sebab Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat menginap saat mereka pergi ke Betlehem untuk mematuhi perintah Kaisar Agustus untuk mendaftarkan diri di tempat asal Yusuf.

Selain di kandang hewan, Maria juga tidak menyediakan pakaian yang bagus untuk membungkus bayi Yesus. Yusuf hanyalah seorang tukang kayu. Rupanya pakaian bagus bukanlah menjadi hal yang utama bagi Yusuf. Yusuf lebih baik menyimpan uangnya untuk sangu perjalanan mereka dari Nasaret ke Betlehem. Itulah kisah kelahiran Yesus yang sangat sederhana. Jauh dari kemewahan.

Anak-anak yang dikasihi Tuhan,

Saat ini banyak orang merayakan Natal jauh dari suasana sederhana. Orang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut Yesus. Ada yang beli baju baru, sepatu baru, barang-barang baru untuk menghias rumah dan pesta-pesta Natal yang meriah. Jika tidak baru dan bagus, orang tidak mau merayakan Natal. Hal ini sungguh-sungguh jauh dari kisah kelahiran Yesus yang sangat sederhana.

Anak-anak yang dikasihi Tuhan,

Hari ini kita diingatkan untuk menyambut Yesus bukan dengan hal-hal yang baru dan bagus serta pesta-pesta yang meriah. Yang penting dalam menyambut kehadiran Yesus adalah menyediakan hati dengan penuh syukur karena Tuhan mau datang ke dunia.

Selain itu kita juga diingatkan untuk mencontoh gaya hidup sederhana. Tidak mengada-ada yang tidak ada dan memaksa sesuatu agar ada karena malu. Contohnya: Jika orang tua memang tidak bisa membelikan pakaian baru maka jangan kita memaksa mereka untuk membelikan atau kita menjadi malu karena pakaian kita terlihat jelek sehingga tidak mau mengikuti ibadah Natal.

Siapakah yang bisa memberi contoh gaya hidup sederhana? Kalian akan dibagikan kertas. Kalian diminta untuk memberi contoh-contoh hidup sederhana.

(Sumber: laman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW))

Contoh Renungan Natal Umum #1: Surat Gembala

Natal Membuat Perubahan Hidup

(Filipi 2:5-8)

Syalom,

Jemaat yang dikasihi Tuhan, merayakan Hari Natal sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang Kristen di muka bumi ini. Seringkali makna Natal yang sesungguhnya tidak lagi begitu dirasakan. Maka wajarlah bila perayaan Hari Natal itu tidak lagi membawa perubahan apa-apa bagi mereka. Natal akan menjadi momentum perubahan hidup apabila kita melakukan Firman Allah. Di dalam Filipi 2:5-8, Tuhan menginginkan agar setiap orang percaya meneladani Tuhan Yesus Kristus yang telah datang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Paling tidak ada 3 teladan Natal yang membuat perubahan hidup menurut Filipi 2:5-8:

Pertama, Tuhan Yesus meninggalkan Zona nyaman Sorga (5-6). Tuhan Yesus tidak mementingkan diri sendiri di zona Surga yang penuh Kemuliaan, kemegahan dan di sembah/dipuja-puja. Dia justru meninggalkan kejayaan-Nya ..."walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan". Allah peduli dengan kehidupan manusia (Yoh 3:16), terutama setiap insan yang tidak diperhitungkan, dipandang sebelah mata (Mikha 5:1-7) apabila siap dipakai-Nya.. aplikasi: Sebagai orang-orang yang telah lebih dahulu dikasihi, diselamatkan dan diperbaharui oleh Tuhan Yesus, kita harus meneladani Tuhan Yesus dalam memikirkan orang lain dan bukan hanya memikirkan diri sendiri.

Kedua, Tuhan Yesus datang untuk tugas mulia (7). Hanya Bayi Yesus yang dilahirkan langsung memiliki tugas/pelayanan. Melekat di setiap nama "Immanuel": Allah menyertai kita. "Yesus" : Menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Intinya sudah ada kekhususan tugas Bapa bagi-Nya. "mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia"..sampai titik terendah dan terhina. "Sang Pencipta (Yoh 1:1-12) menyamakan diri-Nya dengan ciptaan" inilah bukti Pelayanan tertinggi Bapa melalui Putra-Nya. Aplikasi: Tuhan Yesus datang ke dalam dunia untuk tugas mulia yakni melayani (Mat. 20:28). Hal ini harus diteladani pula! Sebab memikirkan orang lain secara abstrak saja tidaklah cukup, tetapi harus ada tindakan nyata untuk mewujudkannya. Marilah kita melayani dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi kita serta sesuai dengan kemampuan dan talenta yang ada pada kita.

Ketiga, Tuhan Yesus menjadi tumbal manusia berdosa (8). Zona nyaman di Surga. Lahir dari ciptaan-Nya (Maria) sendiri di kandang domba Betlehem (Nativity Church). Merasakan berbagai pergumulan sebagai manusia, bedanya Tuhan Yesus tidak berdosa. Klimaks pengorbanan ialah sebagai Tumbal di kayu Salib karena dosa manusia. Pelayanan yang berarti senantiasa menuntut adanya pengorbanan. Pengorbanan Kristus telah memberi kehidupan yang penuh pengharapan bagi manusia yang sudah tak berpengharapan.

(Sumber: laman Gereja Kemah Injil Indonesia)

Contoh Renungan Natal Umum #2: Hati yang Berkobar

Bacaan: Yudas 1 : 17 - 25 | Pujian: PKJ. 202
Nats: "... peliharalah dirimu dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal." (Ayat 21)

Menantikan hari bahagia bagi calon pengantin adalah masa yang sangat indah dalam peristiwa hidup mereka. Ada banyak yang harus disiapkan, mulai dari rencana hari lamaran, pemilihan baju, sampai tempat di mana perhelatan dilakukan, demikian juga siapa-siapa yang diundang, pemilihan wedding organizer, sampai catering, juga di mana acara inti dilakukan. Tentu ini sangat menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Semua berharap pada hari yang ditentukan acara berlangsung meriah, mengesankan, dan menjadi kenangan terindah. Persiapan selalu lebih panjang dari acara sebenarnya yang biasanya berlangsung tidak lebih dari 3 jam itu.

Persiapan untuk menyambut kedatangan Tuhan sebenarnya juga tidak mudah. Dalam dunia yang dipenuhi dengan kehidupan yang menuruti keinginan manusia, orang percaya dipanggil untuk menunjukkan imannya yang teguh. Saat banyak hinaan dan cemooh ketika hidup sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus, surat Yudas ini mengajak kita untuk tetap setia dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan tetap berbelas kasih kepada mereka yang bimbang hatinya. Itu berarti tidak mudah untuk menjalani hidup penuh dengan ketaatan dan kasih apalagi diperhadapkan kepada mereka yang tidak mau mengerti bahkan mengolok-olok. Hidup dengan kesabaran inilah yang menjadi panggilan orang percaya saat menantikan kedatangan Tuhan. Itu tidak hanya persiapan fisik seperti penyiapan acara, tempat, dan dana sebagaimana saat kita menyambut hari Natal. Namun yang lebih penting dari itu kita menyiapkan diri dan hati kita untuk menyambut Tuhan Yesus Sang Putra Natal itu. Saat kita menjawab iya, itu berarti hati kita dipenuhi sukacita serta kerinduan untuk meneladan Sang Putra Natal.

Natal adalah adalah penggenapan pengharapan manusia atas keselamatan yang telah lama dinantikan. Sambutan kita tidak harus gegap gempita di luar, namun di dalam hati yang berkobar dan meluap dengan cinta berbentuk tindakan ucapan syukur sampai saat-Nya tiba. Mari kita menyatakan cinta dan syukur kita melalui hati yang berbelas kasih, sabar dan setia meneladani Sang Putra Natal. Kedatangan-Nya biarlah selalu menjadi peristiwa yang membawa kedamaian bagi kita, semesta, dan siapapun yang menantikan-Nya. Amin. [LUV].

"Jangan menunggu waktu yang sempurna untuk memulai, karena waktu yang sempurna tidak akan pernah datang." (Anonim)

(Sumber: laman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW))

Contoh Renungan Natal Umum #3: Marilah Kita Pergi ke Betlehem

Bacaan: Yes. 62:11-12; Tit. 3:4-7; Luk. 2:15-20

Para gembala di padang belantara Yudea, telah mendapat berita besar, warta gembira tentang lahirnya sang Juruselamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud. Para gembala itu saling mengajak, "Marilah kita pergi ke Bethlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita". Para gembala itu bergegas. Sikap ingin tahu dan kerelasediaan untuk segera pergi, bergegas. Dan mereka bertemu, menyakskan apa yang terjadi seperti yang diwartakan malaekat itu. Di sana mereka menjumpai: Maria, Yosef dan bayi itu, dalam kesederhanaan berbaring dalam palungan. Hanya itu!

Mungkin dalam hati kecil mereka saling bertanya, "Mengapa bisa terjadi seperti ini?", atau mereka cuma diam membisu. Mereka menjadi saksi bisu dalam keheningan gua Betlehem. Tidak ada hal yang luar biasa, tidak ada yang hebat, Cuma sebuah keluarga miskin dengan seorang bayi mungil yang baru dilahirkan. Kehadiran sang bayi itu memberi harapan masa depan, bayi itu berbaring tenang tapi memancarkan kedamaian dan melahirkan kegembiraan dan sukacita yang sungguh luar biasa. Kelahiran setiap bayi selalu membawa kegembiraan dan sukacita. Inilah yang menjadi pengalaman para gembala pada perjumpaan yang membahagiakan itu. Pengalaman itu, tidak bisa membungkam dan membendung sukacita yang luar biasa, yang sedang bergelora dalam hati. Karena itu, pengalaman perjumpaan itu menggerakkan mereka untuk mewartakan. Kegembiraan yang dibagi-bagi dan diwartakan menjadi semakin gembira dan sukacita. Suatu kegembiraan dan sukacita yang meluap, suatu kedamaian sejati yang menggetarkan, dan iman akan Allah membuat mereka berkobar-kobar. Mereka menyaksikan dan mengalami seperti yang disampaikan Tuhan kepada mereka. Di sana sebuah keluarga sederhana, miskin yang senasib dengan mereka, dan dalam diri sang bayi itulah tumpuan segala harapan, cita-cita, sukacita dan kedamaian mereka. Para gembala itu kembali dengan semangat baru, dengan hati penuh sukacita dan berkobar. Perjumpaan dengan bayi natal membawa sukacita dan semangat baru.

Kepergian para gembala ke Betlehem secara tegas dan nyata dapat menggambarkan suatu ziarah hidup iman yang sesungguhnya. Bahwa sejak dari semula Tuhan yang telah memberikan kita kabar sukacita tentang kelahiran-Nya senantiasa mengharapkan agar kita bersedia meluangkan waktu, memberi diri untuk sebuah perjumpaan, berjumpa dengan Dia. Dia yang dalam kesederhanaan dan kemiskinan, tidak hanya lahir di kandang hina dan dibaringkan dalam palungan hewan, tetapi Sang damai sejati itu lahir dan dibaringkan juga dalam setiap hati yang mau datang dan berjumpa. Hati yang mau menyapa, hati yang sesudah perjumpaan itu lalu bersukacita dan berkobar mewartakan bahwa telah lahir baginya Kristus Tuhan.

Maka kita pun boleh berjumpa dengan Maria, Yosef dan Yesus itu tidak harus jauh-jauh karena mereka hadir dalam keluarga-keluarga kita, hadir dalam hidup kita; asalkan kita mau mengalami perjumpaan itu. Mau meninggalkan kesibukan dan kesenangan pribadi untuk merasakan hangatnya Ia terbaring dalam hati yang damai dan penuh kasih, hati yang dihiasi pengampunan dan persaudaraan, yang merasa senasib dengan kita. Pengalaman perjumpaan itu harus memberanikan kita untuk mewarta kabar keselamatan, kabar sukacita, bahwa Ia telah menjadi manusia dan tinggal bersama kita.

Kini Betlehem adalah sebuah hati, dan sebuah perjumpaan dengan Maria, Yusuf dan sang bayi natal, Yesus sang Juruselamat kita, sehingga kita patut bersukur dan gembira merayakannya. Betlehem itu adalah keluarga-keluarga kita yang mengalami juga kelahiran-Nya yang membawa sukacita. Atau mungkin Betlehem hati dan keluarga kita saat ini masih terlalu sarat dengan berbagai kekayaan harta duniawi, harga diri, kuasa, sikap ingat diri, hati dan hidup kita masih dipenuhi dengan berbagai hiasan kesombongan, iri hati, dendam, permusuhan, jauh dari rasa damai, tak ada tempat bagi Maria, Yusuf dan bayi Yesus. Atau yang sedang kita cari adalah kekayaan duniawi, pingin punya segalanya, daripada punya Yesus yang tak punya apa-apa.

Betlehem adalah sebuah hati.. Mari kita pergi dan melihat apa yang terjadi di sana. Di hati kita. Natal adalah saat rahmat untuk mengalami perjumpaan dengan sang Juruselamat yang lahir, dan memberikan kita sukacita dan keberanian seperti para gembala kembali dengan sukacita besar, dengan semangat baru dan hidup baru. Betlehem adalah keluarga kita. Betlehem adalah hati kita. Maka, pantas di hari penuh sukacita dan damai ini, kita saling berucap: Selamat merayakan pesta natal dengan sukacita dan menjadi manusia baru dalam damai sejahtera. Dan dengan kerendahan hati bersyukur dan menyembah-Nya, kini dan sepanjang masa. Amin.

(Sumber: laman Komisi Kateketik Konfrensi Wali Gereja Indonesia)

Contoh Renungan Natal Umum #4: Yesus Datang untuk Menyelamatkan yang Hilang

Salah satu contoh orang yang berubah secara radikal menjadi pengikut Yesus adalah Zakheus. Radikal berarti bersungguh-sungguh, mendasar hingga kepada hal-hal yang prinsip. Perubahan yang terjadi dalam diri pemungut cukai itu ketika meresponi kehadiran Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Zakheus yang terhilang telah ditemukan kembali. Ia yang berdosa, kini telah terhitung sebagai "anak Abraham" (orang percaya). Sebagaimana Zakheus, bagaimana seharusnya ekspresi sukacita keselamatan kita tunjukkan?

1. SUKACITA MENYAMBUT KEHADIRAN YESUS (19:6)

Salah satu cara Lukas ketika mencatat reaksi dari orang-orang yang mendapat penyataan-penyataan Ilahi adalah mereka juga dipenuhi dengan sukacita Ilahi (bdk: 2:10; 10:20).

Sukacita para gembala karena mendengar kabar keselamatan dari malaikat (Luk 2:10)
Sukacita para murid karena menang atau mengusir si jahat (Luk 10:20)
Hal ini ditunjukkan juga oleh Zakheus ketika menyambut Yesus dengan sukacita. Orang yang menyambut Yesus dengan sukacita menunjukkan sikap menempatkan Yesus sebagai Pribadi yang sangat penting dan berharga. Ia memberikan perhatian dan sikap terbaik yang dipersembahkan bagi Yesus.

2. SUKACITA YANG MENGAKIBATKAN KEMURAHAN HATI (19:8a)

Sikap sukacita yang radikal bagi Yesus lainnya yang ditunjukkan Zakheus ketika ia memutuskan untuk memberikan setengah dari miliknya untuk kepentingan orang miskin. Mengapa ini radikal? Ya, karena sebelumnya dia adalah seorang pemungut cukai yang kecenderungannya culas dan memperkaya diri sendiri.

Orang-orang Majus menempuh perjalanan yang jauh untuk memberi persembahan kepada Yesus berupa emas, kemenyan dan mur. Ini bentuk kemurahan hati yang dilandasi pengorbanan bagi Sang Juruselamat.

Tak mudah memberi bagi orang lain, apalagi ini setengah dari hartanya. Tetapi mereka yang mengasihi Yesus, bisa melakukannya. Orang yang sadar menerima keselamatan karena anugerah, akan memiliki kemurahan hati.

3. SUKACITA YANG MELAHIRKAN TANGGUNG JAWAB (19:8b)

Sikap radikal berikutnya adalah ia tidak mau lagi diperhamba oleh uang dan bertanggung jawab akan kesalahan yang dibuat sebelumnya. Kalimat "Sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat" menegaskan hal itu.

Zakheus benar-benar ingin secara radikal terbebas dari ikatan harta duniawi, sehingga ia memilih memberikan ganti rugi ekstra kepada mereka yang dirugikan. Ia berusaha mempertanggungjawabkan kesalahan masa lalu, bukan berusaha menutupinya atau menghindar darinya.

Bentuk tanggung jawab yang lain dari orang terhilang yang diselamatkan adalah dengan memberitakan sukacita itu kepada orang lain.

Para gembala MEMBERITAKAN apa yang mereka lihat dan MEMUJI-MEMULIAKAN ALLAH karena segala yang mereka dengar dan lihat (Luk 2:17-20)
Maria menaikkan pujian kepada Allah karena karya-Nya yang menyelamatkan (Luk 1:47), kemahakuasaan-Nya (Luk 1:49) dan kesetiaan-Nya yang turun-temurun (Luk 1:50)
Kita orang-orang terhilang yang sudah ditemukan Yesus. Selayaknyalah kita menyambut Dia yang datang dengan SUKACITA, yang kemudian membuat kita bermurah hati dan bertanggung jawab.

(Sumber: laman BPD DKI Jakarta GBI)

Contoh Renungan Natal Umum #5: Sambutlah Lawatan Allah Kita

Oleh rahmat dan belas kasihan Allah kita, dengan mana la akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi. (Lukas 1:78)
Renungan Natal ini adalah petikan dari nyanyian imam Zakaria saat kelahiran putranya Yohanes Pembaptis. Dalam nyanyian itu Zakaria menubuatkan bahwa putranya itu akan menjadi perintis dan pembuka jalan bagi Tuhan yang akan datang melawat umatNya untuk memberikan keselamatan berdasarkan pengampunan, rahmat dan belas kasihanNya. "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab la melawat umatNya dan membawa kelepasan bagiNya" (Lukas 1:68).

Apakah arti nyanyian Zakaria ini bagi kita yang sekarang?
Pertama: kita diajak memuji dan memuliakan Allah yang telah berkenan melawat umatNya di masa lalu dan membebaskan mereka dari berbagai penjajahan, ikatan dan tekanan. Secara khusus kita mensyukuri kedatangan Kristus, Putra Allah, menebus kita dari dosa dan maut dengan kematianNya. Semua ini hanyalah karena pengampunan, rahmat dan belas kasihanNya saja.

Kedua: kita diizinkan percaya bahwa pada masa kini pun Allah masih berkenan melawat kita dalam kenyataan hidup kita di dunia ini. Allah yang kita imani bukanlah Allah yang jauh, asing dan bersembunyi di tempat tak terjangkau dan tidak kita ketahui sama sekali. Allah yang kepadaNya kita berserah dan menggantungkan hidup adalah Allah yang mendatangi atau melawat kita rela tinggal bersama kita - dan membiarkan dirinya kita kenal dan sapa. Sebab itu kita pun boleh berdoa dan berharap Allah senantiasa datang dan hadir dalam kehidupan kita masa kini, menolong kita dari berbagai hal.

Ketiga: Lawatan Allah ini ditandai dengan kelahiran seorang anak
yang diberi nama Emanuel, Yesus Kristus Sang Juruselamat. la rela lahir di kandang, dan dibaringkan di atas palungan sebagai simbol kemiskinan dan keterbatasan. Namun Maria tidak lagi membatasi fungsi palungan hanya sebagai tempat makanan ternak, tetapi kehadiran Yesus Kristus, palungan itu menjadi bernilai. Palungan menjadi inspirasi bagi setiap pengikut Kristus, untuk menjadi berkat dalam keterbatasan. Sebagian orang tidak melakukan sesuatu yang sifatnya melayani Tuhan dan sesama, hanya karena merasa kemampuan serta apa yang dia miliki tidak begitu bernilai. Ingatlah janda miskin yang memberi persembahan dua peser. Sekalipun dari segi jumlah pemberian janda itu sangat kecil, tetapi apa yang dia berikan bernilai di mata Allah. Janda ini telah belajar untuk menjadi berkat dalam keterbatasannya, ia tidak menunggu harus memiliki banyak baru ia memberi. Yang terpenting adalah kesediaan kita untuk menjadi berkat di dalam keterbatasan, akan membawa pengaruh besar bagi pekerjaan Allah. Allah hanya menuntut kesediaan kita untuk memberikan apa yang dapat kita berikan. Ingatlah mujizat di mana 5000 orang laki-laki makan hingga kenyang terjadi karena seorang anak kecil bersedia memberi 5 roti dan 2 ikan yang ia miliki.

Keempat: Lawatan Allah ini juga mengingatkan kita bahwa Allah begitu peduli dengan manusia yang terbelenggu kemiskinan, bahkan Yesus sendiri menyamakan dirinya dengan orang-orang miskin dan hina, la mengatakan bahwa apa yang kita lakukan kepada yang terkecil dan hina, itu sudah kita lakukan kepada Yesus sendiri. Akhirnya Yesus berharap agar setiap kita digerakan oleh kerelaan Allah ini melawat manusia, dan kita rela meneruskan lawatan itu dengan berbagi dan melawat sesama kita. Karena lawatan Allah ini, kita rela berbagi dengan anak-anak yatim piatu, ibu-ibu di panti jompo, bahkan kepada setiap orang yang berjumpa dengan kita. Perjumpaan kita dengan Kristus di malam Natal ini, menjadi dasar motivasi kita untuk mengingat saudara-saudari kita yang tidak dapat merasakan suasana natal keluarga seperti yang kita alami saat ini. Amin.

(Sumber: publikasi 'Bahan Renungan Natal Keluarga BNKP Tahun 2013')

Contoh Renungan Natal Umum #6: Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita

Setiap kali merayakan Natal, kita bersukacita atas kelahiran Yesus. Peristiwa ini sungguh menyatakan betapa besar kasih Allah kepada kita "sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yoh 3:16). Kedatangan-Nya disambut baik oleh para gembala, yakni orang-orang kecil yang merindukan Ju-ruselamat, maupun oleh orang-orang majus, yakni kalangan bijak dan terhormat yang mencari kebenaran dan keselamatan. Janji Allah akan keselamatan terwujud dalam diri Yesus, yang meskipun Anak Allah telah "merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Flp 2:8). Melalui kerendahan hati dan pengorbanan diri, Yesus melaksanakan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia. Begitulah hikmat Allah yang berbeda dengan hikmat dunia. Itulah sebabnya Paulus menyebut Yesus sebagai hikmat Allah bagi kita (1Kor 1: 24.30).

Sudah lebih dari dua ribu tahun Yesus datang ke dunia, tetapi karya keselamatan yang Dia tawarkan kepada umat manusia masih harus terus diwujudkan. Banyak orang telah menanggapi undangan Allah ini dalam hidup sehari-hari, di antaranya, dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Akan tetapi, kita masih menjumpai orang yang tidak peduli pada suara hati dan tidak mengindahkan hati nu-rani serta tidak malu terhadap sesamanya dan tidak takut pada Allah hingga berbuat sesuatu yang me-langgar hak asasi manusia. Tiada lagi sukacita dan gembira ketika manusia diperlakukan tidak adil oleh sesama; saat HAM diinjak-injak.

Saudara-Saudari terkasih,
Hak asasi manusia adalah hak dasar yang melekat yang dianugerahkan Allah kepada setiap orang. Perwujudan HAM secara baik dan benar membuat hidup secara manusiawi. Dalam Perjanjian Lama, Allah memanggil para nabi salah satunya untuk mewujudkan keadilan yang juga berkaitan dengan HAM. Nabi Amos mengingatkan bahwa mereka yang menginjak-nginjak hak asasi orang-orang lemah dan miskin tidak akan hidup sejahtera (bdk. Am 5: 11-12). Lalu, Amos mengajak umatnya: "Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu,..." (Am 5: 14).

Kita patut bersyukur kepada Allah karena bangsa Indonesia menjunjung tinggi HAM. Kita pantas berterima kasih kepada pemerintah yang telah berusaha menangani masalah HAM secara serius. Sekalipun demikian, persoalan HAM masih terjadi di sejumlah tempat. Pelanggaran HAM berat di masa lalu belum selesai secara tuntas. Hak hidup layak di bidang ekonomi, sosial, dan budaya yang berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan hidup masih terganggu di beberapa daerah. Kebebasan berbicara dan berujar dikacaukan oleh maraknya ujaran kebencian dan berita bohong yang kadang disertai kekerasan baik secara fisik maupun psikis. Ancaman, pengrusakan, dan penutupan rumah ibadat masih terjadi. Izin mendirikan rumah ibadat masih tersendat. Eksploitasi alam berlebihan dan transaksi penjualan tanah masih merugikan masyarakat tertentu. Hak ekologis untuk menikmati lingkungan yang sehat tidak sepenuhnya dirasakan terutama oleh kalangan masyarakat sederhana karena pencemaran air, tanah, dan udara. Melanggar HAM adalah tindakan manusia yang hidup menurut hikmat dunia.

Syukur kepada Allah berkat Yesus Kristus, kita dipanggil untuk hidup menurut hikmat ilahi. Yesus Kristus itulah hikmat Allah bagi kita. Kristus itulah yang mengajarkan kita nilai-nilai Kerajaan Allah serta mengajak kita hidup saling mengasihi dan rela berkorban demi terciptanya kesejahteraan bersama. Yesus menunjukkan hikmatnya melalui pewartaan Injil dan tindakan belas kasihan untuk menguduskan dan menebus kita. Paulus merumuskannya dengan bagus: "Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita." (1Kor 1:30)

Kita diajak untuk menyadari panggilan sebagai pribadi berhikmat yang dipilih untuk melayani bukan untuk dilayani. Perilaku pemimpin yang koruptif telah merusak kesadaran moral masyarakat seolah jalan pintas yang tidak pantas itu adalah cara cepat mencapai keberhasilan. Tindakan koruptif sering berhubungan dengan pelanggaran HAM. Untuk itu, kita membutuhkan pemimpin dan wakil rakyat yang penuh hikmat. Hal ini sejalan dengan sila ke-4 Pancasila: "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan."

Saudara-Saudari terkasih,
Natal mengingatkan kita akan hikmat Allah yang diwujudkan dalam diri Yesus. Natal bukan semata mengenang kelahiran Yesus sebagai bayi di atas palungan, tetapi juga kehidupan Yesus yang penuh hikmat dan dicurahi Roh Kudus. Ia datang membawa Tahun Rahmat Tuhan (bdk. Luk 4: 18-19). Kata-katanya tidak menekan, tetapi menyejukkan. Nasihatnya tidak menina-bobokan, tetapi menegur dan memberi jalan. Tegurannya bukan penghujatan, tetapi jalan keselamatan. Ajarannya bukan asal me-nyenangkan, tetapi mengembalikan martabat manusia. Saat ditanya murid-murid Yohanes apakah Dia itu Mesias, Yesus menjawab: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Luk 7; 22).

Marilah kita merayakan Natal bukan hanya dengan nyanyian dan pujian saja, tetapi juga dengan upaya konkret untuk hidup dalam hikmat Allah. Kita diajak untuk membela hak-hak asasi manusia sebagai ungkapan kewajiban asasi manusia. Perayaan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat, menjadi saat dan kesempatan untuk memahami hakikat HAM secara baik dan benar, menyadari luhurnya martabat manusia, dan pentingnya gerakan penghormatan hak asasi manusia.

Semoga Natal ini sungguh menjadi saat bagi kita untuk bersukacita dan bergembira. Yesus, Sang Emanuel dan Hikmat Allah bagi kita, sungguh lahir di tengah-tengah kita dan memimpin kita untuk hidup dalam hikmat Allah.

(Sumber: laman Komisi Kateketik Konfrensi Wali Gereja Indonesia)

Contoh Renungan Natal Umum #7: Natal yang Dirindukan

(1:14) Firman itu telah menjadi manusia , dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (1:15) Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku." (1:16) Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; b (1:17) sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (1:18) Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Shalom saudara/saudari yang dikasihi Tuhan. Tidak terasa kita sudah memasuki bulan di penghujung tahun 2020 ini. Sebentar lagi kita akan merayakan hari natal, yang setiap tahun dirayakan oleh umat kristiani. Mulai dari kaum lansia, orang tua, muda bahkan anak-anak semua ikut merayakan euforia natal.

Natal adalah sebuah liburan yang bersifat paradoks dengan dipenuhi oleh sukacita yang sedemikian besar, tetapi pada saat yang sama mengingatkan kita pada besarnya rasa kehilangan. Kristus telah datang untuk mati. Tampaknya pernyataan itu sudah sering kita dengar, tetapi mungkin tidak terlalu meresap ke dalam hati kita. Jika sudah, mungkin kita tidak akan merayakan Natal dalam cara-cara yang sekarang justru mengemuka di gereja-gereja maupun komunitas kristiani. Jika bersedia, mungkin kita akan lebih memaknai Natal dengan rasa syukur dan perasaan kasih yang lebih besar kepada Allah. Lalu, mungkin kita akan lebih memuliakan Allah dalam tindakan kita daripada sibuk menghias rumah, mencari hadiah, membeli baju atau sepatu baru, atau memikirkan kue apa yang akan kita buat atau beli pada tahun ini.

Bagi sebagian orang, makna hari Natal adalah hari libur menjelang akhir tahun. Bagi beberapa umat, ini berarti kesempatan bersenang-senang, bahkan berpesta-pora. Bagi yang lain lagi, inilah kesempatan untuk mengeruk keuntungan bisnis sebesar-besarnya dengan menempelkan label Natal pada apa saja yang mereka perdagangkan. Dan, Natal adalah kesempatan untuk bertemu-kangen dengan keluarga dan kerabat, entah di sekitaran rumah ataupun di gereja. Jika benar, itu terjadi di sekitar kita adalah hal yang sungguh menyedihkan, karena ini berarti kedatangan Yesus justru tidak terasa dampaknya bagi kita. Tanpa kita sadari, sesungguhnya sudah lama kehilangan makna dari natal. Kita sudah lama menyalahgunakan arti dari kata Natal. Ketika mendengarkan adanya natal, hal pertama kali yang ada di benak adalah liburan, membeli perlengkapan fashion baru, pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga kita di rumah. Natal menjadi ajang pamer bagi kita untuk membanggakan diri sendiri dengan semua kemewahan yang dimiliki.

Setiap orang melihat Natal sebagai peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus, walaupun sesungguhnya tidak ada yang tahu pasti akan kapan Tuhan Yesus dilahirkan. Saya pernah mendengar, bahwa kita perlu untuk melihat perayaan Natal dalam konteks yang utuh dengan perayaan Paskah dan bahwa keduanya tidak dapat dilepaskan satu dari yang lainnya. Natal ada untuk paskah dan paskah ada untuk menyelesaikan natal. Natal dan paskah merupakan perwujudan nyata dari kasih Allah kepada dunia (manusia) dan merupakan penggenapan dari segala nubuat yang telah ada di kitab Perjanjian Lama. Natal dan paskah merupakan proses di mana Tuhan turun menjadi sama dengan kita manusia, dan mengambil alih segala permasalahan dan tanggung jawab dosa kita, serta menebus itu sepenuhnya. Semuanya telah lunas dibayar. Suatu hal yang tidak akan pernah dapat kita (manusia) lakukan ialah, seperti Alkitab mengatakan di dalam Efesus 2:8-9 "(8) "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,(9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri."

Pernahkah membayangkan seandainya suatu saat listrik di rumah kita mati dan pasokan gas habis, sehingga kita harus memakai lilin sebagai penerangan di malam hari dan memakai kompor minyak tanah untuk memasak. Hingga kita harus melakukannya sendiri, karena tidak ada yang membantu di rumah. Pasti kita akan merasa sangat sengsara dan tidak merasa nyaman. Memang, salah satu hal yang paling sulit untuk kita lakukan adalah menurunkan standar hidup kita. Sangat jarang di antara kita yang mau melakukannya, bahkan juga untuk suatu alasan yang mulia. Saya ambil contoh sederhana: bersediakah kita untuk tidak pakai pendingin udara lagi (di rumah atau di gereja) supaya kita ikut menghemat energi yang sekarang sedang krisis di Negara kita? Pasti kita tidak mudah untuk bersedia. Akan tetapi, dalam skala yang jauh lebih besar (sampai di luar akal pikiran kita manusia), justru inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita. Dia melepaskan segala kemuliaan-Nya untuk turun ke dunia ini menjadi seorang hamba yang disalibkan, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan. Jika Tuhan Yesus Kristus rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan hidup kita dari genggaman dosa Lantas, apa yang sudah kita perbuat untuk membalas itu semua? Pasti nya kita tidak akan pernah bisa membalas kebaikan yang sudah diterima dariNya. Bahkan, hidup kita ini semua adalah milikNya.

Saudara saudari, apa yang sebenarnya kita rindukan di momen natal ini? dan taukah kita jika Tuhan juga rindu kepada kita? Tuhan rindu agar kita bersekutu dengan-Nya, mengikuti semua ketetapan yang sudah Ia perintahkan, menegakkan keadilan dan menjadi berkat serta kebaikan di tengah-tengah dunia ini. Jika dahulu kita merayakan natal hanya untuk hal duniawi, mari di momen natal kali ini kita sungguh untuk merenungkan bahwa perayaan natal itu adalah lahirnya Tuhan Yesus untuk menanggung segala dosa dan perbuatan kita, agar kita setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohannes 3 : 16)

Inilah makna Natal yang sesungguhnya, pengorbanan yang luar biasa dengan kedatangan-Nya telah mengubah hidup kita dari hidup yang berhamba kepada dosa, menjadi hidup yang merdeka di dalam Kristus. Roma 6:11 mengatakan"Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus." Jadi, memang sudah seharusnya kita menjadikan hari Natal sebagai momentum bagi perubahan dalam hidup ini dan tidak hanya sekadar perayaan dan bulan keagamaan yang bersifat sementara saja. Karena jika kita benar-benar telah menerima kedatangan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi, maka hal tersebut harus terlihat dan tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari.

Saudara saudariku, selamat menyambut natal untuk kita semua. Biarlah damai natal yang akan selalu menerangi hidup kita di dalam keluarga, masyarakat dan persekutuan kita disaat yang tepat dan di waktu yang tepat karena waktu Tuhan pasti yang terbaik.

"Christmas is not a time nor a season, but a state of mind. To cherish peace and goodwill, to be plenteous in mercy, is to have the real spirit of Christmas"

(Sumber: laman GMKI Komisariat FEB USU)

Demikian tadi kumpulan contoh renungan Natal 2025 yang bisa dijadikan sebagai referensi. Semoga membantu.




(sto/afn)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads