Di lereng Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, berdiri sebuah petirtaan kuno yang masih digunakan hingga sekarang. Namanya Petirtaan Jolotundo, sebuah situs bersejarah yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun, dan dikenal memiliki mata air yang terus mengalir sepanjang tahun.
Tak hanya menyimpan jejak Kerajaan Medang dan kisah Raja Airlangga, Petirtaan Jolotundo juga masih menjadi tempat ibadah, ritual budaya, sekaligus tujuan wisata sejarah. Lantas, bagaimana sejarah petirtaan ini, mengapa airnya tidak pernah surut, dan apa saja daya tariknya?
Mengenal Petirtaan Jolotundo, Pemandian Kuno Berusia Lebih dari 1.000 Tahun
Situs ini merupakan salah satu petirtaan kuno terpenting di Jawa Timur. Lokasinya berada di lereng utara Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.
Menurut laman resmi Pemerintah Kabupaten Mojokerto, Petirtaan Jolotundo dibangun pada masa Raja Udayana sekitar tahun 899 Saka atau 977 Masehi sebagai monumen untuk menyambut kelahiran putranya, Prabu Airlangga, yang kemudian menjadi Raja Kahuripan.
Sementara itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjelaskan bahwa Petirtaan Jolotundo merupakan peninggalan Kerajaan Medang yang hingga kini masih mempertahankan fungsi sebagai sumber air, sekaligus ruang spiritual masyarakat.
Baca juga: Cerita Gunung Penanggungan Memaku Pulau Jawa |
Sejarah Petirtaan Jolotundo dan Kaitannya dengan Raja Airlangga
Dalam sejarahnya, Jolotundo erat kaitannya dengan perjalanan hidup Raja Airlangga. Selain dibangun sebagai simbol kasih Raja Udayana kepada putranya, masyarakat juga mengenal tradisi lisan yang menyebut kawasan ini pernah menjadi tempat pertapaan Airlangga setelah menyerahkan takhta kepada penerusnya.
Di bagian dinding petirtaan masih terdapat angka 977 Masehi yang menjadi penanda masa pembangunannya. Seluruh bangunan menggunakan batu andesit dengan teknik konstruksi yang menunjukkan tingginya kemampuan arsitektur masyarakat Jawa Kuno.
Sementara itu, dari sisi arkeologi, Petirtaan Jolotundo memiliki nilai penting karena memperlihatkan perkembangan seni bangunan, serta sistem kepercayaan masyarakat Hindu di Jawa pada abad ke-10.
Mengapa Air Petirtaan Jolotundo Tidak Pernah Kering?
Salah satu keunikan terbesar Petirtaan Jolotundo adalah mata airnya yang terus mengalir sepanjang tahun. Mata air Jolotundo berasal dari kawasan lereng Gunung Penanggungan yang memang dikenal memiliki sumber air alami.
Hingga kini debit airnya relatif stabil meski memasuki musim kemarau. Mata air tersebut telah dimanfaatkan masyarakat sejak masa kerajaan hingga sekarang.
Masyarakat meyakini air Jolotundo memiliki nilai spiritual sehingga banyak pengunjung datang untuk mandi maupun mengambil air dari pancuran sebagai simbol berkah. Bahkan, ada anggapan bahwa air Jolotundo merupakan "air terbaik kedua di dunia setelah Zamzam".
Namun, hingga kini belum ditemukan publikasi ilmiah maupun pernyataan resmi dari lembaga pemerintah tentang air Jolotundo terbaik setelah Zamzam. Oleh karena itu, informasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai kepercayaan yang berkembang di masyarakat, bukan fakta ilmiah.
Keunikan Arsitektur dan Fungsi Spiritual Petirtaan Jolotundo
PetirtaanJolotundo terbagi menjadi dua bagian, yaitu kolam di sisi utara dan selatan. Pembagian ini diyakini berkaitan dengan tradisi ritual penyucian diri pada masa lampau yang membedakan laki-laki dan perempuan.
Bangunan Petirtaan Jolotundo yang seluruhnya tersusun dari batu andesit juga dihiasi relief dan ornamen khas Hindu yang menunjukkan tingginya kemampuan seni pahat masyarakat Jawa Kuno.
PetirtaanJolotundo tidak hanya menjadi sumber air, tetapi masih dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan keagamaan. Umat Hindu hingga kini menggunakan kawasan ini untuk melaksanakan upacara Melasti sebagai bagian dari rangkaian penyucian diri menjelang hari raya Nyepi.
Selain itu, pada bulan Suro, sebagian masyarakat penganut tradisi Kejawen juga datang untuk melaksanakan ruwatan maupun memandikan pusaka. Tradisi tersebut menunjukkan fungsi spiritual Petirtaan Jolotundo tetap hidup hingga sekarang.
Daya Tarik Wisata Petirtaan Jolotundo
Saat memasuki kawasan Petirtaan Jolotundo, pengunjung akan merasakan udara sejuk khas lereng Gunung Penanggungan yang berpadu dengan suara gemericik mata air.
Suasana di kawasan petirtaan memadukan keindahan alam pegunungan, arsitektur batu kuno, dan aktivitas budaya yang masih berlangsung hingga kini. Tak heran jika banyak wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati panorama, tetapi juga merasakan atmosfer sejarah yang masih terasa kental.
Di sekitar kolam juga kerap terlihat bunga dan dupa yang diletakkan sebagai bentuk tradisi spiritual tertentu. Perpaduan unsur sejarah, budaya, dan lanskap alam inilah yang membuat Petirtaan Jolotundo menjadi salah satu destinasi wisata sejarah, sekaligus wisata budaya yang masih aktif di Jawa Timur.
Lokasi, Jam Operasional, dan Harga Tiket
Berdasarkan informasi resmi Wisata Pemkab Mojokerto, Petirtaan Jolotundo berlokasi di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sekitar 55 kilometer dari Surabaya. Petirtaan Jolotundo dapat diakses menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.
- Jam Operasional: 24 jam setiap hari
- Harga Tiket Masuk:
- Dewasa: Rp 10.000
- Anak-anak: Rp 7.500
Petirtaan Jolotundo bukan sekadar pemandian kuno, melainkan saksi perjalanan panjang peradaban Jawa sejak lebih dari 1.000 tahun lalu. Keberadaan mata air yang terus mengalir, arsitektur batu yang masih terawat, serta tradisi spiritual yang tetap berlangsung membuat situs ini menjadi destinasi sejarah paling menarik di Jatim.
Jika tertarik menjelajahi jejak kerajaan kuno di Jawa Timur, Petirtaan Jolotundo layak masuk dalam daftar kunjungan. Selain menikmati suasana alam lereng Gunung Penanggungan, juga dapat melihat langsung bagaimana sebuah warisan budaya tetap hidup dan dimanfaatkan masyarakat hingga sekarang.
Simak Video " Menghadapi Tantangan Uji Nyali di Makam Trunyan, Bali"
(irb/hil)