Pakar Perkapalan ITS Prof I Ketut Aria Pria Utama buka suara terkait musibah terbaliknya KM Virgo Transport 8. Berdasarkan analisisnya, ada beberapa potensi penyebab kapal tersebut karam, mulai dari celah pada pintu rampa tak tertutup rapat hingga pergeseran muatan.
Prof Ketut menjelaskan, dari laporan awal kru dan saksi, KM Virgo tidak ada kebocoran. Air diduga masuk lewat pintu rampa dan pintu kedap yang tak tertutup rapat.
"Mungkin lewat jendela, mungkin lewat pintu rampah yang tidak kedap atau ada sebagian terbuka begitu. Karena massa air yang masuk itu besar. Nah, kemudian ada bagian lain di kapal itu seperti masuk ke ruang mesin, kemungkinan terbuka air lalu masuk ke sana. Sehingga makin mempercepat (kapal tenggelam)," jelas Prof Ketut kepada wartawan di Departemen Teknik Perkapalan ITS, Selasa (15/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pintu kapal seharusnya ditutup rapat sesuai standar Safety of Life at Sea (SOLAS). Sebab, pintu yang tidak tertutup rapat dapat menjadi celah masuknya air, terutama saat kapal menghadapi gelombang tinggi.
Selain itu, Prof Ketut menyoroti kemungkinan terjadinya pergeseran muatan atau cargo shift. Kondisi tersebut dapat terjadi apabila muatan tidak diikat dengan baik atau jumlah kendaraan yang diangkut melebihi kapasitas yang diizinkan.
"Dan itu bisa juga terjadi, pergeseran muatan karena kapal tidak diikat atau di-lashing. Dan juga bisa juga tadi kenapa tidak di-lashing. Lashing-nya tidak cukup karena jumlah yang dimuat lebih besar dari yang seharusnya boleh dimuat di kapal," katanya.
Selanjutnya, Prof Ketut juga menyoroti asal kapal KM Virgo Transport 8 dari Jepang dengan usia sekitar 39 tahun. Secara geografis, karakteristik perairan Jepang berbeda dengan Indonesia.
Menurutnya, kapal asal Jepang umumnya didesain untuk transportasi perairan jarak dekat. Sementara di Indonesia, kapal tersebut justru difungsikan di laut terbuka dengan rute jauh.
"Jadi, yang saya pahami jadi kalau kapal untuk perairan dekat dibawa ke jauh itu harus dicek kembali. Kemungkinan tidak cocok begitu. Jadi, ini dipaksakan," ujarnya.
Prof Ketut menegaskan, apa yang dia jelaskan hanya analisis akademis. Penyebab pasti KM Virgo terbalik membutuhkan investigasi dari KNKT.
"Itu dugaan saya bukan kesimpulan, tapi itu perlu investigasi KNKT apakah dugaan itu betul ya," tegasnya.
Pihaknya pun mendorong agar seluruh perusahaan kapal dan pelayaran menerapkan International Safety Management (ISM) Code secara mendalam di Indonesia. Edukasi keselamatan harus dipahami secara menyeluruh, baik oleh kru di atas kapal maupun staf operasional di darat.
"Langkah selanjutnya apa yang dilakukan. Perlu edukasi ya, jadi edukasi kepada kru bahwa kru itu mengerti mengoperasikan kapalnya termasuk kru di darat," pungkasnya.
