- Di Mana Letak Gunung Penanggungan?
- Cerita Gunung Penanggungan Memaku Pulau Jawa
- Mengapa Gunung Penanggungan Disebut Gunung Pawitra?
- Gunung Penanggungan dalam Prasasti dan Naskah Kuno 1. Prasasti Cunggrang (929 M) 2. Nagarakretagama (1365 M) 3. Bujangga Manik 4. Babad Sangkala
- Mengapa Gunung Penanggungan Dianggap Gunung Suci?
- Gunung Penanggungan Memiliki Ratusan Situs Purbakala
- Hubungan Gunung Penanggungan dengan Kerajaan Majapahit
- Jalur Pendakian Kuno di Gunung Penanggungan
- Upaya Melestarikan Warisan Gunung Penanggungan
- Apakah Cerita Gunung Penanggungan Memaku Pulau Jawa Benar Terjadi?
Gunung Penanggungan dikenal bukan hanya sebagai destinasi pendakian, tetapi salah satu gunung paling sakral dalam sejarah dan kebudayaan Jawa. Di balik ketinggiannya yang hanya sekitar 1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl), tersimpan sebuah kisah yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Ialah cerita bahwa Gunung Penanggungan menjadi "paku" yang membuat Pulau Jawa kokoh dan tidak lagi berguncang. Cerita tersebut bukan sekadar dongeng yang berkembang di tengah masyarakat.
Jejaknya terekam dalam naskah kuno, disebut dalam prasasti sejak abad ke-10, hingga diperkuat ratusan peninggalan arkeologi di lereng gunung. Lantas, bagaimana asal-usul kisah Gunung Penanggungan memaku Pulau Jawa, dan mengapa kawasan ini begitu disucikan sejak masa Mataram Kuno hingga Majapahit?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Mana Letak Gunung Penanggungan?
Gunung Penanggungan terletak sekitar 40 kilometer di barat daya Surabaya. Secara administratif, Gunung Penanggungan berada di wilayah Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Meski memiliki ketinggian sekitar 1.653 mdpl, Gunung Penanggungan bukanlah gunung tertinggi di Jawa Timur. Namun, dibandingkan gunung-gunung lain di sekitarnya, Gunung Penanggungan justru dikenal sebagai kawasan yang paling kaya peninggalan sejarah dan budaya.
Keunikan Gunung Penanggungan tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi bentuk kawasannya. Gunung ini dikelilingi delapan bukit yang tersebar di berbagai penjuru mata angin, yaitu Gunung Gajahmungkur, Bekel, Kemuncup, Sarahklopo, Semodo, Wangi, Bende, dan Jambe.
Susunan delapan bukit yang mengelilingi puncak utama tersebut dianggap memiliki makna simbolis oleh masyarakat Jawa kuno. Bentuknya diyakini menyerupai konsep Gunung Mahameru dalam kosmologi Hindu-Buddha, sehingga melahirkan berbagai kepercayaan mengenai kesakralan Gunung Penanggungan.
Cerita Gunung Penanggungan Memaku Pulau Jawa
Dilansir dari Repositori Kemendikdasmen 'Menepis Kabut Pawitra', cerita mengenai Gunung Penanggungan sebagai "paku" Pulau Jawa berasal dari Kitab Tantu Panggelaran, sebuah naskah Jawa Kuno yang menceritakan kosmologi Hindu di Pulau Jawa.
Salinan naskah yang dikenal saat ini dibuat sekitar abad ke-17, tetapi isinya dipercaya merekam tradisi yang jauh lebih tua. Dalam kisah tersebut, Pulau Jawa diceritakan masih belum stabil. Tanahnya terus berguncang sehingga tidak layak dihuni.
Untuk mengatasinya, Bhatara Guru memerintahkan para dewa memindahkan Gunung Mahameru yang berada di Jambudwipa (India) ke Pulau Jawa agar menjadi penyangga atau "paku" yang menstabilkan pulau.
Selama proses pemindahan, sebagian tubuh Gunung Mahameru terpecah dan jatuh di berbagai tempat. Potongan-potongan tersebut dipercaya menjadi sejumlah gunung di Pulau Jawa, seperti Gunung Lawu, Wilis, Kelud, Kawi, Arjuno, dan Welirang.
Sementara bagian utama Mahameru diletakkan di wilayah Lumajang, dan kini dikenal sebagai Gunung Semeru. Adapun puncak Mahameru terlepas dan berdiri sendiri. Puncak itulah yang diberi nama Pawitra, yang berarti suci atau keramat. Dalam perkembangannya, Pawitra dikenal sebagai Gunung Penanggungan.
Dalam tradisi Hindu-Jawa, kisah tersebut menjadi simbol bahwa Gunung Penanggungan berfungsi sebagai penyangga atau "paku" Pulau Jawa. Sementara dalam kajian sejarah modern, cerita tersebut dipahami sebagai bagian dari mitologi kosmologi masyarakat Jawa kuno yang menjelaskan kesakralan Gunung Penanggungan.
Mengapa Gunung Penanggungan Disebut Gunung Pawitra?
Sebelum dikenal dengan nama Penanggungan, gunung ini lebih dahulu disebut Pawitra. Dalam bahasa Sanskerta, pawitra berarti suci, bersih, atau keramat. Nama ini telah digunakan sejak masa lampau dan menjadi salah satu sebutan tertua bagi Gunung Penanggungan.
Menurut sumber buku yang sama, nama Pawitra telah dikenal sejak abad ke-10 Masehi. Penyebutan tersebut menunjukkan bahwa Gunung Penanggungan sudah dikenal sebagai kawasan penting jauh sebelum mencapai puncak kejayaannya pada masa Kerajaan Majapahit.
Gunung Penanggungan dalam Prasasti dan Naskah Kuno
Cerita mengenai Gunung Pawitra tidak hanya diwariskan melalui mitologi. Nama gunung ini juga tercatat dalam berbagai prasasti dan naskah kuno, yang menunjukkan bahwa Penanggungan telah menjadi kawasan penting sejak masa Mataram Kuno hingga Majapahit.
1. Prasasti Cunggrang (929 M)
Penyebutan paling awal mengenai Pawitra terdapat dalam Prasasti Cunggrang pada masa Raja Mpu Sindok tahun 929 Masehi. Prasasti tersebut menyebut adanya pertapaan dan sumber air suci di Pawitra. Catatan ini menjadi salah satu bukti Penanggungan telah menjadi pusat kegiatan spiritual sejak masa Mataram Kuno.
2. Nagarakretagama (1365 M)
Keberadaan kawasan suci Pawitra juga disebut dalam Kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca. Dalam kitab tersebut diceritakan Raja Hayam Wuruk mengunjungi kawasan pertapaan di Gunung Pawitra sebagai bagian dari perjalanan keagamaan kerajaan Majapahit.
3. Bujangga Manik
Naskah Sunda Kuno Bujangga Manik juga mencatat perjalanan seorang pangeran dari Kerajaan Pakuan yang mendaki Gunung Pawitra, dan mengunjungi Gunung Gajahmungkur yang dianggap suci.
4. Babad Sangkala
Nama Penanggungan turut disebut dalam Babad Sangkala yang mengisahkan perubahan kekuasaan di Jawa pada abad ke-16. Dalam naskah tersebut, Gunung Penanggungan dikaitkan dengan berakhirnya pengaruh kerajaan Hindu-Buddha setelah berkembangnya Kesultanan Demak.
Mengapa Gunung Penanggungan Dianggap Gunung Suci?
Selain kisah Mahameru, bentuk fisik Gunung Penanggungan juga memperkuat anggapan masyarakat Jawa kuno bahwa kawasan ini merupakan gunung suci.
Puncak utama Penanggungan dikelilingi delapan bukit yang tersebar di delapan arah mata angin.
Susunan tersebut dianggap menyerupai konsep Gunung Mahameru dalam kosmologi Hindu-Buddha, yakni gunung suci yang menjadi pusat alam semesta.
Dalam kepercayaan tersebut, Mahameru dipandang sebagai poros yang menghubungkan mikrokosmos (buana alit) dengan makrokosmos (buana ageng).
Karena memiliki bentuk yang mirip, Gunung Penanggungan pun diyakini sebagai tempat yang sakral dan menjadi lokasi berbagai kegiatan keagamaan.
Gunung Penanggungan Memiliki Ratusan Situs Purbakala
Salah satu alasan Gunung Penanggungan sangat penting dalam sejarah Indonesia adalah banyaknya peninggalan arkeologi yang tersebar di seluruh kawasannya. Di Gunung Penanggungan terdapat sekitar 130 bangunan purbakala yang berasal dari abad ke-10 hingga abad ke-16 Masehi.
Peninggalan tersebut berupa candi, punden berundak, gua pertapaan, gapura, petirtaan, hingga jalan kuno. Jumlah situs yang sangat banyak menunjukkan bahwa Gunung Penanggungan pernah menjadi pusat kegiatan spiritual yang berlangsung selama ratusan tahun.
Hubungan Gunung Penanggungan dengan Kerajaan Majapahit
Pada masa Kerajaan Majapahit, Gunung Penanggungan menjadi salah satu kawasan suci yang banyak dikunjungi para bangsawan, pendeta, maupun pertapa. Banyak bangunan keagamaan dan pertapaan dibangun di lereng gunung.
Keberadaan situs-situs tersebut menunjukkan bahwa Gunung Penanggungan memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Majapahit, terutama sebagai tempat menjalani tapa, semedi, dan ritual keagamaan.
Sebagian besar bangunan purbakala di Gunung Penanggungan berasal dari abad ke-15 hingga abad ke-16 Masehi, yakni menjelang berakhirnya Kerajaan Majapahit. Menurut sejumlah kajian arkeologi, kondisi tersebut menunjukkan semakin kuatnya aktivitas pertapaan di kawasan Penanggungan.
Bangunan-bangunan berundak yang banyak ditemukan memperlihatkan adanya perpaduan antara tradisi pemujaan leluhur Nusantara dengan ajaran Hindu. Beberapa arkeolog mengaitkan fenomena tersebut dengan paham millenarisme.
Yaitu keyakinan akan hadirnya masa baru atau datangnya Ratu Adil ketika masyarakat Hindu-Buddha menghadapi perubahan besar akibat berkembangnya Islam di Jawa. Namun, pandangan ini merupakan interpretasi akademis dan masih menjadi bagian dari kajian sejarah.
Jalur Pendakian Kuno di Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan masih terus menyimpan temuan baru. Setelah kebakaran hutan pada 2015, Tim Ekspedisi Universitas Surabaya menemukan jalur pendakian kuno yang sebelumnya tertutup vegetasi. Jalur tersebut dibuat melingkari gunung dan dilengkapi jalur zig-zag menuju puncak.
Menariknya, jalan tersebut memiliki lebar sekitar 1,5 hingga 3 meter dengan tanggul batu yang masih relatif utuh. Temuan ini memperlihatkan bahwa kawasan Gunung Penanggungan sejak dahulu telah memiliki infrastruktur yang mendukung aktivitas keagamaan dan perjalanan menuju situs-situs suci.
Upaya Melestarikan Warisan Gunung Penanggungan
Meski berada di kawasan pegunungan, situs-situs di Gunung Penanggungan tidak sepenuhnya terbebas dari ancaman. Pada periode 1988 hingga 1991, kawasan ini sempat mengalami penjarahan benda-benda purbakala. Medan yang luas dan sulit dijangkau membuat pengawasan menjadi tidak mudah.
Untuk menjaga kelestarian kawasan tersebut, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur bersama berbagai pihak terus melakukan pengawasan, penambahan juru pelihara, serta upaya konservasi agar tinggalan sejarah di Gunung Penanggungan tetap terjaga.
Apakah Cerita Gunung Penanggungan Memaku Pulau Jawa Benar Terjadi?
Cerita Gunung Penanggungan memaku Pulau Jawa merupakan bagian dari kosmologi Hindu-Jawa yang diwariskan melalui naskah kuno seperti Tantu Panggelaran. Dalam tradisi tersebut, kisah ini dipahami sebagai penjelasan mengenai asal-usul Pulau Jawa, sekaligus alasan mengapa Gunung Penanggungan dianggap suci.
Sementara itu, dalam kajian sejarah dan arkeologi modern, cerita tersebut tidak dipandang sebagai peristiwa yang dapat dibuktikan secara ilmiah, melainkan sebagai mitologi yang mencerminkan cara masyarakat Jawa kuno memahami alam semesta, gunung, dan ruang sakral.
Meski demikian, nilai sejarah dan budayanya tetap sangat penting karena menjadi bagian dari identitas peradaban Jawa selama berabad-abad. Tak heran jika hingga kini gunung ini tetap dipandang sebagai salah satu kawasan budaya paling penting di Jawa Timur.
