Cagar Budaya Tersembunyi di Gunung Penanggungan

Cagar Budaya Tersembunyi di Gunung Penanggungan

Mira Rachmalia - detikJatim
Kamis, 25 Jun 2026 21:00 WIB
Bendera Merah Putih 1.000 Meter Hiasi Puncak Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan. Foto: Istimewa
Jakarta -

Banyak orang mengenal Gunung Penanggungan sebagai salah satu destinasi pendakian di Jawa Timur dengan pemandangan alam yang menarik. Namun, di balik jalurnya yang menanjak dan berbatu, gunung setinggi 1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menyimpan cerita yang jauh lebih besar.

Gunung Penanggungan bukan hanya tempat menikmati panorama alam, tetapi juga menjadi "museum terbuka" yang menyimpan ratusan peninggalan peradaban Hindu-Buddha.

Menariknya, dibandingkan gunung-gunung besar di sekitarnya seperti Arjuno, Welirang, dan Anjasmoro, Gunung Penanggungan memang memiliki ketinggian yang lebih rendah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, dari sisi sejarah dan budaya, gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan ini justru menjadi salah satu kawasan paling kaya peninggalan arkeologi di Jawa Timur.

Profil Gunung Penanggungan

Gunung Penanggungan terletak sekitar 40 kilometer di sebelah barat daya Kota Surabaya. Secara administratif, kawasan ini berada di dua wilayah, yakni bagian barat masuk Kabupaten Mojokerto dan bagian timur berada di Kabupaten Pasuruan.

ADVERTISEMENT

Gunung Penanggungan merupakan kawasan dataran tinggi dengan sembilan puncak yang memiliki ketinggian berbeda. Puncak tertingginya adalah Gunung Penanggungan dengan ketinggian 1.653 mdpl.

Sementara beberapa puncak lain di sekitarnya meliputi Gajahmungkur (1.087 mdpl), Bekel (1.238 mdpl), Kemuncup (1.227 mdpl), Sarahklopo (1.275 mdpl), Semodo (719 mdpl), Wangi (987 mdpl), Bende (927 mdpl), dan Jambe (747 mdpl).

Bagi masyarakat Jawa kuno, Gunung Penanggungan bukan sekadar bentang alam. Dalam mitologi Jawa yang tercatat dalam Kitab Tantu Panggelaran, gunung ini disebut sebagai Pawitra, bagian dari puncak Gunung Mahameru yang dipindahkan ke Pulau Jawa.

Kepercayaan tersebut membuat Gunung Penanggungan memiliki nilai spiritual yang kuat. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya peninggalan kuno yang tersebar mulai dari kaki gunung hingga mendekati kawasan puncak.

Situs Arkeologi di Lereng Gunung Penanggungan

Daya tarik utama Gunung Penanggungan bukan hanya jalur pendakiannya, tetapi juga keberadaan situs-situs peninggalan Hindu-Buddha yang tersebar di berbagai sisi lereng.

Di kawasan ini ditemukan lebih dari 100 bangunan atau sisa bangunan kuno yang sebagian besar berada di sisi barat hingga utara, terutama wilayah Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto.

Peninggalan tersebut terdiri dari berbagai bentuk, mulai dari candi, petirtaan atau tempat pemandian kuno, ceruk pertapaan, gapura, objek pemujaan, hingga jalur kuno yang menghubungkan kawasan spiritual pada masa lalu.

Keunikan candi-candi di Gunung Penanggungan terletak pada bentuk arsitekturnya. Berbeda dengan candi yang berdiri sendiri di dataran luas, banyak bangunan di kawasan ini justru menempel pada lereng gunung.

Sebagian besar memiliki konsep punden berundak, yaitu bangunan bertingkat yang dipercaya menjadi ciri khas arsitektur pemujaan asli Nusantara. Karena kekayaan peninggalan budaya tersebut, kawasan Gunung Penanggungan akhirnya ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya pada tahun 2015.

Candi-Candi di Gunung PenanggunganCandi-Candi di Gunung Penanggungan (Foto: Instagram @disbudparjatimprov)

1. Candi Carik

Candi Carik menjadi salah satu situs yang dapat ditemukan setelah melewati Pos 2.

Bangunan ini berdiri di area yang cukup luas dan memiliki karakter arsitektur Hindu-Buddha.

Candi ini diperkirakan pernah digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus lokasi pertapaan bagi para pemuka agama pada masa lalu.

2. Candi Lurah

Tidak jauh dari Candi Carik terdapat Candi Lurah. Situs ini diduga memiliki fungsi sebagai tempat ritual dan meditasi.

Struktur bangunannya masih terlihat kokoh dan menjadi salah satu lokasi yang menarik perhatian pendaki karena suasana sejarah yang terasa kuat.

3. Candi Siwa

Candi Siwa berada sedikit di bawah jalur pendakian. Lokasi ini tidak dapat didatangi langsung oleh pendaki karena adanya upaya perlindungan terhadap situs.

Keberadaan Candi Siwa menjadi bukti bahwa Gunung Penanggungan pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan Hindu, khususnya pemujaan terhadap Dewa Siwa.

4. Candi Guru

Saat jalur pendakian semakin menanjak, pendaki dapat menemukan Candi Guru.

Situs ini dipercaya memiliki fungsi sebagai tempat ibadah, pertapaan, sekaligus kegiatan keagamaan.

Keberadaan candi ini memperkuat gambaran bahwa kawasan Gunung Penanggungan dahulu menjadi pusat spiritual masyarakat Hindu-Buddha.

Candi-Candi di Gunung PenanggunganCandi-Candi di Gunung Penanggungan (Foto: Instagram @disbudparjatimprov)

5. Candi Wisnu

Menjelang kawasan puncak terdapat Candi Wisnu yang memiliki karakter serupa dengan situs lainnya.

Candi ini menjadi salah satu bukti aktivitas keagamaan pada masa lalu tidak hanya berada di kaki gunung, tetapi menyebar hingga kawasan lereng atas.

6. Candi Naga

Candi Naga memiliki bentuk punden berundak dengan lima teras. Situs ini memiliki ornamen geometris yang menjadi ciri khas bangunan kuno di Penanggungan.

Keberadaan struktur bertingkat tersebut menunjukkan konsep pemujaan yang mengikuti bentuk adaptasi masyarakat Jawa kuno terhadap lingkungan gunung.

7. Candi Kama

Candi Kama memiliki struktur punden berundak dengan sembilan teras. Pada bagian teras paling atas terdapat susunan batu yang diduga merupakan altar.

Namun, kondisi bagian tersebut kini mengalami kerusakan atau runtuh sebagian sehingga masih menjadi bagian dari penelitian sejarah dan arkeologi.

Keberadaan berbagai situs kuno membuat Gunung Penanggungan memiliki karakter berbeda dibandingkan destinasi pendakian lainnya.

Pendaki yang datang tidak hanya mendapatkan pengalaman menaklukkan jalur gunung, tetapi juga dapat melihat langsung jejak kehidupan masyarakat masa lalu yang pernah menjadikan kawasan ini sebagai pusat spiritual.

Pelestarian kawasan ini menjadi penting agar peninggalan sejarah tersebut tetap dapat dinikmati generasi berikutnya.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads