Round Up

Modus Berulang Bos Resto Korea di Surabaya Perkosa Sejumlah Karyawan

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Minggu, 23 Agu 2026 06:00 WIB
Ilustrasi pemerkosaan. (Foto: Andhika Akbarayansyah/detikcom)
Surabaya -

Dugaan kekerasan seksual terhadap sejumlah karyawan restoran Korea di Surabaya disebut berlangsung dengan modus yang serupa. Para korban mengaku dipaksa mengonsumsi minuman beralkohol, kemudian mendapat tindakan seksual tanpa persetujuan dan tekanan dari pemilik restoran berinisial SSY (64).

Sejauh ini, dua korban telah resmi melaporkan SSY ke Polrestabes Surabaya. Keduanya yakni mantan karyawan restoran, MAD (28), dan asisten rumah tangga (ART) berinisial SUF (24).

Selain dua korban yang telah melapor, kuasa hukum korban, Vena Naftalia menyebut, ada tiga orang lain yang mengaku mengalami dugaan tindakan serupa. Mereka menghubungi Vena melalui media sosial dan menceritakan pengalaman masing-masing.

"Jadi kalau dibilang sebenarnya (korbannya) banyak. Ada beberapa yang DM (menghubungi) itu menyatakan modusnya sama. Diajak minum (alkohol), terus ditekan-tekan, terus kalau enggak mau atau berontak langsung dipecat," ungkap Vena saat dihubungi detikJatim, Jumat (21/8/2026).

Vena mengatakan, para korban yang menghubunginya memiliki latar belakang berbeda. Ada yang pernah menjadi karyawan, asisten pribadi, hingga penerjemah SSY.

"(Korban) ART itu kerja di rumah. Tapi banyak korban-korbannya itu malah yang melapor itu adalah justru pegawai-pegawainya dulu. Ada yang personal asistennya, ada yang dulu jadi penerjemahnya," tuturnya.

Modus Diduga Berulang

Salah satu korban, MAD, mengaku mengalami dugaan kekerasan seksual berulang kali selama beberapa bulan. Peristiwa pertama yang dia laporkan terjadi pada 12 Maret 2026.

Saat itu, MAD yang bekerja sebagai sekretaris restoran mengaku sedang berada di restoran yang tutup. SSY disebut kedatangan seorang teman sesama warga Korea yang tinggal di Jember. Mereka kemudian mengonsumsi minuman beralkohol.

MAD mengaku dicekoki minuman hingga kehilangan kesadaran. Dalam kondisi tersebut, dia dibawa SSY ke sebuah hotel.

"Itu minum mulai pukul 20.00 WIB malam, sampai dini hari 13 Maret 2026. Saya di resto dicekoki minuman. Setelah selesai minum, saya kehilangan kesadaran," ujar MAD.

MAD mengaku semula mengira dirinya akan diantar pulang ke kos. Namun, dia justru dibawa ke hotel menggunakan mobil milik teman SSY.

"Dengan tanpa ada rasa curiga, karena memang sebelumnya tidak pernah terjadi hal apapun pada saya, saya ikut dia pakai mobil temannya itu. Mobilnya dia ditinggal di resto," ungkapnya.

MAD juga mengaku mendapat ancaman terkait pekerjaan, gaji, hingga keluarganya.

"Dia marah mengancam pecat saya, gaji tidak dikeluarkan, keluarga diancam mau dikirimi tukang pukul. Karena kondisi saya dibawah pengaruh alkohol, dia memperkosa saya saat itu," bebernya.

Diduga Terjadi Berulang

Dugaan kekerasan seksual itu disebut tidak berhenti pada kejadian pertama. MAD mengaku kembali mendapat tekanan ketika berada di restoran maupun saat berada di rumah SSY.

Pada 21 Mei 2026, MAD mengaku diminta tinggal di rumah SSY di kawasan Wiyung. Dia menyebut tindakan serupa kembali terjadi setelah berada di rumah tersebut.

"Di dalam ruangan itu ada satu bilik kamar, di situ (sering terjadi pelecehan). Dengan ancaman yang sama. Saya takut. Lalu pada 21 Mei 2026, dia kembali mengancam saya dengan ancaman yang sama, agar mau tinggal di rumahnya. Waktu itu dia bilang kalau di sana ada ARTnya," ungkap dia.

MAD kembali menyebut dirinya diberi minuman beralkohol sebelum dugaan kekerasan seksual terjadi.

"Modusnya sama, memberi saya banyak minuman beralkohol. Saya ketakutan. Takut keluarga saya dibunuh atau saya yang dibunuh. Karena beberapa kali itu saya ngerasa ada orang yang mengikuti saya. Saya menuruti dia karena di bawah tekanan ancaman," terangnya.

SSY kemudian pergi ke Korea pada 21 Mei hingga 2 Juni 2026. Namun, menurut MAD, tekanan masih diterimanya melalui pesan selama SSY berada di luar Indonesia.

"Saya sempat agak lega pada 21 Mei sampai 2 Juni pelaku meninggalkan Indonesia dan pergi ke Korea. Waktu dia di Korea, kalau saya belum pulang itu langsung di chat ditanya dimana. Kalau gak cepet pulang keluarga saya mau dikirimi tukang pukul," ceritanya.

Setelah SSY kembali ke Indonesia pada 2 Juni, MAD mengaku dugaan kekerasan seksual kembali terjadi hingga Juli.

Pada 27 Juli, MAD mengaku mulai berani menolak. Sehari kemudian, keduanya terlibat pertengkaran.

"Lalu tanggal 27 Juli, dia mau melakukan hal yang sama, tapi saya berani melawan, saya tolak. Tanggal 28 saya kembali dicekoki minuman keras. Saya kemudian pura-pura mabuk, saya marah-marah. Akhirnya saya bertengkar sama dia," ujarnya.



Simak Video "Video: Pimpinan Ponpes di Pekalongan Jadi Tersangka Kekerasan Seks Santriwati"


(auh/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork