Pilu Karyawan Resto Korea Diperkosa Bos Berkali-kali hingga Mau Bunuh Diri

Round Up

Pilu Karyawan Resto Korea Diperkosa Bos Berkali-kali hingga Mau Bunuh Diri

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Sabtu, 22 Agu 2026 06:00 WIB
A young woman protects herself by hand
Ilustrasi pelecehan seksual/Foto: iStock
Surabaya -

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Nasib pilu dialami seorang karyawan restoran Korea di Surabaya. Ia mengaku menjadi korban kekerasan seksual oleh bosnya, warga negara Korea berinisial SSY (64).

Dugaan kekerasan seksual itu disebut terjadi berulang kali hingga korban mengaku berada dalam tekanan berat dan sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ternyata, korban pemerkosaan WN Korea tersebut tidak hanya satu karyawan. Informasi yang dihimpun detikJatim, ada dua karyawan restoran di kawasan Jalan Mayjen HR Muhammad, Surabaya yang menjadi korban.

Keduanya kini telah melaporkan pemilik restoran ke polisi atas dugaan kekerasan seksual. Selain dua laporan tersebut, kuasa hukum korban menyebut ada sejumlah orang lain yang mengaku mengalami dugaan tindakan serupa.

ADVERTISEMENT

Kasus tersebut kini masih dalam penyelidikan Polrestabes Surabaya. Sementara itu, terduga pelaku disebut tidak berada di Surabaya. Kasatres PPA-PPO Polrestabes Surabaya Kompol Melatisari membenarkan bahwa laporan tersebut masih diproses.

"Proses njeh (ya)," ujar Melatisari saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (21/8/2026).

Berawal dari laporan dua karyawan

Dua orang yang telah melaporkan SSY masing-masing berinisial MAD (28), yang bekerja sebagai sekretaris restoran, dan SUF (24), seorang asisten rumah tangga (ART).

Laporan MAD teregister dengan nomor TBL/B/VII/2026/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR tertanggal 29 Juli 2026. Sementara laporan SUF tercatat dengan nomor LP/B/1613/VIII/2026/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR tertanggal 6 Agustus 2026.

MAD kemudian menceritakan dugaan kekerasan seksual yang dialaminya. Menurut dia, kejadian bermula pada 12 Maret 2026 sekitar pukul 20.00 WIB.

Saat itu, SSY kedatangan seorang teman sesama warga Korea yang tinggal di Jember. Mereka kemudian mengonsumsi minuman beralkohol di restoran yang sedang tutup.

MAD mengaku saat itu juga dicekoki minuman hingga kehilangan kesadaran.

"Itu minum mulai pukul 20.00 WIB malam, sampai dini hari 13 Maret 2026. Saya di resto dicekoki minuman. Setelah selesai minum, saya kehilangan kesadaran," ujar MAD, Kamis (20/8/2026).

Dalam kondisi tersebut, MAD mengira dirinya akan diantar pulang ke kos. Namun, ia kemudian ikut SSY menggunakan mobil milik temannya yang berasal dari Jember.

"Dengan tanpa ada rasa curiga, karena memang sebelumnya tidak pernah terjadi hal apapun pada saya, saya ikut dia pakai mobil temannya itu. Mobilnya dia ditinggal di resto," ungkapnya.

Menurut MAD, dirinya kemudian dibawa ke sebuah hotel. Ia mengaku dalam kondisi tidak berdaya dan mendapat ancaman terkait pekerjaan serta keluarganya.

"Dia marah mengancam pecat saya, gaji tidak dikeluarkan, keluarga diancam mau dikirimi tukang pukul. Karena kondisi saya dibawah pengaruh alkohol, dia memperkosa saya saat itu," bebernya.

Dugaan kekerasan seksual disebut berulang

MAD mengaku setelah kejadian tersebut, dirinya kembali mengalami dugaan kekerasan seksual. Ia menyebut tindakan tersebut dilakukan dengan disertai ancaman kehilangan pekerjaan dan ancaman terhadap keluarganya.

Pada 21 Mei 2026, MAD mengaku kembali mendapat tekanan agar tinggal di rumah SSY di kawasan Wiyung.

"Di dalam ruangan itu ada satu bilik kamar, di situ (sering terjadi pelecehan). Dengan ancaman yang sama. Saya takut. Lalu pada 21 Mei 2026, dia kembali mengancam saya dengan ancaman yang sama, agar mau tinggal di rumahnya. Waktu itu dia bilang kalau di sana ada ARTnya," ungkap dia.

MAD menyebut dugaan kekerasan seksual kembali terjadi setelah dirinya berada di rumah tersebut.

"Modusnya sama, memberi saya banyak minuman beralkohol. Saya ketakutan. Takut keluarga saya dibunuh atau saya yang dibunuh. Karena beberapa kali itu saya ngerasa ada orang yang mengikuti saya. Saya menuruti dia karena di bawah tekanan ancaman," terangnya.

SSY kemudian meninggalkan Indonesia dan pergi ke Korea pada 21 Mei hingga 2 Juni 2026. Setelah kembali ke Indonesia pada 2 Juni, MAD mengaku kembali mendapat tekanan hingga akhir Juli.

Pada 27 Juli, MAD mengaku mulai berani menolak ketika SSY kembali melakukan tindakan yang sama. Sehari setelahnya, ia mengaku terjadi pertengkaran dengan SSY.

"Lalu tanggal 27 Juli, dia mau melakukan hal yang sama, tapi saya berani melawan, saya tolak. Tanggal 28 saya kembali dicekoki minuman keras. Saya kemudian pura-pura mabuk, saya marah-marah. Akhirnya saya bertengkar sama dia," ujarnya.

MAD meminta pertolongan

Setelah itu, MAD mencari bantuan dari pengelola restoran. Ia kemudian meminta bantuan manajer restoran karena merasa tidak sanggup menghadapi situasi tersebut.

"Waktu di kamar, kemudian saya telpon manager resto. Saya minta tolong karena saya sudah gak luat diginikan. Mereka belum tau kalau saya disetubuhi berkali-kali. Akhirnya 3 orang datang, kunci pintu utama dan gerbang saya minta tolong ambilin ke ART," bebernya.

Tiga orang kemudian datang membantu MAD. Mereka meminta kunci kepada SUF yang berada di rumah tersebut. Kunci kemudian dilempar melalui jendela sehingga pintu dan gerbang dapat dibuka.

SUF yang merupakan ART SSY juga disebut menjadi korban dugaan kekerasan seksual.

"Mereka masuk, gedor kamar (pelaku), pelaku keluar dan kayaknya masih mabuk. Terus saya dan ART diambil dan diselamatkan," tutur MAD.

Kuasa hukum korban, Vena Naftalia mengatakan, dua orang telah resmi membuat laporan kepada Polrestabes Surabaya. Namun, menurut dia, masih ada sejumlah orang lain yang menghubunginya dan mengaku mengalami dugaan tindakan serupa.

"Jadi kalau dibilang sebenarnya (korbannya) banyak. Ada beberapa yang DM (menghubungi) itu menyatakan modusnya sama. Diajak minum (alkohol), terus ditekan-tekan, terus kalau enggak mau atau berontak langsung dipecat," ungkap Vena saat dihubungi detikJatim, Jumat (21/8/2026).

Vena menyebut orang-orang yang menghubunginya memiliki latar belakang berbeda. Mereka antara lain karyawan maupun orang yang pernah bekerja untuk SSY.

"(Korban) ART itu kerja di rumah. Tapi banyak korban-korbannya itu malah yang melapor itu adalah justru pegawai-pegawainya dulu. Ada yang personal asistennya, ada yang dulu jadi penerjemahnya," tuturnya.

Menurut Vena, sebagian orang yang diduga menjadi korban tidak berani melapor karena berada dalam tekanan. Ia juga menyebut ada korban yang belum menyadari bahwa dirinya mengalami kekerasan seksual.

"Dia (korban) ada yang enggak sadar loh kalau menjadi korban, sampai saya kasih pemahaman (tentang kekerasan seksual)," bebernya.

Vena mengatakan pihaknya masih menerima komunikasi dari orang-orang yang mengaku pernah mengalami dugaan tindakan serupa. Jumlahnya disebut sekitar tiga hingga empat orang lainnya.

Terduga pelaku diduga kabur

Selain mengungkap dugaan adanya korban lain, Vena menyebut SSY saat ini tidak berada di Surabaya.

"Betul (kabur). Tetapi informasinya sudah ada pencekalan (sehingga pelaku tidak bisa kabur ke luar negeri). Polrestabes Surabaya sudah menginformasikan," kata Vena saat dihubungi detikJatim, Jumat (21/8/2026).

Menurut Vena, kepolisian berkoordinasi dengan pihak imigrasi terkait keberadaan SSY.

"Jadi kalau sampai pelaku ini bisa keluar dari Indonesia ya tanda-tanya besar siapa yang meloloskan gitu aja kan?," imbuhnya.

Sementara itu, Vena mengatakan para korban saat ini mendapatkan pendampingan psikologis.

"Saya berharap mental korban baik-baik saja ya, karena semalam saya sempat koordinasi sama psikolog, untuk mental healthnya," ungkapnya.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Pimpinan Ponpes di Pekalongan Jadi Tersangka Kekerasan Seks Santriwati"
[Gambas:Video 20detik] (abq/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads