Ketika Memarahi Tak Akan Mengubah Perilaku Siswa SD Cabuli Adik Kelas

Tim detikJatim - detikJatim
Sabtu, 01 Okt 2022 06:03 WIB
Poster
Ilustrasi. (Foto: Edi Wahyono/detikcom)
Nganjuk -

Fenomena pelajar kelas V SD di Nganjuk mencabuli adik kelasnya yang duduk di kelas 1 SD bikin ngelus dada. Usai peristiwa itu, baik pelaku maupun korban yang masih anak-anak pun perlu pendampingan khusus dari orang dewasa.

Pelaku yang mencabuli adik kelasnya itu tidak dijebloskan ke tahanan. Siswa itu akan mendapatkan pendampingan di rumah khusus di Dinas Sosial (Dinsos) Nganjuk.

"Untuk pelaku tidak ditahan dan ditempatkan di rumah Dinas Sosial Nganjuk untuk mendapatkan pendampingan," kata Kasat Reskrim Polres Nganjuk, AKP I Gusti Agung Ananta saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (30/9/2022).

Menurut Gusti penyelidikan kasus itu tetap dilakukan. Tapi karena kasus pencabulan itu melibatkan pelaku yang masih di bawah umur, maka proses hukum akan dilakukan secara diversi atau penyelesaian perkara di luar proses peradilan pidana.

"Masih lanjut proses kasusnya, diversi khusus pemerkosaan anak sesama anak dilanjutkan. Hingga penetapan pengadilan tetap pendampingan," papar Gusti.

Tidak hanya kepada pelaku, pendampingan juga dilakukan terhadap korban yang sampai saat ini masih mengalami trauma. Pendampingan melibatkan tim Psikolog dari SDM Polda Jatim dilakukan.

"Untuk korban masih pemulihan psikologisnya, kami libatkan selain Polres Nganjuk, Polda Jatim dan juga Dinas Sosial Nganjuk," tandasnya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Ersa Lanang Sanjaya mengatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi pelaku yang masih anak-anak itu melakukan perbuatan cabul. Pertama adalah fisik, psikologis, dan sosial atau lingkungan.

Secara fisik anak yang melakukan upaya pemerkosaan itu sudah memungkinkan. Apalagi bila sudah akil balik. Hormon-hormon seksualnya sudah aktif. Sedangkan untuk melakukan itu, secara psikologis anak tersebut didukung dengan seringnya melihat film porno.

"Anak ini secara pikiran sudah terokupansi, apalagi akil baliq dan lagi heboh-hebohnya. Lalu teman-temannya juga mendorong. Lengkap sudah. Secara fisik memungkinkan, secara psikoligis terstimulus hal yang tidak tepat, dan lingkungan teman-temannya seperti itu," ujarnya.

Repotnya, kata Ersa dorongan seksual yang terstimulasi oleh hal negatif seperti itu bersifat eskalasi. Apalagi bagi remaja. Artinya, ketika remaja itu melihat film porno dan terpuaskan saat ini, keesokan harinya ketika tidak sepuas sebelumnya yang bersangkutan akan mencari stimulus baru hingga berujung pencabulan dan pemerkosaan.

Dosen psikologi pernikahan dan keluarga serta seksual itu menerangkan proses penyembuhan untuk anak yang mengalami atau melakukan hal serupa bisa dilakukan dengan mengubah pikirannya yang terlanjur terokupansi.

"Caranya, perkuat pengawasan seperti meminimalisasi waktu si anak untuk sendirian. Kemudian mengalihkan kegiatan itu. Kalau selama ini dia nonton sendiri maka orangtua harus mengawasi," katanya.

Kalau terus dimarahi dan dihukum pelaku tak akan berubah. Baca di halaman selanjutnya.