Hari Tari Internasional menjadi momen tepat untuk kembali menengok kekayaan tari tradisional Jawa Timur (Jatim), yang tak hanya hidup di daerah asalnya, tetapi juga telah melangkah hingga panggung dunia.
Dari Reog Ponorogo hingga Gandrung Banyuwangi, sejumlah tarian khas Bumi Majapahit ini tak sekadar menjadi warisan budaya, tetapi identitas yang diakui secara nasional maupun internasional.
Tari Jawa Timur yang Mendunia
Ragam tarian Jawa Timur dikenal memiliki kekuatan pada filosofi, sejarah, dan nilai sosial yang melekat dalam setiap geraknya. Tak heran, beberapa di antaranya berhasil mendapat pengakuan UNESCO, hingga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional.
Momentum Hari Tari Internasional ini menjadi pengingat bahwa warisan tersebut bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga terus dirawat dan dikenalkan ke dunia. Berikut deretan tari Jawa Timur yang telah mendunia dirangkum dari berbagai sumber.
1. Reog Ponorogo
Reog Ponorogo menjadi salah satu kesenian paling dikenal dari Jawa Timur, dan telah diakui UNESCO dalam kategori Urgent Safeguarding pada 2024. Pertunjukan ini identik dengan topeng Dadak Merak berukuran besar yang dibawa penari utama dalam atraksi penuh kekuatan dan simbolisme.
Lebih dari sekadar tontonan, Reog mengandung nilai filosofi tentang keberanian, kekuatan, hingga kritik sosial yang hidup dalam masyarakat Ponorogo. Tak heran, kesenian ini kerap tampil di berbagai festival budaya dunia dan menjadi salah satu wajah Indonesia di panggung internasional.
2. Wayang Topeng Malang
Sesuai namanya, Wayang Topeng Malang merupakan seni pertunjukan tradisional dari Malang, yang menjadi bagian dari tradisi Wayang Indonesia yang telah diakui UNESCO pada 2018. Kesenian ini memadukan unsur tari, musik gamelan, dan drama dengan penggunaan topeng sebagai representasi karakter dalam cerita.
Melansir Jurnal Budaya FIB Universitas Brawijaya (2024), Wayang Topeng Malang telah berkembang sejak berabad-abad lalu, dan menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya masyarakat.
Cerita yang diangkat umumnya berasal dari kisah Panji, yakni cerita asli Jawa Timur yang sarat nilai moral seperti kesetiaan, keberanian, dan kebijaksanaan. Selain itu, pertunjukan ini juga mencerminkan dinamika sosial dan nilai-nilai kehidupan masyarakat setempat.
Lebih dari sekadar hiburan, Wayang Topeng Malang memiliki fungsi edukatif dan simbolis. Setiap topeng, warna, hingga karakter mengandung makna tertentu yang merepresentasikan sifat manusia, seperti putih untuk kesucian, dan merah untuk keberanian atau amarah.
Kesenian Wayang Topeng Malang juga menunjukkan peleburan budaya yang kompleks, dari tradisi topeng kuno hingga dramatari, sehingga menjadi warisan budaya yang kaya nilai dan tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
3. Tari Gandrung
Tari Gandrung merupakan kesenian tradisional khas Banyuwangi, yang menjadi simbol kuat identitas masyarakat setempat. Kesenian khas Bumi Blambangan ini telah ditetapkan sebagai WBTB Nasional.
Tarian ini awalnya berkembang sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, yakni dewi kesuburan dalam kepercayaan masyarakat Jawa, sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.
Merangkum informasi dari laman resmi Kementerian Pariwisata RI, Tari Gandrung menyimpan filosofi mendalam dalam setiap gerakannya. Gerakan tangan yang lembut melambangkan rasa syukur dan penghormatan.
Sementara gerakan kaki yang dinamis mencerminkan kerja keras dan ketekunan. Tarian ini juga menjadi simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang dijunjung masyarakat Banyuwangi.
Tari Gandrung juga memiliki peran sosial dalam sejarah masyarakat. Pada masa kolonial, tarian ini menjadi simbol perlawanan dan semangat perjuangan. Kini, melalui Festival Gandrung Sewu, tarian ini terus hidup sebagai representasi kebersamaan, identitas daerah, sekaligus daya tarik budaya hingga tingkat internasional.
4. Tari Seblang
Selain Tari Gandrung, Tari Seblang dari Banyuwangi juga telah ditetapkan sebagai WBTB Nasional. Tarian ini dikenal sebagai tradisi sakral, dan merupakan bagian dari ritual adat yang masih dijaga hingga kini.
Merangkum dari laman Kabupaten Banyuwangi, Tari Seblang merupakan tarian mistis yang dibawakan penari perempuan terpilih melalui proses adat. Penari tersebut dipercaya akan mengalami kondisi trance setelah melalui ritual.
Di mana, roh leluhur diyakini masuk ke dalam tubuhnya, sehingga dapat menari mengikuti irama gending dengan mata terpejam. Tarian ini biasanya digelar dalam rangka bersih desa dan tolak bala yang berlangsung selama beberapa hari berturut-turut.
Selain memiliki nilai spiritual yang kuat, Tari Seblang juga menjadi daya tarik budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat luas, sekaligus menunjukkan bagaimana tradisi lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
5. Tari Remo Jombang
Sebagai salah satu kesenian khas Jawa Timur, Tari Remo kerap ditampilkan dalam berbagai acara, terutama sebagai tari penyambutan dan pembuka pertunjukan ludruk. Tarian ini dikenal dengan gerakan kaki yang dinamis serta iringan musik gamelan yang khas.
Tari Remo berasal dari Jombang dan awalnya diciptakan seniman jalanan bernama Cak Mo. Ensiklopedia Tari Indonesia mencatat tarian ini menggambarkan perjuangan seorang pangeran di medan perang, sehingga gerakannya cenderung tegas dan penuh semangat.
Dalam perkembangannya, Tari Remo tidak hanya dibawakan laki-laki, tetapi juga perempuan dengan berbagai variasi gaya. Secara filosofis, setiap gerakan dalam Tari Remo memiliki makna tersendiri.
Gerakan menghentak kaki (gedrug) melambangkan kesadaran manusia terhadap kehidupan, sementara gerakan lain seperti gendewa dan tepisan mencerminkan ketangkasan serta kemampuan beradaptasi. Iringan gamelan yang dipadukan dengan lonceng di kaki penari semakin memperkuat karakter tarian ini.
6. Tari Thengul
Sebagai salah satu kesenian daerah, Tari Thengul menjadi identitas budaya khas Kabupaten Bojonegoro yang kerap ditampilkan dalam berbagai acara resmi. Tarian ini biasanya dipentaskan sebagai tari penyambutan atau tari selamat datang untuk tamu.
Melansir Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Tari Thengul dibawakan sekitar 5-10 penari perempuan dengan iringan musik gamelan. Gerakan tari yang ditampilkan cenderung sederhana namun ritmis, sehingga menciptakan kesan ramah dan hangat sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang.
Tari Thengul sendiri terinspirasi dari kesenian Wayang Thengul, yakni wayang kayu tiga dimensi khas Bojonegoro. Dalam tradisi tersebut, dalang harus menggunakan tenaga ekstra (methentheng) agar wayang dapat terlihat jelas (methungul) oleh penonton.
Cerita yang diangkat umumnya berkaitan dengan kisah Kerajaan Majapahit, Kediri, hingga cerita para wali pada masa Demak. Nilai-nilai sejarah dan moral dari pertunjukan wayang inilah yang kemudian diadaptasi ke dalam Tari Thengul sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.
Deretan tarian ini menunjukkan bahwa Jawa Timur bukan hanya kaya budaya, tetapi mampu membawa identitas lokal ke panggung global. Di Hari Tari Internasional, Reog Ponorogo hingga Gandrung Banyuwangi menjadi pengingat bahwa tari bukan sekadar hiburan, tetapi warisan yang terus hidup dan bergerak bersama zaman.
Simak Video "Video: Tempe Didaftarkan ke Warisan Budaya UNESCO, Pegiat Ajak Pengrajin Naik Kelas"
(irb/hil)