Mengapa Reog Ponorogo Begitu Istimewa? Ini Sejarahnya

Mengapa Reog Ponorogo Begitu Istimewa? Ini Sejarahnya

Jihan Navira - detikJatim
Senin, 08 Jun 2026 19:00 WIB
Sejumlah seniman memainkan tari barongan atau reog Ponorogo di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Minggu (27/8/2023).
Pagelaran tari barongan atau reog Ponorogo (Foto: Rifkianto Nugroho)
Ponorogo -

Di tengah arus modernisasi, Reog Ponorogo tetap berdiri sebagai salah satu warisan budaya paling ikonik di Jawa Timur. Bukan sekadar pertunjukan seni, Reog menghadirkan perpaduan antara kekuatan fisik, nilai spiritual, hingga kritik sosial yang tersirat dalam setiap gerakan maupun simbol yang dibawanya.

Oleh karena itu, menjaga eksistensi Reog bukan hanya tanggung jawab seniman atau masyarakat Ponorogo semata, tetapi juga seluruh generasi bangsa. Sebab, di balik megahnya pertunjukan Reog, tersimpan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi bagian penting dari jati diri Indonesia.

Jadi, apa itu reog, sejarah, hingga elemen-elemen yang digunakan dalam pertunjukan kesenian khas Ponorogo, Jawa Timur ini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa itu Reog Ponorogo

Reog Ponorogo merupakan tarian khas daerah Ponorogo, Jawa Timur sebagai seni tari pertunjukan dalam kegiatan masyarakat seperti pernikahan, upacara pembersihan desa, hingga untuk program nasional ketika memperingati proklamasi kemerdekaan.

Selain itu, tarian ini juga berfungsi untuk menyambut para tamu, bahkan sebagian orang mempercayai tarian ini berfungsi untuk menolak bala atau sial.

ADVERTISEMENT
Sejumlah seniman memainkan tari barongan atau reog Ponorogo di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Minggu (27/8/2023).Pertunjukan reog Ponorogo Foto: Rifkianto Nugroho

Yang menjadi khas pertunjukan ini adalah topeng raksasa berbentuk kepala harimau dengan mahkota yang terbuat dari bulu-bulu burung berak. Beratnya pun tak main-main, bisa mencapai 50-60 kilogram dengan tinggi 2 meter. Uniknya, pembarong atau orang di balik topeng 'dadak merak' hanya mengandalkan gigi giginya.

Melansir jurnal berjudul "Tarian Reog Ponorogo" oleh Dyah Indrani, kemampuan untuk membawa topeng ini melalui cara-cara seperti tes yang berat hingga tes spiritual ibarat berpuasa dan bertapa. Bahkan ada yang berpendapat bahwa seorang pembarong memakai susuk di lehernya untuk menambah kekuatan ketika membawa topeng.

Sejarah Reog Ponorogo

Dyah menyebut bahwa terdapat lima macam versi cerita yang terkenal dari asal usul reog dan warok. Di antaranya, cerita yang paling terkenal adalah tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu yang merupakan seorang abdi kerajaan ketika masa Bhre Kertabhumi, raja kerajaan Majapahit yang terakhir yang berkuasa pada abad 15.

Ki ageng Kutu marah besar karena pengaruh yang kuat dari pihak istri raja kerajaan Majapahit yang asalnya dari Cina. Ia juga murka kepada rajanya sendiri yang dalam menjalankan pemerintahannya banyak terjadi korupsi. Ia dapat memastikan bahwa kekuasaan dari kekuasaan kerajaan Majapahit akan segera berakhir.

Kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan sang raja lalu ia mendirikan perguruan. Ia mengajar ilmu kekebalan diri, seni bela diri anak-anak muda, serta ilmu kesempurnaan hidup dengan menaruh harapan bahwa mereka inilah calon bibit-bibit kebangkitan kerajaan Majapahit yang mulai runtuh.

Tersadar bahwa pasukannya terlalu lemah dan kecil untuk diadu melawan pasukan dari kerajaan, maka pesan politis dari Ki Ageng Kutu hanya disampaikan melalui pertunjukan seni Reog Ponorogo yang sifatnya menyindir kepada Raja Kertabhumi serta kerajaannya.

Seni yang Jadi Simbol Perlawanan

Pagelaran Reog Ponorogo menjadi cara dan strategi Ki Ageng Kutu utnuk emmabangun perlawanan masyarakat lokal dengan menggunakan kepopuleran Reog. Dalam pertunjukannya, juga ditampilkan dengan bentuk kepala singa yang biasa dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadikannya simbol Kertabhumi.

Di bagian atasnya, tertancap bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat dari para rekan Cinanya serta mengatur atas segala gerak-gerik yang dilakukannya.

Sejumlah seniman memainkan tari barongan atau reog Ponorogo di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Minggu (27/8/2023).Pertunjukan reog Ponorogo (Foto: Rifkianto Nugroho)

Singa barong tak tampil sendiri. Jatilan, merupakan peranan oleh gemblak yang mana menunggangi kuda-kudaan sehingga menjadi simbol kekuatan dari pasukan Kerajaan Majapahit dan menjadi perbandingan yang sangat kontras antara kekuatan warok.

Sementara yang berada di balik topeng dengan badur merah yang menyimbolkan Ki Ageng Kutu, sendirian serta menopang berat lebih dari 50 kilogram topeng singabarong hanya mengandalkan giginya.

Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan untuk menyerang perguruan Ki Ageng Kutu oleh warok dan dengan sigap cepat terleraikan sehingga menyebabkan perguruan dilarang akan melanjutkan pengajarannya akan warok.

Namun, murid-murid Ki Ageng Kutu tetap melanjutkan ajaran tersebut secara sembunyi-sembunyi. Meski begitu, kesenian Reog dengan sendirinya masih diperbolehkan untuk acara pementasan karena populer di kalangan masyarakat.

Kemudian jalan dari ceritanya memiliki alur baru dimana terdapat penambahan karakter yang dimiliki dari cerita rakyat daerah Ponorogo meliputi Dewi Songgolangit Kelono Sewandono, serta Sri Genthayu.

Iringan Tari Reog Ponorogo

Tarian khas Ponorogo ini diiringi oleh berbagai macam alat musik, seperti kendang, angklung, kenong, gong, dan selompret.

Lenteng musiknya bernada pelog dan salendro sehingga memunculkan atmosfer unik, mistis, dan eksotis.

Properti Tari Reog Ponorogo

Selain iringan musik yang bernuansa mistis, pertunjukkan reog tak akan hidup jika tanpa properti atau segala perlengkapan dan peralatan yang digunakan baik berupa baju, aksesoris, dan lain-lain.

1. Dadak Merak

Dadak merak adalah topeng kepala singa dengan hiasan burung merah dan bulunya di atas kepala singa yang tingginya 1-2 meter.

2. Properti yang digunakan oleh prabu kelono sewandono

  • Cinde Merah (celana)
  • Jarit, Boro-boro
  • Samir, Stagen
  • Epek timang
  • Sampur
  • Uncal
  • Kace
  • Kalung lur
  • Keris Blangkrak/Ladrang dan Binggel

3. Properti yang digunakan oleh jathilan

  • Kuda lumping yang terbuat dari kepang
  • Celana dingkikkan
  • Jarit parang barong
  • Boro-boro samir, Stagen
  • Sampur merah dan kuning
  • Hem putih lengan panjang
  • Kace, Gulon ter, Srempang, dan Binggel

4. Properti yang digunakan oleh patih bujang ganong

  • Topeng berwarna merah
  • Romi warna merah
  • Embong gombyog
  • Rompi merah garis hitam dan Binggel

Jadi, bagaimana detikers? Sudah makin bangga dengan Reog Ponorogo yang tak hanya keren melainkan menyimpan sejarah panjang tentang perlawanan, kepercayaan, dan identitas budaya masyarakatnya.




(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads