- Sejarah Hari Tari Internasional
- Reog Ponorogo Jadi Warisan Dunia
- Asal-usul Reog Ponorogo
- Unsur Pertunjukan Reog Ponorogo Pemain 1. Barongan (Dhadhak Merak) 2. Jathil Cilik 3. Jathil Dewasa 4. Klono Sewandono 5. Warok 6. Bujang Ganong 7. Senggakan 8. Pengrawit Peralatan 1. Dadhak Merak 2. Gamelan 4. Jaran Kepang (Eblek) 5. Topeng Ganongan 6. Pecut (Cambuk)
Setiap tanggal 29 April, dunia memperingati Hari Tari Internasional sebagai momen merayakan keberagaman seni tari dari berbagai budaya. Peringatan ini juga menjadi pengingat pentingnya melestarikan warisan tari tradisional di tengah arus modernisasi.
Di Indonesia, kekayaan seni tari tersebar di berbagai daerah, salah satunya Jawa Timur. Dari sekian banyak kesenian yang ada, Reog Ponorogo menjadi salah satu warisan budaya yang tidak hanya dikenal luas, tetapi juga telah mendapat pengakuan dunia.
Sejarah Hari Tari Internasional
Hari Tari Internasional diperingati setiap tanggal 29 April. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Jean-Georges Noverre, tokoh penting dalam perkembangan seni balet modern di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peringatan ini pertama kali ditetapkan pada 1982 oleh Komite Tari dari Institut Teater Internasional. Organisasi ini berada di bawah naungan UNESCO yang berfokus pada pengembangan seni pertunjukan secara global.
Penetapan 29 April bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya seni tari, mendorong pelestarian berbagai bentuk tari di seluruh dunia, dan memberi ruang bagi komunitas tari untuk menunjukkan karya mereka.
Selain itu, juga diharapkan dapat menarik perhatian pemerintah serta pemangku kebijakan agar lebih mendukung perkembangan seni tari di berbagai negara. Setiap tahunnya, ITI menunjuk tokoh tari dunia, baik penari maupun koreografer, untuk menyampaikan pesan resmi yang menjadi refleksi kondisi dan perkembangan tari.
Di tengah perayaan yang mendunia tersebut, Indonesia juga memiliki beragam seni tari yang tak kalah kaya dan berkarakter. Salah satunya datang dari Jawa Timur, yang menyimpan warisan budaya berupa Reog Ponorogo, sebuah pertunjukan yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga telah mendapat pengakuan dunia.
Reog Ponorogo Jadi Warisan Dunia
Dikutip laman resmi Menpan, Reog Ponorogo resmi masuk Warisan Budaya Tak Benda UNESCO dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding. Penetapan ini dilakukan dalam sidang Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage pada 3 Desember 2024.
Pengakuan tersebut menjadi tonggak penting bagi Indonesia dalam upaya melestarikan budaya tradisional. Pemerintah menilai, status ini tidak hanya mengangkat citra Reog Ponorogo di mata dunia, tetapi mempertegas komitmen untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Selain itu, pengakuan ini juga tidak lepas dari kerja sama antara pemerintah dan komunitas lokal yang selama ini aktif melestarikan Reog, baik melalui pertunjukan, dokumentasi, hingga pendidikan.
Dengan penetapan ini, Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai negara dengan kekayaan budaya yang diakui dunia, sekaligus memperluas daftar warisan budaya takbenda yang telah mendapat pengakuan internasional.
Asal-usul Reog Ponorogo
Dilansir laman resmi Kabupaten Ponorogo, sejarah Reog Ponorogo memiliki beragam versi yang berkembang di tengah masyarakat. Secara umum, terdapat tiga kisah utama yang menjelaskan asal-usul kesenian khas Ponorogo ini.
Versi pertama mengaitkan Reog dengan kritik sosial pada masa akhir Kerajaan Majapahit. Saat dipimpin Prabu Brawijaya V, kondisi kerajaan dinilai mulai melemah. Salah satu penasihat kerajaan, Ki Ageng Kutu, memilih meninggalkan istana dan menetap di wilayah Wengker.
Di tempat barunya, ia mendirikan padepokan dan menciptakan pertunjukan Reog sebagai media sindiran terhadap penguasa. Setiap elemen dalam Reog memiliki makna simbolik, seperti warok sebagai sosok bijak.
Lalu, ada Singo Barong sebagai lambang penguasa, hingga jathilan yang menggambarkan merosotnya semangat prajurit. Seiring waktu, kesenian ini dilanjutkan oleh Ki Ageng Mirah dan mengalami perubahan cerita menjadi kisah Panji yang lebih populer di masyarakat.
Versi berikutnya mengaitkan perkembangan Reog pada masa kepemimpinan Bathoro Katong. Setelah era Ki Ageng Kutu berakhir, kesenian ini disempurnakan dan dijadikan identitas budaya Ponorogo. Pada masa ini, Reog tidak hanya menjadi hiburan, tetapi dimanfaatkan sebagai media dakwah Islam.
Ornamen seperti kepala harimau berhias bulu merak serta unsur-unsur simbolik lainnya ditambahkan untuk memperkaya makna. Pertunjukan Reog juga digunakan untuk mengumpulkan masyarakat, yang kemudian menjadi sarana penyampaian ajaran agama, sejalan dengan metode dakwah Wali Songo.
Versi ketiga mengangkat kisah legenda Kerajaan Bantarangin yang bernuansa romantis dan heroik. Cerita berpusat pada Prabu Kelana Sewandana yang jatuh cinta kepada Dewi Songgolangit.
Dalam upaya mempersunting sang putri, utusannya dihadang Singo Barong hingga memicu pertempuran besar. Setelah melalui berbagai rintangan dan pertarungan sengit, Prabu Kelana Sewandana berhasil menaklukkan Singo Barong, dan akhirnya memperoleh restu untuk menikahi Dewi Songgolangit.
Kisah perjalanan, perjuangan, dan kemenangan inilah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk pertunjukan Reog Ponorogo sebagai simbol keberanian, sekaligus cerita cinta legendaris.
Unsur Pertunjukan Reog Ponorogo
Kesenian Reog Ponorogo memiliki berbagai unsur penting yang saling melengkapi, mulai dari para pemain hingga peralatan yang digunakan. Keduanya berpadu membentuk pertunjukan yang utuh, sarat makna, dan khas.
Pemain
Pemain dalam pertunjukan Reog Ponorogo memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda. Perbedaan peran inilah yang membuat pertunjukan Reog terasa hidup, dinamis, dan penuh makna.
1. Barongan (Dhadhak Merak)
Penari yang bertugas memainkan dhadhak merak. Pemain ini biasanya mempunyai kekuatan tubuh yang prima, terampli dan luwes memainkan dhadhak merak sehingga gerakannya enak dipandang.
2. Jathil Cilik
Penari yang memerankan penunggang kuda. Dengan menggunakan eblek (kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu), mereka bergerak seolah menunggang kuda. Jathil Cilik biasanya berumur 10-12 tahun dan berjumlah 4 orang.
3. Jathil Dewasa
Penari yang menggambarkan pasukan kerajaan yang tampan. Mereka menari dengan tidak memakai eblek. Jathil Dewasa biasanya berumur 18-20 tahun, dan berjumlah 4 orang. Prajurit jathilan merupakan simbol kekuatan pasukan perang Kerajaan Majapahit yang selalu siap sedia untuk membela keadaan.
4. Klono Sewandono
Penari dengan tarian yang menggambarkan sosok raja dari Kerajaan Bantarangin. Penari ini mengenakan topeng dan mahkota, dengan membawa pecut samandiman. Pecut ini berbentuk tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 buah.
5. Warok
Pemain yang memakai pakaian khas Ponorogo. Warok menggambarkan para pengawal Raja Klono Sewandono. Para pengawal ini merupakan sosok muda yang sedang berlatih ilmu kanuragan. Warok berbadan gempal dengan bulu dada, mempunyai kumis dan jambang lebat, serta mata yang tajam memandang penonton.
6. Bujang Ganong
Penari ini sering disebut Pujangga Anom mewakili tokoh patih yang cerdik. Dalam cerita Reog Ponorogo, Patih Pujangga Anom adalah sosok yang diutus Prabu Klono Sewandono untuk melamar Dewi Songgolangit. Karakternya cerdik, lincah, jenaka, dan penuh energi.
Ciri khasnya desain topeng yang mencolok, berwajah jenaka berwarna merah, berhidung besar, dan mata besar melotot. Rambut pada topengnya berwarna hitam dan putih. Terkadang, ada perajin yang berinovasi menggunakan warna keemasan dan berasal dari bulu ekor kuda ataupun serat sintesis.
Gerakan tariannya identik dengan akrobatik, lompatan energik, dan mimik jenaka. Bujang Ganong menggambarkan kekuatan, kecerdikan, dan keberanian anak muda. Gerakan dinamis dan atribut khasnya menjadi simbol kebebasan ekspresi dalam konteks seni tradisional, ketangguhan, dan kreativitas dalam seni budaya jaya.
7. Senggakan
Pengiring Reog yang bertugas memberikan semangat kepada pemain agar menari lebih semangat. Senggakan terdiri dari 5-10 orang. Teriakan yang keluar dari mulut senggakan biasanya berbuny, "Hok'e... hok'e...hok'e....hok'e".
8. Pengrawit
Penabuh gamelan pengiring reog. Pemain gamelan ini terdiri dari beberapa orang yang masing-masing memegang alat musik sendiri-sendiri. Mereka memainkan alat musik yang mereka bawa sesuai arahan dalang reog atau pemimpin rombongan. Pakaian yang digunakan juga pakaian khas Ponorogo.
Peralatan
Pertunjukan Reog Ponorogo menggabungkan beberapa jenis kesenian seperti musik, tari, bela diri dan lain-lain. Terdapat sejumlah perlengkapan khas yang menjadi elemen penting dan sarat makna yang umum digunakan sebagai berikut.
1. Dadhak Merak
Dadhak merak merupakan properti utama dalam pertunjukan ReogPonorogo, yang berbentuk kepala harimau dengan hiasan bulu merak mengembang. Bobotnya bisa mencapai sekitar 50 kilogram, dan dimainkan dengan cara digigit oleh penari, sehingga membutuhkan kekuatan dan keterampilan khusus.
2. Gamelan
Iringan musik Reog berasal dari seperangkat gamelan yang terdiri dari gong, slompret (terompet kecil), kenong kempul, angklung, dan kendang. Perpaduan alat musik ini menciptakan suasana yang dinamis sekaligus memperkuat nuansa dramatis dalam pertunjukan.
4. Jaran Kepang (Eblek)
Jaran kepang adalah properti berbentuk kuda dari anyaman bambu yang digunakan dalam adegan jathilan. Pemain menggunakannya dengan cara dijepit di paha sambil memegang bagian kepala, sehingga gerakan tari terlihat lebih hidup.
5. Topeng Ganongan
Topeng ganongan dikenakan oleh tokoh penggoda atau pentul yang identik dengan gerakan lincah dan ekspresif. Karakter ini berperan menghadirkan unsur hiburan sekaligus mencairkan suasana pertunjukan.
6. Pecut (Cambuk)
Pecut atau cambuk memiliki panjang sekitar 3 meter, dan digunakan untuk menghasilkan suara nyaring saat disabetkan. Bunyi tersebut menambah kesan tegas dan dramatis dalam setiap adegan pertunjukan.
(irb/hil)
