Sejarah PKI di Blitar Selatan: Pemberontakan, Penumpasan dan Rekonsiliasi

Sejarah PKI di Blitar Selatan: Pemberontakan, Penumpasan dan Rekonsiliasi

Erliana Riady - detikJatim
Jumat, 30 Sep 2022 22:53 WIB
Di Blitar ada Monumen Trisula. Monumen tersebut dibangun sebagai pengingat bahwa di tempat tersebut pernah terjadi Penumpasan PKI.
Monumen Trisula/Foto: Istimewa
Blitar -

Tepat 57 tahun yang lalu atau tahun 1965, terjadi Gerakan 30 September atau G30S/PKI di Jakarta. Beberapa tahun kemudian, PKI tumbuh di Blitar Selatan.

Dalam buku Operasi Trisula Kodam VIII Brawijaya disebutkan, beberapa tokoh PKI sengaja memilih Blitar Selatan untuk membangun basis pemberontakan PKI gaya baru.

Di Blitar Selatan ada kawasan perbukitan yang tandus. Warganya hidup di bawah garis kemiskinan.

Di sana, PKI leluasa mempengaruhi warga. Juga membuat rumah bawah tanah sebagai persembunyiannya. Paham komunisme tumbuh subur di wilayah itu.

Tokoh PKI yang bersembunyi di Blitar Selatan adalah Rewang, Oloan Hutapea, Ruslan Widjajasastra dan Munir.

Hasil Rapat Politbiro Comite Central (CC) PKI pada April 1967, mereka membentuk kepengurusan baru. Ruslan ditunjuk sebagai Ketua PKI Blitar Selatan. Sementara Oloan ditunjuk sebagai Ketua Departemen Organisasi PKI baru di Blitar Selatan.

Lalu Rewang diberi tanggung jawab sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda dan anggota Pleno PKI. Sedangkan Munir menjabat sebagai Ketua Departemen Perjuangan Bersenjata PKI Blitar Selatan.

Kekuatan baru mereka galang dengan mempengaruhi warga sekitar dengan ideologi komunis. Disertai janji manis akan memperbaiki taraf perekonomian mereka. Pelatihan Kursus Kilat Perang Rakyat (KKPR) juga diberikan. Rakyat dipersenjatai.

Munir menguatkan latihan fisik itu dengan memberikan Thesis Perang Rakyat. Sedangkan Oloan memompa semangat pemberontakan warga dengan menyampaikan materi Membangun Kembali PKI. Serta Materialisme Dialektika yang diberikan Ruslan.

Untuk mendukung stok logistik, warga yang sudah tersusupi paham komunis diperintah merampok hasil panen para petani. Tak segan mereka menganiaya, bahkan membunuh jika petani tidak mau menyerahkan hasil panennya.

PKI Gaya Baru Blitar Selatan menebar teror dengan sandi gerakan Pembasmian Rumput Beracun. Yakni Perampokan, Penculikan dan Pembunuhan. Sasarannya, para pelaku pembantaian orang-orang PKI pada peristiwa 30 September 1965.

Konsolidasi kekuatan mereka galang. Secara organisasi, PKI Gaya Baru membentuk struktur mulai tingkat pusat (Comite Central), Provinsi (Comite Daerah Besar), Kabupaten (Comite Seksi), Kecamatan (Comite Sub Seksi), Desa/Kelurahan (Comite Ressort Besar) dan Perdukuhan (Comite Ressort).

Mereka juga mengenalkan istilah Pembangunan Partai (PP), Gerakan Massa (Germas), Kerja di Kalangan Musuh (KKM) dan Sabotase Combat (Sabcom).

Di sejumlah daerah didirikan Comite Proyek (Compro) sebagai basis gerakan dengan Blitar Selatan sebagai pusat gerakan. Seperti daerah Suruhwadang, Maron dan Ngeni (SMN) sebagai basis compro.

Aksi teror yang mereka lancarkan, membuat suasana Blitar Selatan sangat mencekam. Antarwarga saling curiga. Pembunuhan dengan mudah terjadi, hanya atas dasar sentimen pribadi tanpa ada bukti.

"Warga saling curiga. Bisa dibunuh ramai-ramai hanya karena tidak suka. Ada daftar siapa saja yang menjadi sasaran PKI. Dari situ, kemudian muncul perlawanan, utamanya dari para ulama. Karena bakal dibunuh duluan kalau tidak dibasmi lebih dulu," tutur BAR, warga Kecamatan Sutojayan yang usianya hampir 82 tahun, Jumat (30/9/2022).

Soal Operasi Trisula di halaman selanjutnya