Usaha Keras Hadi 15 Tahun Ciptakan Miniatur Candi Tanah Liat Berkualitas

Usaha Keras Hadi 15 Tahun Ciptakan Miniatur Candi Tanah Liat Berkualitas

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Senin, 26 Sep 2022 12:57 WIB
Perajin candi dari tanah liat di Trowulan, Mojokerto
Perajin candi di Trowulan, Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Hadi Siswanto alias Hadi Candi memilih tak terbawa arus dalam berbisnis. Sesuai nama panggilannya, pria lajang berusia 35 tahun ini menekuni kerajinan miniatur candi berbahan tanah liat. Bisnisnya itu tetap eksis sejak 15 tahun silam.

Hadi berkecimpung di dunia kesenian sejak 1998. Kala itu, di usianya yang masih remaja, ia bekerja di kerajinan patung cor kuningan di Desa Bejijong, Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Ya, dari situ lah keterampilannya terus diasah bertahun-tahun. Salah satunya keterampilan mengukir.

Ketika ayahnya meninggal dunia tahun 2006, Hadi dipaksa memutar otak. Betapa tidak, mau tidak mau ia menggantikan posisi ayahnya menjadi tulang punggung keluarga, karena ia anak pertama dari 5 bersaudara. Penghasilannya dari bekerja di industri patung cor kuningan tak cukup untuk menafkahi ibu dan keempat adik laki-lakinya.

Seniman warga Dusun Tegalan, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini secara bertahap beralih ke kerajinan terakota. Sambil masih bekerja di kerajinan patung cor kuningan, Hadi mengisi waktu senggang dengan belajar membuat miniatur candi berbahan tanah liat.

Tak tanggung-tanggung, proses belajarnya itu memakan waktu 3 tahun lebih. Ia menekuni kerajinan yang berbeda seolah enggan terbawa arus. Karena mayoritas perajin di dekat tempat tinggalnya memproduksi patung cor kuningan dan patung batu.

"Coba-coba membuat candi dari tanah liat selama 3 tahun lebih. Awalnya dibeli dengan harga murah, saya kasihkan dari pada tidak ada untuk makan. Lama-lama banyak tamu yang datang, saya kasihkan ke pembeli yang harganya lebih mahal," kata Hadi saat berbincang dengan detikJatim di rumahnya, Senin (25/9/2022).

Perajin candi dari tanah liat di Trowulan, MojokertoPerajin candi dari tanah liat di Trowulan, Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

Bisnisnya terus bergulir setelah melalui tahap belajar yang cukup panjang. Sampai-sampai, namanya dikenal dengan Hadi Candi. Selama ini, ia hanya membuat miniatur satu model candi yang artistik. Desain ini terinspirasi Candi Penataran peninggalan Kerajaan Kadiri di Blitar, Candi Jawi peninggalan Singasari di Pasuruan, serta Gapura Bajangratu peninggalan Majapahit di Trowulan.

Bagian kaki candi dihiasi ukiran bunga teratai di keempat sisinya. Terdapat tangga lengkap dengan pipi tangga menuju ke pintu yang tembus dari sisi depan ke belakang. Ukiran bunga menghiasi pipi tangga, gawang pintu hingga dinding kanan dan kiri candi. Tepat di atas pintu candi, terdapat ornamen wajah kala. Begitu juga di sisi kanan dan kiri candi.

Kepala atau mahkota candi terdiri dari 6 susun. Masing-masing susun dihiasi ukiran bunga pada keempat sisinya. Sedangkan hiasan sudut-sudut mahkota candi berupa ukiran kepala kala berbentuk bunga. Pintu candi sengaja hanya dibuat pada sisi depan dan belakang. Karena kalau dibuat di empat sisi, miniatur candi akan mudah patah.

"Model candinya hanya satu, varian produk saya hanya pada ukurannya. Mulai dari tinggi 70 cm, 110 cm, 150 cm, sampai 250 cm," terangnya.

Setiap miniatur candi dibuat Hadi secara manual, sehingga membutuhkan ketelitian dan waktu yang lama. Namun, harga yang ia patok tergolong ramah di kantong. Yaitu Rp 550 ribu untuk miniatur candi setinggi 70 cm, Rp 950 ribu ukuran 110 cm, Rp 1,7 juta ukuran 150 cm, serta ukuran 250 cm seharga Rp 5 juta.

"Fungsinya beragam. Sebagai tempat meletakkan sesaji di pura, hiasan pagar, hiasan taman, hiasan tepi kolam," jelasnya.

Rumitnya proses pembuatan replika candi, baca di halaman selanjutnya!