Titik Panas dan Wilayah Waspada Karhutla di Jawa Timur

Irma Budiarti - detikJatim
Rabu, 23 Sep 2026 10:45 WIB
Ilustrasi cuaca panas di Jawa Timur. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau tahun ini. Puncak kemarau diprediksi berlangsung sepanjang Juli hingga September 2026, dengan persentase tertinggi sebesar 25,41 persen terjadi pada bulan September.

Puncak kemarau terluas diperkirakan terjadi pada Agustus yang mencakup 48,84 persen luas daratan Indonesia, sedangkan September mencapai 25,41 persen.

Kondisi kemarau tahun ini turut dipengaruhi fenomena El Nino. BMKG memprakirakan El Nino bertahan hingga awal 2027. Kondisi tersebut dapat memperkuat atmosfer yang kering dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Pengaruh El Nio ke Musim Kemarau Jawa Timur

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik yang dapat mempengaruhi pola cuaca dan curah hujan di berbagai wilayah, termasuk Jawa Timur.

BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyebut pengaruh El Nino terhadap penurunan curah hujan di Jawa Timur berlangsung terutama pada Juni hingga November 2026. Khusus Jawa Timur, awal musim kemarau 2026 diprakirakan terjadi pada Mei di 43 Zona Musim atau sekitar 56,9 persen wilayah.

Puncak musim kemarau diprediksi dominan terjadi pada Agustus, mencakup 53 Zona Musim atau 70,9 persen wilayah Jawa Timur. Sementara itu, sekitar 15 persen wilayah diprakirakan mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli.

BMKG juga memprakirakan sifat hujan selama kemarau 2026 di Jawa Timur didominasi kategori bawah normal, yang mencakup 56 Zona Musim atau sekitar 75,5 persen wilayah. Curah hujan selama periode tersebut diprakirakan berada pada kisaran 101-200 milimeter hingga lebih dari 500 milimeter, bergantung wilayahnya.

Titik Panas di Jawa Timur

Berdasarkan pemantauan BMKG, sebanyak 188 titik panas terdeteksi di Jawa Timur pada 21 September 2026. Titik panas tersebut tersebar di sejumlah wilayah dengan tingkat yang berbeda, mulai dari rendah hingga tinggi.

Dari jumlah tersebut, 159 titik masuk kategori tingkat sedang, 20 titik rendah, dan 9 titik tinggi. BMKG juga mencatat beberapa daerah dengan jumlah titik panas yang lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya. Berikut daftar kabupaten/kota di Jawa Timur dengan jumlah titik panas terbanyak.

  • Ngawi: 23 titik panas
  • Lumajang: 17 titik panas
  • Malang: 14 titik panas
  • Jember: 11 titik panas
  • Jombang: 11 titik panas

Wilayah Jawa Timur Prioritas Waspada

Kondisi atmosfer yang kering meningkatkan potensi kekeringan dan karhutla. BMKG menyebut September 2026 masih menjadi salah satu fase kritis karhutla di karena cuaca kering, pengaruh El Nino, serta tingginya jumlah titik panas di sejumlah wilayah terutama di Jawa Timur.

BMKG menetapkan sejumlah wilayah di Jawa Timur sebagai prioritas kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), berdasarkan kondisi Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dan sebaran titik panas.

Wilayah dengan tingkat kewaspadaan paling tinggi berada di daerah yang memiliki kondisi bahan bakar permukaan lebih mudah terbakar serta ditemukan titik panas. Berikut wilayah prioritas kewaspadaan di Jawa Timur.

  • Prioritas utama:
    • Ngawi
    • Lumajang
    • Malang
  • Perlu diwaspadai:
    • Jember
    • Jombang
    • Wilayah lain dengan titik panas dan FFMC tinggi

Potensi karhutla dan antisipasi kemarau panjang dapat diatasi dengan cara menghindari pembakaran lahan dan sampah secara sembarangan, serta menghemat air. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk memantau perkembangan informasi cuaca dan kondisi iklim untuk menghadapi dampak musim kemarau.

Tips Menghadapi Kemarau Panjang di Jawa Timur

Guna mengantisipasi dampak buruk dari fenomena alam ini, BMKG menekankan pentingnya menjaga ketersediaan pasokan air nasional serta mempersiapkan langkah antisipasi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Masyarakat juga diimbau untuk mengambil langkah proaktif dalam memitigasi dampak kemarau panjang. Berikut empat langkah strategis yang dapat dilakukan untuk menghadapi musim kering ini.

1. Bijak Menggunakan Air

Mengingat air merupakan kebutuhan paling krusial, masyarakat diminta untuk menerapkan pola penghematan air dalam aktivitas sehari-hari demi menjaga ketersediaan cadangan air bersih.

2. Peralihan Pola Tanam dan Irigasi Efisien

Sektor pertanian diimbau untuk menyesuaikan pola penanaman dengan memilih komoditas yang lebih tahan terhadap cuaca kering serta menerapkan sistem irigasi hemat air.

3. Waspada Risiko ISPA

Peningkatan debu dan penurunan kualitas udara selama musim kering berpotensi memicu gangguan kesehatan. Langkah pencegahan infeksi saluran pernapasan akut (ispa) menjadi prioritas kesehatan masyarakat.

4. Pencegahan Karhutla

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah atau pembukaan lahan dengan api untuk meminimalisasi risiko timbulnya kebakaran hutan dan lahan.

Kolaborasi antara kesiapan pemerintah dan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi krisis air dan dampak lingkungan selama El Nino berlangsung.



Simak Video "Video: BMKG Prediksi El Nino Berpuncak di Desember atau Januari 2027"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork