Masyarakat sering kali menganggap El Nino, musim kemarau, dan kekeringan sebagai satu kesatuan fenomena alam yang sama. Padahal, ketiganya merupakan fenomena yang berbeda, meskipun dapat saling berkaitan dan dapat memicu kondisi cuaca yang lebih ekstrem di suatu wilayah, termasuk Jawa Timur.
El Nino dapat meningkatkan peluang berkurangnya curah hujan di Indonesia. Jika terjadi bersamaan dengan musim kemarau, kondisi kering dapat berlangsung lebih lama dan terasa lebih kuat dari biasanya.
Situasi ini kemudian meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah. Lantas, bagaimana sebenarnya hubungan antara ketiganya dan pengaruhnya terhadap kondisi Jawa Timur?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu El Nino?
El Nino pada dasarnya bukanlah "musim panas" ekstrem yang tiba-tiba melanda Indonesia. Fenomena ini merupakan salah satu fase dari siklus El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yaitu pola iklim yang berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan laut dan perubahan kondisi atmosfer di wilayah tropis Samudra Pasifik.
Ketika El Nino terjadi, suhu laut di bagian tengah dan timur Pasifik tropis menghangat secara tidak normal. Kondisi ini kemudian mempengaruhi pola angin, pembentukan awan, dan pemerataan curah hujan.
Berdasarkan penjelasan lembaga atmosfer NOAA, kondisi tersebut membuat lebih banyak udara naik dan membawa uap air serta curah hujan ke kawasan Pasifik. Sebaliknya, di wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa, terjadi peningkatan pergerakan udara turun yang menghambat pembentukan awan. Akibatnya, kondisi di Indonesia cenderung lebih kering dari biasanya.
Mengapa El Nino Bisa Memperparah Kemarau di Jawa Timur?
Jawa Timur masih berada pada periode musim kemarau pada Oktober 2026, meski telah melewati puncak musim kemarau yang berlangsung pada Agustus hingga September. Kondisi tersebut membuat cuaca di sejumlah wilayah, termasuk Surabaya, masih terasa panas dengan suhu udara yang cukup tinggi pada siang hari.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan suatu daerah tetap akan memasuki musim kemarau meskipun El Nino sedang tidak aktif. Sebab, musim kemarau merupakan siklus iklim tahunan yang memang terjadi secara normal, sedangkan El Nino merupakan fenomena iklim yang muncul secara berkala.
Masalah dapat terjadi ketika El Nino berlangsung bersamaan dengan musim kemarau. Perubahan sirkulasi atmosfer akibat El Nino dapat mengurangi pembentukan awan hujan, sehingga curah hujan di suatu wilayah menjadi lebih sedikit.
Jika kondisi ini berlangsung cukup lama, cadangan air di tanah, sungai, waduk, embung, dan sumber air lainnya dapat berkurang. Hal tersebut kemudian dapat mempengaruhi ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat.
Di Jawa Timur, BMKG Stasiun Klimatologi telah memetakan prediksi musim kemarau tahun 2026 ke dalam 74 Zona Musim (ZOM). Dari data tersebut, sebanyak 56 ZOM atau sekitar 75,5 persen dari total luas wilayah Jawa Timur diprakirakan mengalami curah hujan di bawah kondisi normal.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah Jawa Timur akan mengalami kekeringan dengan tingkat yang sama. Dampaknya tetap bergantung pada kondisi masing-masing wilayah.
Kapan Kemarau Panjang Menjadi Bencana Kekeringan?
Penting dipahami bahwa beberapa hari tanpa hujan tidak langsung dapat dikategorikan sebagai bencana kekeringan. BMKG mendefinisikan kekeringan meteorologis sebagai kondisi ketika curah hujan lebih rendah dari kondisi normal dalam periode tertentu.
Untuk memantau tingkat kekeringan, Jawa Timur menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI), yaitu indeks yang digunakan untuk melihat tingkat penyimpangan curah hujan dari kondisi normal.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga menjelaskan kekeringan sebagai periode dengan curah hujan yang berada di bawah kondisi normal dalam waktu tertentu.
Kondisi kekeringan dapat menjadi lebih serius ketika ketersediaan air tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat. Dampaknya dapat dirasakan pada sektor pertanian, ketahanan pangan, kegiatan ekonomi, hingga kebutuhan air rumah tangga dan sanitasi.
Berbagai Faktor Kekeringan
El Nino bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi kondisi kekeringan. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh pola iklim regional, sistem monsun (angin baratan yang identik dengan pembawa musim hujan), serta interaksi antara laut dan atmosfer lainnya seperti Indian Ocean Dipole (IOD).
Pada tahun 2026, BMKG menyoroti bahwa kombinasi El Nino dan IOD positif dapat membuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia menjadi lebih kuat dan berlangsung lebih lama.
Namun, dampak kekeringan tidak selalu sama di setiap wilayah Jawa Timur. Kondisi geografis, ketersediaan sumber air, serta infrastruktur seperti jaringan irigasi turut menentukan tingkat kekeringan yang dirasakan masyarakat.
Wilayah yang memiliki sumber air terbatas dapat lebih mudah mengalami kekurangan air. Sementara itu, daerah dengan sumber air dan infrastruktur irigasi yang lebih memadai dapat memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan air selama periode kering.
Dampak El Nino dan Fakta yang Perlu Diketahui
El Nino dan musim kemarau dapat mempengaruhi berbagai aktivitas masyarakat. Di sektor pertanian, petani perlu menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi ketersediaan air, sebagaimana rekomendasi mitigasi dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur.
Berkurangnya ketersediaan air juga dapat meningkatkan kebutuhan distribusi air bersih untuk rumah tangga. Kondisi yang lebih kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di sisi lain, masih ada anggapan bahwa El Nino berarti Jawa Timur akan mengalami kemarau terus-menerus tanpa hujan. Padahal, El Nino tidak berarti hujan sama sekali tidak akan turun.
Cuaca harian tetap dapat berubah dan hujan lokal masih mungkin terjadi di sejumlah daerah meskipun El Nino berlangsung. Namun, hujan yang turun sesaat tidak selalu berarti musim kemarau telah berakhir atau cadangan air sudah kembali normal.
Karena itu, kondisi kekeringan tidak cukup dilihat dari ada atau tidaknya hujan dalam satu hari. Curah hujan dalam periode tertentu, lamanya periode kering, serta kondisi sumber air juga perlu diperhatikan untuk melihat tingkat kekeringan di suatu wilayah.
