Musim Kemarau di Jawa Timur 2026, Ini Fakta Penting yang Perlu Diketahui

Musim Kemarau di Jawa Timur 2026, Ini Fakta Penting yang Perlu Diketahui

Mira Rachmalia - detikJatim
Senin, 20 Jul 2026 16:15 WIB
Air Bendungan Wonorejo Tulungagung menyusut
Dampak musim kemarau, air di bendungan menyusut. Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim
Surabaya -

Musim kemarau 2026 kini mulai dirasakan di berbagai wilayah Jawa Timur. Cuaca yang semakin panas, berkurangnya curah hujan, hingga munculnya krisis air bersih dan kebakaran hutan menjadi tanda bahwa musim kering telah berlangsung di sejumlah daerah.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Jawa Timur sebenarnya dimulai secara bertahap sejak awal April 2026 dan diperkirakan mencapai puncaknya antara Juli hingga September.

Lantas, bagaimana perkembangan musim kemarau di Jawa Timur, wilayah mana saja yang terdampak, dan apa saja yang perlu diwaspadai masyarakat? Berikut ulasan selengkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengapa Musim Kemarau Tahun Ini Perlu Diwaspadai?

BMKG menjelaskan musim kemarau tahun ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang membuat curah hujan berkurang sehingga cuaca menjadi lebih panas, lebih kering, dan berpotensi berlangsung lebih lama dibanding kondisi normal.

Selain itu, bertiupnya Angin Muson Timur yang membawa massa udara kering dari Benua Australia ikut memperkuat kondisi minim hujan di Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

Faktor lain yang turut mempengaruhi adalah anomali suhu muka laut yang berperan dalam perubahan pola pembentukan awan dan distribusi hujan.

Kombinasi berbagai faktor tersebut menyebabkan sebagian wilayah Jawa Timur lebih cepat memasuki musim kemarau dibanding daerah lainnya.

Awal Musim Kemarau Jawa Timur

Berdasarkan data BMKG Deputi Bidang Klimatologi, musim kemarau di Jawa Timur mulai berlangsung pada pekan pertama April 2026. Wilayah yang pertama kali memasuki musim kemarau meliputi Kota Probolinggo, bagian utara dan timur Kabupaten Probolinggo, serta bagian timur Kabupaten Situbondo.

Sementara itu, wilayah yang paling akhir memasuki musim kemarau adalah bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Kabupaten Lumajang yang baru mengalami awal musim kemarau pada pekan ketiga Juni 2026.

Perbedaan waktu tersebut menunjukkan kedatangan musim kemarau di Jawa Timur berlangsung bertahap, dipengaruhi karakteristik geografis serta pola sirkulasi atmosfer di masing-masing wilayah. BMKG juga memprakirakan sebagian besar wilayah Jawa Timur akan mengalami musim kemarau dengan sifat bawah normal.

Sebanyak 56 Zona Musim (ZOM) diprediksi memiliki curah hujan di bawah rata-rata atau Bawah Normal (B), yakni kurang dari 85 persen dibanding rata-rata klimatologisnya. Sementara itu, 18 Zona Musim diperkirakan mengalami sifat musim Normal (N) dengan curah hujan sekitar 85 hingga 115 persen dari rata-rata.

Kapan Puncak Musim Kemarau di Jawa Timur?

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Indonesia sebagian besar terjadi pada Agustus 2026, mencakup sekitar 369 Zona Musim atau 48,84 persen luas daratan Indonesia. Di Jawa Timur sendiri, puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung secara bertahap.

Sebanyak 9 Zona Musim diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli, 53 Zona Musim pada Agustus, sedangkan 12 Zona Musim lainnya baru mencapai puncaknya pada September 2026. Artinya, kondisi cuaca panas dan minim hujan masih berpotensi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan di sejumlah daerah.

Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Jawa Timur

Kekeringan meteorologis merupakan kondisi ketika suatu daerah mengalami penurunan curah hujan secara signifikan dibanding kondisi normal dalam periode tertentu. Kondisi ini menjadi tahap awal sebelum berkembang menjadi kekeringan pertanian maupun kekeringan hidrologis.

Mengacu pada informasi peringatan dini BMKG pada pekan kedua Juli 2026, beberapa wilayah di Jawa Timur telah masuk kategori waspada hingga siaga. Kabupaten Gresik berada pada status Waspada.

Sementara status Siaga meliputi Bangkalan, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Jember, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Sampang, Trenggalek, Tuban, Tulungagung, serta Kota Batu, Kota Blitar, Kota Kediri, Kota Madiun, Kota Malang, dan Kota Mojokerto.

Dampak Musim Kemarau

Seiring berlangsungnya musim kemarau, sejumlah daerah di Jawa Timur mulai mengalami berbagai dampak yang mempengaruhi aktivitas masyarakat. Berikut sejumlah dampak musim kemarau yang perlu diketahui.

1. Krisis Air Bersih

Salah satu dampak paling nyata adalah berkurangnya ketersediaan air bersih. Dilansir dari detikJatim, debit air di Bendungan Wonorejo, Tulungagung, mulai menyusut akibat musim kemarau. Kondisi tersebut membuat operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) hanya dapat berjalan sekitar lima jam.

Masih dari laporan detikJatim, ratusan warga Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, mengalami krisis air bersih setelah sumur-sumur warga menyusut dan air berubah keruh berlumpur.

Situasi serupa juga terjadi di Desa Nglampin, Kecamatan Ngambon, Kabupaten Bojonegoro. Sejumlah sumber air mulai mengering sehingga warga mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

2. Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat

Cuaca yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dilansir dari detikJatim, kebakaran melanda hutan rakyat di Dukuh Tatung Tengah, Desa Tatung, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, pada Jumat sore.

Api membakar sekitar tiga hektare lahan. Kepala Desa Tatung, Rudi Sugiarto, mengatakan titik api pertama kali diketahui sekitar pukul 16.00 WIB. Lokasi kebakaran berada sekitar 50 meter dari permukiman warga, namun arah kobaran api bergerak menjauh sehingga tidak mengancam rumah penduduk.

Di Kabupaten Pacitan, sekitar 10 hektare lahan hutan milik warga Desa Sambong, Kecamatan Kota, juga dilaporkan terbakar. Api bahkan sempat mendekati kawasan permukiman sebelum akhirnya berhasil dipadamkan.

Kebakaran juga terjadi di kawasan Gunung Biru, Pegunungan Anjasmoro, Mojokerto yang merupakan bagian dari Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo seluas sekitar 27.868,3 hektare. Sementara di Trenggalek, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Gayam, Kecamatan Panggul dengan luas terdampak 3,5 hektare.

Kepala BPBD Trenggalek, Triadi Atmono, menjelaskan kawasan yang terbakar ditumbuhi berbagai jenis vegetasi, seperti bambu, cengkih, sengon, durian, hingga pohon kelapa milik warga di Dusun Krajan.

3. Fenomena Bediding

Selain cuaca yang lebih panas pada siang hari, musim kemarau juga memunculkan fenomena bediding, yakni kondisi ketika suhu udara terasa jauh lebih dingin pada malam hingga pagi hari. Menurut BMKG Juanda, fenomena ini berpotensi terjadi di Jawa Timur hingga Agustus 2026.

Prakirawan BMKG Juanda Andrie Wijaya menjelaskan bahwa suhu dingin pada malam, dini hari, dan pagi hari merupakan fenomena yang lazim terjadi selama musim kemarau. Dalam penjelasan BMKG, bediding terjadi karena langit cenderung cerah dengan tutupan awan yang sangat sedikit.

Akibatnya, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu udara turun lebih signifikan. Fenomena ini merupakan kondisi alamiah dan berbeda dengan gelombang dingin yang terjadi di negara empat musim.

Musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan dengan puncaknya terjadi antara Juli hingga September 2026, tergantung karakteristik masing-masing wilayah.

Selama periode tersebut, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi terbaru dari BMKG terkait prakiraan cuaca, peringatan dini kekeringan, maupun potensi kebakaran hutan dan lahan.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads