Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi berbasis agentic AI untuk membantu memantau kondisi tanggul Lumpur Sidoarjo. Teknologi bernama Sidoarjo Disaster Assessment AI (SIDA-AI) itu menggabungkan citra pesawat tanpa awak (UAV), sensor Internet of Things (IoT), dan data prakiraan cuaca.
Teknologi tersebut dikembangkan untuk membantu mitigasi risiko tanggul Lumpur Sidoarjo yang masih menjadi tantangan setelah sekitar 20 tahun sejak semburan lumpur pertama di Porong.
Tim pengembang SIDA-AI ITS, Kurnia Cahya Febryanto mengatakan, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) mencatat penurunan muka tanah di titik paling rentan mencapai rata-rata 0,5 meter per tahun.
"Sementara laju di sepanjang tanggul 11 km bervariasi antara 20 sampai 50 cm per tahun. Risiko diperparah dengan kapasitas alir Kali Porong yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi sungai," kata Kurnia, Rabu (23/9/2026).
Kurnia mengatakan, pola inspeksi berkala memiliki keterbatasan alami dalam membaca perubahan yang berlangsung perlahan. Pola pemantauan berpotensi membuat kondisi normal seperti jarak bebas menipis, muka air normal, dan prakiraan hujan lebat, sering luput dari deteksi.
"Gabungan dari kondisi-kondisi tersebut membuatnya semakin berbahaya," ujarnya.
Dasar pengembangan SIDA-AI mengadopsi pendekatan agentic AI. Caranya memadukan citra UAV dan sensor IoT, serta data prakiraan cuaca, lalu dirancang untuk menghasilkan pemantauan kondisi secara real time. Dengan mengintegrasikan berbagai sumber data, SIDA-AI menghubungkannya dengan faktor lingkungan yang memengaruhi tingkat risiko.
Pada penerapannya, pengembang perangkat keras SIDA-AI, Irfan Mirda menjelaskan, inovasi itu dibangun menggunakan arsitektur dua lapis. Lapisan pertama merupakan lapisan persepsi yang terdiri atas sejumlah model deterministik dan berfungsi mengolah data hasil pengamatan untuk mendeteksi berbagai kondisi fisik tanggul, seperti retakan, rembesan, dan saturasi berdasarkan citra UAV.
"Selain mendeteksi kondisi fisik tanggul, lapisan persepsi juga mengolah sejumlah indikator penting lainnya. Sistem menghitung sisa freeboard dan laju penurunan tanah menggunakan metode DEM differencing dari citra UAV multitemporal. Sementara itu, sensor IoT digunakan untuk memantau muka air dan pendangkalan Kali Porong secara real-time," jelas Irfan.
Irvan menguraikan, data dan indikator yang dihasilkan lapisan persepsi selanjutnya diproses oleh lapisan kedua, yakni lapisan agentic AI. Lapisan ini berfungsi mengorkestrasi seluruh indikator yang telah diperoleh sebelumnya.
"Dengan memanfaatkan model bahasa besar, sistem dapat menilai tingkat risiko pada setiap segmen tanggul sekaligus menyusun rekomendasi tindakan berdasarkan kondisi yang teridentifikasi," ujarnya.
Agar solusinya akurat, rekomendasi SIDA-AI ditambatkan pada prosedur resmi PPLS lewat metode kecerdasan buatan RAG. Inovasi tangguh ini pun berhasil membawa tim ITS menyabet Juara 1 kompetisi AIDeaNation 2026 besutan BRIN.
"Adapun, pengembangan teknologi tersebut sekaligus mendukung upaya ITS dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan serta poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. Ke depannya, kami berharap sistem ini dapat segera diuji dan diimplementasikan bersama PPLS," pungkasnya.
Simak Video "Video Tito Sebut Ada Pemda Nggak Kompak Koordinasi Antisipasi Bencana"
(auh/abq)